Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Hati Clara ( Part 1 )


__ADS_3

Aliya mencoba untuk mengerti dengan ucapan Thomas, tapi tetap saja Aliya merasa khawatir. Aliya masuk ke dalam rumahnya lagi, meninggalkan 2 orang yang sedang santai-santai saja di saat panik begini. Aliya mengetikkan sesuatu di hpnya itu.


"Kau datang ke rumahku sekarang!!! Panik!! Syakirah dalam bahaya!!! Cepat datang!!!!!!!!!" pesan Aliya terkirim dengan tanda seru yang banyak, berharap orang yang membacanya bisa mengerti situasi.


Aliya keluar rumah lagi menemui Roy dan Thomas sambil menunggu kedatangan seseorang yang baru saja dia kirimi pesan. Aliya mondar-mandir di terasnya dengan kegelisahan yang terus menggerogoti pikirannya.


"Hei Aliya, lo gak bisa duduk diam apa!" ujar Thomas emosi karena dia ikut bingung melihat Aliya yang mondar-mandir, sementara Roy sedang bermain dengan hpnya. Aliya menghampirinya Thomas dan berkacak pinggang di depan Thomas.


Ctaak.


Satu jitakan melayang di jidat milik Thomas, Thomas menganga tak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Aliya.


"Kurang ajar! Mau mati lo!" ujar Thomas emosi. Aliya berkacak pinggang lagi di hadapan Thomas.


"Hei Thomas, gimana aku gak khawatir! Syakirah itu sedang bersama Evan, sementara Evan tadi itu terlihat emosi. Coba kau di posisiku sekarang, kau pasti juga akan khawatir!" ujar Aliya tak kalah emosi. Thomas menunjuk kening Aliya, Thomas mau mendorong tapi tidak tega akhirnya dia hanya menunjuk kening Aliya saja.


"Otak lo ini kayaknya harus di cuci! Berhenti berpikiran aneh-aneh! Itu gak akan terjadi dengan Syakirah! Evan tau apa yang harus di lakukan dan apa yang harus tidak dia lakukan saat sedang bersama perempuan! Jadi lebih baik lo gak usah mikir yang nggak-nggak tentang Evan." Aliya mengibaskan tangan Thomas yang berada di keningnya, Aliya benar-benar frustasi dengan Thomas.

__ADS_1


Kenapa ya cowok selalu bersikap seenaknya seperti ini? Cowok mah enak gak ada yang dia lindungi, sementara cewek ada yang harus dia lindungi. Kalau cewek udah tidak suci lagi, yang ada dia malah di nyinyiri. Lah cowok kalau udah gak suci, gak ada yang nyinyiri karena emang gak akan ada jejaknya. Aliya menggerutu di dalam hatinya.


Aliya pergi dari hadapan Thomas dan berjalan ke arah pagar rumahnya. Yang sedang di nanti-nanti juga tidak datang, Aliya bertambah panik lagi. Sampai orang yang di nantikan itu datang. Gadis itu membuka helmnya dan menghampiri Aliya.


"Ada apa, Al? Syakirah kenapa? Apa yang terjadi sama Syakirah? Syakirah baik-baik aja kan? Lo kenapa diem aja, Al? Jawab dong!" ujar gadis itu. Aliya bangun dari duduknya dan menatap gadis itu lekat.


"Huwa... Clara... Syakirah di culik sama Evan!" adu Aliya memeluk Clara sambil menangis.


Ya Clara, orang yang di kirimi pesan oleh Aliya agar segera datang ke rumahnya. Clara selalu bisa di andalkan dari pada yang lainnya. Clara yang mendapatkan pesan dari Aliya langsung tancap gas tanpa berfikir panjang. Bagi Clara, Syakirah adalah sumber kehidupannya. Clara selalu menjadikan Syakirah tempat curhat untuknya, karena bagi Clara, Syakirah bisa menyembunyikan masalahnya.


Clara menoleh melihat kedua orang yang sedang duduk di kursi kayu depan rumah Aliya.


