
Hari ini Syakirah tidak masuk kerja, karena badannya yang begitu lemas dan panas jadi dia dilarang ibunya untuk bekerja. Syakirah ingin ke rumah Kiya untuk meminta penjelasan yang lebih detail, jadi dia akan meminta izin kepada ibunya.
"Bu, Syakirah kerumah kak Kiya ya?" tanya Syakirah.
"Syakirah kamu sedang sakit nak!" ujar ibu Syakirah khawatir.
"Tidak apa-apa bu. Rumah kak Kiya kan dekat dari sini .Gak papa bu ya. Syakirah mohon!" ujar Syakirah memohon kepada ibunya. Ibunya terlihat berfikir, dia takut nanti Syakirah pingsan di jalan. Karena mendapat paksaan dari Syakirah, akhirnya ibunya memberi izin kepada Syakirah dengan syarat harus pulang sebelum jam sepuluh siang. Syakirah pun menyanggupi permintaan ibunya. Akhirnya, dia bergegas untuk pergi kerumah Kiya.
Saat sampai disana, Syakirah melihat ibu kiya sedang duduk di teras rumah dan bergosip dengan tetangganya. Saat ibu Kiya melihat Syakirah yang datang kemari dengan wajah pucat membuat dia berdiri dan menghampiri Syakirah.
"Syakirah kamu tidak apa-apa? Kamu pucat sekali. Ada apa kamu datang kesini? Apa kamu tidak bekerja?" tanya ibu Karina khawatir. Nama ibu Kiya adalah bu Karina, Syakirah biasa memanggilnya dengan sebutan ibu karena permintaan bu Karina sendiri.
"Tidak bu. Syakirah sedang tidak enak badan jadi Syakirah tidak masuk kerja." ujar Syakirah lemas.
"Lalu, kenapa kamu datang kemari? Bukannya istirahat malah datang kemari?"
"Saya ingin bertemu dengan kak Kiya bu. Apa dia ada dirumah?"
"Iya, dia kebetulan hari ini libur, jadi dia ada di rumah. Ayo masuk dulu!"
Setelah menyuruh Syakirah masuk dan duduk, Bu karina memanggilkan Kiya. Tak lama Kiya datang, dia sangat terkejut dengan keadaan Syakirah yang lemas dan pucat.
"Syakirah ada apa denganmu? Kenapa kamu pucat sekali?" tanya Kiya khawatir.
"Aku tidak apa-apa kak. Kakak tidak perlu khawatir." ujar Syakirah sambil tersenyum. Tiba-tiba Bu Karina membawakan teh hangat dan semangkuk biskuit untuk Syakirah.
"Syakirah ini minumlah biar badanmu lebih enak." ujar Bu Karina sambil meletakkan teh didepan Syakirah.
"Tidak perlu repot-repot bu." ujar Syakirah. Setelah memberikan Syakirah teh, Bu Karina pamit untuk ke teras rumah. Setelah Bu Karina pergi Syakirah langsung berbicara.
"Kak apa yang kakak katakan ke Wahyu saat kakak bertemu dengannya weekend kemarin?" tanya Syakirah tanpa basa-basi.
Akhirnya Kiya menceritakan ke Syakirah apa yang dibicarakannya dengan Wahyu saat weekend kemarin. Syakirah begitu sedih mendengarkan penjelasan Kiya. Kiya awalnya tidak mengerti kenapa Syakirah menangis, akhirnya Syakirah menceritakan kejadian kemarin ke Kiya. Kiya pun terkejut mendengarkan cerita dari Syakirah.
"Syakirah, maafkan aku. Kalau seandainya aku tahu saat Wahyu marah, mungkin aku tidak akan menceritakannya." ujar Kiya menyesal.
"Tidak kak, kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak bersalah kak. Jangan menyalahkan dirimu sendiri!" ujar Syakirah.
