Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kesepakatan


__ADS_3

Beginilah kehidupan Evan kalau ada di rumah, selalu bertengkar dengan kakak ke empatnya. Dulu ada si sulung yang selalu ada di depan Evan, karena sekarang si sulung sudah berumah tangga jadi si sulung sudah tidak tinggal disini lagi. Dan sekarang hanya tinggal kak Cherly dan juga Evan, 2 orang jomblo bersaudara yang susah dengan kisah percintaannya. Kak Cherly memiliki kenangan buruk dengan kisah percintaannya, jadi dia malas sekali jika harus menjalani hubungan percintaan, meskipun umurnya sudah hampir hampir memasuki kepala 3 tapi dia masih betah untuk menjomblo. Karena bagi kak Cherly jomblo itu lebih baik, tidak membuang waktu dan tidak membuat sakit hati. Meskipun terkadang juga merasa tertekan karena usianya yang kurang 4 tahun lagi akan memasuki kepala 3.


***


Sementara di rumah Kiya, Kiya sedang bertengkar dengan kakaknya. Kak Rahman memaksa Kiya untuk menemui bos nya yang tak lain adalah Evan sendiri, sementara Kiya menolak mentah-mentah untuk bertemu dengan bos kakaknya itu.


"Kiya, aku mohon turuti permintaanku ini. Ini semua juga demi dirimu!" ujar kak Rahman.


"Aku tidak mau! Sampai kapanpun aku tidak mau!" tolak Kiya dengan sangat tegasnya.


Kiya sudah menolak beberapa kali permintaan kakaknya itu, orang tua mereka hanya melihat pertengkaran kedua anaknya tanpa berani ikut campur sama sekali.


"Begini saja. Kau temui dia dan kau harus membuat kesepatakan 3 kali pertemuan dalam kencanmu nanti, anggap saja kencan, oke? Jika kau tidak bahagia atau kau tidak menyukainya, kau boleh menolaknya dan aku tidak akan memaksamu untuk pulang ke rumahku saat aku sudah menikah nanti. Tapi jika kau bahagia dengannya kau harus menikah dengannya. Bagaimana?" kak Rahman memberikan sebuah kesepatakan untuk Kiya. Kiya berfikir tentang kesepatakan yang ucapan kakaknya.


Sial! Aku harus membawa-bawa tempat tinggal untuk gara-gara ini. Kalau Kiya tidak bahagia bisa-bisa aku tidak akan bisa untuk menyuruh Kiya tinggal bersamaku saat sudah menikah nanti. Aku harus memberitahu Evan tentang ini. batin kak Rahman.


Kak Rahman memberikan kesepatakan untukku? Jika aku tidak bahagia maka aku tidak usah tinggal dengannya saat dia sudah menikah nanti? Jika memang seperti itu, bukannya itu lebih baik untukku ya? Apa aku perlu mengikuti perjodohan yang di lakukan kak Rahman? Toh paling juga aku tidak akan suka dengan bosnya itu. Tapi bagaimana nanti kalau aku tiba-tiba jatuh hati dengan bosnya kak Rahman? Kan bisa gawat nanti. batin Kiya.

__ADS_1


Kiya sedang memikirkan ucapan kak Rahman dengan sungguh-sungguh. Salah langkah saja bisa-bisa dia harus tinggal dengan kak Rahman saat kak Rahman sudah menikah nanti.


"Oke, aku menerima kesepatakan kak Rahman. Tapi kakak harus menepati janji kakak itu? Jika kakak mengingkarinya, aku akan menjebloskanmu ke penjara. Meskipun kak Rahman adalah kakak kandungku sendiri." ujar Kiya.


Sial! Dia membawa nama penjara? Sungguh buruk sekali sifatnya ini! Mana ada yang mau jika sikapnya seperti ini. batin kak Rahman.


"Oke, aku akan memberitahu bos ku soal ini. Kau tunggu saja kesepakatannya dariku, oke?" ujar kak Rahman. Kiya hanya mengangguk saja, lalu dia berlalu pergi ke kamarnya.


