Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Pinjam hp


__ADS_3

Clara menangis tersedu-sedu karena kesakitan raga dan juga hatinya. Dia tahu bagaimana dia dulu terikat dengan belenggu cinta Roy, dia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. Clara mengingat kenanganya dengan sangat jelas sekali. Roy melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu Clara sangat kasar.


"Jangan pernah lo melanggar, Clara! Lo udah tau gimana rasanya saat terbelenggu sama cinta gue kan? Jadi jangan pernah coba-coba buat lari karena saat lo lari, yang kena imbasnya adalah orang terdekat lo! Pegang kata-kata gue, gue gak main-main kali ini!" setelah mengucapkan kata itu, Roy pergi meninggalkan Clara yang sedang menangis tersedu-sedu.


Pelayan rumah Roy masuk ke kamar Clara, mama Roy pun juga ikut masuk saat mendengar ada barang yang pecah. Pelayan tadi membersihkan pecahan piring dan gelas tadi, sementara mama Roy berusaha untuk menenangkan Clara.


"Clara, ini tadi ada apa? Kenapa kok bisa ada darah seperti ini? Roy gak melukai kamu kan, nak?" tanya mama Roy.


"Nggak kok, tante. Tadi Roy cuma sedikit emosi gara-gara ucapan Clara." jelas Clara singkat. Mama Roy menghela nafas mendengar jawaban dari Clara.


"Ya sudah, kalau begitu lebih baik kamu istirahat." ujar mama Roy.


"Tante, apa hp Clara ada di tante?" tanya Clara. Clara sudah mau menanyakannya pada Roy tentang hpnya tadi tapi tidak jadi karena Roy sedang emosi.


"Nggak tuh, Clara. Tante gak bahwa hp kamu mungkin Roy yang bawa. Mau tante ambilin?"


"Eh? Gak usah, tante. Gak usah. Nanti Clara yang ambil sendiri aja."


Mama Roy mengangguk sebagai jawaban, akhirnya pelayan dan mama Roy keluar dari kamar Clara. Clara membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk itu.


"Apa hp gue masih bisa nyala ya? Hp gue kan hp murah, kena air pasti udah mati seratus persen. Terus gue harus gimana? Masa iya gue harus pinjam hp Roy? Harusnya tadi gue pinjam hp mamanya Roy aja tapi gue juga gak enak sih. Udah numpang, biaya operasi di bayarin, eh kok malah pinjam hpnya. Sadar diri itu penting, Clara! Lo mikir napa sih!" gumam-gumam Clara sambil menggerutu.

__ADS_1


Mau tidak mau Clara harus tanya ke Roy tentang hpnya, ini juga penting soalnya, bagi Clara. Clara berdiri, dia berjalan sambil pincang-pincang karena memang kakinya yang di perban. Perban yang ada ada di kaki Clara juga sangat tebal sekali, Clara bahkan hampir tidak bisa merasakan kakinya. Clara berjalan sambil berpegangan pada tembok.


Kamar Roy ada dimana ya? Apa mungkin masih tetap disana ya? Coba cari aja deh. batin Clara. Clara mengedarkan pandanganya, bingung.


"Ini ruang tamu ya? Kamar Roy kan ada di lantai 3 terus gue harus naikin tangga gitu dengan kondisi kaki gue yang kayak gini?" gumam Clara.


Akhirnya Clara pun lebih memilih untuk menemui Roy di lantai 3, padahal ada lift di rumah Roy tapi Clara tidak tahu. Clara terus berjalan menaiki tangga, sampai akhirnya Clara sampai di depan kamar Roy. Nafasnya memburu akibat menaiki 3 tangga sekaligus.


"Hosh. Kok Roy gak capek ya naik 3 tangga sekaligus? Gue aja capek kok. Hosh." gumam Clara yang masih mencoba untuk menetralkan nafasnya.


