
Syakirah sudah pulang dari rumah sakit. Dokter memberikan izin kepada Syakirah untuk pulang, tapi tetap harus melakukan kontrol setiap dua hari sekali. Syakirah pun menyanggupi permintaan Dokter tadi.
Teman-teman Syakirah sudah ada di rumah Syakirah dan kebetulan juga hari ini pabrik sedang libur, jadi mereka tadi menjemput Syakirah di rumah sakit. Kiya pun juga ada di rumah Syakirah.
"Aku sudah pulang dari rumah sakit. Kapan ya aku bisa bekerja lagi?" Syakirah.
"Jangan memikirkan pekerjaan Syakirah, yang harus kau pikirkan saat ini adalah kau harus sembuh dulu!" Wahyu.
"Iya benar, kau harus sembuh dulu. Kalau sudah sembuh baru kau boleh memikirkan pekerjaan." Rey.
Syakirah hanya tersenyum menanggapi ucapan mereka. Syakirah sangat bersyukur memiliki teman seperti mereka. Teman yang selalu ada di saat dia susah dan terpuruk.
"Assalamualaikum." salam seseorang. Syakirah mengerutkan keningnya. Syakirah melihat Ahmad datang ke rumahnya dengan Hanifa yang memegang lengan Ahmad dengan erat.
Kenapa Ahmad datang kesini dan juga kenapa dia membawa Hanifa juga? Gawat disini ada teman-teman ku bisa-bisa mereka bertengkar. ujar Syakirah khawatir dalam hati.
"Waalaikumsalam. Ahmad silahkan masuk!" jawab Syakirah.
Ahmad hanya tersenyum menanggapi Syakirah, tapi tidak dengan Hanifa, dia hanya menanggapi dengan dengusannya. Dia tidak suka di ajak ke rumah Syakirah sedikitpun.
Ya ampun, anak ini berpakain busana muslim, memakai kerudung yang panjang dan menutup auratnya dengan rapat, seperti Kiya. Tapi, kenapa sikapnya seperti wanita ular begini ya? ujar Rey dalam hati.
Ck. Kenapa wanita ini datang kesini sih?Ahmad juga, kenapa mengajak dia kesini? Nanti kalau ada pertengkaran bagaimana? ujar Kiya dalam hati.
"Syakirah, maaf kalau aku mengganggu mu." ujar Ahmad kepada Syakirah.
"Ya, kau sangat menganggu sekali!" ujar Wahyu tak suka.
"Ah, Ahmad aku minta maaf ya. Tidak, kau tidak menganggu sama sekali. Silahkan duduk!" jawab Syakirah dengan senyuman terpaksa.
Ahmad duduk dengan Hanifa yang selalu menempel padanya. Sementara teman-teman Syakirah dan Kiya menatap tidak suka dengan mereka.
Ya ampun, kenapa suasana jadi runyam begini sih? ujar Syakirah dalam hati.
"Syakirah bagaimana keadaan mu? Apakah sudah semakin membaik?" tanya Ahmad kepada Syakirah.
"Tentu saja dia baik. Kalau dia tidak baik tidak mungkin juga dia pulang!" jawab Hanifa ketus. Sementara Syakirah hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Hanifa.
"Aku sudah baik Ahmad. Terima kasih sudah menanyakan keadaan ku." jawab Syakirah.
Ck. Kenapa Ahmad mengajakku kesini sih? Ini benar-benar membuatku sangat kesal. ujar Hanifa dalam hati.
"Kenapa kau datang kesini? kau kan tidak di undang!" ujar Ryan. Ahmad pun menoleh ke arah Ryan dan di tanggapi dengan senyuman liciknya.
Syakirah memelototkan matanya kepada Ryan. Ryan yang mendapat pelototan dari Syakirah hanya mendengus kesal.
"Ahmad, kau tidak perlu mendengarkan ucapan Ryan. Dia hanya bercanda saja." ujar Syakirah.
"Tidak apa-apa. Aku tidak masalah dengan hal itu. Aku datang kesini juga mempunyai maksud. Syakirah kau di undang oleh kak Rani untuk datang ke rumah. Dia akan ada di rumah terus mulai saat ini, datanglah kesana. Dan juga ibuku juga mencari mu. Dia menanyakan keadaanmu. Dia juga menyuruhmu untuk datang kerumah, karena ibuku tidak bisa datang kerumah mu. Kau boleh datang ke rumah saat kau sudah sembuh total." ujar Ahmad.
"Ah, begitu ya. Katakan terima kasih kepada mereka berdua dan juga katakan kalau aku akan datang secepatnya." jawab Syakirah.
"Hah! kenapa Syakirah boleh datang ke rumahmu sementara aku tidak boleh?" hardik Hanifa.
Ahmad hanya menanggapi ucapan Hanifa dengan pelototan. Hanifa pun mendengus kesal mendapat pelototan dari Ahmad.
