
"Jadi kau mau apa disini? Kau tahu kan jika siang aku akan kuliah. Kalau kau mau disini sendirian itu tidak masalah."
"Aku sendiri juga tidak tahu, aku tidak membawa berkas-berkas sekolah ku. Jika aku kembali rasanya aku akan bertemu dengan kak Kiya, tapi jika tidak aku tidak akan bisa bekerja. Aku sendiri juga bingung sebenarnya."
Syakirah dan Aliya nampak berfikir, sebenarnya Aliya ingin menawarkan Syakirah untuk kuliah bersamanya tapi Aliya yakin Syakirah akan menolaknya dengan tegas. Syakirah sendiri juga bingung apa yang harus dia lakukan saat Aliya tidak ada di rumah.
Aliya tiba-tiba tersenyum ke arah Syakirah, Syakirah bergidik ngeri melihat senyum Aliya. Syakirah berharap senyum Aliya tidak mengandung makna apa-apa.
"Aku punya ide." ujar Aliya. Syakirah mengerutkan keningnya heran. Aliya kembali tersenyum.
"Syakirah, kau bisa membuat kue kan?" tanya Aliya.
"Iya, benar. Kenapa memangnya?" jawab Syakirah.
"Manfaatkan bakatmu itu. Aku punya ide seperti ini, kau yang membuat kue dan aku yang akan menjualnya. Nanti untungnya kita bagi 2 bagaimana?" saran Aliya. Sebenarnya Aliya ingin keuntungannya hanya Syakirah, tapi sepertinya Syakirah akan menolaknya.
"Kue ku itu tidak cukup enak. Aku juga pernah berjualan, ada yang beli lumayan banyak juga tapi aku tetap merasa minder saja."
"Aaiiiss. Kenapa kau selalu seperti itu, Syakirah? Memangnya apa yang kau jual? Barang haram? Bukan kan? Lalu kenapa kau minder? Orang yang berjualan barang haram saja tidak minder, sementara kau yang menjual barang halal minder. Itu kebalik namanya!" gerutu Aliya.
"Bukan begitu, Al. Aku takut kue ku tidak enak. Jika ibuku yang membuat pasti enak, jika aku yang membuat belum tentu enak."
__ADS_1
"Syakirah, semuanya itu butuh proses. Mau ya?"
Syakirah terlihat bingung, hatinya berkata iya tapi otaknya berkata tidak. Dia juga pernah berjualan di Bandung kan dulu, lumayan ramai orang yang beli tapi tetap saja Syakirah merasa resah dengan kue yang dia buat.
"Coba nanti aku pikir-pikir dulu ya."
"Kenapa harus di pikirkan? Kenapa tidak sekarang saja?!"
"Semuanya itu membutuhkan proses!" setelah mengucapkan kata itu, Syakirah beranjak dari duduknya dan pergi untuk ke kamarnya. Aliya sendiri sedang mematung di tempatnya saat Syakirah mengucapkan kata "Semuanya butuh proses." otaknya di penuhi oleh kata-kata itu. Aliya melihat Syakirah yang sudah menutup pintu kamarnya.
"Kenapa ya aku tadi bilang seperti itu? Kalau aku tidak bilang seperti itu, Syakirah tidak akan mengunci mulutku seperti ini. Ck!" Aliya berdecak kesal gara-gara ucapannya itu. Aliya naik ke atas dan menuju kamarnya, lebih baik dia tidur karena besok dia harus kuliah.
Syakirah tidak tidur, dia sedang duduk di jendela kamarnya saat ini. Melihat jalanan kota yang di hiasi lampu jalanan dengan di iringi hembusan angin malam yang dingin, yang membuat hati dan pikirannya sejuk. Syakirah memutar memori kenangannya bersama dengan teman-temannya saat sekolah dulu, tapi semuanya sudah berbeda saat ini. Ada kristal bening yang membasahi pipi Syakirah, mengingat kenangan itu membuat hatinya juga ikut perih. Tapi Syakirah selalu berfikir kalau ini adalah salahnya, jadi dia lah yang harus menerima resikonya.
Syakirah berjalan ke arah nakas, mengambil ponsel yang dia matikan daya mulai kemarin. Memandang benda pipih itu dengan raut kesedihan. Syakirah memencet tombol di samping ponsel, seketika ponselnya langsung menyala. Syakirah masih menunggu hingga ponsel itu benar-benar menyala.