__ADS_1
"Tapi, aku sudah memberitahu Wahyu kejadian waktu kita di pasar malam."
"Itu bukan salahmu. Aku mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri!" Syakirah memohon kepada Kiya agar tidak menyalahkan dirinya sendiri. Kiya yang merasa bersalah pun hanya bisa pasrah, percuma saja melawan itu tidak ada gunanya juga.
Setelah berbicara cukup lama dengan Kiya, akhirnya Syakirah memutuskan untuk pulang. Kiya mengantarkan Syakirah pulang, karena takut terjadi apa-apa dijalan karena badan Syakirah yang lemas. Saat sampai dirumah Syakirah, Kiya berpamitan kepada Syakirah untuk pulang dan menyuruh Syakirah untuk istirahat agar lekas sembuh.
***
Sementara di pabrik begitu sangat sunyi sekali. Tidak ada yang membuka pembicaraan semua sedang fokus pada pekerjaan mereka masing-masing. Tapi, tidak dengan Rey dia terlihat berfikir bagaimana caranya agar dia bicara dengan Wahyu.
Bagaimana ini? Aku harus bicara dengan Wahyu. Kalau tidak, masalahnya tidak akan selesai. Sudahlah, nanti waktu istirahat saja. ujar Rey dalam hati. Dia memutuskan untuk berbicara dengan Wahyu saat istirahat nanti. Ryan dan Navile pun hanya diam tak mau ikut campur, bukannya mereka tidak peduli tapi karena mereka takut saat Wahyu sedang marah.
***
Istirahat pun tiba, Rey tidak melihat Wahyu ada dikantin, padahal tadi dia melihat kalau Wahyu keluar lebih dulu. Rey memutuskan untuk mencarinya ke toilet, tapi tetap tidak ada. Akhirnya Rey memutuskan untuk berkeliling mencari Wahyu, Ryan dan Navile juga ikut mencarinya. Mereka sudah berkeliling pabrik tapi tetap tidak menemukan Wahyu, padahal mereka sudah kelelahan.
"Bagaimana ini? hosh.... kita sudah mencarinya tapi tetap tidak ketemu." ujar Ryan dengan nafas terengah-engah.
"Bagaimana kalau kita mencarinya kebelakang pabrik? Kemarin waktu bertengkar dengan Syakirah bukankah dia menuju kesana?" ujar Navile.
Mereka memutuskan untuk mencari Wahyu ke belakang pabrik. Untuk menuju ke belakang pabrik mereka harus melewati lorong yang cukup panjang, meskipun ada orang-orang yang sedang berbicara dengan temannya agar tidak merasa terganggu dan menghindari keramaian, tapi tetap saja tempat ini selalu terlihat sunyi tanpa ada suara.
Akhirnya mereka sampai di belakang pabrik, banyak sekali orang yang ada di belakang pabrik ini. Belakang pabrik ini biasanya digunakan untuk karyawan yang sedang merokok, karena tempatnya yang aman dan agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Rey mengedarkan pandangan melihat ke penjuru arah, dia tetap tidak menemukan Wahyu. Tak lama dia menemukan wahyu yang sedang berbicara kepada seniornya. Dia menghampiri Wahyu. Wahyu yang melihat rey pun terkejut, semetara Ryan dan Navile berdiri di dekat pintu sambil melihat Rey yang sedang berbicara dengan Wahyu.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Wahyu.
"Aku ingin bicara dengamu!" jawab Rey.
"Soal apa?"
"Soal syakirah."
"Lebih baik kau kembali ke ruangan saja daripada berbicara tentangnya!"
"Wahyu aku mohon. Aku ingin menjelaskannya padamu!"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, semuanya sudah jelas!"
__ADS_1
"Tidak, kau salah paham. Aku mohon izinkan aku untuk menjelaskannya!"
"Kembalilah ke ruangan rey!"
"Wahyu!"
