Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Nomor yang tidak di kenal


__ADS_3

"Kakak jangan pernah mencampuri urusanku! Aku bisa mengurus urusanku sendiri! Kakak urus saja urusan kakak! Sehabis tahun baru kakak akan menikah, jadi urus saja urusan kakak itu! Jangan pernah ikut campur urusanku! Aku sudah dewasa dan sudah bisa untuk menata hidupku sendiri!" ujar Kiya emosi.


Katakan kalau Kiya keras kepala, iya tapi memang seperti itu kenyataannya. Kiya tidak suka di atur oleh orang lain. Kiya sudah berniat untuk menentang kedua orang tuanya agar tidak menjodohkannya. Kiya yakin kalau dia bisa mencari lelaki pilihannya sendiri.


"Kiya, aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu itu. Tapi tidakkah kau berfikir kalau lebih baik untuk mencari pasangan sendiri? Kau yakin mau di pilihkan ayah dan ibu? Jika kau tetap mengikuti perjodohan, aku berani menjamin kalau kriterianya tidak seperti apa yang kau inginkan." ujar kak Rahman.


Kak Rahman pernah di jodohkan oleh orang tuanya dulu, kak Rahman pun mengikuti perjodohan itu. Dia bersangka kalau orang yang di jodohkan dengannya akan memiliki karakteristik sesuai dengan keinginannya, tapi yang ada malah berbanding terbalik. Oleh sebab itu kenapa kak Rahman lebih memilih untuk mencari sendiri.


"Aku tahu itu. Oleh sebab itu aku akan menentang ayah dan ibu." ujar Kiya dengan pendiriannya.


"Kau menentang ayah dan ibu? Mungkin jika kau sudah selesai menentang dan sudah dapat beberapa bulan lagi, mereka pasti akan tetap menjodohkanmu. Percayalah kepadaku lebih baik kau mencari sendiri dari pada ikut perjodohan."


Kiya tidak menjawab, dia langsung beranjak dari meja makan dan pergi meninggalkan kak Rahman sendirian di meja makan.


Braaakkh.


Kiya membanting pintu kamarnya dengan sangat keras, kesal rasanya. Kiya benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikiran orang tuanya, kenapa orang tuanya selalu berusaha untuk menjodohkannya? Dia punya selera sendiri-sendiri.


Ponsel Kiya berbunyi menandakan ada pesan masuk, dia segera membukanya. Terlihat nomor orang yang tidak di kenal.


"Selamat malam." pesan yang di kirimkan oleh orang yang tidak di kenal. Ragu-ragu Kiya membalas pesan itu.


"Malam. Ini siapa ya?" pesan dari Kiya terkirim.


"Dari jodoh yang di titipkan Tuhan untuk kamu." pesan balasan dari orang yang tidak di kenal.


Sudah gila apa ya! geruru Kiya di dalam hatinya.


"Maaf mungkin anda salah nomor." pesan dari Kiya.


"Tidak kok, benar ini nomornya. Kamu tahu gak? Aku sayang banget loh sama kamu." pesan dari orang yang tidak di kenal dengan emoji love banyak.


"Tapi saya tidak!" pesan dari Kiya.

__ADS_1


"Lah? Kok gak sayang sama aku sih? Kan akunya sayang sama kamu." pesan orang yang tidak di kenal.


"Maaf ya kita itu tidak saling mengenal!" pesan dari Kiya.


"Kita saling kenal kok sayang, cuma kamunya aja gak tau aku."


"Berhenti bicara omong kosong! Siapa kau?! Dapat dari mana nomor ponselku?!" pesan terkirim. Kiya mulai emosi.


"Kita ini jodoh, kalau kamu tanya aku dapat nomor kamu dari mana, ya aku jawab. Aku dapat nomor kamu dari maha yang menciptakan kita. Kita kan jodoh, makanya kenapa aku bisa dapat nomor kamu."


Sepertimu orang gila sedang nyasar. batin Kiya.


Dari pada meladeni orang yang tidak di kenal itu, lebih baik Kiya menelpon Syakirah. Sambungan mereka sudah tersambung.


"Assalamualaikum, kak." ujar di seberang sana.


