Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Penguntit


__ADS_3

Wajar Cherly jika Cherly ragu karena wajah Syakirah tidak terlalu jelas, apalagi Syakirah memakai kacamata hitam dan topi. Setahu Cherly, Syakirah tidak terlalu suka dengan barang seperti itu. Hati Cherly berkata kalau itu Syakirah tapi otaknya berkata kalau itu bukan Syakirah. Cherly merasa bingung sendiri melihat wanita yang menabraknya tadi.


Sementara Syakirah sendiri juga memandang kepergian Cherly, dia sangat yakin kalau itu adalah kak Cherly, kakaknya Evan.


"Aku tidak mungkin salah orang. Aku yakin kalau orang itu adalah kak Cherly. ingatanku masih bagus." gumam Syakirah.


Syakirah berjalan mengikuti Cherly dari belakang. Saat Cherly memasuki mobil, Syakirah bergegas untuk mengambil motornya dan mengikuti Cheryl dari belakang.


***


Sampai waktu menjelang malam dan jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam Syakirah masih mengikuti mobil Cherly. Mobil Cherly berhenti di sebuah rumah besar yang sangat mewah, Syakirah tidak mengikuti mobil itu karena sudah mobil itu sudah masuk ke dalam gerbang.


Syakirah berhenti di depan gerbang itu, untung tidak ada penjaga gerbang jadi dia bisa bebas. Syakirah melihat pintu terbuka dan betapa terkejutnya dia saat melihat lelaki yang baru saja keluar dari rumah mewah itu.


"Itu kan Evan! Jadi benar Evan sedang ada disini. Bukannya dia ada di kota XX ya tapi kenapa dia ada disini?" gumam Syakirah.


Syakirah melihat kak Cherly yang di sambut oleh Evan. Mereka berdua berpelukan seperti sudah lama tidak bertemu. Syakirah masih melihat gerak-gerik mereka, sampai Evan tiba-tiba melihatnya Syakirah langsung pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Sementara Evan sendiri memicingkan mata curiga saat melihat motor matic yang di tumpangi seseorang itu. Evan merasa tidak asing dengan orang tadi.


"Kenapa Van?" tanya Cherly saat Evan melihat gerbang.


"Tidak apa-apa, kak. Ayo kita masuk." ajak Evan. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.


Sementara Syakirah sendiri sedang berhenti di pinggir jalan untuk menetralkan nafasnya, dia takut jika sampai ketahuan oleh Evan. Syakirah melihat ke belakang, setelah di pasti tidak ada yang mengikutinya Syakirah bernafas lega.

__ADS_1


"Jadi rumah Evan tetap ada disana? Lalu siapa yang ada di dalam rumah itu. Setiap aku melihat rumah itu hanya ada penjaga saja. Apa mungkin orang tua Evan masih tinggal disini? Aaahhhh, aku pusing sendiri memikirkannya. Ternyata ada untungnya ya aku mengikuti kak Cherly. Tidak sia-sia aku mengikutinya. Aku sama saja seperti penguntit jika seperti ini. " gumam Syakirah sambil menggerutu.


Syakirah menyalakan mesin motornya dan melajukan motornya menuju rumah Aliya.


***


Saat Syakirah sampai di rumah, dia melihat Aliya yang mondar-mandir di teras. Syakirah masuk ke halaman rumah Aliya dan di sambut Aliya dengan kecemasan.


"Syakirah, kau itu dari mana saja? Kau tahu ini sudah jam berapa? Ini sudah jam 10 malam dan kau baru saja pulang. Apa kau tidak melihat jam hah?! Kau itu dari mana saja sih? Aku khawatir melihat kau belum pulang jam 10. Kau itu tanggung jawabku karena kau tinggal disini. Jika terjadi apa-apa kepadamu, aku juga yang akan di salahkan!" teriak Aliya mengebu sampai Syakirah menutup telinganya.


"Sudah bicaranya?" tanya Syakirah. Aliya melotot mendnegar ucapan Syakirah.


"Hei Syakirah, kau tidak tahu apa kalau aku itu panik!"


