
Hanifa menangis sejadi-jadinya di kamar kos nya. Dia mengorbankan teman-temannya demi Ahmad. Hanifa tidak membenci Ahmad, dia hanya kecewa. Dia telah memaafkan Ahmad meskipun kesalahan Ahmad sangat besar karena telah mencampakkannya.
Ahmad sendiri juga sedang berfikir untuk mempertemukan Syakirah dan Hanifa.
***
Saat sampai di kos'an Ahmad, Ahmad langsung membanting tubuhnya di kasur. Dia masih takut, bagaimana kalau sampai Kiya tahu soal ini nanti.
"Nyawaku itu satu, kalau sampai Kiya membubuhku gara-gara aku mempertemukan Hanifa dan Syakirah bagaiamana? Lagi pula Hanifa juga minta yang aneh-aneh, apa dia masih belum tahu kemarahan Kiya itu seperti apa? Aku pusing sekali memikirkannya. Belum tentu juga Syakirah setuju. Hanifa, kau membuatku kerepotan!" gerutu Ahmad di kamar kos nya
Ahmad mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Syakirah, berharap Syakirah mau bertemu dengan Hanifa, meskipun nanti dia akan berbohong.
"Assalamualaikum, Syakirah." pesan terkirim.
"Waalaikumsalam." jawaban dari Syakirah.
"Syakirah, apa kau besok ada waktu?" Ahmad.
"Tergantung, pagi, siang, sore atau malam?" Syakirah.
"Kau bisanya kapan?" Ahmad.
"Pagi dan Siang." Syakirah.
"Bisa kita bertemu jam 9 siang?" Ahmad.
"Boleh." Syakirah.
"Oke. Nanti aku share lock tempatnya."
Syakirah mengirimkan stiker bergambar jempol, menandakan dia setuju dengan ajakan Ahmad. Ahmad membanting ponselnya ke kasur.
"Syakirah, maafkan aku karena tidak bilang kalau Hanifa yang mau bicara bukan aku." ujar Ahmad gusar.
Ini masih pagi mau menjelang siang, tapi Ahmad sudah di pusingkan oleh Hanifa. Ahmad memijat batang hidungnya dan memejamkan matanya untuk tidur, biarlah dia tidur dia sangat lelah.
Ada yang ketinggalan saat berbicara kepada Syakirah, harusnya dia bilang kalau dia jangan membawa Kiya. Tapi karena sudah terlanjur biarkan Ahmad menyelesaikannya sendiri besok.
__ADS_1
***
Hari bertemu dengan Hanifa pun tiba, Ahmad sudah mengirimkan share lock tempat dan tinggal menunggu kedatangan Syakirah. Hanifa Kiya sudah meminum jus jeruk nya sambil menunggu kedatangan Syakirah.
Syakirah datang bersama Kiya dan Wahyu, Ahmad dan Hanifa yang melihat itu langsung ketakutan.
Gawat! Aku lupa memberitahu Syakirah. Haduh, bagaimana ini? batin Ahmad.
Kenapa Syakirah membawa Kiya juga? Apa Ahmad tidak memberitahu Syakirah? Kalau begini kan aku jadi takut. batin Hanifa.
"Kau!" ujar Kiya terkejut saat melihat Hanifa. Syakirah juga demikian, ternyata Ahmad membawa Hanifa juga, begitu pikirannya.
"Hai Kiya." sapa Hanifa gagu. Kiya melihat Ahmad dan memberikan tatapan tajam untuk Ahmad.
Habislah aku. batin Ahmad
"Apa kau mau memamerkan kemesraan mu di hadapan Syakirah?!" tanya Kiya tak suka.
"Tidak! Bukan begitu!" bela Ahmad.
"Lalu apa? Kau membawa dia. Syakirah bilang kalau kau mau bertemu dengannya." Kiya.
"Syakirah, ayo kita pulang saja!" ajak Kiya yang sudah menarik tangan Syakirah untuk pergi.
"Tunggu!" Hanifa menghentikan langkah mereka berdua. Mereka berdua berbalik dan melihat Hanifa yang sudah berdiri.
"Apa?!" Kiya. Hanifa cukup tersentak dengan suara Kiya.
"Aku mau berbicara dengan Syakirah." ujar Hanifa gagu. Kiya melongo.
"Apa? Kau mau berbicara dengan Syakirah? Kau pikir aku akan mengizinkanmu? Tentu saja tidak!" Kiya.
"Sebentar saja." Hanifa mulai memohon.
