Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Rumah Abel


__ADS_3

Setelah menunaikan ibadah sholatnya. Syakirah dan Kiya melanjutkan perjalanan mereka. Kurang dari satu jam, mereka sudah sampai di jalan rumah Abel. Mereka memasuki perkampungan, mereka berhenti di sebuah rumah. Rumah yang tidak pernah lihat karakteristiknya, padahal mereka pikir ini adalah rumah Abel.


"Kak, apakah Abel pindah rumah?" Syakirah bertanya kepada Kiya.


"Aku pikir ini rumahnya. Mungkin? Hehe." Kiya menjawab tidak yakin.


"Aku pikir ini memang rumahnya, tapi kenapa berbeda seratus delapan puluh derajat ya?"


Mereka kebingungan melihat rumah yang ada di depan mereka. Mereka tidak mungkin salah rumah karena memang ini adalah jalan rumah Abel. Mereka tidak tahu harus melakukan apa, karena mereka sudah sampai sini, mau tidak mau mereka harus bertanya.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum." Syakirah mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah tersebut. Tidak lama ada yang menyahut salam mereka dan membuka pintunya. Syakirah dan Kiya terkejut dengan orang tersebut. Mereka berteriak histeris dan memeluk orang tersebut.


"Ya ampun Abel. Aku kangen banget sama kamu." ujar Syakirah.


"Huwaa, aku juga kangen banget sama kalian." jawab Abel.


Setelah selesai dengan drama mistis mereka. Abel mempersilahkan masuk kepada Syakirah dan Kiya, tapi sebelum Syakirah masuk kerumah Abel, dia memakirkan mobilnya disamping rumah Abel dan setelah itu dia masuk kerumah Abel.


"Duduklah! Maaf ya, rumahku sedikit agak berantakan. Ini semua gara-gara adikku itu." Abel masuk kedalam rumah dan mengambilkan Syakirah dan Kiya air minum.


"Ini minumlah, aku yakin kalian pasti haus karena perjalanan kemari!" Abel menyuruh Syakirah dan Kiya meminum minuman yang ada didepan mereka.


"Makasih Bel" Syakirah dan Kiya mengucapkan terima kasih bersamaan.


"Apakah kalian menginap disini?" Abel bertanya kepada mereka.


"Iya, kami akan menginap disini tapi hanya empat hari saja." jawab Syakirah.


"Tumben empat hari, biasanyakan juga seminggu?" Abel.


"Maaf ya Bel, ini adalah kesepakatan antara Syakirah dan ayahnya. Syakirah baru saja keluar dari Rumah Sakit, ayahnya khawatir kalau Syakirah kenapa-kenapa, jadi dia mengizinkan Syakirah menginap disini hanya empat hari saja." ujar Kiya. Abel tentu saja terkejut mendengar kabar kalau Syakirah baru pulang dari Rumah Sakit. Padahal sewaktu berbalas dengan Syakirah, Syakirah sudah memberitahunya kalau dia baru saja keluar dari rumah sakit. Dasar Abel. Begitu gumam Syakirah.


"Syakirah, kau sakit apa? Apa kau sudah baik-baik saja? Apa masih ada yang sakit? Ayo katakan! Kenapa kau tidak bilang kalau kau sakit?" Abel bertanya mengebu kepada Syakirah.


"Kalau tanya itu satu-satu Bel, biar yang jawab gak bingung!" jawab Syakirah.


"Iya iya."

__ADS_1


"Aku cuma sakit lambung saja kok, selain itu aku juga gk apa-apa." jawab Syakirah.


"Kau yakin?" Abel memastikan.


"Iya."


"Ya sudah kalau begitu."


Setelah berbincang dengan Abel. Syakirah dan Kiya mengambil barang-barang mereka di mobil. Syakirah dan Kiya meletakkan barang-barangnya di ruang tamu, karena kamar Abel masih belum di bersihkan.


"Bel ini." ujar Kiya.


"Apa ini?" tanya Abel.


"Bahan-bahan masak sama camilan." jawab Syakirah.


"Aku tidak menyuruh kalian membawa ini!" Abel.


"Kau memang tidak menyuruhnya, tapi kami memang membawanya. Masa iya, kami kerumahmu tidak membawa apa-apa." Syakirah.


"Kalian tidak perlu membawa ini semua. Dan juga apa ini.... kalian membawa daging, ikan dan ayam? Hei rumahku ini bukan restoran. Kalau kalian mau bermain kerumahku, kalian itu cukup membawa barang-barang kalian saja tidak perlu membawa seperti ini!" Abel.


"Ya kalau mau bawa, ya bawa saja. Tapi, gak usah sebanyak ini juga!" Abel.