"Mungkin kedatanganmu tidak di harapkan dengan orang tuanya? Hahahahahaa." jawab Ryan dengan tawanya, yang membuat Hanifa kesal.
"Haha. Hanifa kau tidak perlu mendengar ucapan dari temanku! Teman-temanku memang suka bercanda. Jadi, kau tidak perlu mendengarkan mereka." ujar Syakirah sambil tersenyum canggung. Hanifa hanya mendengus kesal.
Kiya datang membawakan minuman untuk Ahmad dan Hanifa. Dia memberikan minuman itu kepada mereka. Sementara, Hanifa menatap Kiya dengan tatapan liciknya.
"Hei Kiya, sudah lama tidak bertemu? bagaimana kabarmu?" tanya Hanifa basa-basi. Kiya langsung menegakkan tubuhnya dan melihat Hanifa dengan senyuman terpaksa.
__ADS_1
Tumben sekali anak ini menanyakan keadaan ku. Biasa juga selalu membuat masalah. Kiya.
"Kabarku baik, terima kasih sudah menanyakan kabarku." jawab Kiya.
Kiya, Kiya, kau adalah benteng Syakirah. Jika aku ingin menghancurkan Syakirah, maka aku akan menghancurkan mu terlebih dahulu. Kau selalu melindungi adik mu ini, padahal dia lebih keras dari pada dirimu. ujar Hanifa dalam hati.
"Kiya, apa kau mempunyai kekasih?" tanya Hanifa kepada Kiya. Kiya hanya memicingkan mata curiga kepada Hanifa.
"Tidak!" jawab Kiya.
"Hm? Tidak? Wanita cantik sepertimu tidak memiliki kekasih. Apa kau mau aku kenalkan dengan temanku? Aku punya teman yang seumuran denganmu. Kalau kau mau aku bisa mengenalkannya padamu?" Hanifa.
"Tidak, aku tidak mau. Terima kasih atas tawarannya." Kiya.
"Kenapa? kenapa kau tidak mau?" Hanifa.
"Tidak apa-apa." kiya.
"Lalu kenapa kau... " Hanifa tidak melanjutkan ucapannya karena mendapatkan jawaban dari Ahmad yang membuatnya kesal.
"Hanifa jangan membuat masalah!" ujar Ahmad kesal.
Mereka semua hanya memperhatikan Ahmad dan Hanifa dengan tatapan tidak suka. Sementara, Kiya sudah mengepalkan tangannya. Syakirah menatap kakaknya khawatir. Hanifa tahu kelemahan Kiya, oleh sebab itu kenapa dia berbicara seperti itu. Kiya selalu lemah saat ditanya soal pasangan. Orang tuanya saja tidak pernah menanyakan soal pasangan kepada Kiya dan ini malah Hanifa yang menanyakannya.
Ya ampun, dasar Hanifa. Bagaimana ini kak Kiya sedang marah? ujar Syakirah khawatir dalam hati.
"Hei, kau datang kesini hanya membuat masalah saja. Dari pada kau datang kesini untuk membuat masalah lebih baik kau pulang!" Rey.
"Hm? kenapa kau mengusir ku? Syakirah yang punya rumah saja tidak mengusirku, dan kau yang jadi tamu mengusirku!" Hanifa.
"Ck. Kedatanganmu datang kesini itu hanya membuat masalah saja!" Wahyu.
"Hei, aku tidak membuat masalah! Aku hanya bertanya saja. Apakah salah kalau ada seseorang bertanya?" Hanifa.
"Hei, kau itu cuma penganggu disini!" Navile.
"Dasar wanita ular." ujar Rey, Wahyu, Ryan dan Navile bersama'an. Hanifa yang mendapatkan sebutan itu pun langsung berdiri, begitu juga dengan teman-teman Syakirah. Syakirah dan Ahmad juga ikut berdiri.
"Hei, apa maksud kalian bicara seperti itu? Aku bukan wanita ular!" hardik Hanifa.
"Kalau kau tidak mau disebut dengan wanita ular, bagaimana dengan sebutan wanita jalang?Sepertinya itu lebih bagus. Hahahahahaa." Ryan.
"Apa! Apakah kalian ingin adu mulut denganku?" Hanifa.
"Hei, kenapa harus adu mulut? Kenapa kita tidak bertanding di dalam ring saja?" Navile.
"Apa kalian sedang...... " Hanifa.
"DIAM." Kiya.
"Hanifa, dimana sopan santun mu? Kau belajar di pesantren di ajari apa hah? Kau membuat masalah di rumah orang. Bukankah itu tidak baik. Kau itu adalah perempuan, kau harus menjaga sikap mu. Jika, sikapmu seperti ini, kau tidak di sebut dengan anak pesantren melainkan dengan anak kurang ajar!" hardik Kiya tajam.
"Apa! Ini bukan salahku! Ini salah mereka. Mereka yang memancing ku duluan!" Hanifa.
