
Hari ini Syakirah sudah berada di kantornya. Dia sudah duduk ditempatnya dan sedang melamun. Pabrik tempat Syakirah bekerja memang tidak ada hari libur, kecuali hari libur nasional atau saat hari penting seperti idul fitri, idul adha atau hari penting lainnya dan juga mereka tidak akan libur jika tidak diliburkan oleh atasan mereka.
Syakirah sedang melamunkan kejadian semalam, apalagi saat mendapatkan tamparan dari Hanifa dan itu sangat membuatnya sangat kesal. Dia berfikir jika Wahyu tau kejadian semalam apa Wahyu akan memarahi Syakirah. Membayangkannya saja sudah membuat Syakirah merinding.
Bel masuk kerja sudah berbunyi. Syakirah juga sudah mengerjakan berkas-berkas yang ada di mejanya. Hari ini Syakirah sangat tidak fokus sama sekali, karena memikirkan kejadian semalam.
Wahyu yang melihat Syakirah tidak fokus langsung mengerutkan keningnya, apalagi tadi pagi dia juga melihat Syakirah sedang melamun.
Apa yang kamu pikirkan Syakirah tidak biasanya kamu seperti ini? Apakah ada masalah atau kamu sedang memikirkan Ahmad ? ujar Wahyu dalam hati.
Melihat Syakirah yang seperti itu Wahyu akan bertanya kepada Syakirah saat istirahat nanti. Akhirnya Wahyu melanjutkan pekerjaannya.
***
Bel istirahat sudah berbunyi. Syakirah dan teman-temannya sudah ada dikantin dan memakan makanan mereka masing-masing dalam diam.
Setelah selesai makan dan meminum minuman mereka masing-masing, akhirnya mereka mulai bicara. Ryan yang ingin mulai bicara duluan langsung didahului oleh Wahyu.
"Syakirah aku ingin bertanya kepadamu?" tanya Wahyu kepada Syakirah. Syakirah yang mendengar pertanyaan Wahyu langsung gemetaran sambil melihat Rey. Rey sendiri juga sudah gemetaran. Dia tahu sekali saat Wahyu sedang marah.
Apakah Wahyu sudah tahu? Apakah dia sudah tahu kalau kemarin malam aku bertemu dengan Ahmad? Bagaimana ini? ujar Syakirah dalam hati.
"Eh?… Iya. Kau mau tanya apa?" jawab Syakirah gemetar.
"Dari tadi kau kenapa? Dari pagi aku lihat kau melamun. Apakah ada masalah atau jangan-jangan kamu sedang memikirkan Ahmad?" tanya Wahyu curiga. Syakirah yang mendengar pertanyaan wahyu langsung pucat pasi.
"Iya dari tadi aku melihatmu juga sedang melamun dari pagi, apakah kau ada masalah?" tambah Navile yang membuat Syakirah tambah takut.
"Ti...tidak aku... aku hanya sedang tidak enak badan saja, kepalaku dari tadi pagi sangat pusing mungkin karena datang bulan, jadi aku sedikit pusing." jawab Syakirah ketakutan.
Wahyu yang mendengar jawaban Syakirah memicingkan mata curiga, karena Syakirah tidak biasanya seperti ini, jika dia datang bulan mungkin dia akan sensitif.
"Apa kau yakin? aku pikir kau tidak sedang sakit tapi kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Hei... apa yang kau katakan? aku ini juga manusia, aku juga bisa sakit. Kenapa kau berfikir seperti itu?" Syakirah pura - pura marah padahal di dalam hatinya dia sangat takut sekali.
"Ya sudah. Apakah kau tidak ingin istirahat? aku takut kau akan tambah sakit nanti jika tidak istirahat, nanti biar aku katakan kepada Bu Ariana."
"Tidak, tidak usah aku masih baik - baik saja. Nanti jika aku tidak kuat, aku akan ke ruang istirahat. Kau tidak perlu khawatir."
"Ya sudah."
Wahyu masih belum puas akan jawaban Syakirah. Dia akan mencari tahu apa yang sudah terjadi dengan Syakirah nanti, apalagi saat ditanya olehnya, Syakirah langsung gemetar dan juga melihat Rey. Wahyu sangat yakin bahwa sudah terjadi sesuatu kepada Syakirah, tapi Syakirah menyembunyikannya darinya.
__ADS_1
***
Syakirah dan teman-temannya sudah duduk dibangku kursi mereka dan menatap komputer mereka masing-masing.
"Rey, aku ingin bicara denganmu!" ujar Wahyu.
"Kau mau bicara apa? Bicara saja!" jawab Rey.
"Aku ingin bicara berdua denganmu, secara pribadi, apa boleh?"
"Iya boleh."
"Ya sudah, nanti kita bicara saat pulang kerja saja."
"Huh! Ngapain harus pulang kerja? Secara pribadi juga. Ngapain sih? Ngapain gak ngomong langsung aja!?" hardik Syakirah kesal.
"Iya kenapa gak ngomong di depan kita?" tambah Ryan.
