
"Itu Evan, Al." ujar Syakirah kepada Aliya.
"Apaan sih, Rah? Orang gak ada apa-apa kok. Tadi aku lihat tidak siapa-siapa di mobil belakang." jawab Aliya. Memang mobil Evan memiliki kaca hitam yang tidak tembus, hanya orang handal yang bisa melihat dalam mobilnya, seperti Syakirah saat ini.
"Lo tau apa sih, Al!" Syakirah emosi melihat Aliya yang belum peka juga. Padahal Syakirah pernah menjelaskannya dulu kepada Aliya. Syakirah masuk dan meninggalkan Aliya yang sedang di landa kebingungan.
Syakirah mengambil jaket dan mengeluarkan motor ninjanya yang selama ini dia titipkan kepada Aliya. Aliya yang di tinggal Syakirah begitu saja, tambah bingung lagi.
***
Sementara di rumah Wahyu sedang ada perundingan masalah Syakirah, mereka masih belum tahu kalau Syakirah ada di rumah Aliya. Karena setahu Wahyu, Syakirah sudah lama tidak ada kontak dengan Aliya.
"Jadi bagaimana? Kita membiarkan Syakirah untuk menenangkan dirinya atau kita harus tetap mencarinya?" tanya Wahyu saat pikiran mereka sudah buntu.
"Aku tidak tahu. Aku tidak punya keberanian untuk datang ke markas Syakirah, kalian aku suruh juga tidak mau." ujar Kiya.
"Hei Kiya, mengertilah. Kau tidak tahu seberapa kejamnya mereka, jangan melihat dari rutinitas mereka tapi lihat dari penampilan mereka saja. Kelopak mata hitam, tindik di bagian hidung atau di lidah mereka, bibir yang semerah darah. Kau melihat saja pasti sudah merinding." ujar Rey.
"Ck! Ini semua juga gara-gara kalian. Kalau kalian tidak menjauhi Syakirah, tidak mungkin dia jadi begini sekarang. Kalian tidak punya otak memang!" Kiya emosi.
Mereka semua diam. Jangan membantah jika Kiya nanti emosi atau kalian yang akan kena imbasnya, mereka ingat kata-kata Wahyu untuk memperingati mereka agar mereka tetap diam saat Kiya marah. Mereka pun mengikuti kata Wahyu.
"Sudahlah, kalian yang harus bertanggung jawab. Kalian kan yang sudah membuat Syakirah seperti ini. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab." ujar Kiya sambil menunjuk Rey, Ryan dan Navile.
"Apa!" kompak bersama.
"Kiya, tolong mengertilah. Kau tidak tahu rasanya saat bertemulah dengan mereka, kakiku saja sampai lunglai. Jangankan bertemu, tidak sengaja berpapasan saja sudah membuat kakiku lunglai." Ryan.
"Kau pikir aku peduli? Tidak sama sekali! Ini juga salahmu kan." Kiya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau begini. Kita datang bersama-sama di markas Syakirah. Itu lebih baik kan dari pada bertiga saja." saran Navile.
"Aku tidak mau!" Kiya menolak dengan tegas.
"Wahyu.... " Ryan merengek kepada Wahyu dan tentu saja Wahyu tidak menghiraukan rengekan Ryan.
"Kiya, Ahmad juga harus ikut kalau begitu!" tunjuk Ryan kepada Ahmad yang dari tadi diam menyimak pembicaraan mereka.
"Kenapa aku juga harus ikut?" Ahmad tidak terima.
"Kami seperti itu kepada Syakirah juga gara-gara kau!" Navile.
"Kiya, aku tidak tahu apa-apa tentang masalah mereka dan Syakirah. Tolonglah percaya padaku kali ini." Ahmad.
Kiya bertambah pusing lagi saat mereka tidak ada yang mau untuk menghampiri markas Syakirah dan malah saling tunjuk.
"Sudahlah, lebih baik aku yang pergi jika seperti ini." akhirnya Kiya turun tangan dengan perbuatan mereka. Yang berbuat siapa, yang bertanggung jawab siapa. Mereka bernafas lega, kecuali Wahyu.
"Tidak usah, Wahyu. Aku bisa sendiri. Lagi pula markas Syakirah juga tetap ada disana kan. Aku pernah kesana tapi hanya lewat saja tidak lebih." Kiya.
"Tidak, Kiya. Syakirah juga temanku. Syakirah begini juga gara-gara sepupuku kan, jadi biarkan aku yang bertanggung jawab." Wahyu.
