
Akhirnya mereka sampai di bandara, Roy memilih untuk tidak memakai pesawat pribadi keluarganya dan memilih untuk memakai pesawat umum, karena alasan tertentu. Roy menggendong tubuh Clara yang sedang tidur, tidak berniat untuk membangunkan Clara dari mimpinya sama sekali. Supir tadi membawa kedua koper besar tadi.
"Hati-hati saat di jalan nanti, tuan muda." ujar supirnya sambil membungkukkan badan. Roy hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu masuk ke dalam bandara. Kopernya di bawa oleh Pramugari pribadi keluarganya. Akhirnya Roy dan Clara memulai perjalanan mereka untuk ke Amerika dengam harapan Clara sembuh saat pulang ke Indonesia.
***
Malam sudah di gantikan oleh pagi, bulan telah di gantikan oleh matahari. Semua orang yang awalnya tidur menjadi bangun dan menjalani aktifitasnya setiap hari. Begitu pula Kiya, dia sedang berada di sebuah restoran dekat dengan perumahan Aliya, dia mau bertemu dengan Syakirah dan memberikan kue kesukaannya. Hari ini dia libur karena menggantikan posisi temannya yang waktu itu. Kiya sedang mencatat dan memberi nilai hasil dari ulangan murid-muridnya. Sudah ada satu jus buah dan sepotong kue blackforest di mejanya. Mood Kiya pagi ini sangat baik sekali, kekhawatirannya sudah hilang soal Syakirah, tapi moodnya berubah saat ada lelaki yang tiba-tiba duduk di kursi mejanya. Kiya hanya menatap lelaki itu datar, Kiya tidak menggubris kedatangan lelaki itu dan melanjutkan pekerjaannya.
"Kiya." panggil lelaki itu. Kiya tidak menggubrisnya dan terus melanjutkan pekerjaannya.
"Apa lo gak punya telinga?" tanya lelaki itu. Kiya tetap tidak menggubrisnya.
Cih! Mau apa cecunguk ini? Tidak tahu aku sedang sibuk apa?! batin Kiya.
"Ck! Lo kenapa diam aja sih?! Gue itu panggil lo." mulai emosi karena Kiya tidak menggubrisnya.
"Evan, jika kedatanganmu hanya untuk menggangguku lebih baik kau pergi!" ya, lelaki itu adalah Evan, orang yang sangat tidak Kiya sukai karena pernah menorehkan luka di hati adik sepupunya.
Evan mau sarapan pagi di restoran ini, tapi tak di sangka saat dia baru saja masuk dia sudah bertemu dengan Kiya. Karena ingin mendapatkan restu dari Kiya jadi Evan menghampiri Kiya, tidak peduli Kiya marah atau tidak nantinya.
"Ck! Lo kenapa judes banget sih jadi cewek?! Pantas aja gak ada yang mau sama lo, orang judes lo kelewatan!"
"Jodoh sudah ada yang menentukan, kalau jodohnya sudah datang apapun yang terjadi pasti akan tetap terjadi." ujar Kiya. Evan hanya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Kiya.
"Apa hubungannya judes sama jodoh? Perasaan gak ada." ujar Evan.
__ADS_1
Kiya sudah sangat jengah, moodnya benar-benar sudah berubah karena kedatangan Evan. Kiya berdiri dari duduknya, memasukkan semua peralatannya ke dalam tas, lalu Kiya meletakkan 2 lembar uang seratus ribu di meja dan menindihnya dengan gelas jus tadi.
Kiya berjalan keluar dari restoran, Evan terus mengikutinya sambil berteriak memanggil namanya. Karena panggilan Evan tidak di gubris oleh Kiya, Evan terpaksa memegang pergelangan tangan Kiya. Kiya yang melihat tangannya di pegang oleh Evan, langsung memberikan tatapan kematian. Evan segera melepaskan tangannya dari tangan Kiya saat Kiya memberikannya tatapan kematian untuknya.
"Sorry, sorry. Tadi gue reflesk." ujar Evan gelapagan saat melihat tatapan Kiya.
Gila! Matanya kayak udah mau mencabik-cabik gue aja! Apa dia emang kayak gitu ya? Segitu gak sukanya kah dia sama gue? batin Evan.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku? Jangan pernah mengangguku!" ujar Kiya dengan tegasnya.
