
2 bulan kemudian...
2 bulan sudah berlalu, Syakirah sudah menjalani aktifitasnya seperti biasa. Hubungannya dengan Ahmad juga semakin membaik. Kiya juga sudah memberi Ahmad kesempatan untuk mendekati Syakirah lagi. Saat ini Syakirah sudah menjadi anggota penting di pabrik, dia juga sudah termasuk karyawan tetap.
Saat ini posisi Syakirah adalah wakil kepala direktur, sudah 1 bulan ini dia dinas keluar kota bersama ke empat sahabatnya. Wahyu, Rey, Ryan dan Navile juga termasuk anggota penting, mereka juga wakil direktur hanya saja posisi mereka dan Syakirah sedikit berbeda. Mereka tetap satu ruangan tapi berbeda pekerjaan, tapi jika dinas mereka selalu bersama tidak ada satupun yang ketinggalan dari mereka.
Saat ini kursi kepala direktur sedang kosong. Pak Adi adalah seorang kepala direktur dia di pindahkan ke kota XX sampai beberapa tahun ke depan. Tidak tahu berapa tahun, tapi yang jelas dia di pindahkan cukup lama. Istri dan anaknya pun juga di bawa, mereka juga sudah menetap di kota XX.
Syakirah sedang menunggu kedatangan direktur barunya, dia berharap bahwa direktur barunya adalah perempuan atau jika laki-laki setidaknya laki-laki itu tidak terlalu jahat seperti pak Adi.
Saat ini mereka berlima sedang di ruangan petinggi atau CEO pabrik. Syakirah cukup gugup meskipun ini bukan pertama kali baginya. CEO pabrik masih belum datang tapi dia sudah ada di depan bersama direktur baru mereka.
"Aku takut." Ryan. Ke empat orang ini langsung menoleh ke arah Ryan.
"Apa yang kau takutkan?" Rey.
"Ini pertama kalinya bagiku, tentu saja aku takut. Bagaimana nanti tiba-tiba kita di pecat?" Ryan.
"Jangan ngelantur kalau bicara, mana mungkin di pecat. Kita di suruh kesini untuk menyambut direktur baru kita, bukan untuk di pecat. Jangan berfikiran aneh-aneh!" Syakirah.
Syakirah benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir Ryan. Ryan selalu saja beranggapan buruk jika sudah seperti ini, padahal apa yang dia pikirkan belum tentu benar.
"Aku kan hanya menebak saja. Siapa tahu begitu. Kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi nanti."
Ceklek.
Pembicaraan mereka terhenti. CEO pabrik sudah masuk tapi dia sendirian hanya sekretarisnya saja yang ikut bersamanya. Mereka semua langsung berdiri dan memberi salam, CEO tadi hanya tersenyum menanggapi.
"Kalian sudah tahu kan kalau hari ini direktur baru akan datang?" ujar pak Farel yang tak lain adalah CEO pabrik perusahaan XX yang sudah duduk di kursi kebesarannya. Dia juga sudah punya istri dan 3 anak yang masih duduk di bangku SMA. Pabrik yang sedang Dia urus ini adalah warisan dari kakek neneknya dulu sebelum meninggal.
"Sudah, pak. Kami sudah tahu." ujar Syakirah, karena hanya dia seorang yang masih berani bicara dengan pak Farel.
__ADS_1
Pak Farel menyuruh seseorang untuk masuk, mereka semua langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu untuk melihat direktur baru mereka.
Saat orang itu masuk, betapa terkejutnya mereka saat melihat orang itu. Ryan langsung tersulut emosi.
Bugh.
Satu pukulan langsung mendarat di wajah lelaki itu. Pak Farel langsung berdiri saat melihat Ryan memukul direktur baru.
"Kenapa kau datang kesini, brengsek?!" ujar Ryan dengan penuh emosi. Syakirah, Rey, Wahyu dan Navile mencoba untuk menahan Ryan agar tidak melakukan hal lebih, apalagi mereka juga sedang ada di ruangan CEO.
"Ada apa ini?" pak Farel.
Semua langsung mengalihkan pandangan ke pak Farel. Ryan langsung tersadar, dia hanya menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tiba-tiba memukul Ahmad, Ryan?" pak Farel.
