Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Akan terluka


__ADS_3

Sementara di kamar Syakirah, Syakirah sedang memikirkan ucapan Ahmad saat ada di warung tadi. Meskipun Ahmad sudah berpesan agar tidak terlalu memikirkannya, tapi tetap saja Syakirah terus memikirkannya sampai dia tidak bisa tidur. Dia masih belum percaya kalau Evan berbicara seperti itu kepada Ahmad, tapi dia juga bisa percaya karena saat Ahmad bicara tidak ada kebohongan sama sekali di mata dan wajahnya. Syakirah terus berusaha untuk menepis pikiran-pikiran negatif tentang Evan, tapi tetap saja dia kepikiran. Ingin memberitahu Kiya, takut jika Kiya tiba-tiba marah dan kecewa. Syakirah tadi juga sudah menghubungi teman geng motornya untuk mencari informasi tentang Evan dan Kiya saat dinner, Syakirah mau informasi itu secepatnya. Tapi tidak bisa, karena kedua geng motor tersebut bertolak belakang jadi akan lebih susah lagi dan membutuhkan waktu yang sedikit lama. Syakirah hanya bisa menunggu dengan sabar sampai waktunya informasi itu datang. Cemas yang ada di dalam hatinya juga semakin menjadi.


Syakirah mengambil hpnya dan menghubungi salah satu teman geng motornya, Vanya. Sambungan telpon pun tersambung.


"Gimana, Van? Lo udah dapat info?" tanya Syakirah kepada seberang sana.


"Nggak, gue masih belum dapat info apapun." jawab di seberang sana.


Syakirah semakin cemas lagi saat mendengar jawaban dari Vanya.


"Ya udah, kalau udah dapat infonya nanti kabarin gue secepatnya ya." pinta Syakirah.


"Lo tenang aja, gue pasti akan kabarin lo secepatnya."


Sambungan telpon pun terputus, Syakirah kembali menekan sebuah nama di benda pipih itu.


"Assalamualaikum. Ada apa, Rah?" tanya di seberang sana yang tak lain adalah Ahmad.


"Waalaikumsalam. Ahmad, aku mau minta bantuanmu." ujar Syakirah dengan cemas.


"Kenapa nada bicaramu seperti orang cemas seperti itu? Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" tanya Ahmad yang ada di seberang sana.


"Iya, ada yang mengganjal di hatiku dan ini tentang apa yang kau bicarakan saat ada di warung tadi." jawab Syakirah.


"Syakirah, kenapa kau memikirkan hal itu lagi? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak memikirkan hal itu? Tapi kenapa kau memikirkannya? Kan aku sudah bilang, mungkin ini hanya kecurigaanku yang terlalu berlebihan saja." ujar Ahmad.

__ADS_1


"Tapi tetap saja aku terus memikirkannya. Kau tidak tahu seberapa cemasnya aku saat kak Kiya akan merasakan sakit hati. Aku sungguh sangat cemas, Ahmad!" ujar Syakirah kepada seberang sana dengan sedikit kesal.


"Lalu, apa yang bisa aku bantu?" tanya Ahmad yang ada di seberang sana.


"Aku ingin kita mencari informasi bersama-sama, secara kau yang paling tahu tentang semua hal ini." jawab Syakirah.


"Mencari informasi? Aku tidak terlalu pandai mencari informasi tentang seperti ini. Apalagi sepertinya Evan menutupi ini semua dari teman-temannya dan tidak ada yang tahu."


"Lalu, bagaimana?" tanya Syakirah yang sudah semakin tidak karuan hatinya.


"Kita coba cari informasi pelan-pelan saja, pasti kita bisa menemukan jawabannya." saran Ahmad.


"Apa kau sudah gila?! Pelan-pelan?! Yang benar saja?! Nanti kalau kak Kiya yang tahu duluan bisa gawat dan panjang urusannya!"


"Hanya itu satu-satunya cara, kita tidak mungkin langsung memojokkannya begitu saja. Kalau aku lebih memilih seperti itu."


