
"Apa dia mengaku?" tanya Kiya dengan seringai liciknya.
"Iya, tapi tumben dia langsung jujur saat aku mengiriminya pesan seperti itu? Apa yang sudah kau lakukan kepadanya, kak? Tidak sepertinya Evan langsung jujur seperti ini?" tanya Syakirah.
"Aku tidak melakukan apa-apa." jawab Kiya santai. Sementara di tempat Evan, Evan sedang mengumpat dengan sangat kesal.
"Ck! Kok bisa sih Syakirah chat gue kayak gitu? Gue juga bego! Kiya kan ada di rumah Aliya sekarang. Van, Van, lo bego banget sih jadi orang. Gara-gara gue pegang tangan dia, sekarang gue jadi takut sama dia. Bodoh!" ujar Evan merutuki kebodohannya.
***
Jam menunjukkan pukul 10 siang, tapi pekerjaan Kiya masih belum selesai. Syakirah sudah menyelesaikan pekerjaan waktu pukul 9 tadi, sekarang dia tidak ada pekerjaan karena bu Ariana tidak mengirimkan file-file untuknya.
"Kak, ayo kita cari makan!" ajak Syakirah dengan sangat bersemangat. Selama satu jam dia hanya berguling-guling di sofa dan bermain dengan ponselnya. Kiya melihat jam di pergelangan tangannya.
"Apa kau lapar?" tanya Kiya. Dan Syakirah mengangguk sebagai jawaban.
"Kau mau makan apa? Makan dimana?" Syakirah berfikir sejenak, dia beranjak dari duduknya dan melihat kulkas.
"Aku pikir sebaiknya kita belanja saja, kak. Persedia'an di kulkas juga sudah habis. Aku juga ingin memasak." ujar Syakirah.
"Kita belanja dimana? Supermarket? Atau pasar?"
"Pasar saja."
Akhirnya mereka berdua pergi ke pasar dengan Syakirah yang membonceng Kiya. Kiya memang tidak membawa motor karena motornya sedang ada di bengkel, dia ke restoran tadi juga di antar oleh kak Rahman yang mau berangkat bekerja.
Saat sudah sampai di pasar, Syakirah dan Kiya turun dari motor dan berjalan-jalan ke jalanan pasar yang lumayan lembab, apalagi ini juga sudah siang.
"Hmm, sepertinya kita akan mendapatkan separuh harga jika belanja disini." gumam Kiya.
"Iya, ini sudah siang soalnya."
Mereka berdua mengelilingi pasar sambil melihat-lihat dagangan penjual. Syakirah memperhatikan Kiya dari belakang, dia ingin bertanya sesuatu tapi sedikit ragu.
Apa aku bicara saja ya? Kalau aku tidak bicara aku tidak akan pernah tahu juga jawabannya. batin Syakirah.
__ADS_1
"Kak, aku ingin berbicara sesuatu kepadamu." ujar Syakirah gagu. Kiya langsung berbalik badan dan menatapnya.
"Apa? Sepertinya sangat penting." jawab Kiya. Syakirah menggaruk tengkuknya sendiri karena gugup.
"Apa kau tidak ada niatan untuk menikah?" tanya Syakirah lirih.
"Apa!" Kiya terkejut dengan ucapan Syakirah. Syakirah nyengir melihat keterkejutan Kiya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Tidak biasanya kau bertanya seperti itu!" ujar Kiya yang sedikit emosi.
"Tidak ada, kak. Aku hanya bertanya saja, jika kakak tidak mau menjawab tidak apa-apa. Aku tidak memaksa." ujar Syakirah sedikit bersalah. Kiya menghela nafas.
"Aku masih belum ada pikiran untuk kesana. Lagi pula aku juga belum memiliki pasangan kan? Jadi pikiranku masih belum sampai sana. Kak Rahman juga masih belum menikah, aku juga harus menunggunya untuk menikah dulu, baru aku menikah." jelas Kiya.
"Oh begitu ya."
"Kenapa? Apa kau mau menikah?" tanya Kiya.
"Tidak, kak. Aku masih belum membangun rumah, mana mungkin aku menikah." jawab Syakirah gelagapan. Kiya hanya mengangguk saja tanpa menjawab, tidak ingin membahas soal menikah sama sekali.
Harusnya aku tidak bertanya kepadanya. Ahmad juga kenapa sih menyuruhku bertanya sama kak Kiya?! Kalau begini aku juga yang akan kena imbasnya. Kak Kiya pasti marah. Ck! batin Syakirah.
