Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Dinner Kiya ( Part 1 )


__ADS_3

"Dia lagi spa, biar pikirannya tenang juga. Tadi dia sempet marah-marah juga sih tapi gue gak terlalu urus juga, dia pasti jaga imagenya kalau disini jadi gak masalah. Sekarang gue juga mau lihat baju buat gue sama kak Kiya dulu, nanti gue kabarin lagi. Mumpung free ya." pesan dari Syakirah. Lalu Syakirah memasukkan hpnya ke dalam tasnya lagi. Dia pun keluar dari lift saat liftnya sudah berhenti dan terbuka.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Kiya juga sudah selesai dengan pakaiannya. Dia sedang bercermin di depan cermin sambil memperhatikan wajahnya. Baju yang dia kenakan adalah baju yang dia pilih tadi. Sementara Syakirah memakai sebuah gaun selutut berwarna hitam berompi serta rambut yang tergerai indah dan make up yang natural.


Apa benar ini aku ya? Kok seperti bukan aku? Ini make upnya juga soft juga sih. Baru kali ini aku pakai make up, cantik. batin Kiya.


Syakirah tersenyum senang dan mendekap kedua tangannya di dadanya saat melihat Kiya yang sudah sempurna.


"Syakirah, apa perlu sampai seperti ini? Aku rasa kerudungnya kurang panjang." ujar Kiya. Dari tadi dia melihat kerudungnya yang hanya sampai bawah dadanya saja.


"Tidak, kak. Tidak apa-apa. Yang penting area dadanya tertutupi kan." ujar Syakirah.


"Aku... sedikit minder." ujar Kiya sambil bercermin lagi.


"Tidak usah minder. Kau itu sudah cantik sekali. Andai kau mau berdandan seperti ini dari dulu pasti banyak lelaki yang suka denganmu." Kiya langsung memberikan tatapan kematian kepada Syakirah, Syakirah langsung membungkam mulutnya.


"Apa sepatu heels nya tidak terlalu tinggi?" tanya Kiya sambil menarik bajunya ke atas agar heelsnya bisa terlihat.


"Tidak, kak. Itu sudah standard." jawab Syakirah. Lalu Kiya menurunkan bajunya lagi. Syakirah mengecek hpnya dan tersenyum senang kalau mobilnya sudah sampai.


"Ayo, kak kita keluar. Mobilnya sudah datang." ajak Syakirah. Kiya mengangguk lesu saja.


Mereka berdua berjalan keluar dari butik, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil. Mobil pun sudah berangkat untuk ke tempat tujuan.


Kenapa jantungku berdetak sangat kencang seperti ini ya? Kenapa aku gugup ya? Apa mungkin karena ini dinner pertamaku? batin Kiya.


Kiya meremas kedua tangannya, gugup. Keringat dingin sudah muncul saat dia naik mobil tadi. Kiya berdoa di dalam hatinya agar dia tenang. Syakirah yang melihat kakaknya cemas dari tadi langsung menggenggam tangan Kiya.


"Tidak akan ada apa-apa, kak. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku yakin." ujar Syakirah menenangkan Kiya. Kiya mengangguk mendengar ucapan Kiya.


***


Sementara di restoran XX Evan sedang panik bukan main. Ini pertama kalinya dia dinner dengan wanita sedingin es. Roy, Thomas, Aliya dan Clara sudah menenangkan Evan dari tadi. Ya, mereka berempat ikut juga, awalnya hanya Thomas dan Aliya saja tak di sangka Roy juga sudah datang ke markasnya juga, jadi dia juga ikut sambil membawa Clara karena kasihan di rumah terus.


"Kalian lakuin sesuatu kek! Dari tadi diam mulu!" geruru Evan.


"Van, kita itu udah nenangin lo dari tadi. Lo nya aja yang terlalu panik." ujar Roy.

__ADS_1


"Diam lo! Lo juga gak bisa buat apa-apa! Bisanya cuma ngoceh mulu dari tadi!".Evan emosi.


Nyesel gue ikut kesini. Lebih baik di rumah aja tadi. batin Roy.


Mereka lebih memilih diam saja dan membiarkan Evan untuk panik sendiri. Dan tak lama mobil yang di tumpangi Syakirah dan Kiya sudah sampai, Evan tambah was-was lagi.


"Gimana ini?! Gue panik! Roy! Thomas!" ujar Evan.


