Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Menantu mama?


__ADS_3

"Kalau Kiya baru saja dinner dengan Evan, lalu begaimana dengan Wahyu? Wahyu kan juga suka dengan Kiya. Apa mungkin Kiya akan memilih Evan yang baru saja dia kenal dan meninggalkan Wahyu yang sudah lama dia kenal? Kenapa aku pusing sendiri ya memikirkannya. Ini sangat rumit sekali." gumam Ahmad lagi. "Aku tidak terlalu suka dengan sikap Evan. Terlihat dari wajahnya, Evan sudah memiliki sifat yang sangat keras sekali, hanya kepada Syakirah saja dia lembut karena Syakirah orang yang spesial dalam hidupnya. Apa aku harus memberitahu Kiya soal ini ya? Nanti kalau aku bilang kepadanya soal ini, dia tidak akan percaya dan berfikir kalau aku hanya tidak suka dengan Evan. Aku juga bingung, sebenarnya apa yang Evan dan Wahyu lihat dari Kiya? Cantik? Iya dia memang cantik. Baik hati? Lemah lembut? Iya itu memang sifatnya. Tapi kalau soal sikap cuek dengan hati sedingin es, memangnya siapa yang mau? Hadeuuh. Pusing sendiri." lanjut Ahmad lagi.


Tok... tok... tok...


Terdengar suara ketukan pintu di kamarnya Ahmad, Ahmad pun langsung duduk bersandar di kepala ranjangnya.


"Masuk. Pintunya tidak di kunci." ujar Ahmad.


Pintu pun terbuka dan terlihat kak Rani yang masuk. Kak Rani menutup pintunya kembali dan langsung duduk di pinggir ranjang Ahmad.


"Ada apa?" tanya Ahmad.


"Bagaimana?" tanya kak Rani balik. Ahmad mengerutkan keningnya bingung.


"Bagaimana apanya?" tanya Ahmad bingung.


"Huh! Soal Syakirah bagaimana?!" tanya kak Rani dengan kesal.


"Ya tidak bagaimana-bagaimana. Semuanya baik." jawab Ahmad.


"Apakah Syakirah akan memilihmu?" tanya kak Rani lagi.


"Aku tidak tahu. Kak Rani tahu mantan pacarnya yang kaya itu kan? Dia baru saja balik dari Jakarta. Mereka berdua cukup dekat saat Syakirah ada di rumah temannya itu, Evan juga sering sekali datang untuk menemui Syakirah. Tapi yang aku tahu, Syakirah sudah tidak menyukai Evan lagi. Dan juga aku baru saja dengar kalau Evan habis dinner dengan Kiya, tapi waktu Evan menghadangku dia bilang kalau Syakirah adalah miliknya lagi. Lalu untuk apa Evan dinner dengan Kiya, jika dia bilang kalau Syakirah adalah miliknya lagi?" jelas Ahmad sedikit kebingungan.


"Aku mengerti dengan ceritamu baru saja, tapi yang aku bingungkan adalah Kiya dinner dengan Evan? Bagaimana maksudnya itu?" tanya kak Rani kebingungan.


"Syakirah bercerita kepadaku kalau Evan bilang suka dengan Kiya, akhirnya dia mengadakan dinner dengan Kiya berdua. Lalu saat dia pulang dari rumah Kiya untuk mengantarkan Kiya pulang, Evan menghadangku dengan mobil sportsnya itu. Lalu dia bilang kalau aku tidak boleh dekat dengan Syakirah lagi, karena Syakirah sudah menjadi miliknya lagi dan aku di suruh untuk menjauhinya. Dan tadi saat Syakirah sebelum pulang, Evan tiba-tiba datang tapi gaya bicara mereka seperti dengan teman seumurannya begitu. Apalagi saat Syakirah bertanya soal Evan mengantarkan Kiya waktu itu, Evan seperti orang panik dan gelagapan begitu. Aku jadi curiga dengannya." jelas Ahmad panjang lebar.


"Sepertinya ada yang aneh." ujar kak Rani curiga.

__ADS_1


"Aku juga berfikir seperti itu, tapi masalahnya apa?"


"Ada 2 kemungkinan yang sedang Evan rencanakan. 1 dia bisa saja mengincar Syakirah dengan cara mendekatkan dirinya dengan Kiya. 2 bisa saja dia memang sayang tulus dengan Kiya. Hanya itu saja kemungkinannya." ujar kak Rani.


"Aku rasa juga begitu, Evan adalah tipikal lelaki yang susah sekali untuk berpaling hati. Aku tidak cukup percaya dia menyukai Kiya. Aku berfikir kalau dia hanya memanfaatkan Kiya agar dia bisa lebih dekat dengan Syakirah. Itu hanya kecurigaanku saja, aku juga tidak tahu maksudnya apa." ujar Ahmad.


"Iya juga, aku juga berfikir seperti itu. Coba saja untuk bertanya kepada Syakirah, barang kali dia tahu." saran kak Rani.