Kemarin malam Syakirah sedang berbalas pesan ria dengan Ahmad. Ahmad bercerita ini itu kepada Syakirah, tentang kak Rani yang di jodohkan oleh orang tuanya dan akan segera menikah dalam waktu dekat.
"Syakirah, apa kau tidak mau menikah?" pesan yang Ahmad kirim kepadanya cukup membuat Syakirah terkejut.
"Masih belum. Aku juga belum menyelesaikan tugasku sebagai seorang anak. Jika tugasku sudah selesai, aku akan memikirkan menikah. Lagi pula kak Kiya juga belum menikah, aku menunggu kak Kiya menikah dulu baru aku menikah." pesan balasan dari Syakirah terkirim.
"Kenapa menunggu Kiya? Menikah kan tidak perlu menunggu seseorang?"
"Bukan begitu, aku hanya menghormati kak Kiya sebagai kakakku, itu saja."
"Syakirah, aku mau bilang sesuatu kepadamu."
"Apa? Bilang saja."
__ADS_1
"Ayo kita menikah!"
Duarr.
Pesan dari Ahmad sangat membuat Syakirah terkejut setengah mati. Bagaimana bisa Ahmad mengajaknya menikah di umur yang belum genap 19 tahun ini?
"Ahmad, apa kau sudah benar-benar gila! Umurku masih belum genap 19 tahun dan kau mengajakku menikah? Sungguh sangat konyol! Jangan main-main denganku!" pesan dari Syakirah.
Syakirah cukup emosi saat Ahmad mengajaknya menikah, Syakirah masih waras dan dia tidak mau menikah di usianya yang masih muda ini.
"Kenapa memangnya? Apa menikah melihat umur? Tidak kan? Aku tidak main-main, aku serius." pesan balasan dari Ahmad.
"Memang tidak ada larangan untuk menikah muda, tapi aku tidak mau! Aku atau dirimu masih belum memiliki rumah sendiri, kita masih menumpang di rumah orang tua kita. Dan aku tidak mau jika sudah menikah tinggal bersama orang tua!"
"Ya kau memang benar, salah satu dari kita memang belum memiliki rumah. Tapi aku anak terakhir, aku mewarisi rumah orang tuaku jadi aku tidak gegabah untuk membuat rumah."
"Berhentilah bicara omong kosong! Jangan bicara soal menikah! Aku mau menunggu kak Kiya menikah dulu baru aku!"
"Memangnya Kiya mau menikah? Mana ada lelaki yang menikah dengan wanita jutek dan dingin seperti dia!"
Eh? Apa benar seperti itu? Kak Kiya itu cantik, pasti ada yang mau dengannya. batin Syakirah saat melihat pesan dari Ahmad.
"Kak Kiya itu juga manusia, dia juga akan menikah pada saat waktunya. Untuk sekarang dia memang tidak punya pasangan, entah beberapa bulan lagi pasti dia sudah ada pasangan." balas Syakirah.
"Coba saja tanya kepada Kiya, pasti dia akan menjawab tidak." pesan balasan dari Ahmad.
"Itu tidak mungkin, kak Kiya itu juga ingin berumah tangga dan menjalani tugasnya sebagai seorang istri serta ibu. Jangan mengada-ngada, kau itu tidak tahu seperti apa kak Kiya. Kau kan tidak pernah dekat dengannya, yang ada kau itu musuh!" balasan pesan dari Syakirah.
Ya memang benar aku tidak dekat dengannya, tapi memangnya ada yang mau dengannya? Dia itu wanita dingin, cuek dan yang paling utama adalah bicaranya sangat jujur tidak ada kebohongan sama sekali. Jika ada yang tidak dia sukai pasti dia akan bicara secara blak-blak'an tanpa ada saringan, dan pastinya akan menimbulkan orang lain sakit hati. Contohnya saja aku, dia kalau berbicara kepadaku seperti mau mencabik-cabik tubuhku. batin Ahmad.
"Coba saja tanya kepada Kiya supaya kau tahu jawabannya." pesan Ahmad.
"Oke, aku akan bertanya jika bertemu dengannya." pesan Syakirah.
"Oke, sekarang tidurlah. Selamat malam." pesan Ahmad.
__ADS_1
"Iya, too." pesan Syakirah.
Bersambung......