
Syakirah sedang berdiam diri di rumah. Dia sangat bosan sekali, apalagi Wahyu mengatakan kepada Bu Ariana untuk menambah waktu libur Syakirah sebanyak sepuluh hari. Awalnya Syakirah sangat kesal kepada Wahyu, tapi Syakirah sadar yang Wahyu lakukan itu adalah untuk kebaikannya.
Ibu Syakirah sedang menemani adiknya yang sedang sekolah Ayahnya pergi bekerja. Sementara Kiya juga sedang mengajar. Teman-temannya juga sedang bekerja.
Saat ini Syakirah sedang ada di kamar, dia sedang mendengarkan musik yang ada di laptopnya. Setiap dia mendengarkan musik hatinya selalu tenang, apalagi kalau mendengar orang yang sedang mengaji dan membacakan ayat-ayat suci Al - Qur'an Masyaallah hatinya merasa damai dan tenang sekali.
Syakirah sedang mendengarkan lagu yang berjudul Sahabat Jadi Cinta. Lagu yang dinyanyikan oleh Mike Mohede. Lagu yang menceritakan tentang persahabatan antara laki-laki dan perempuan, yang dimana seorang laki-laki tersebut menyukai seorang perempuan, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Menurut Syakirah lagu ini adalah lagu yang menceritakan dirinya dulu saat dia menjalin hubungan dengan ahmad.
Bulan terdampar di pelatara
Hati yang temaram
Matamu juga mata-mataku
Ada hasrat yang mungkin terlarang
Satu kata yang sulit terucap
Hingga batinku tersiksa
Tuhan, tolong aku jelaskanlah
Perasaanku berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Kudapati diri makin tersesat
Saat kita bersama
Desah napas yang tak bisa dusta
Persahabatan berubah jadi cinta
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
Tak bisa hatiku menafikan cinta
Karena cinta tersirat bukan tersurat
Meski bibirku terus berkata tidak
Mataku terus pancarkan sinarnya
Apa yang kita kini tengah rasakan
Mengapa tak kita coba persatukan
Mungkin cobaan untuk persahabatan
Atau mungkin sebuah takdir Tuhan
Syakirah selalu suka mendengar lagu itu. Dia seperti kembali ke masa-masa saat dia sedang berpacaran dengan Ahmad. Tapi, sekarang lagu ini hanyalah kenangannya saja.
"Ya ampun, aku bosan sekali. Apa yang harus aku lakukan di rumah ya? Bagaimana kalau aku mengirim pesan ke temanku Abel? sudah lama tidak berbalas pesan dengan dia." ujar Syakirah.
__ADS_1
Syakirah sedang mengirimkan pesan ke Abel.
"Assalamualaikum Abel." Syakirah. Syakirah sedang menunggu balasan dari Abel. Tak lama ponselnya berbunyi, dia segera melihatnya.
"Waalaikumsalam Syakirah. Ada apa?" Abel.
"Abel bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak berbalas pesan seperti ini." Syakirah.
"Alhamdulillah kabarku baik, kau sendiri bagaimana?" Abel.
"Kabarku juga baik." Syakirah
"Alhamdulillah kalau begitu. Oh iya, bagaimana kabar temanku yang satunya lagi?" Abel.
"Hmm kak Kiya ya.... kak Kiya kabarnya baik kok, cuma mood nya sedang memburuk sepertinya." Syakirah
"Hah! Memburuk? Apa maksudnya itu? Coba ceritakan sedikit!" Abel.
"Beberapa hari yang lalu aku sakit dan di rawat di rumah sakit. Lalu sudah seminggu lebih aku di rumah sakit. Aku baru di perbolehkan pulang kemarin. Saat pulang ada teman-temanku datang ke rumah, kak Kiya juga ada di rumah ku. Tak lama kemudian, datang Ahmad dan Hanifa. Awalnya semuanya baik-baik saja, tapi saat kak Kiya memberikan minuman kepada Ahmad dan Hanifa, Hanifa membicarakan kelemahan kak Kiya. Tentu saja kak Kiya marah. Kau tahu kan, kalau kak Kiya anti sekali dengan yang namanya hubungan. Kak Kiya sangat marah sampai dia memutuskan untuk pulang. Jadi seperti itu ceritanya." Syakirah
"Ck. Dasar perempuan gila, tidak tahu malu!" Abel.
