
"Makasih ya, tante om udah baik sama Clara. Clara gak tau harus gimana buat balas budi sama om dan tante." ujar Clara.
"Kamu gak usah balas budi sama kita, Clara. Cukup kamu jadi menantu sama istrinya Roy aja om udah senang." ujar papa Roy. Roy tertawa senang, sedangkan Clara tertawa gagu. Memangnya aku pantas apa jadi menantu keluarga ini? Batin Clara.
"Ya udah, kalau gitu kita berangkat dulu ya." ujar Roy.
Roy dan Clara masuk ke dalam mobil, Roy menurunkan jendela mobil.
"Aku sama Clara berangkat. Assalamualaikum." ujar Roy.
"Iya, hati-hati. Waalaikumsalam." ujar mama papa Roy bersamaaan.
Supir pribadi Roy melajukan mobil keluar dari gerbang rumah utama. Papa mama Roy memandangi mobil yang di tumpangi Roy dengan tatapan kesedihan.
"Semoga aja Clara bisa sembuh, ma ya." ujar papa Roy. Selama ini papa Roy selalu menganggap Clara sebagai anaknya sendiri, dia sayang dengan Clara sama saat dia menyanyangi Roy.
"Iya, pa. Semoga aja Clara bisa sembuh." balas mama Roy.
Akhirnya dua pasangan yang sudah berumur itupun masuk ke dalam rumah karena hawa dingin yang menerpa tubuh mereka. Sementara di mobil Roy dan Clara sedang berdebat.
__ADS_1
"Roy, kenapa lo diam aja tadi saat bokap lo bilang kalau gue harus jadi menantu sama istri lo? Gak haruh sih, cuma kan omongan bokap lo kayak nyuruh gue gitu." ujar Clara yang mencoba untuk membenarkan ucapan papa Roy tadi.
"Terus gue harus ngomong apa coba? Gue kan udah bilang sama lo, kalau lo harus hidup seumur hidup sama gue. Itu artinya lo juga harus jadi istri gue juga dong." jawab Roy.
Deg.
Jantung Clara rasanya mau meledak saat Roy bilang kalau dia harus menjadi istrinya. Ada yang menghangat di hatinya saat Roy bicara seperti itu, tapi Clara juga sadar diri kalau dia juga tidak sebanding dengan Roy.
"Emang itu wajib ya?" tanya Clara ragu.
"Ya iyalah, lo gak dengar waktu itu gue ngomong apa sama lo? Lo harus menjalani hidup seumur hidup sama gue dan itu artinya lo juga harus jadi istri gue. Lo kok gak paham-paham sih sama omongan gue?! Capek gue jadinya!" ujar Roy yang frustasi karena Clara tidak peka-peka juga dengan ucapannya.
"Bernafas bodoh! Lo mau mati apa ya!" ujar Roy yang sudah menjauh dari wajah Clara. Clara menormalkan nafasnya yang tersenggal.
"Lagian lo ngapain nyium gue tiba-tiba, gue kan syok jadinya! Lo juga gak lihat posisi apa? Ada supir lo itu!" gerutu Clara.
"Bodo amat! Makanya kalau punya mulut itu di jaga, jangan asal ngomong aja. Waktu itu gue ngomong apa coba sama lo, lo juga harus ngerti juga sama omongan gue waktu itu. Lo lupa? Lo itu udah terjebak sama belenggu cinta gue lagi. Jadi lo gak bisa nolak atau menentang permintaan gue! Ngerti gak?!" ujar Roy menjelaskan lagi kalau Clara sudah terjebak dengan belenggu cintanya lagi.
"Kenapa lo suka sama gue?" tanya Clara lirih.
__ADS_1
"Masih ada keberanian juga lo buat tanya itu!" ujar Roy yang mulai emosi. Clara diam, berharap kalau Roy menjawab pertanyaannya meskipun Roy sedang emosi.