"Panik gak?" Clara.


"Panik gak?" Aliya.


"Panik gak?" Roy dan Thomas.


"Ya panik lah masa nggak!" ujar mereka berempat kompak.


"Kalian itu ya! Aaarrrggghh!" Evan.


Sementara Syakirah dan Kiya masih belum turun dari mobil. Syakirah masih mengecek hpnya untuk melihat situasi.


"Van, gimana? Lo udah siap?" pesan dari Syakirah.


"Hah?! Lo gimana sih? Cepetan! Atau lebih baik gak usah aja deh!" pesan dari Syakirah dengan emoji marah.


"Ya jangan gitu juga lah. Oke gue udah siap."


Syakirah menaruh hpnya ke dalam tas lagi.


"Ayo kak, kita turun." ajak Kiya.


Akhirnya mereka berdua turun dari mobil. Saat sampai di pintu masuk restoran mereka berdua sudah di sambut oleh pelayan. Pelayan itu menyuruh mereka untuk mengikutinya, Syakirah dan Kiya akhirnya mengikuti pelayan itu dari belakang. Sampai di sebuah taman dan ada karpet merah yang di injak Kiya, Syakirah melepaskan pegangan tangannya.


"Berjuang ya, kak. Aku tahu kakak pasti bisa kok." ujar Syakirah menyemangati.


"Loh? Kau mau kemana?" tanya Kiya panik.


"Aku masih ada di tempat ini kok, kak. Tapi di tempat yang beda. Masa iya aku lihat kakak lagi dinner sama cowok? Kan aku jadi nyamuk gitu ya kan." ujar Syakirah.


Syakirah lalu meninggalkan Kiya sendirian bersama pelayan lelaki itu. Kiya tambah was-was saat Syakirah meninggalkannya.

__ADS_1


"Kita tunggu sebentar ya, nona. Tuan muda sedang mempersiapkan dirinya." ujar pelayan itu.


"Maaf, pak. Saya mau tanya. Siapa lelaki yang akan dinner dengan saya? Apa bapak tahu?" tanya Kiya kepada pelayan tersebut. Pelayan itu tersenyum.


"Maaf, nona. Meskipun saya tahu siapa lelaki yang akan dinner dengan nona, saya tidak akan memberitahunya kepada nona." jawab pelayan tersebut.


"Eh? Kenapa?" tanya Kiya heran.


"Itu sudah dari rencana yang di suruh dari tuan muda, jadi saya hanya menjalankan tugas saja." jawab pelayan tersebut.


"Setidaknya kasih ciri-ciri orang tersebut, pak. Saya mohon." ujar Kiya memohon.


Kata tuan muda gak apa-apa kalau misal cuma ciri-cirinya aja kan? batin pelayan tersebut.


"Dia tampan." ujar pelayan tadi.


Bukan itu maksudku, maksudnya dia seperti apa. Aku tahu kau pasti akan bilang dia tampan karena dia tuan muda mu, tapi yang aku maksud karakteristiknya. batin Kiya frustasi.


"Selain itu?" tanya Kiya.


"Dia juga rendah hati." jawab pelayan itu.


Ini seperti pujian dan bukan karakteristik! batin Kiya.


"Bukan itu maksudku. Maksudku, bagaimana gaya rambutnya? Tinggi badannya dan apa ya?" jelas Kiya.


Eh? Nona ini malah bertanya seperti ini? Apa aku jawab saja ya? Pasti dia juga tidak akan tahu kan? Ini kan kali pertama mereka dinner dan bertemu. batin pelayan tadi.


"Gaya rambutnya itu berponi depan. Tinggi badan kurang lebih 180 ke atas. Dan dia adalah CEO perusahaan Novanda." ujar pelayan tadi.


Eh? Apa tadi dia bilang? Rambut berponi? Memangnya ada CEO yang seperti itu? Kenapa aku tidak asing ya? batin Kiya.


"Apa dia juga ada tindik di kedua telinganya?" tanya Kiya ragu.


"Benar, nona." jawab pelayan tersebut.


Apa? Ada tindiknya? Apa mungkin Evan? Itu tidak mungkin kan? Tidak mungkin mungkin juga dia suka dengan wanita sepertiku ini. batin Kiya.


Rambut Evan memang berponi, ada tindik di kedua telinganya tapi tindik itu hanya dia pakai saat sedang tidak bekerja saja.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2