"Aku sekarang sedang memikirkan agar kak Kiya melupakan kejadian semalam." Syakirah.
"Memang dari dulu Hanifa itu sangat menjengkelkan. Sudahlah membahas tentang dia membuat mood ku juga ikut Memburuk saja." Abel.
"Iya, kau benar sekali." Syakirah.
"Lalu, sekarang Kiya sedang apa?" Abel.
"Sekarang kak Kiya sedang mengajar. Oh iya kalau boleh tahu kau sudah bekerja Abel?" Syakirah.
"Iya, aku sudah bekerja. Sebenarnya aku ingin bekerja sebagai designer ,tapi kemampuan menjahit ku tidak semahir menjahitmu. Jadi sekarang aku bekerja seperti Kiya, menjadi guru." Abel.
"Wah... tidak apa-apa. Kau bisa mencobanya lagi saat ada waktu luang. Aku yakin kau pasti bisa! Menjadi guru itu juga menyenangkan kok, ada anak-anak yang menghibur kita saat kita sedang sedih." Syakirah.
"Iya, aku harus berlatih lebih giat lagi, terima kasih ya semangatnya. Menjadi guru itu memang menyenangkan, tapi aku tidak sesabar kiya atau dirimu, bahkan anak-anak sampai takut kepadaku." Abel.
"Ya kau dari dulu memang pemarah. Belajarlah untuk sabar Abel!" Syakirah.
"Iya, aku akan coba ╭∩╮(-_-)╭∩╮oh iya, Apa kau tidak mau berkunjung kerumah ku Syakirah?" Abel.
"iya, tentu saja. Memangnya rumahku ada dimana lagi, kalau tidak di Madura?" Abel.
"Jauh sekali dari rumahku. Kebetulan juga aku sedang libur. Nanti coba aku tanyakan kepada kak Kiya ya?" Syakirah.
"Iya. Oh iya, Syakirah nanti lagi ya. Aku harus mengajar lagi." Abel.
"Iya, semangat ya!" Syakirah.
"Ya, Wassalamualaikum." Abel.
"Waalaikumsalam." Syakirah.
Setelah berbalas pesan dengan Abel. Syakirah melamunkan kejadian semalam dan juga tawaran Abel untuk datang kerumahnya.
Dia tidak tahu apa dia dilarang atau diperbolehkan untuk ke Madura atau tidak. Madura sangat jauh dari rumahnya, perjalanan menuju kesana membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Dan, dia juga tidak mungkin memakai motor untuk kesana, dia harus menyewa mobil untuk pergi ke rumah Abel.
Syakirah sedang mengirimkan pesan untuk Kiya.
"Assalamualaikum kak Kiya." Syakirah.
"Waalaikumsalam Syakirah. Ada apa? Apa kau butuh sesuatu? katakan saja!" Kiya.
"Tidak kak, aku tidak butuh apa-apa." Syakirah.
"Lalu, ada apa?" Kiya.
"Kak tadi aku sedang berbalas pesan dengan Abel. Dia menawari kita untuk berkunjung ke rumahnya. Apa kau bisa?" Syakirah.
"Syakirah, rumah Abel itu sangat jauh. Kita tidak mungkin naik motor kan kesana? kita harus naik mobil. Untuk masalah Mobil tidak masalah, kita bisa pinjam ke suaminya bunda siti, tapi untuk izin orang tua apa kita di perbolehkan?" Kiya.
"Aku tahu kak soal itu. Nanti aku akan coba bicara kepada ayah dan ibu ku." Syakirah.
"Iya, aku nanti juga akan mencobanya." to Syakirah.
__ADS_1
"Ya, sudah kak ya. Maaf sudah mengganggu waktu mengajar mu. Wassalamualaikum." Syakirah.
"Waalaikumsalam." Kiya.
Setelah memberikan informasi mengenai berkunjung ke rumah Abel, Syakirah membaringkan tubuhnya. Dia berniat istirahat sebentar. Tiba-tiba saja ponsel Syakirah berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Syakirah segera membuka ponselnya, saat Syakirah lihat nomor yang tidak dikenal. Nomor ini mengirimkan pesan untuknya.
