
"Lo jangan ngeremehin dia, Van. Meskipun dia ukhti tapi jangan di ragukan aksinya, dia lebih sempurna menjalani aksinya dari pada kita. Kalau di samakan, dia sama kayak Syakirah saat menjalankan aksi." jelas Roy agar Evan tidak meremehkan Kiya.
"Huh! Apa sempurnanya dia? Menurut gue gak ada tuh! Penampilannya aja kayak gitu, belum tentu juga kelakuannya sama kayak penampilannya!" Evan mencibir Kiya lagi. Roy sampai tepuk jidat melihat keras kepala Evan.
"Tau deh, Van. Ngomong sama lo gak ada gunanya kalau gak ada bukti! Suatu hari nanti lo pasti lihat dengan mata kepala lo sendiri!" Roy benar-benar pasrah melihat sifat Evan yang keras kepala. Evan sendiri hanya angkat bahu tanda tidak mau tahu.
Evan ragu untuk mengimkan pesan kepada nomor yang baru saja dia ketik di hpnya, sangat sangat ragu. Apa dia akan jawab ya? Pertanyaan itu sering sekali muncul di kepala Evan saat ini.
"P" akhirnya pesan terkirim juga. Evan langsung membanting hpnya pelan ke meja, sementara dia mundur dan bersandar di sofa. Melihat hpnya yang belum ada jawaban atau bunyi.
Triing.
Ada pesan masuk, Evan segera membukanya dan melihat dari nomor Syakirah. Evan ragu untuk menjawab juga.
"Siapa ya?" pesan dari Syakirah. Evan langsung nyegir saat menemukan ide untuk menjaili Syakirah. Evan segera memgetikkan sesuatu sambil tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Malam, cantik." pesan Evan terkirim.
"Iya, malam. Ini siapa ya?" pesan dari Syakirah.
"Tebak dong siapa. Masa aku tau kamu, kamunya gak tau aku?"
"Ya gak tau lah. Orang lo gak nyebutin nama lo! Gue tanya siapa, lo juga kagak jawab!" Evan tambah menyengir melihat balasan dari Syakirah.
"Udah deh gak usah pakai kenalan segala. Kita langsung jadian aja gimana?" pesan dari Evan yang di iringi emot love banyak.
"Maaf ya, gak kenal. Mas salah nomor kali."
"Nggak kok, cantik. Gak salah nomor, bener ini nomornya, Syakirah kan."
Sementara Syakirah yang ada di kamar di buat emosi dengan nomor yang tidak di kenalnya.
__ADS_1
"Apaan sih ni orang?! Gila kali ya! Bikin gue emosi aja." gerutu Syakirah, tapi Syakirah tetap meladeni orang yang tidak di kenalnya itu.
"Iya, gue Syakirah dan lo siapa?!!!" pesan dari Syakirah.
"Kamu gak perlu tau, cantik. Kita jadian ya? Tenang, aku setia kok, ganteng juga iya, duit juga banyak, rumah juga ada. Gimana? Hidup juga udah mapan. Atau kamu mau langsung nikah aja? Aku langsung siapin sekarang, besok kita nikah. Gimana?" Evan tersenyum sendiri melihat pesan yang dia kirim untuk Syakirah. Kayak cowok play boy aja ya gue ini, padahal juga nggak, pikir Evan dengan senyum-senyum seperti orang gila.
"Gue gak butuh semua itu! Lagi pula gue juga udah punya pacar kok!"
"Apaan sih, cantik? Orang gak punya pacar kok bilang punya pacar!"
"Gue punya kok! Mau lihat lo?!"
"Boleh, biar aku percaya gitu."
"/Mengirim foto."
Booom.
Hati Evan meledak rasanya saat melihat foto yang Syakirah kirimkan padanya. Evan melihat foto itu dengan kemarahan, foto Syakirah dan Ahmad yang sedang berada di taman XX dan foto dengan pohon yang berbentuk love. Sungguh hati Evan teriris rasanya. Harusnya tadi dia jujur bukan malah ngeprank Syakirah.
Sementara Syakirah membanting hpnya kesal gara-gara orang yang gak di kenalnya itu. Bahkan dia juga harus mengirimkan fotonya dengan Ahmad saat di taman XX.
"Gila!" gerutu Syakirah.