"Kembalilah!" Rey sangat geram dengan Wahyu. Karena sudah tidak tahan lagi dengan sikap Wahyu, akhirnya Rey bicara tentang keadaan Syakirah saat ini.
"Wahyu, aku mohon jangan egois! Syakirah sedang sakit hari ini. Dia memikirkanmu, dia juga selalu mengirimkan pesan kepadaku setiap menit untuk menanyakanmu. Dia sedang sakit. Apakah kau tidak melihat ponsel mu sama sekali?"ujar Rey dengan amarah.
Wahyu sangat terkejut mendengar Syakirah sakit, meskipun dia sakit hati tapi tetap saja dia tidak boleh egois. Wahyu langsung menyalakan ponselnya dan melihat pesan dari Syakirah dan Kiya yang begitu banyak. Syakirah mengirimkan pesan untuk meminta maaf kepada Wahyu, sementara Kiya memberitahu keadaan Syakirah saat ini. Wahyu sangat menyesal telah marah dengan Syakirah, apalagi saat dia membaca pesan yang dikirimkan Kiya tentang keadaan Syakirah yang begitu sangat lemas. Wahyu langsung bergegas untuk pergi menemui Syakirah, tapi belum sempat dia pergi, dia ditahan oleh rey.
"Apa yang kau mau Rey?" tanya Wahyu ketus.
"Mau kemana kau? Aku belum selesai bicara denganmu!" ujar Rey tak kalah ketus.
"Aku mau menemui Syakirah, dia sedang sakit. Aku mau minta maaf padanya. Jangan halangi aku!"
"Aku mau kau mendengarkanku dulu Wahyu. Biarkan Syakirah istirahat dia sedang sakit." Mendengar ucapan Rey membuat Wahyu urung untuk menemui Syakirah.
"Wahyu, aku mohon dengarkan penjelasanku. Kita bicara di rumah saja, bel masuk kerja sudah mau berbunyi." lanjut Rey. Setelah rey mengatakan itu, Rey langsung pergi meninggalkan Wahyu. Wahyu sangat marah sekali kepada dirinya sendiri, betapa bodohnya dia. Setelah merenungi kesalahannya, tak lama bel sudah berbunyi dan Wahyu sudah beranjak dari tempatnya menuju keruangannya.
***
Saat ini Rey, Ryan dan Navile sudah ada divrumah Wahyu. Rey menceritakan kejadian waktu di pasar malam dengan detail dan alasan kenapa Syakirah tidak ingin memberitahunya. Saat tahu fakta yang sebenarnya, Wahyu yang awalnya marah dan kecewa kepada Syakirah, sekarang berubah menjadi marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Harusnya dia mendengarkan penjelasan dari Syakirah dulu bukan malah langsung marah padanya.
"Wahyu percayalah, Syakirah tidak ingin dirimu berurusan dengan Ahmad. Kau tahu kan perempuan licik itu, dia tidak akan membiarkan kita untuk menemui Ahmad begitu saja." ujar Rey.
"Aku percaya Rey. Aku percaya. Harusnya aku mendengarkan penjelasan Syakirah dulu." ujar Wahyu meremas rambutnya frustasi.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena sudah malam. Awalnya wahyu ingin menjenguk Syakirah, tapi dia dilarang oleh Rey, karena ini sudah malam dan juga Syakirah butuh istirahat agar dia lekas sembuh. Mendengar Rey bicara seperti itu, membuat dia urung untuk menjenguk Syakirah dan dia akan menjenguk Syakirah besok.
Wahyu sudah ada dikamarnya, dia sudah berbaring di ranjangnya dan bersiap untuk tidur.
"Syakirah maafkan aku yang sudah membuatmu sakit. Aku tidak akan mengulanginya lagi dan akan mendengarkan penjelasan darimu." setelah Wahyu mengucapkan itu, dia langsung tidur dan menuju ke alam mimpinya.
Bersambung......
__ADS_1