
"Dia adalah salah satu anak yang di adopsi, tapi sayangnya dia hanya di manfaatkan sebagai pengemis." lanjut Ahmad.
"Apa?! Tega sekali orang itu!" Syakirah.
"Awalnya mereka berpura-pura baik kepadanya, setelah menjalani pemeriksaan dan mereka lulus pemeriksaan itu akhirnya mereka dinyatakan sah telah mengambil anak itu. Tapi setelah sekitar 3 bulan semuanya berubah, dia di paksa mengemis di jalanan dan mereka harus mencapai target 500 ribu setiap harinya. Jika kurang mereka tidak akan pernah dapat jatah makan selama 2 hari, dan jika bisa harus lebih dari target yang di tentukan." Ahmad.
"Lalu, bagaimana dia bisa kembali kesini lagi?" tanya Syakirah.
"Ibu panti menemukan dia saat dia sedang meminta uang kepada orang-orang. Awalnya ibu panti tidak percaya bahwa itu dia, dan saat dia meminta uang kepada ibu panti, dia langsung memeluk ibu panti sambil menangis. Melihat itu ibu panti langsung menghubungi pihak kepolisian atas dasar perbudakan anak kecil. Dan sekarang orang itu ada di penjara." jelas Ahmad. Syakirah mengangguk mengerti dengan penjelasan Ahmad. Seharusnya mereka merawat anak kecil dengan benar bukan malah menjadikannya budak untuk mencari uang.
Lama Ahmad dan Syakirah terdiam, mereka diam membisu seakan-akan mereka berada dengan jarak yang lumayan jauh. Terdengar Ahmad menghela nafas, Ahmad mendekati Syakirah dengan memperdekat duduknya. Ahmad meraih tangan Syakirah dan menggenggamnya dengan sangat erat.
Kenapa? Kenapa kau menggenggam tanganku? batin Syakirah.
"Syakirah." panggil Ahmad.
"Hmm." jawab Syakirah dengan gumam'an.
"Ayo kita menikah."
Duarr.
Ucapan Ahmad membuat tubuh Syakirah serasa di sambar petir. Bagaimana bisa Ahmad mengajaknya menikah padahal umur Syakirah saat ini masih terpaut 18 tahun. Syakirah langsung melepaskan genggaman Ahmad dengan kasar, melihat itu Ahmad sangat terkejut.
"Hei Ahmad! Kau pikir ini lelucon apa?! Kalau mau bercanda juga ada batasannya! Kau tidak ingat umurmu itu berapa? Umurmu itu masih 18 tahun sama seperti diriku. Bisa-bisanya kau mengajakku menikah di usia yang sangat muda ini." ujar Syakirah emosi.
"Kalau kau tidak mau menikah, bagaimana kalau kita bertunangan saja? Itu tidak masalah kan? Kita hanya mengikat status kita dengan pertunangan." Ahmad.
"Tidak! Umurku masih belum 19 tahun! Jangan berkhayal! Belum tentu kau mengajakku tunangan aku mau menerimanya! Jangan memikirkan hal yang tidak seharusnya kau pikirkan, Ahmad!" Syakirah mulai tambah emosi lagi.
"Apa salahnya? Tidak apa-apa kan? Hanya tunangan saja."
"Jangan gila!"
"Iya, aku gila gara-gara dirimu."
"Aku menyesal karena ikut denganmu. Kalau seperti ini lebih baik aku pulang saja."
Syakirah mulai beranjak dari duduknya, tapi tangannya di cekal oleh Ahmad.
"Iya iya, gitu aja marah."
"Ya marah lah!"
"Iya, duduk dulu."
"Huh!"
Syakirah duduk kembali ke tempatnya. Syakirah melihat anak-anak yang sedang di suruh untuk masuk ke dalam rumah. Syakirah mengerutkan keningnya heran.
__ADS_1
"Kenapa mereka di suruh masuk?" tanya Syakirah kepada Ahmad. Ahmad melihat jam di pergelangan tangannya dan jam itu menunjukkan waktu 1 siang.
"Mereka di suruh tidur jika sudah jam 1 siang." jawab Ahmad.
"Kenapa tidak tadi waktu sehabis sholat dhuzur?"
"Tidur siang tidak boleh terlalu lama. Maksimal 1 jam, jika lebih dari itu tidak baik. Pukul 1 mereka tidur dan pukul 2 nanti bangun untuk mengaji."