Syakirah membersihkan tubuhnya, sementara Aliya sedang memasak makanan untuk Syakirah. Syakirah duduk di pinggir ranjangnya saat sudah selesai membersihkan tubuhnya, dia sudah berpakaian lengkap dan sekarang dia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tiba-tiba saja Aliya masuk ke kamarnya sambil membawa nampan yang berisi makanan. Aliya duduk di sebelah Syakirah.


"Ini makan. Kau pasti tadi belum makan kan?" ujar Aliya sambil menyodorkan nampan yang berisi makanan itu.


"Iya, aku memang belum makan. Makasih ya, Al." jawab Syakirah.


Syakirah menaruh handuknya dan mulai menyantap makanan yang Aliya. Perutnya sudah keroncongan dari tadi, Syakirah sendiri juga lupa untuk membeli makanan sebelum dia pulang ke rumah Aliya.


"Rambutmu masih sama ya seperti dulu. Cantik." ujar Aliya sambil melihat rambut Syakirah.


"Semua rambut itu cantik, Al. Rambutmu juga cantik kok." ujar Syakirah. Aliya melengos mendengar ucapan Syakirah.

__ADS_1


"Aku ingin memiliki rambut lurus seperti rambutmu, Rah. Rambutku lurus pun juga karena aku ke salon, jika aku tidak ke salon maka rambutku akan tetap keriring sekarang." ujar Aliya.


Aliya selalu iri melihat rambut Syakirah yang lurus, sementara rambutnya sendiri keriting. Bagi Aliya rambut lurus itu bagus, padahal dalam kenyataan rambut keriting itu juga bagus. Banyak malahan orang yang merubah rambutnya dari yang lurus menjadi keriting.


"Huuusstt, tidak boleh bicara seperti itu. Apa yang sudah Allah berikan ke kita, kita harus mensyukurinya. Masih untung kita di berikan rambut, bagaimana kalau tidak?" ujar Syakirah.


"Tapi tetap saja aku iri denganmu. Rambutmu meskipun tidak di sisir selama sebulan pun akan tetap halus, lah rambutku kalau tidak di sisir satu bulan sudah seperti orang gila."


"Sudah, Al. Jangan berdebat masalah rambut saja. Yang penting rambutmu sudah bagus kan, lurus sama sepertiku." ujar Syakirah mencoba untuk menghibur Aliya.


Hanya gara-gara rambut saja Aliya akan marah-marah. Syakirah memang tidak pernah mengalami tapi Syakirah pernah melihat Aliya yang sedang marah-marah dengan tunangannya gara-gara masalah rambut. Syakirah hanya menghela pasrah melihat Aliya.


Syakirah sudah menyelesaikan makan malamnya, meskipun tadi makanan yang Aliya buat asin tapi Syakirah tetap memakannya. Aliya mengambil nampan itu dari tangan Syakirah.


"Sudah, Rah. Kau tidak tidur? Ini sudah malam loh, hampir mau jam 11." tanya Aliya.


"Iya, Al. Ini aku mau tidur. Makasih ya makanannya tadi."


"Iya, sama-sama."


Aliya pun keluar dari kamar Syakirah, Syakirah memandangi kepergian Aliya. Syakirah menghampiri pintu dan mengunci pintu itu.


Syakirah membaringkan tubuhnya di ranjang, menyelimuti tubuhnya yang kedinginan gara-gara angin malam.


"Evan, apa kamu masih ingat denganku? Iya, aku Syakirah. Apa kamu mengingatku? Apa kamu masih mengingat aku? Wanita yang membuat mu berubah, yang awalnya kejam tiada tara menjadi lunak. Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kamu tidak pernah mencariku selama ini? Aku pernah berharap kamu mencariku tapi yang aku harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Kamu malah pergi dari sini secara tiba-tiba tanpa memberikanku kabar. Marah? Tentu saja aku sangat marah. Kecewa? Sangat, sangat kecewa. Kamu pergi meninggalkan aku begitu saja seolah-olah aku adalah barang yang sudah tidak di butuhkan, padahal masalah kita belum selesai, hanya hubungan kita saja yang selesai. Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin menceritakan kehidupanku sekarang padamu. Aku ingin menceritakan semuanya, semuanya tanpa ada yang tertinggal satu pun." gumam Syakirah, tanpa Syakirah sadari air matanya sudah menetes dan Syakirah sudah pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2