Evan bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya, tapi Evan berhenti saat Roy memanggil namanya.
"Apa?!" jawab Evan sedikit ketus.
"Lo mau kemana?" tanya Roy.
"Mau ke rumah Aliya!"
__ADS_1
"Ngapain?"
"Gue mau ketemu Syakirah!"
"Sadar juga lo."
"Roy, selama ini apa yang lo kerjakan?" tanya Evan dengan penuh kemarahan, Roy sampai merinding sendiri.
"Ya, gue nuruti perintah lo." jawab Roy dengan gelapagan.
"Lalu gimana Syakirah bisa pergi ke taman XX sama Ahmad?!! Lo sanggup gak sih sebenarnya?!!"
"Apaan sih, Van? Selama ini Syakirah selalu ada di rumah kok."
Evan melemparkan hpnya ke Roy, Roy dengan sigap menangkap hp itu. Roy terkejut melihat foto Syakirah dan Ahmad di taman XX. Gimana bisa gue kecolongan kayak gini ya? Pasti ini gara-gara sepupunya itu! Pikir Roy. Roy tidak bisa menjawab apa-apa tentang ini, sepertinya dia juga sudah salah besar kepada Evan.
"Lo lihat kan itu?! Syakirah sama Ahmad pergi ke taman XX! Berdua juga! Apa itu namanya kalau bukan kencan! Lo bilang hati Syakirah masih belum milik siapa-siapa, lalu gimana dengan foto itu! Kalau seandainya Syakirah gak kirim foto itu ke gue, lo juga gak bakalan tau!" Evan menunjuk kening Roy. Semua anak buah Evan bergetar ketakutan lagi, padahal baru saja mereka tenang.
"Tenang, Van. Gak usah pakai emosi sama marah-marah kayak gitu. Gue juga gak tau kalau Syakirah pernah kencan sama Ahmad, karena selama ini yang gue ikuti itu sepupunya bukan Syakirah." Roy tambah membuat Evan marah dengan ucapannya.
"Gue bilang apa sama lo! Ikuti Syakirah! Kenapa lo jadi ikuti sepupunya?!! Lo suka sama sepupunya?!!"
"Van, selama ini apa yang di lakukan sama Syakirah itu atas perintah sepupunya bukan kehendak Syakirah sendiri."
"Terus gimana kalau kayak gini ceritanya?! Lo lihat mereka berdua foto kan? Itu artinya mereka kencan dan mereka pasti udah jadian!"
"Sabar, Van. Gak usah pakai emosi napa, tambah tua lo nanti. Van, belum tentu juga orang kencan bakalan jadian. Ada juga yang kencan tapi gak jadian. Mungkin aja Syakirah kencan tapi dia gak jadian, cuma iseng-iseng kencan aja. Van, gara-gara foto aja belum tentu Syakirah jadian. Lo lagian ngechat Syakirah apa sih sampai Syakirah ngirimin lo foto?" jelas Roy panjang lebar.
"Tadi gue niatnya mau ngeprank dia tapi yang ada gue malah kena imbasnya kayak gini!" jawab Evan yang masih dengan emosi.
"Nah itu kesalahan lo. Lagian lo ngapain ngeprank dia? Gue kan udah bilang pesan biasa aja bilang kalau lo Evan. Lo kayak gitu aja ribet banget sih!" Roy juga sedikit emosi melihat Evan tapi dia tetap menahannya agar Evan tidak tambah emosi lagi gara-gara emosinya. " Udah, lo jangan percaya sama foto itu. Jangan sampai cuma gara-gara foto itu, lo datengin Syakirah dan nyekap dia di kamar lo! Udah lo tenang dulu. Gue yakin, Syakirah cuma iseng aja." jelas Roy lagi berharap Evan mau mendengarkan perkataannya, tapi nyatanya tidak.
__ADS_1
Evan berjalan keluar markas, memasuki mobil dan menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya menjauh dari markas. Roy panik bukan main melihat Evan yang pergi begitu saja. Roy meminta Thomas untuk ikut dengannya, Thomas pun akhirnya ikut dengan Roy. Barangkali ketemu sama Aliya, pikir Thomas. Mereka berdua menaiki motor ninja mereka dan menyusul kepergian Evan.
Bersambung......