"Gue gak tau kenapa gue suka sama lo lagi. Gue juga gak tau sejak kapan perasaan gue hadir lagi buat lo." jawab Roy. "Perlu lo ketahui, gue cukup kagum sama lo. Lo bisa berdiri dengan tegak sampai sekarang itu adalah hal yang jarang gue temui di diri seorang wanita. Gue emang gak tau apa-apa tentang keluarga lo, tapi gue kagum lo bisa sampai sini. Dari cewek yang gue temui, entah itu teman, pacar atau sahabat, gak ada tuh yang kayak lo. Kalau mereka ada di posisi lo sekarang, gue bisa jamin kalau mereka akan bunuh diri." lanjut Roy lagi.
Roy mengakui kekaguman Clara di hadapan orangnya langsung. Roy sangat kagum sekali, apalagi saat geng motor Evan dan geng motor Syakirah sedang tawuran. Saat itu Roy melawan Clara, Roy akui bahwa Clara sangat hebat saat melawan dirinya. Padahal setahu Roy, Clara adalah gadis lemah tapi Roy tidak tahu pasti bagaimana kepribadian diri Clara yang sebenarnya. Clara sendiri hanya menunjukkan luarnya saja tanpa menunjukkan dalamnya. Roy sangat suka dengan wanita yang pandai bela diri seperti Clara, apalagi jika wanita itu menang melawannya saat dia dan Clara tawuran dulu.
"Gue sampai sini juga di beri semangat sama temen-temen gue, Roy. Sebenarnya gue udah ada niatan untuk bunuh diri gue waktu itu, tapi gue takut dosa dan roh gue gak di terima disana. Kalau seandainya bunuh diri gak dilarang, gue udah bunuh diri gue sejak kecil." ujar Clara yang air matanya sudah menetes. "Gue gak pernah dapat kasih sayang, yang ada gue dapat siksaan. Gue cuma dapat kasih sayang sama paman gue, setelah paman gue meninggal gue gak dapat kasih sayang sama sekali. Gue pengen banget dapat kasih sayang dari orang tua kayak teman-teman gue yang lainnya." tanpa Clara sadari, Clara sudah membuka masa kecilnya pada Roy. Padahal dia tidak akan pernah menceritakannya kepada siapapun, hanya teman geng motornya saja yang dia ceritakan tentang masa kecilnya.
Roy semakin curiga dengan masa kecil Clara, apalagi saat mengetahui kaki Clara yang bengkok, dengan Clara yang tidak punya keluarga dan hidup sebatang kara. Roy sudah bertekad akan mencari tahu tentang masa kecil Clara saat Clara sudah menyelesaikan operasinya.
Roy menarik Clara kedalam pelukannya, Clara membalas pelukan Roy. Roy mengecup puncuk kepala Clara berkali-kali dan menyuruh Clara untuk tidur. Clara pun memejamkan matanya dengan perlahan.
Apa yang sebenarnya terjadi sama dia? Gue yakin penyebab tulang bengkok di kakinya itu bukan dari sejak lahir tapi karena suatu pukulan atau semacamnya itu. Gue yakin ada yang gak beres dengan masa lalunya dulu. Clara, kamu harus dapat kasih sayang lebih dari aku. Kamu tenang aja, kamu akan bahagia sama aku. batin Roy.
Akhirnya mereka sampai di bandara, Roy memilih untuk tidak memakai pesawat pribadi keluarganya dan memilih untuk memakai pesawat umum, karena alasan tertentu. Roy menggendong tubuh Clara yang sedang tidur, tidak berniat untuk membangunkan Clara dari mimpinya sama sekali. Supir tadi membawa kedua koper besar tadi.
"Hati-hati saat di jalan nanti, tuan muda." ujar supirnya sambil membungkukkan badan. Roy hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu masuk ke dalam bandara. Kopernya di bawa oleh Pramugari pribadi keluarganya. Akhirnya Roy dan Clara memulai perjalanan mereka untuk ke Amerika dengan harapan Clara sembuh saat pulang ke Indonesia.
Bersambung......
__ADS_1