"Namanya juga orang bingung bel." Kiya.


"Kalian juga membawa camilan satu kantong plastik besar, memangnya ini bioskop yang banyak orang menonton film. Kita hanya bertiga, tapi kalian malah membawa camilan begitu banyaknya." Abel. "Lain kali, kalau mau datang kerumahku tidak usah bawa beginian, kalian cukup membawa barang-barang kalian saja!" lanjut Abel.


"Iya Bel, iya." jawab Syakirah dan Kiya bersamaan.


"Lalu, semua ini harus ditaruh dimana? Kulkasku tidak mungkin muat!" Abel.


"Untuk sayuran, buah, daging, ikan dan ayam, kau taruh di kulkas. Lalu camilan kau taruh di kamarmu juga tidak apa-apa kan?" Kiya.


"Huh! Ya sudah." Abel.


Abel masuk kedalam untuk menyimpan barang belanja'an Syakirah dan Kiya tadi. Sementara, Syakirah dan Kiya hanya tersenyum kecut melihat Abel mengomeli mereka. Tak lama, Abel kembali dari dalam.


"Kalian mau istirahat dulu, atau bagaimana?" Abel bertanya kepada mereka.

__ADS_1


"Istirahat dulu saja Bel, kita masih capek juga." jawab Kiya.


Abel mengangguk dan menyuruh mereka untuk mengikutinya. Abel mengantar mereka ke kamar tamu. Sebenarnya Syakirah dan Kiya tidak mau istirahat di kamar tamu, tapi Abel memaksa mereka karena kamarnya berantakan dan juga masih belum dibersihkan. Mereka pun mengangguki alasan Abel. Syakirah dan Kiya beristirahat sejenak untuk meredakan lelah mereka, sementara Abel sedang membereskan kamarnya yang berantakan.


***


Adzan magrib berkumandang, mereka menunaikan ibadah sholatnya. Setelah sholat, mereka pergi kedapur untuk makan malam.


"Maaf ya, ibu tidak bisa menyambut kalian datang tadi. Soalnya Abel juga tidak ngasih tahu." ujar ibu Abel.


"Iya tante, tidak apa-apa. Kita kesini juga kebetulan mendadak kok." jawab Kiya.


Setelah itu, mereka makan malam bersama. Saat selesai makan malam, Abel pamit kepada ibunya untuk keluar bersama Syakirah dan juga Kiya. Ibu Abel mengangguki pamitan Abel.


"Kita mau kemana?" tanya Syakirah kepada Abel.


"Ya jalan-jalan lah, masa dirumah terus?" jawab Abel. Syakirah dan Kiya saling tatap, mereka bingung Abel mau mengajak mereka kemana.


"Bel, kita mau kemana sih sebenarnya?" tanya Kiya.


"Sudah, kalian tenang saja. Ikut saja kenapa sih!" Abel.


"Bukannya gitu Bel. Kita itu kesini bawa mobil bukan bawa motor, terus kita naik apa kalau kita mengikutimu?" Syakirah.


"Oh iya, aku lupa. Hehe." Abel. Syakirah dan Kiya mendengus malas. Inilah Abel, sifatnya yang pemaksa dan juga sedikit konyol.


"Kita pakai sepeda gayuh, tidak apa-apa ya? Kebetulan ada sepeda gayuh punya abang aku. Tapi, sepedanya gayuhnya cowok. Kiya kamu mau naik sepeda gayuh cowok?" Abel. Kiya tentu saja terkejut dengan penawaran Abel tadi, mana mungkin dia naik itu. Baju dan kerudungnya yang panjang bisa membuat dia jatuh nanti. Kiya menatap Abel tajam. Jangan berfikir aneh-aneh. Begitu yang Abel lihat dari tatapan Kiya.


"Tidak." jawab Kiya singkat.


"Kalau begitu, kau aku bonceng saja ya?" Abel. Kiya mengangguki ucapan Abel, sementara Syakirah naik sepeda gayuh sendiri. Syakirah mengikuti Abel, entah kemana Abel membawanya, Syakirah ikut saja.


Mereka menggayuh sepeda mereka sekitar lima belas menit, mereka sampai di sebuah taman. Banyak sekali orang-orang yang sedang berjalan bersama pasangannya.


"Kenapa kau mengajak kami kesini?" tanya Kiya kepada Abel.


"Ya jalan-jalan lah, masa iya mau bersih-bersih." jawab Abel santai. Sementara Kiya melotot mendengar jawaban Abel


Dasar sahabat laknat. gerutu Kiya di dalam hati. Sementara Syakirah menahan tawanya mendengar jawaban Abel tadi.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2