"Jika kau tidak membuat masalah duluan tidak mungkin mereka bersikap seperti itu padamu." Kiya.
"Jadi kau..... " Hanifa tidak melanjutkan ucapannya.
"Hanifa, kau keterlaluan. Percuma saja aku mengajak mu kemari, jika kau membuat masalah." Ahmad.
"Ahmad kenapa kau membela mereka? Yang salah itu mereka bukan aku!" Hanifa.
"Sudahlah. Syakirah maafkan kekacauan ini Syakirah. Aku tidak bermaksud untuk membuat kekacauan disini. Aku minta maaf." Ahmad.
__ADS_1
"Ahmad!" Hanifa.
"Iya, tidak apa-apa, ini juga bukan salahmu." Syakirah.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya. Sekali lagi maaf. Wassalamualaikum." Ahmad.
"Iya, terima kasih sudah menjengukku. Hati-hati di jalan. Waalaikumsalam." Syakirah.
"Ayo hanifa!" ujar Ahmad sambil menarik lengan Hanifa.
"Ahmad kenapa kau mengajak ku pulang. Aku belum selesai menghadapi mereka. Hei kalian, urusan kita belum selesai!" ujar Hanifa sambil berteriak.
"Siapa bilang urusan kita belum selesai? Saat bertemu nanti kita akan menyelesaikan urusan kita!" ujar Ryan.
Sementara, Kiya sedang menahan dirinya supaya air matanya tidak mengalir. Sementara Syakirah melihat Kiya dengan tatapan sedih.
"Kak, kau jangan memikirkan ucapan hanifa! Kau tahu kan dia memang seperti itu dari dulu. Jadi, kau tidak perlu memikirkan ucapan Hanifa tadi!" ujar Syakirah menenangkan Kiya.
"Iya." balas Kiya tersenyum.
Setelah kejadian tadi, semuanya jadi diam membisu, tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali.
Kiya hanya merenungi kejadian bebarapa menit yang lalu. Dia sangat kesal, sangat marah kepada Hanifa. Tapi, Kiya hanya bisa menahan emosinya. Karena sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan, Kiya memutuskan untuk pulang.
"Syakirah, aku pulang dulu ya!" ujar Kiya sambil berdiri.
"Apa? kakak mau pulang?" jawab Syakirah.
"Iya." Kiya.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku pulang dulu. Assalamualaikum." Kiya
"Waalaikumsalam." jawab Syakirah dan teman-temannya.
Kiya berjalan menuju rumahnya. Air matanya sudah menetes beberapa kali. Saat dia sampai di rumah, dia langsung menuju kamarnya, tanpa menuju ke kamar mandi dulu. Dia menangis terisak di kamarnya. Dia sangat sedih mendengar ucapan dari Hanifa tadi. Bukannya dia tidak mau menjalin hubungan, tapi bagi Kiya menjalin hubungan itu hanya membuat sakit hati saja. Lagi pula di agama kita seharusnya tidak ada yang namanya pacaran.
"Hanifa, kau sungguh keterlaluan. Aku akan membalas perbuatan mu! Kau tunggu saja!" ujar Kiya sesenggukan.
Sementara di rumah Syakirah sudah bingung.
"Ck. Kenapa perempuan itu selalu membuat masalah sih?" Wahyu.
"Dia itu tidak suka kepadaku, Wahyu." Syakirah.
"Kalau dia tidak suka kepadamu, kenapa dia menghina Kiya?" Rey.
"Ah, entahlah aku juga tidak tahu. Aku bingung melihat sikapnya. Dulu dia tidak seperti itu." Syakirah.
Semuanya terlihat bingung memikirkan kejadian tadi. Apalagi Syakirah, Syakirah sangat yakin kalau kakaknya Kiya sedang menangis saat ini.
Ya ampun, kedatangan Ahmad dan Hanifa ternyata membuat banyak masalah disini. Untung tidak ada ayah dan ibu, kalau ada pasti mereka juga ikut marah. ujar Syakirah dalam hati.
***
Sementara Ahmad dan Hanifa sedang ada di mobil. Ahmad menegur Hanifa karena perbuatannya tadi.
"Hanifa kau bilang, kau berjanji tidak akan membuat masalah, tapi kenapa kau malah membuat masalah?" ujar Ahmad kesal.
"Ahmad, jangan salahkan aku! Aku tidak berbuat apa-apa. Teman-teman Syakirah saja yang memancing ku duluan!" jawab Hanifa.
"Ck. Bicara denganmu tidak ada gunanya sama sekali."
Ahmad sedang berfikir mengenai Kiya, dia begitu sangat yakin kalau Kiya marah. Dia sangat frustasi sekali.
__ADS_1
Bagaimana kalau Kiya menjauhkan ku dengan Syakirah? ck Ini semua gara-gara Hanifa! ujar Ahmad dalam hati.
Bersambung......