"Tidak ada, hanya itu satu-satunya cara." jawab Ahmad. "Syakirah, lebih baik kau tidur. Sepertinya kau sangat lelah sekali, ini juga sudah malam. Besok kita juga harus bekerja. Untuk masalah ini kita akan mencarinya bersama-sama." lanjut Ahmad lagi.


Meskipun sedang ada di telpon, Ahmad bisa tahu kalau pikiran Syakirah saat ini sedang sangat kacau sekali. Dia sangat menyesal telah memberitahu ini semua kepada Syakirah.


"Tapi, aku.... "


"Sssttt... aku yakin kita akan segera menemukan jawabannya. Kau jangan terlalu cemas." potong Ahmad yang ada di seberang. Terdengar helaan nafas Syakirah.


"Ya sudah kalau begitu, aku tutup telponnya ya? Assalamualaikum." ujar Syakirah.

__ADS_1


"Iya. Waalaikumsalam."


Akhirnya sambungan mereka berdua terputus. Syakirah menaruh hpnya ke nakas tanpa mematikan hpnya, barang kali ada temannya yang tiba-tiba telpon dan memberitahu tentang informasi tersebut. Syakirah mulai membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Sementara Ahmad sedang memandangi hpnya nanar. Dia sendiri juga sedang kebingungan tapi dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Kenapa ekspresimu seperti orang kebingungan dan cemas seperti itu? Soal Evan lagi?" tanya kak Rani yang tiba-tiba datang dari dalam sambil membawakan Ahmad teh jahe.


Tubuh Ahmad sedikit tidak enak saat pulang dari pabrik tadi. Tubuhnya terasa sangat dingin dan meriang sekali padahal hawa malam ini sangat panas. Matanya juga sangat panas sekali jika di buat berkedip.


"Iya." jawab Ahmad sambil meminum teh jahe itu.


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Kau sampai sakit seperti ini gara-gara memikirkan hal ini? Sungguh tidak bisa di percaya." ujar kak Rani.


Ahmad tidak menjawab, dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Kak Rani membimbing Ahmad agar melepas bajunya, lalu kak Rani mengeroki punggung Ahmad. Ahmad hanya diam saja.


"Syakirah juga meminta bantuanku untuk mencari informasi tentang hal ini." ujar Ahmad. Ucapan Ahmad seketika membuat kak Rani berhenti mengeroki punggung Ahmad, tapi tak lama dia melanjutkannya lagi.


"Bantu saja sesuai dengan kemampuanmu." jawab kak Rani.


"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat Kiya tahu soal hal ini. Apa mungkin dia akan sangat kecewa sekali? Secara dia tidak mau mengalami yang namanya sakit hati." ujar Ahmad lagi.


"Mungkin bisa jadi begitu. Aku juga cukup tahu tentang kepribadian Kiya, tapi aku sendiri juga melihat kalau Kiya juga memiliki hati yang setegar karang. Jadi aku yakin kalau dia bisa melewati ini semua dan menganggap hari lalu adalah bagian dari pelajarannya. Kiya adalah wanita yang kuat, sama seperti Syakirah. Dia bahkan bisa melindungi Syakirah dari lelaki brengsek sepertimu dulu, dan aku yakin dia juga bisa melindungi dirinya sendiri." lanjut kak Rani.


"Itu menurut kakak saja. Dia bisa melindungi seseorang yang dia sayang, tapi tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Dia pandai melindungi seseorang tapi tidak pandai melindungi dirinya sendiri. Semua orang juga seperti itu. Ada yang bisa melindungi dirinya sendiri dan orang lain. Ada juga yang bisa melindungi orang lain, tapi tidak bisa melindungi dirinya sendiri atau malah sebaliknya. Dan Kiya termasuk orang yang bisa melidungi orang lain, tapi tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Meskipun dari luar dia terlihat seperti wanita setegar karang dan juga wanita sakuat baja, tapi dia juga memiliki hati yang rapuh dan bisa tiba-tiba datang kapanpun hatinya akan terluka. Dan aku yakin sekali, kalau dia akan terluka saat mendengar hal ini." jelas Ahmad panjang lebar.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2