Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Hadiah dan surat dari Kiya


__ADS_3

"Tapi raut wajahmu seperti... "


"Diamlah, atau aku akan merobek mulutmu itu!" Kiya memotong ucapan Hanifa. Jengah sekali dia saat berbicara dengan Hanifa. Persetan dengan Hanifa tidak akan ada untungnya sama sekali. Hanifa langsung diam saat Kiya memotong ucapannya.


***


Kiya dan Hanifa sudah ada di dalam mobil Asraf, kali ini Kiya yang menyetir karena saat Hanifa yang menyetir tadi, mereka hampir saja menabrak tiang listrik.


"Ck! Untung saja tidak sampai ke tabrak tadi, kalau ke tabrak nanti gimana!" Kiya menggerutu.


"Ya maaf, namanya juga masih pemula." jawab Hanifa. Kiya hanya mendengus kesal saja.


***


Akhirnya sampai juga di rumah Kiya. Kiya turun dari mobil, Hanifa juga ikut turun. Hanifa membantu Kiya memasukkan hadiah dari Asraf ke dalam rumahnya. Setelah semua selesai, Hanifa langsung membanting tubuhnya di sofa.


"Haduh, capek." ujar Hanifa yang nafasnya ngos-ngosan karena bolak balik.


"Ini, minumlah." ujar Kiya sambil menaruh nampan yang berisi es jeruk dan camilan ringan.


"Terima kasih." Hanifa meminum es jeruknya dengan sangat tergesa-gesa.


"Aaahhhh, segarnya." ujar Hanifa yang setelah meminum es jeruk itu. Hanifa berdiri dari duduknya. "Kiya, aku pamit pulang dulu ya. Terima kasih atas minumannya." ujar Hanifa.


"Kenapa kau buru-buru pulang? Kau tidak mau mampir ke rumahku sebentar saja?" tanya Kiya.


"Tidak, lain kali saja. Ini sudah sore, aku juga harus mengembalikan mobil Asraf ke orang tuanya." jawab Hanifa.

__ADS_1


"Oh iya, ngomong-ngomong saat Asraf sampai disana, dia naik apa kalau mau pergi ke suatu tempat?" tanya Kiya.


"Ada paman dan bibinya. Motornya sudah di taruh 3 bulan yang lalu di rumah paman dan bibinya. Saat dia sampai sana nanti, mungkin dia akan naik taksi untuk ke rumah pamannya. Lalu dia mengambil motornya dan membawanya pulang ke apartemen." jelas Hanifa.


"Dia punya apartemen?" tanya Kiya lagi.


"Punya, di belikan oleh ayahnya sebulan yang lalu." jawab Hanifa. Kiya mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku pamit dulu ya. Assalamualaikum." lanjut Hanifa dengan berpamitan.


Kiya mengantarkan Hanifa sampai teras rumahnya, ada ketakutan di hati Kiya saat Hanifa mengendarai mobil Asraf. Takut jika saja Hanifa kenapa-kenapa, tadi saja sudah hampir menabrak tiang listrik.


Saat Hanifa sudah pergi, Kiya masuk ke dalam rumahnya lagi. Dia membersihkan tubuhnya dan menunaikan ibadah sholatnya. Saat sedang melipat mukenahnya, Kiya melihat hadiah dari Asraf, ada buket uang juga. Kiya pikir dia tidak pantas untuk menerimanya, karena dia bukan siapa-siapa Asraf. Kiya mengambil ponselnya, dia mengambil beberapa foto hadiah dari Asraf.


"/foto/ Terima kasih atas hadiahmu. Ku harap ini yang pertama dan terakhir darimu. Jika ingin memberiku hadiah setidaknya jangan banyak-banyak, satu saja itu sudah sangat cukup untukku. Semoga harimu menyenangkan disana ^_^" pesan terkirim tapi hanya centang satu saja, karena Asraf masih ada di pesawat juga.


Kiya menaruh ponselnya di atas nakas, lalu dia mulai menata hadiah dari Asraf dan menggabungkannya ke hadiah dari teman-temannya saat dia ulang tahun waktu itu. Kiya mengambil buket bunga dan buket berisi uang, Kiya mengambil uang yang ada di buket itu dan memasukkannya ke dalam tabungannya.