"Tidak!" jawab Kiya tegas.
Hanifa melihat Ahmad, Ahmad menganggukkan kepalanya dan menghampiri Kiya. Ahmad menarik tangan Kiya, yang di tarik juga tidak akan terima.
__ADS_1
"Kenapa kau memegangku brengsek?! Lepaskan tanganmu dari tanganku! Kita bukan mahram!"
Ahmad membawa Kiya pergi dari caffe dan meninggalkan Syakirah dan juga Hanifa. Mereka berdua saling tatap, ada sedikit rasa tidak enak.
"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Syakirah.
"Duduklah dulu." Hanifa.
Mereka beri duduk, Syakirah tidak memesan apa-apa padahal Hanifa bilang kalau dia jangan akan membayarnya tapi Syakirah malah menolak dengan tegas.
"Syakirah, sebenarnya aku... " ucapan Hanifa menggantung.
"Aku apa? Cepat bicara! Aku tidak punya waktu banyak!" Syakirah mulai meninggikan intonasi suaranya.
"Aku minta maaf, Syakirah. Aku tahu kesalahanku sangat banyak padamu dan kau juga tidak akan memaafkan aku begitu saja. Oleh sebab itu, aku minta maaf."
Syakirah melongo mendengar ucapan maafnya, dia tidak percaya sama sekali kalau Hanifa meminta maaf dengan tulus. Tapi saat Syakirah melihat mata Hanifa ada keseriusan yang sangat mendalam.
Hanifa kesambet apa ya? Kok sampai minta maaf? Dia gak lagi kena santet kan? batin Syakirah bingung.
"Aku tahu kau pasti kebingungan dengan permintaan maafku, tapi aku mengucapkan kata maaf ini tulus dari hatiku. Aku sudah banyak menyakitimu, mulai dari merebut Ahmad dan memaki dirimu dan juga sepupu dan temanmu. Aku tahu kesalahanku, itu karena aku tidak mau berbagi dengan orang lain. Apa yang menjadi milikku tidak akan pernah aku bagi sama sekali, bahkan itu saudara atau sahabatku. Hubunganku dan Ahmad baru saja berakhir kemarin pagi. Aku sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Ahmad. Ahmad mengungkapkan kejujurannya kemarin, dia bilang kalau dia tidak pernah mencintaiku dan menganggap aku sebagai pelarian saja. Aku cukup tersakiti dengan kejujurannya, tapi aku sadar. Ahmad melakukan itu karena tidak ingin kalah darimu. Aku sudah melepas Ahmad dengan ikhlas, mungkin Ahmad bukan jodoh yang tepat untukku. Dan sekarang aku ingin minta maaf kepadamu. Syakirah, maafkan aku."
Syakirah tertegun dengan penjelasan Hanifa.
Apa? Jadi hubungan mereka berakhir? Jadi Ahmad sudah mengungkapkan segalanya ya? Hanifa, maafkan aku ya. Kesalahanmu memang banyak tapi aku tidak bisa memaafkan semuanya. Terutama saat kau memaki teman dan kak Kiya. Kau harus minta maaf sendiri kepada mereka. batin Syakirah.
"Hanifa, kau itu juga manusia biasa sepertiku. Kau juga memiliki kesalahan. Semua orang pasti memiliki kesalahan. Aku memaafkanmu, tapi aku tidak memaafkan semuanya. Minta maaflah kepada temanku dan Kiya, kau juga pernah menyakiti mereka dengan kata-katamu." Syakirah.
Pantas saja Ahmad tidak mau melepas Syakirah. Syakirah memiliki hati bidadari ternyata. batin Hanifa.
"Aku takut." gumam Hanifa yang masih bisa di dengar oleh Syakirah.
"Takut itu wajar, itu karena kau memiliki kesalahan. Jangan takut, niatmu baik bukan? Aku yakin mereka pasti akan memaafkanmu. Aku tidak bisa janji soal itu, karena yang menerima maafmu itu adalah mereka bukan aku. Aku sudah memaafkanmu di setiap tindakanmu, meskipun kau tidak minta maaf kepadaku meskipun ada rasa dendam di hatiku. Tapi aku tidak mau jadi orang yang pendendam." Syakirah.
Hanifa menitikkan air matanya haru. Syakirah sangat bijak sekali menurutnya.
"Jangan menangis. Jika kau memang berniat maka cobalah. Jangan takut, niatmu baik. Pasti Ada jalannya." Syakirah.
__ADS_1
Bersambung......