"Waalaikumsalam." jawab Kiya dengan senang. "Kau sedang apa, Rah?" lanjut Kiya dengan pertanyaan.


"Oh, begitu ya. Rah, kakak mau ngomong nih."


"Ngomong apa?"


"Baru saja ada yang mengirimkan kakak pesan tapi orang yang tidak di kenal. Waktu kakak tanya dapat dari mana nomor kakak dia jawab gini, 'Kita ini jodoh, kalau kamu tanya aku dapat nomor kamu dari mana, ya aku jawab. Aku dapat nomor kamu dari mahap yang menciptakan kita. Kita kan jodoh, makanya kenapa aku bisa dapat nomor kamu.' begitu. Aneh ya." ujar Kiya kepada seberang sana.


"Sudah gila apa ya!" jawab Syakirah yang ada di seberang sana.


"Lah itu, kakak juga bingung." ujar Kiya.


"Coba kakak kirimkan nomornya kepadaku. Biar aku cari tahu siapa pengirim nomor itu." ujar Syakirah yang ada di seberang sana.


Sambungan mereka berdua terpurus, Kiya segera mengirimkan nomor yang tidak di kenal itu kepada Syakirah. Sementara Syakirah sendiri sangat terkejut saat melihat nomor yang di kirimkan oleh Kiya.


"Hah! Ini kan nomornya Evan! Dapat dari mana tuh anak nomornya kak Kiya." gumam Syakirah dengan menggerutu.

__ADS_1


"Coba kakak kirimkan foto pesan kakak dengannya." pesan terkirim. Kiya pun mengirimkan foto pesannya dengan orang yang tidak di kenal. Saat Syakirah melihat pesan itu dia bertambah terkejut.


"Suka aja di di tutup-tutupin. Gue udah tau kalau Evan tuh sebenarnya suka sama kak Kiya." gumam Syakirah.


Syakirah langsung mengirimkan nomor Evan kepada Kiya.


"Kak, coba samakan nomor Evan dengan nomor yang tidak di kenal itu." pesan dari Syakirah.


Kiya segera menyamakan nomor yang tidak di kenal itu dengan nomon Evan. Dan betapa terkejutnya saat nomornya benar-benar sama. Kiya berdecak kesal.


Huh! Ternyata Evan! Sudah gila apa ya dia mengirimkan pesan seperti itu kepadaku! Habis kepentok apa kepalanya?! batin Kiya.


Tak lama ada pesan dari orang yang tak di kenal lagi yang tak lain adalah Evan.


"Cantik, kok chatku cuma kamu read doang sih? Di read itu sakit loh rasanya. Kamu pengen coba?" pesan dari Evan. Kiya segera memgetikkan sesuatu di keyboard ponselnya.


"Kau mau mati seperti apa, Evan?" pesan dari Kiya. Sementara Evan sangat terkejut saat Kiya menyebutkan namanya.


Kok dia bisa tau ya? Gue kan gak ngasih tau? Lah terus dia tahu dari siapa? Gagal gue ngeprank dia. batin Evan.


"Lo kok tau ini nomor gue?" pesan dari Evan.


"Kalau kau bertanya kepadaku aku tahu ini adalah nomormu, maka aku jawab. Dari malaikat pencabut nyawa!" pesan dari Kiya. Evan bergidik ngeri saat melihat pesan dari Kiya.


"Sorry, sorry. Gue cuma iseng aja tadi." pesan dari Evan.


"Kau mau mati ya!" pesan dari Kiya.


"Sorry, gue cuma iseng aja tadi. Gak usah marah kenapa sih! Gue tadi niatnya ngeprank lo, eh taunya lo udah tau gue. Btw, gue dapat nomor lo dari anak buah gue. Jadi lo jangan marah." pesan dari Evan.


Dari pada meladeni Evan lebih baik Kiya pergi untuk mencuci piring. Bisa gila dia kalau meladeni Evan. Sementara Evan sedang menggerutu kesal karena Kiya mengabaikan pesannya, padahal Evan sudah berbaik hati karena sudah mengucapkan kata maaf. Karena kata maaf dari Evan sangat berharga, jarang-jarang dia mengatakan maaf kepada seseorang.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2