"Gue gak ganggu kok. Emang salah ya kalau mau ngomong sama calon kakak iparnya?" celetuk Evan. Kiya hanya memberikan tatapan datarnya, lalu berjalan kembali.
"Kiya! Kiya! Lo mau kemana? Gue bisa antar lo. Lo mau ke rumah Aliya kan? Gue anterin gimana?" Evan tetap bersih kukuh dengan pendiriannya. Karena sudah tidak tahan dengan sikap Evan, akhirnya Kiya meladeni Evan.
"Evan, jangan pernah menggangguku! Kalau kau bicara denganku setidaknya ada batasannya! Kita ini bukan muhrim, jaga sikapmu! Kalau kau mau aku menghargaimu, setidaknya hargai aku sebagai wanita!" ujar Kiya dengan sangat tegas, nada bicaranya juga sudah mulai meninggi. "Aku ini tidak seperti Syakirah, kami memang saudara tapi kami juga memiliki kepribadian kami masing-masing!" lanjut Kiya lagi. Evan tertegun mendengar ucapan Kiya.
Apa? Dia minta maaf? Aku tidak salah dengar kan? batin Kiya.
Apa-apaan dengan mulutku ini?! Kenapa tiba-tiba mengucapkan kata maaf kepadanya? Kata maafku biasanya hanya keluar di hadapan Syakirah saja, tapi kenapa keluar saat ada dihadapannya? batin Evan.
Kiya menghela nafas, lalu melanjutkan jalannya. Evan tidak mengikutinya karena masih terkejut dengan ucapan maafnya kepada Kiya.
***
Kiya sudah duduk di sofa rumah Aliya sambil mengejarkan pekerjaan yang dia tunda gara-gata Evan tadi. Sementara Syakirah sedang bekerja lewat rumah. Beberapa hari yang lalu bu Ariana menelponnya dan menyuruhnya untuk bekerja dari rumah, bu Ariana selalu mengirimkan file-file setiap pagi dan juga siang. Syakirah tidak akan pernah di pecat dari sana karena dia sangat berharga di pabrik. Aliya sendiri juga sudah berangkat ke kampusnya.
__ADS_1
"Kak, apa kau tadi bertemu dengan Evan?" tanya Syakirah tiba-tiba.
"Bagaimana bisa kau tahu?" tanya Kiya terkejut.
"Evan mengirimkan pesan padaku, katanya tadi dia bertemu denganmu di restoran. Dia juga bilang kalau kalian berbincang-bincang cukup lama." ujar Syakirah.
Apa? Berbincang-bincang? Cukup lama? Sudah gila apa ya?! Yang ada kita berdua itu bertengkar! batin Kiya.
"Ternyata pertemuan kalian kemarin menimbulkan dampak besar ya. Kalian bahkan sudah dekat." ujar Syakirah dengan sangat senang.
"Kita tidak sedekat itu!" ujar Kiya.
"Itu tidak mungkin. Evan bilang kalau berbincang-bincang cukup lama kok. Tapi aku heran denganmu, kak. Biasanya kau tidak pernah dekat dengan orang yang baru saja kau kenal? Tapi dengan Evan kenapa kau tiba-tiba dekat? Padahal pertemuan kalian itu kemarin." ujar Syakirah yang di penuhi dengan sangat keheranan.
"Bilang padanya, 'apa dia mau mati di tanganku?' " ujar Kiya. Syakirah mengangguk dan tidak bertanya lebih.
"Van, kata kak Kiya 'Apa kau mau mati di tangannya?" pesan terkirim. Tak lama hp Syakirah berbunyi menandakan ada pesan masuk.
"Ah, sebenarnya kami tadi tidak berbincang lebih tepatnya bertengkar😁" pesan balasan dari Evan.
"Ah, jadi dia berbohong? Ck!" ujar Syakirah kesal karena Evan berbohong kepadanya.
"Apa dia mengaku?" tanya Kiya dengan seringai liciknya.
"Iya, tapi tumben dia langsung jujur saat aku mengiriminya pesan seperti itu? Apa yang sudah kau lakukan kepadanya, kak? Tidak sepertinya Evan langsung jujur seperti ini?" tanya Syakirah.
__ADS_1
Bersambung......