"Rahman, jangan terus menerus memaksa adikmu itu." ujar ibunya.


"Perjodohan yang aku pilih ini lebih baik dari pada perjodohan yang kalian pilih. Dan aku tidak akan membiarkan kalian menjodohkan dia begitu saja! Perjodohan kalian sangat buruk sekali! Cukup aku saja, jangan sampai Kiya juga!" ujar kak Rahman kepada ibunya. Ibunya tidak berani menjawab lagi karena takut kak Rahman akan menjadi sangat marah.


***


"Van, pokoknya gue gak mau tau lo harus bisa taklukin hati Kiya." ujar kak Rahman.


"Soal itu aku masih belum yakin, bang. Kiya cewek sedingin es, susah untuk mencairkan hatinya yang beku itu." ujar Evan.

__ADS_1


"Van, gue udah bawa-bawa tempat tinggal juga. Maksud gue saat gue udah selesai nikah nanti gue mau Kiya tinggal sama gue, bukan sama orang tua gue lagi. Sementara kemarin gue berantem sama dia dan gue bilang, kalau seandainya dia gak bahagia gue gak akan maksa dia buat tinggal di rumah gue saat gue udah nikah nanti. Gue gak mau kalau sampai Kiya tinggal sama orang tua gue, Van. Mereka akan terus memaksa Kiya buat ikut perjodohan terus." ujar kak Rahman.


Inilah kenapa kak Rahman mau Kiya tinggal bersamanya saat dia sudah menikah nanti. Kak Rahman tidak mau kalau sampai Kiya terus menerus di paksa untuk ikut perjodohan, tapi Kiya sendiri tidak bisa memahami maksud kakaknya sendiri dan mementingkan egonya.


"Bang Rahman tenang aja. Gue udah rencana kalau seandainya Kiya nolak gue." ujar Evan.


"Rencana apa?" tanya kak Rahman. Evan tersenyum miring di sela menyeduh kopinya itu.


"Bang Rahman gak perlu tau. Ini gak bakalan norehin luka atau bawa nyawa juga kok, mungkin akan bawa sakit hati yang mendalam. Tapi gak apa-apa itu semua bisa hilang kalau hati juga yang menyembuhkannya." jawab Evan.


"Gue harap lo gak akan menodai adik gue, Van!" ucapan kak Rahman penuh dengan penekanan.


"Gak akan, gue bukan lelaki brengsek yang kayak gitu. Pokoknya kalau pertemuan untuk yang ketiga kalinya Kiya nolak, gue akan lakuin sesuatu dan itu gak akan merusak tubuhnya kok, tapi menancapkan duri ke hatinya kayaknya. Tapi itu gak masalah buat gue." ujar Evan.


"Gue percaya sama lo, Van. Pokoknya gue mau yang terbaik buat adik gue. Kalau lo seandainya gak suka sama dia, lo jangan ngasih harapan ya. Kalau lo udah gak suka dia bilang aja jangan malah cari cewek baru, kecuali kalau lo udah nikah sama dia, lo harus bisa nerima kekurangannya. Gue cuma pengen yang terbaik buat adek gue." ujar kak Rahman.


Percayalah meskipun kak Rahman terlihat egois, dia juga ingin yang terbaik untuk Kiya adiknya. Meskipun dia tidak selalu ada untuk Kiya, tapi dia sangat menyayangi Kiya seperti dia menyayangi Aisyah. Tapi Kiya sendiri juga tidak tahu kalau kakaknya menyanyanginya dan selalu berambisi kalau kakaknya itu egois dan tidak akan pernah bisa mengerti dengan dirinya. Ini sudah biasa terjadi kepada kedua kakak beradik, harus ada yang mengalah di antara mereka berdua. Karena Kiya dan kak Rahman sama-sama keras kepala dan tidak bisa di nasehati, jadi mereka berfikir semau mereka sendiri.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2