"Ini urusan pribadi. Kalian tidak perlu tahu nanti pasti akan aku beritahu!" jawab Wahyu.
"Huh! kau selalu seperti itu."
Mendengar permintaan Wahyu membuat Rey takut, karena Rey tahu apa yang akan Wahyu bicarakan.
***
"Syakirah pulanglah ini sudah malam, istirahatlah." ujar Wahyu.
"Huh! Kau yakin tidak ingin bicara denganku!?" jawab Syakirah kesal.
"Tidak."
"Huh! Ya sudah aku pulang dulu!" Pamit Syakirah kesal. Karena Syakirah sangat penasaran apa yang ingin Wahyu bicarakan kepada Rey. Syakirah takut kalau Wahyu akan memojokkan Rey untuk mencari tahu tentang dirinya.
Setelah melihat Syakirah pulang. Wahyu langsung mengajak Rey ke caffe tanpa pulang terlebih dahulu.
"Rey ikut aku, kita bicara di caffe biasanya saja!" ujar wahyu.
"Iya."
Setelah memutuskan untuk pergi ke caffe. Mereka segera berangkat agar tidak terlalu malam saat pulang nanti.
Setelah sampai di caffe. Mereka langsung mencari tempat untuk bicara dan mulai memesan makanan atau minuman. Setelah pesanan mereka sampai, mereka mulai bicara.
__ADS_1
"Apa yang kau ingin bicarakan kepadaku sampai-sampai secara pribadi?" ujar Rey.
"Apa yang terjadi dengan Syakirah?" ujar Wahyu.
"Hah? Kenapa kau bertanya seperti itu?Memangnya apa yang terjadi dengan Syakirah? Kenapa kau malah bertanya kepadaku?" jawab Rey pura-pura tidak tahu.
"Jangan berbohong! Kau pasti tahu apa yang sudah terjadi dengan Syakirah. Aku melihat tadi saat aku bertanya dengan Syakirah, dia melirikmu seperti meminta penjelasan dan kau seperti ketakutan."
"Hei, kenapa kau jadi menyalahkan aku? Aku bahkan tidak tahu apa masalah Syakirah. Bukankah wajar saja jika seseorang melamun?"
"Aku tidak menyalahkanmu tapi aku bertanya kepadamu Reyhan Ilham." ujar Wahyu. Mendengar Wahyu menyebutkan nama panjangnya membuat Rey ketakutan, padahal Rey sudah berusaha agar dia tidak dicurigai.
Haduuuuh bagaimana ini? Wahyu sudah berusaha memojokkanku, dia juga menyebut nama panjangku yang artinya dia meminta penjelasan lebih. Aku harus bagaimana ini? ujar Rey ketakutan di dalam hati.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Syakirah, Wahyu. Bukankah tadi kau sudah bertanya padanya dan dia juga menjawab pertanyaanmu. Tapi, kenapa kau malah bertanya kepadaku? Memangnya aku ini orang tua Syakirah yang selalu tahu keadaan Syakirah seperti apa!?"
"Aku yakin kau tahu sesuatu tentang Syakirah, Rey."
"Tidak Wahyu! Aku tidak tahu apa - apa. Perasaan Syakirah baik - baik saja, kemarin dia juga sedang berjalan-jalan di pasar malam dengan sepupunya, Kiya." ujar Rey. Mendengar ucapan Rey tentang Kiya membuat Wahyu langsung membelalakkan matanya.
"Apa kau bilang tadi? kemarin Syakirah berjalan-jalan dengan sepupunya?" ulang Wahyu.
"Iya, aku lihat kok kemarin dia baik - baik aja."
Rey tersadar akan ucapannya. Apa yang dia ucapkan malah membuat petaka. Apalagi dia tadi melihat Wahyu berfikir setelah Rey bilang kalau Syakirah sedang berjalan-jalan dengan sepupunya. Rey takut kalau Wahyu akan memojokkan Kiya, apalagi Kiya juga tidak tahu seperti apa saat Wahyu sedang marah.
Apa yang aku katakan? dasar mulut tidak bisa di ajak kompromi. Bagaimana kalau Kiya memberitahu apa yang terjadi semalam? ujar Rey merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
Jadi kemarin malam Syakirah berjalan-jalan dengan Kiya. Baiklah, jika Rey tidak memberitahuku, lebih baik aku tanya Kiya saja. Aku yakin dia pasti tahu! ujar Wahyu dalam hati
"Kau yakin tidak tahu apa-apa tentang Syakirah?" tanya Wahyu sekali lagi sambil memperhatikan wajah Rey.
"Iya aku tidak tahu apa-apa."
"Ya sudah kalau begitu. Aku tidak akan bertanya lagi."
"Hmmm."
Setelah menghabiskan pesanan mereka mereka. Mereka memutuskan untuk pulang karena sudah malam.
Wahyu juga memutuskan untuk bertemu dengan Kiya dan bertanya kepadanya, jika Kiya punya waktu nanti.
Bersambung......
__ADS_1