***


Dear, Asraf.


...Aku tidak tahu apa yang kau sukai jadi aku hanya bisa memberikanmu ini. Semoga kau suka. Ya meskipun di luar selera lelaki tapi aku harap kau mau menerimanya. Maaf ini tidak baru, ini adalah salah satu koleksi kesukaanku, mungkin tidak bagus seperti baru beli tapi aku harap kau suka. Aku sudah mau membelikanmu hadiah, tapi karena ujian tengah semester sudah tinggal beberapa minggu lagi jadi aku lupa untuk membelikanmu hadiah, karena kesibukanku yang sudah bertambah....


...Pesanku untukmu adalah jaga kesehatanmu karena kau tinggal di kota orang. Jangan lupa untuk makan makanan yang sehat agar tubuhmu tidak gampang sakit. Jangan lupa untuk istirahat saat kau sudah lelah. Itu saja pesanku, mungkin sedikit tidak bermanfaat tapi aku hanya bisa mengatakan itu. ...


...Aku tidak tahu kepalamu habis terbentur apa karena kau tiba-tiba saja berubah. Aku juga tidak mengerti dengan pola pikirmu. ...


Semoga sukses. See you next time, Asraf.

__ADS_1


^^^Kiya^^^


Asraf tersenyum membaca surat dari Kiya. Asraf mengembalikan surat itu kedalam kotak lalu menutupnya kembali. Asraf memeluk kotak itu sangat erat, seolah-olah itu adalah kotak yang sangat berharga untuknya.


Kiya, aku sangat senang dengan hadiah yang kamu berikan, meskipun tidak baru tapi aku tetap senang. Aku lebih menyukai barang milikmu dari pada kau harus membeli untukku. Aku janji akan menyimpan hadiahmu dengan sangat baik. Aku tidak akan merusak barang pemberianmu. batin Asraf.


Asraf terus memeluk kotak itu sambil tersenyum, dia benar-benar beruntung bisa mengenal wanita sebaik Kiya, meskipun sifatnya di luar jangkauan wanita.


***


Hari sudah malam, Kiya sedang makan malam berdua dengan kak Rahman karena kedua orang tuanya sedang ada urusan.


"Kiya, apa kau sudah memiliki pasangan?" tanya kak Rahman tiba-tiba. Kiya langsung menghentikan makannya dan memandangi kak Rahman.


"Belum." jawab Kiya ragu. Sepertinya Kiya tahu apa yang ada di otak kakaknya ini.


"Kakak punya kenalan, orangnya sangat baik, dia adalah bos kakak. Umurnya sama seperti kakak, hanya saja kakak lebih tua darinya. Kakak ingin kau berkenalan dengannya. Ada baiknya kau mencari sendiri dari pada harus di jodohkan oleh ayah dan ibu." kan apa dugaan Kiya. Kak Rahman pasti akan membahas tentang ini saat sedang berdua seperti ini.


"Kakak jangan mengatur diriku. Aku bisa mencari kehidupanku sendiri. Aku pasti akan mendapatkan pasangan. Kakak jangan khawatir." ujar Kiya yang berdecak kesal.


"Umurmu sudah memasuki 19 tahun kan? 1 tahun lagi kau akan menikah. Ada baiknya kau menuruti permintaanku ini. Percayalah kepada kakak, dia masih muda, tampan. Aku tidak tahu seperti apa seleramu itu tapi dia termasuk ke dalam daftar orang yang sempurna." ujar kak Rahman.


"Kakak jangan pernah mencampuri urusanku! Aku bisa mengurus urusanku sendiri! Kakak urus saja urusan kakak! Sehabis tahun baru kakak akan menikah, jadi urus saja urusan kakak itu! Jangan pernah ikut campur urusanku! Aku sudah dewasa dan sudah bisa untuk menata hidupku sendiri!" ujar Kiya emosi.


Katakan kalau Kiya keras kepala, iya tapi memang seperti itu kenyataannya. Kiya tidak suka di atur oleh orang lain. Kiya sudah berniat untuk menentang kedua orang tuanya agar tidak menjodohkannya. Kiya yakin kalau dia bisa mencari lelaki pilihannya sendiri.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2