Saat ponsel itu sudah menyala, Syakirah menitikkan air matanya. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Wahyu dan juga, Kiya, jangan lupakan ibunya, dia adalah orang yang sangat khawatir dengan keadaan anaknya saat ini. Syakirah menangis tersedu-sedu melihat ponselnya itu, Syakirah menaruhnya kembali di atas nakas tanpa mematikan daya ponselnya. Syakirah kembali duduk di jendela kamar, masih memandangi jalanan kota.
Tapi tiba-tiba ponselnya berdering, Syakirah mengalihkan pandangannya melihat benda pipih itu, Syakirah mendekati ponselnya. Dia bisa melihat nama Wahyu sedang menelponnya, Syakirah menangis lagi, dia benar-benar tidak sanggup. Syakirah menyentuh ponselnya dan memencet tombol di samping ponselnya, seketika ponselnya mati seketika. Syakirah bodoh? Tentu saja, dia merasa ini semua adalah salahnya. Syakirah memasukkan ponselnya ke dalam nakas, untuk beberapa hari ini biarkan hatinya tenang. Syakirah kembali duduk di jendela.
***
__ADS_1
Sementara di sebuah rumah 2 orang sedang panik tidak karuan, satu khawatir karena sahabat dan satunya khawatir karena sepupu. Ya, mereka adalah Wahyu dan Kiya. Wahyu sedang ada di rumah Kiya saat ini, karena kepanikan yang melanda akhirnya Wahyu datang ke rumah Kiya.
Wahyu mondar-mandir di ruang tamu Kiya sambil melihat ponselnya. Kiya sendiri malah tambah bingung melihat Wahyu yang mondar-mandir terus.
"Wahyu, kau itu kenapa mondar-mandir terus? Kau bisa tenang tidak? Aku malah tambah pusing melihat mu mondar-mandir!" gerutu Kiya. Wahyu akhirnya duduk tapi tetap panik.
"Tadi ponsel Syakirah aktif aku menelponnya, ponselnya berdering tapi kembali tidak aktif." ujar Wahyu. Saat mendengar ucapan Wahyu, Kiya langsung menegakkan tubuhnya, yang awalnya bersandar di badan sofa menjadi tegak karena mendengar ucapan Wahyu.
"Jadi ponsel Syakirah aktif tapi mati lagi?" ulang Kiya. Wahyu mengangguk. Kiya memijat batang hidungnya, lelah sudah dirinya melihat Syakirah. Wahyu dari tadi tidak pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Wahyu, aku tahu kau panik tapi tidak kau saja yang panik, aku dan ibunya Syakirah juga panik. Apalagi ibunya Syakirah, dia pasti panik bukan main karena anaknya belum pulang. Wahyu, kau juga harus mengerti. Aku sudah lelah, aku mau istirahat. Aku tahu kau khawatir tapi lihatlah jam itu, tidak baik jika kau berkunjung ke rumah perempuan malam-malam begini. Wahyu, aku mohon sekarang pulanglah. Kau terlihat lelah sekali, matamu merah. Pulanglah, kita lanjutkan ini besok. Besok siang temui aku di caffe XX, kebetulan aku besok jadwalku kosong." ujar Kiya.
Wahyu melihat jam yang di tunjukkan Kiya dan belum mengalihkan pandangannya.
Kau ini kenapa, Wahyu? Kau pikir Kiya itu seperti Syakirah apa?! Sudah jelas berbeda di lihat dari penampilannya. Dia pasti mengusirmu jika sudah malam seperti ini. Bodoh! batin Wahyu merutuki kebodohannya.
"Kau benar, sekarang sudah malam. Tidak baik jika aku ada disini. Kalau begitu aku pulang, aku akan menemui mu besok siang. Assalamualaikum." ujar Wahyu akhirnya.
"Waalaikumsalam."
Kiya tidak mengatarkan Wahyu ke depan teras, banyak tetangga sedang di teras rumah mereka. Takut menjadi fitnah, lebih baik Kita tidak mengantar Wahyu. Kiya mendengar suara motor Wahyu, lama-kelamaan suara itu menghilang. Kiya pun kembali ke kamarnya untuk istirahat.
__ADS_1
Bersambung......