Ya, direktur baru mereka adalah Ahmad. Ahmad bekerja di cabang pabrik tempat Syakirah bekerja. Pabrik XX sudah berkembang di beberapa daerah disini, hanya saja tempatnya berbeda. Ahmad adalah direktur pabrik XX di kota XX, dia juga sudah mengenal pak Farel dengan baik. Dia tidak melamar di pabrik yang sama dengan Syakirah karena dia terlalu takut dengan Kiya dulu jadi dia lebih memilih bekerja di cabang pabrik XX saja.
"Maafkan saya, pak." Ryan.
Pak Farel memandangi mereka, Ahmad juga sudah duduk di kursi depan pak Farel. Dia tersenyum licik sekali.
"Apakah kalian saling mengenal?" tanya pak Farel. Tidak ada yang berani menjawab.
"Tentu saja, pak. Kami saling mengenal, bahkan kami juga seperti saudara." ujar Ahmad dengan senyum liciknya.
"Lebih tepatnya seperti musuh bebuyutan!" Ryan.
"Ryan!" Syakirah, Wahyu, Rey, dan Navile.
"Sudah jujur saja, buat apa kalian berbohong? Kita memang mengenal Ahmad, dia juga adalah musuh bebuyutan kami. Cih. Apa tidak ada yang lain lagi selain Ahmad, pak? Saya benar-benar tidak sudi jika harus terus bersama dengannya!"
__ADS_1
Ryan, apa kau tidak melihat posisimu? Posisimu itu lebih rendah dari Ahmad. Kenapa kau berfikir seperti itu? Harusnya kau itu menurut saja, nanti kalau sudah keluar ruangan baru kau boleh beraksi seperti maumu. Kau membuat hidupmu bertambah sulit. batin Syakirah.
Kau bodoh sekali, Ryan! Kau tidak lihat posisimu apa? Bisa-bisa kau di keluarkan dari pabrik jika seperti ini. batin Wahyu.
"Ahmad adalah orang kepercayaan saya. Saya yang sudah memilihnya untuk menggantikan pak Adi." pak Farel.
"Sudah, saya tidak mau ada keributan lagi. Saya berharap kalian bisa berdamai. Kalian harus bisa berdamai karena ini juga membutuhkan kerja sama." lanjutnya lagi.
"Dan teruntuk kamu Ryan. Saya minta kamu tenangkan diri kamu selama seminggu ini dan mencoba untuk menerima Ahmad berada disini. Seminggu ini jangan masuk kerja, tenangkan diri kamu. Saya tidak mau ada keributan lagi jika kamu bertemu dengan Ahmad setiap hari." lanjutnya lagi.
"Dan kamu Syakirah. Saya minta kamu ajak Ahmad untuk berkeliling pabrik setelah ini. Supaya dia tidak bingung saat dia ingin mencari tempat yang dia tuju nanti. Sekarang kalian kembalilah bekerja. Ryan hari ini kamu harus pulang."
Mereka semua keluar dari ruangan, Ryan terlihat loyo. Beruntung dia tidak di keluarkan dari pabrik. Baginya ini seperti di skors saat di sekolah, saat dia sedang membuat masalah di sekolah.
Ahmad hanya membuntuti Syakirah saja, karena memang dia harus mengikuti Syakirah kan sekarang ini, ini juga perintah dari pak Farel.
"Beruntung kau hanya di liburkan seminggu. Bagaimana tadi kalau sampai kau di pecat? Mangkanya kalau mau berbuat itu lihat tempat dulu jangan langsung nonjok saja." Rey.
"Namanya juga emosi." Ryan.
Ryan melihat Ahmad dengan tatapan musuh, yang di lihat hanya tersenyum saja.
"Sudah pulang sana. Tenangkan dirimu." Syakirah.
Ryan mengangguk, dia berjalan menjauhi teman-temannya. Lebih baik seperti ini dari pada di pecat, pikirnya.
Mereka berempat memandangi Ahmad, yang di pandang juga merasa bingung.
"Apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Perasaan tidak ada yang aneh denganku." ujar Ahmad. Syakirah menghela nafas.
Bersambung......
__ADS_1