"Aku saja jika tidur siang sampai 3 atau 4 jam kok, ini kok malah 1 jam."
"Itu tidak baik, Syakirah."
"Menurutku itu baik."
"Tidak!"
"Baik!"
"Tidak!"
"Baik!"
"Terserah kau saja!"
Tiba-tiba gerbang panti asuhan terbuka, Ahmad dan Syakirah langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ada 5 anak berseragam SMP, di antaranya adalah 3 perempuan dan 2 laki-laki. Mereka mendekat ke arah Syakirah dan Ahmad.
"Waalaikumsalam. Kabar kak Ahmad baik. Kak Ahmad sibuk bekerja jadi gak bisa datang kesini. Tapi biasanya ada kakak kak Ahmad kan datang kesini." ujar Ahmad.
"Iya, kak."
Mereka beralih melihat Syakirah, mereka mengerutkan keningnya heran.
"Ini siapa?" tanya anak perempuan yang berkerudung.
"Ah, iya. Nama kakak, kak Syakirah. Kakak temannya kak Ahmad." ujar Syakirah memperkenalkan diri.
"Bukan teman, tapi calon istri." cerocos Ahmad.
"Apa sih?!" gerutu Syakirah.
Mereka menyalami punggung tangan Syakirah.
"Wih, udah lama gak ketemu, sekali ketemu langsung bawa calon istri."
"Bukan! Kak Syakirah cuma temannya kak Ahmad kok." jelas Syakirah.
"Gak apa-apa, kak. Jadi istrinya kak Ahmad enak loh, enak lahir dan batin loh."
Apanya yang enak? Dulu waktu pacaran udah sering disakiti. Hiks. batin Syakirah.
__ADS_1
"Terserah kalian deh. Percuma kakak jelaskan, kalian gak akan pernah paham." Syakirah.
"Jangan marah, kak. Kita cuma bercanda kok, jangan di buat serius gitu."
"Jadi ini kak Syakirah. Kak Ahmad sering loh cerita tentang kak Syakirah."
"Oh ya? Emang kak Ahmad cerita apa aja ke kalian?" Syakirah.
"Kak Ahmad bilang... "
"Woi! Kalau mau gosip jangan ada orangnya dong!" Ahmad.
"Apaan sih, kak Ahmad! Ganggu aja!"
"Iya, ganggu aja!"
"Udah masuk sana! Seragam sekolah belum ganti, udah mau ngegosip. Ganti baju dulu sana!" Ahmad.
"Iya, bawel."
Salah satu dari mereka mendekat ke Syakirah dan membisikkam sesuatu ke telinga Syakirah. Syakirah tersenyum dan mengangguk ke arah anak berkerudung itu. Mereka berlima pergi meninggalkan Syakirah dan Ahmad.
"Mereka membisikkan apa?" tanya Ahmad kepada Syakirah.
"Kepo!" jawab Syakirah ketus.
"Huh!"
***
Jam menunjukkan pukul 7 malam, anak panti sedang bertadarus bersama. Syakirah dan Ahmad juga ikut bertadarus, tapi tidak di tempat yang sama melainkan di tempat yang berbeda.
Saat tadarus sudah selesai, ketiga anak perempuan tadi mendekati Syakirah. Syakirah tersenyum melihat mereka.
"Kak Syakirah." panggil salah satu dari mereka.
"Apa?" jawab Syakirah.
"Kak Syakirah namanya kepanjangan, aku panggil kak Syaki aja ya?"
Deg.
Hati Syakirah serasa berhenti mendengar panggilan untuknya. Seketika Syakirah ingat panggilan itu, panggilan itu adalah panggilan yang sering di sebut oleh seorang laki-laki. Sudah sekitar 1 tahun laki-laki itu tidak ada kabar sama sekali. Syakirah sendiri juga tidak mencari tahu tentang laki-laki itu. Mengingat laki-laki itu membuat hati Syakirah berdenyut nyeri. Dia bisa mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Rasanya Syakirah ingin menangis sekarang ini.
"Kak! Kak Syakirah! Kak Syakirah! Kok diem sih, kak!" panggil anak-anak itu sambil mengoyangkan tubuh Syakirah.
"Eh? Eh? Iya? Apa?" jawab Syakirah gelagapan.
Bersambung......
__ADS_1