"Jika memang seperti itu baiklah." Kiya.
Sepertinya Wahyu ada rasa dengan Kiya. batin Rey.
Kenapa Wahyu selalu berada paling depan jika urusan dengan Kiya? batin Ryan.
Apa mungkin Wahyu suka dengan Kiya? Tapi itu sepertinya tidak mungkin. Mana mungkin hati Wahyu yang seperti es itu bisa suka dengan Kiya. batin Ryan.
__ADS_1
Wah, wah, wah, sepertinya ada sesuatu yang Wahyu tutupi. Ahmad.
Mereka semua beranggapan sama tentang perasaan Wahyu kepada Kiya. Mereka memang tidak tahu perasaan Wahyu kepada Kiya seperti apa, hanya Syakirah saja yang tahu.
"Karena keputusan sudah jatuh kepadaku, jadi sepertinya aku harus pulang. Ini sudah malam, aku tidak mau orang tuaku khawatir karena aku tidak pamit tadi kalau mau keluar. Nanti aku kabari lagi tentang ke markas Syakirah. Kalau begitu aku pamit. Assalamualaikum." Kiya.
Kiya mengambil tas dan langsung pergi dari rumah Wahyu. Wahyu mengatarkan Kiya sampai teras, Kiya sudah jauh akhirnya Wahyu masuk lagi ke dalam rumah. Wahyu duduk kembali di tempatnya tadi.
"Sepertinya ada yang diam-diam jatuh cinta nih sama si Kiya." Ryan.
"Tutup mulutmu!" Wahyu.
"Kenapa? Bukankah kenyataannya memang seperti itu? Kau selalu berada paling depan jika sudah menyangkut tentang Kiya kan. Kau tidak bisa berbohong, Wahyu. Ternyata hatimu yang sedingin es itu bisa mencair ya setelah bertemu dengan Kiya." Ryan.
"Benar sekali. Apa kau butuh bantuan kami untuk menaklukan hati Kiya yang keras itu? Aku bersedia untuk membantu sampai akhir." Ahmad.
"Tenang saja, kau pasti akan mendapatkannya." Rey.
"Langsung lamar saja. Kiya tidak kan tidak mau pacaran jadi kalian ta'aruf saja." Navile.
"Tutup mulut kalian! Atau aku akan merobek mulut kalian yang tidak pernah bisa diam itu! Kalian tidak tahu apa-apa tentang aku dan Kiya. Jadi jangan pernah berfikiran yang tidak-tidak!" Wahyu mulai emosi.
"Ayolah, Wahyu. Cerita saja, kami itu juga temanmu kan. Kenapa kau tidak pernah cerita ke kami? Kami pasti akan membantumu dengan senang hati." Ryan.
"Huh! Kalian itu tahu apa sih? Yang kalian tahu itu hanya menyakiti hati seseorang saja! Lebih baik kalian pulang, aku mau istirahat!" Wahyu.
Akhirnya mereka berempat pulang dari rumah Wahyu, mereka sebenarnya juga takut saat Wahyu sedang marah juga. Ralat! Mereka tidak pulang tapi pergi ke tempat kesukaan mereka, Ahmad pun juga ikut. Hubungan Ahmad dan sahabat Syakirah bertambah baik. Selepas kepergian mereka semua, Wahyu masuk dan duduk kembali di kursi. Dia merenungkan kata-kata temannya.
"Apa yang mereka ucapkan tadi ada benarnya ya? Apa mungkin aku harus melamar Kiya dan menjalani ta'aruf dengan Kiya? Tapi apa Kiya mau? Hati Kiya itu sama sepertiku, dingin sedingin es, keras sekeras batu, di lunakkan pun juga belum tentu lunak sama seperti hatiku. Apa aku meminta bantuan mereka? Tapi itu sama saja menggunakan cara licik dan aku tidak mau Kiya membenciku gara-gara itu." ujar Wahyu frustasi.
__ADS_1
Selama ini Wahyu hanya mengucapkan nama Kiya di dalam sujud dan doanya. Jika Wahyu memang jodoh untuk Kiya, Wahyu memohon untuk mempermudah jalannya. Tapi jika Wahyu bukan jodoh untuk Kiya, Wahyu ikhlas karena jodoh yang di berikan oleh Allah lebih indah dari pada jodoh yang dia buat sendiri. Saat ini Wahyu hanya bisa mendoakan saja untuk perasaannya.
Bersambung......