"Syakirah." no unknown.
Syakirah berfikir, siapa orang yang mengirimkan pesan ini dan juga dia tahu nama Syakirah.
"Maaf, siapa ya?" Syakirah. Lama tidak ada jawaban, lalu sebuah pesan masuk dengan nomor yang sama.
"Syakirah, ini aku Ahmad. Maaf kalau aku menganggu mu." no unknown.
"Ahmad?" Syakirah.
"Iya, aku Ahmad." no unknown.
'Waalaikumsalam.' Syakirah.
"Eh? Iya maaf Syakirah. Assalamualaikum." Ahmad.
"Waalaikumsalam. Lain kali jangan seperti itu, tidak sopan!" Syakirah.
"Iya, maaf." Ahmad.
"Dari mana kau tahu nomor ku?" Syakirah.
"Aku minta ke kak Rani. Maaf ya kalau aku lancang." Ahmad.
Syakirah memang memberikan nomor ponselnya ke kak Rani. Syakirah pikir kak Rani tidak akan memberikannya kepada Ahmad, tapi ternyata salah, kak Rani memberikan nomor ponselnya ke Ahmad.
Dari dulu Syakirah berbalas pesan dengan kak Rani lewat sosial media di akun pribadinya. Karena Syakirah dulu memang berniat untuk menghindari keluarga Ahmad, agar dia bisa melupakan Ahmad. Saat kak Rani mengirimkan pesan untuknya lewat sosial media, belum tentu juga Syakirah akan membalasnya.
Saat di rumah sakit, Syakirah memang berniat memberikannya, karena dia pikir lima tahun itu sudah cukup untuk menghindar dari keluarga Ahmad. Tapi, bukan berarti dia akan memiliki nomor ponsel Ahmad. Dia tidak pernah mengharapkan itu. Itu akan membuat masalah saja baginya.
Ternyata kak Rani memberikan nomor ponselku kepada Ahmad ya. Seharusnya aku memperingatkannya agar tidak memberikan nomor ponselku dari Ahmad. Syakirah.
"Iya tidak apa-apa." Syakirah.
"Kenapa kau mengirimkan pesan untukku?" Syakirah.
"Ah, iya. Aku mau minta maaf soal kejadian yang semalam." Ahmad.
"Kau tidak perlu minta maaf. Ini bukan sepenuhnya salahmu, ini juga salah teman-temanku juga. Kau tidak perlu memikirkannya!" Syakirah.
"Tapi, tetap saja. Aku merasa bersalah kepadamu." Ahmad.
"Sudah tidak apa-apa." Syakirah.
"Terima kasih ya sudah memaafkanku." Ahmad.
"Iya sama-sama." Syakirah.
"Syakirah, boleh aku minta sesuatu hal padamu?" Ahmad
"Kau mau meminta apa? jika aku sanggup aku akan membantu, jika tidak, maaf ya." Syakirah.
"Aku ingin...... kau tetap menyimpan nomor ku. Itu saja." Ahmad
"Apa?" Syakirah.
"Aku tahu ini berat untukmu, tapi aku mohon jangan hapus nomorku!" Ahmad.
"Tapi, aku tidak mau berurusan dengan Hanifa, Ahmad." Syakirah.
"Kau tidak perlu khawatir, ini adalah ponsel kedua ku. Hanifa tidak tahu soal ponsel kedua ku." Ahmad.
"Ya sudah, kalau begitu." Syakirah.
"Terima kasih Syakirah. Wassalamualaikum." Ahmad.
"Sama-sama. Waalaikumsalam." Syakirah.
Syakirah tersenyum-senyum sendiri melihat pesannya dengan Ahmad. Ahmad hanya minta hal yang sepele dan di sanggupi dengan Syakirah, sementara tanggapan Ahmad juga sangat senang sekali.
__ADS_1
Setelah berbalas pesan dengan orang-orang tadi, tak lama adzan dhuzur berkumandang. Syakirah segera menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Syakirah menunaikan ibadah sholatnya. Saat Syakirah sudah selesai, dia pergi ke dapur untuk meminum obatnya dan segera istirahat.
Bersambung......