Nafas Clara sudah normal, Clara ingin mengetuk pintu kamar Roy tapi takut jika salah kamar, bisa jadi itu kamar papa mamanya Roy kan. Clara ragu untuk mengetuk pintu itu, sampai akhirnya dia mau mengetuk pintu tapi tiba-tiba saja pintu terbuka. Clara hampir jatuh karena posisi tubuh yang tidak seimbang, Roy yang dengan sigap langsung menahan tubuh Clara yang hampir jatuh. Tapi yang membuat Clara terkejut lagi adalah bibirnya dan bibir Roy saling menyatu. Clara gelagapan, dia segera melepaskan bibirnya dari bibir Roy. Ujung bibir Roy tertarik samar, ada rasa senang di hatinya. Roy sudah rapi seperti mau pergi keluar rumah tapi tidak tahu kemana.


"Apa?" tanya Roy datar. Clara menggaruk tengkuknya, ragu ingin bicara.


"Huh! Ck! Emang lo pikir hp lo anti air kayak hp gue apa?! Ya udah jelas hp lo mati dan gak bisa hidup lagi!" jawab Roy. Clara membenturkan kepalanya ke dinding beberapa kali, Roy yang melihat itu ingin tersenyum tapi dia tahan.


"Roy, gue boleh gak pinjam hp lo? Sebentar aja." Clara memohon kepada Roy.


"Lo berharap apa sama gue?" tanya Roy meledak. Clara sudah tahu apa yang akan di jawab Roy kepadanya. Percaya diri sekali dia ingin meminjam hp kepada Roy. Clara diam tidak menjawab. Roy menyuruh Clara untuk mendekat, Clara pun refleks mendekat.


"Kalau lo mau pinjam hp gue, lo harus cium gue dulu." bisik Roy tepat di telinga kanan Clara. Clara melotot lalu Roy menarik tangan Clara agar Clara masuk ke dalam kamarnya, Roy segera mengunci pintu kamarnya. Clara gelagapan, tidak bisa kabur.

__ADS_1


"Lo bilang mau pinjam hp gue kan? Kalau gitu lo harus cium gue." seringai licik muncul di bibir Roy.


"Gue gak mau, Roy!" Clara menolak dengan sangat tegas.


"Ya udah, kalau gitu lo gak usah pinjam hp gue." Clara frustasi rasanya.


Clara mendorong tubuh Roy sampai jatuh di atas ranjang, tubuh Clara berada di atas tubuh Roy. Dengan penuh keterpaksaan Clara mencium Roy, Roy tersenyum senang dan membalas ciuman Clara. Tidak hanya ciuman saja, Roy bahkan m*l*m*t bibir tipis Clara. Clara melepaskan ciumannya, wajahnya merah padam gara-gara malu.


"Udah kan? Mana? Gue pinjam hp lo." ujar Clara. Roy menyeringai licik. Roy menunjuk lehernya dengan jari, Clara yang melihat itu langsung bingung tidak mengerti dengan kode yang di berikan oleh Roy.


"Kasih tanda kepemilikanmu, Clara." lirih Roy dengan penuh gairah.


"Gue gak mau, Roy!" tolak Clara.


"Kalau gitu lo gak usah pinjam hp gue." ujar Roy. Clara merutuki kebodohannya, harusnya tadi dia pinjam hp mamanya Roy dari pada pinjam hp Roy yang ujung-ujungnya seperti ini.


Akhirnya Clara memberikan tanda kepemilikannya di leher jenjang Roy. Roy menunjukkan bagian mana saja harus Clara tandai, Clara pun dengan cepat menandai bagian yang di tunjuk oleh Roy. Setelah mendapatkan tanda kepemilikan dari Clara, Roy melihat lehernya di layar hpnya.


"Kenapa gak kelihatan? Lo kurang menghisap, Clara!" gerutu Roy.


"Gue gak tau gimana caranya, Roy. Lo juga ngasih tau gue kan? Gue gak tau gimana caranya. Gue cium leher lo tadi juga gue niru di drakor, gue gak pernah tau gimana caranya, Roy. Lah lo sendiri juga langsung nyuruh gue buat tandai leher lo tanpa ngajari gue kan? Jadi lo gak boleh protes dan salahin gue, Roy!" Clara juga ikut menggerutu juga. Dia bahkan sampai duduk dengan keras di atas perut Roy sampai membuat sang empunya kesakitan, Clara sangat kesal sekali.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2