"Sepertinya dia tidak tahu, karena saat Syakirah cerita kepadaku dia terlihat begitu senang tanpa ada beban pikiran sedikitpun." ujar Ahmad.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau Evan menggunakan Kiya untuk mendekati Syakirah, lalu begaimana denganmu? Kau mau menjadi sebongkah batu di tengah-tengah hubungan mereka?" tanya kak Rani yang sudah mulai frustasi memikirkan calon adik iparnya. Calon adik iparnya? Itupun jika Syakirah mau.


"Aku tidak mau menjadi sebongkah batu di hubungan mereka!" jawab Ahmad yang juga sudah mulai frustasi.


"Kalau begitu gunakan cara itu saja kalau begitu." saran kak Rani.


"Aku tidak yakin Syakirah akan langsung menerimanya, aku masih menunggu waktu yang tepat untuk itu." tolak Ahmad.


"Tunggu saja tanggal mainnya." jawab Ahmad dengan bangga sekali. Kak Rani hanya menanggapinya dengan wajah datar sekali.


***


Sementara di rumah Roy, keluarga Roy sedang menikmati makan malam. Hanya ada dentingan sendok yang memenuhi ruang makan itu, semuanya hanya diam saja. Sampai mama Roy yang membuka suara duluan.


"Clara." panggil mama Roy.


"Iya, tante?" tanya Clara.


"Gak usah manggil tante, manggil mama aja ya." ujar mama Roy. Clara langsung gelagapan sambil melihat Roy yang tersenyum dengan senang di sela makannya.

__ADS_1


"Ah, i-iya m-ma." ujar Clara gelapagan.


"Clara, Clara mau gak mau jadi menantu mama? Pasti mau lah ya, gak mungkin gak mau. Hehe." ujar mama Roy tiba-tiba.


Uhuk... uhuk... uhuk...


Clara tersedak makanannya sendiri, Roy dengan sigap langsung mengambilkan Clara air putih. Mama papa Roy langsung panik saat melihat Clara tersedak makanan. Roy menepuk-nepuk punggung Clara.


"Udah?" tanya Roy panik saat melihat Clara yang sudah mulai tenang. Clara langsung mengangguk mantap.


Apa?! Menantu?! Gila apa ya! Mana mungkin Roy mau sama gue yang miskin ini. batin Clara.


"Clara, kamu gak apa-apa?" tanya papa Roy.


"Iya, gak apa-apa kok om. Tadi Clara yang gak hati-hati makannya. Hehe." jawab Clara.


"Loh? Kok manggil om sih? Mama Roy kamu panggil mama, masa iya papanya Roy kamu panggil om? Kan jadi gak nyambung gitu." protes papa Roy.


"Ah iya, maksud saya p-papa."


"Nah, gitu dong."


"Jadi gimana Clara, kamu mau kan jadi menantu mama? Enak dong mama jadi gak sendirian lagi. Dulu ada kakaknya Roy yang selalu nemenin tante kemana aja, sekarang dia udah nikah dan ikut suaminya, jadi mama selalu sendian. Mau ya? Tunangan aja dulu gak apa-apa, nikahnya belakangan." bujuk mama Roy.


Roy adalah anak ketiga dari 3 bersaudara. Kakak pertamanya laki-laki dan kakak keduanya perempuan. Kakak laki-lakinya sudah menjalani rumah tangga yang sudah memiliki 3 anak dan sedang memegang cabang perusahaan papanya yang ada di Jakarta. Dan kakak perempuannya juga sedang menjalani bisnis dan kariernya sendiri di usianya yang hampir menginjak kepala 3 dan dia juga masih single, sama seperti Cherly kakaknya Evan karena mereka berdua saling berteman. Mereka berdua sama-sama di sibukkan oleh dunia mereka masing-masing, jadi mereka jarang sekali untuk berkumpul di rumah keluarga besarnya ini. Terkadang kakak laki-laki Roy menyuruh anaknya menginap di rumah Roy saat libur sekolah panjang untuk mengatasi rindu kedua orang tuanya kepada cucunya. Kakak perempuannya sendiri juga sebulan sekali datang kesini, itupun hanya untuk melihat kondisi orang tuanya saja.


Clara langsung melihat Roy, Roy hanya sibuk dengan makanannya tanpa memperdulikan Clara yang sedang kebingungan.


"Kalau misalnya mama butuh teman, Clara bisa kok setiap kali ikut mama, meskipun kak jadi menantu juga. Kan untuk beberapa hari ke depan Clara masih tinggal disini, jadi Clara bisa nemenin mama kemana aja. Terus nanti kalau misalnya Clara balik lagi ke rumah Clara sendiri, mama tinggal calling Clara aja, nanti Clara langsung tancap gas nemuin mama. Jadi gak usah jadi menantu juga, Clara bakal nemenin mama gitu." Clara mencoba untuk menolak dengan alasan yang tepat dan tidak menyinggung mama Roy.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2