Clara melepaskan pelukan Aliya dan menghampiri mereka berdua. Clara berdiri di hadapan mereka seperti menantang.


"Evan bawa Syakirah kemana?" tanya Clara sedikit ketus. Roy yang sedang bermain dengan hpnya langsung mengalihkan pandangan melihat Clara. Roy tersenyum licik sekali.


"Gak tau." jawab Roy santai.

__ADS_1


"Thomas, kemana Evan bawa Syakirah?" tanya Clara kepada Thomas.


"Gue gak tau, Ra. Gue cuma ngikutin Evan sampai sini, selebihnya gue gak tau Evan bawa Syakirah kemana." jelas Thomas. Jujur, Thomas benar-benar tidak berani jika sudah berhadapan langsung dengan Clara. Bagi Thomas, Clara itu sama seperti Syakirah, tidak punya hati. Jadi Thomas lebih memilih menjelaskan dari pada masalah tambah berbelit.


"Huh! Ck!" terdengar Roy sedang mengumpat dengan kesal dan menatap Clara


"Hei, cewek aneh! Lebik baik lo gak usah ikut campur urusan Syakirah sama Evan deh kalau lo gak mau kena imbasnya. Evan itu kaya, dia bisa melakukan apa saja bahkan buat ambil rumah lo pun itu juga sangat mudah. Dan lebih baik lo gak usah ikut campur, karena lo itu cuma cewek miskin!"


Deg.


Hati Clara sakit rasanya mendengar Roy menghina dirinya. Clara dan Roy tidak hanya musuh antar geng, tapi juga musuh masa lalu tentang cinta mereka. Dulu mereka pernah menjalani hubungan tapi hubungan mereka berakhir. Roy bilang kalau Clara adalah gadis miskin yang selalu menopang hidupnya kepada orang lain dan tidak bisa hidup mandiri. Anak yang tidak di anggap oleh orang tuanya dan di buang begitu saja. Roy adalah anak bungsu dari keluarga terpandang jadi dia juga harus mencari gadis yang sepadan dengan dirinya. Kalau saja Roy dulu tau kalau Clara adalah gadis miskin, mungkin Roy tidak akan pernah mau dengan Clara. Roy selalu memandang Clara rendah.


Tanpa Clara sadari anak kristal bening yang membasahi pipinya, sakit. Hatinya sakit sekali mendengar Roy menjelekkannya lagi. Clara sadar bahwa dia memang bukan gadis yang sepadan dengan Roy, tapi bagaimanapun dia juga manusia dia berhak untuk di hargai.


"Gue emang gadis miskin." suara Clara bergetar. Roy melihat Clara dengan senyuman licik, tapi seketika itu hilang saat melihat Clara yang sedang menangis. Roy baru kali ini melihat Clara menangis, hati Roy bergetar rasanya.


"Gue emang gadis miskin. Gue emang anak yang gak di anggap oleh orang tua gue. Gue selalu menopang hidup pada orang lain. Apa lo pikir gue mau jadi kayak gini? Nggak sama sekali! Gue juga ingin hidup penuh kasih sayang dari orang tua meskipun orang tua gue miskin. Gue juga ingin hidup mandiri. Gue gak pernah ingin jadi kayak gini tapi mungkin ini adalah takdir gue. Lo hidup serba berlebihan, sementara gue hidup serba kekurangan. Buat makan aja susah. Gue bisa lulus sekolah pun itu gue bersyukur. Lo gak pernah ada di posisi gue. Dimana harus ekstra sabar dan harus bisa menjadi dewasa di usia yang masih dini. Gue tau, gue gak sepadan sama lo tapi apa lo gak bisa menghina gue kalau gue adalah anak yang gak di anggap. Coba kalau gue ngomong gitu ke lo, apa lo gak sakit hati? Pasti hati lo sakit. Lo emang gak pernah ada di posisi gue, makanya lo gak pernah ngerasain gimana rasanya jadi gue." ujar Clara dengan perasannya air mata. Roy hanya mendengar dan mengamati saja, ada rasa bersalah di hati kecilnya. Clara menarik nafasnya dalam sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2