
Ahmad masih berdebat dengan teman-teman Syakirah di taman rumah sakit.
"Hei, apakah kalian tidak bisa kalau tidak mencampuri urusan orang lain? Ini urusanku dengan Syakirah!" Ahmad.
"Hei, apakah kau tidak dengar tadi? Urusan Syakirah adalah urusan kami juga. Jadi, jika Syakirah punya masalah berarti itu masalah kami juga!" Wahyu.
"Percuma saja aku berdebat dengan kalian, tidak ada gunanya sama sekali." Ahmad.
"Hei, Ahmad dari pada kau ada disini berdebat dengan kami, lebih baik kau pulang!" Navile.
"Ck. Siapa ku kalian menyuruhku untuk pulang? Syakirah saja tidak keberatan kalau aku ada disini. Ini kan rumah sakit, bukannya rumah sakit itu tempat umum ya? jadi siapa saja boleh berkunjung kemari bukan?" Ahmad.
"Ahmad kami tidak suka kau ada disini menjenguk Syakirah. Karena jika kau ada disini, Syakirah akan mengingat masa lalunya kembali dan itu akan membuat dia sakit hati!" Wahyu.
"Bukankah niatku baik datang kesini, menjenguk Syakirah." Ahmad.
Wahyu benar-benar kesal dengan ahmad, pasalnya apa yang mereka bicarakan kepada Ahmad, selalu dijawab oleh Ahmad.
"Ck. Ternyata kau banyak bicara ya!" Wahyu.
"Hei, yang membuat ku banyak bicara adalah kalian. Kalian mengajakku bicara bukan, berarti aku harus menjawab pembicaraan dari kalian!" Ahmad.
"Ck. Pandai sekali kau bicara seperti itu!" Rey.
" Tentu saja. Aku memang pandai. Apakah kalian baru tahu?" Ahmad.
Karena kesal dengan perlakuan Ahmad. Akhirnya mereka memukul wajah Ahmad, Ahmad pun menghindari pukulan dari mereka. Mereka terus saja memukul Ahmad. Meskipun pukulan mereka sering meleset tapi mereka tetap berusaha untuk memukul Ahmad.
Ahmad memang pandai dalam bela diri. Sewaktu dia sekolah, dia sering mengikuti latihan Taekwondo dan Karate. Oleh sebab itu, dia pandai sekali menghindari serangan mereka.
"Berhenti!" teriak seseorang.
Mereka pun menoleh ke sumber suara. Mereka melihat Syakirah yang sedang duduk di kursi roda. Mereka terkejut melihat kedatangan Syakirah dan Kiya.
Flashback on
Syakirah merasa khawatir kepada Ahmad. Dia terus mengkhawatirkan Ahmad. Dia takut kalau Wahyu akan mencelekai Ahmad.
"Kak, apa kau yakin kalau Ahmad akan baik-baik saja?" tanya Syakirah kepada Kiya.
"Iya, aku yakin. Lagi pula memang Wahyu akan melakukan apa kepada Ahmad?" jawab Kiya.
"Kak, kau tahu kan kalau Wahyu tidak terlalu suka dengan Ahmad. Aku takut kalau wahyu akan mencelakai Ahmad kak!"
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir Syakirah. Jangan memikirkan Ahmad, pikirkan kesehatan mu saja, dari pada kau memikirkan ahmad!"
"Tapi kak, aku khawatir kepada Ahmad."
"Syakirah kau masih saja mengkhawatirkan Ahmad. Apa kau tidak ingat, apa yang Ahmad sudah perbuat padamu dulu?"
"Kak, itu hanya masa lalu. Aku memang masih terjebak dengan cinta masa lalu ku. Dan, yang kita lihat adalah masa depan bukan masa lalu. Bukankah itu wajar?"
"Ya, kau benar Syakirah. Tapi, berhentilah untuk mengkhawatirkan seseorang! Lihatlah dirimu, kau baru saja sadar. Aku tidak mau jika kau sampai sakit lagi. Dan, aku juga sudah menghubungi orang tuamu dan mereka akan segera datang kesini."
"Kak, aku mohon, antar aku ke Wahyu! Aku ingin melihat kondisinya. Jika memang tidak terjadi apa-apa maka kita akan kembali."
"Tapi, Syakirah..... "
"Aku mohon kak sebentar saja!"
Kiya memepertimbangkan permintaan Syakirah. Sebenarnya Kiya tidak mau menuruti permintaan Syakirah, tapi Syakirah memaksanya untuk menuruti permintaannya. Kiya pun akhirnya mengiyakan permintaan Syakirah, tapi dia harus izin kepada Dokter dulu.
Setelah dari ruangan Dokter, Kiya bilang kepada Syakirah, bahwa Syakirah harus memakai kursi roda. Karena tubuh Syakirah yang lemah dan juga takut sakit perutnya akan tiba-tiba kambuh, jadi Dokter menyarankan untuk memakai kursi roda.
Kiya pun bergegas mendorong kursi roda
Syakirah dan mencari keberadaan Wahyu dan Ahmad.
Flashback off
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan? Kenapa kalian memukul Ahmad?" tanya Syakirah kepada teman-temannya. Ahmad yang di bela Syakirah merasa sangat senang. Sementara Wahyu dan ketiga temannya hanya mendengus kesal.
"Syakirah percayalah kepadaku, Ahmad memiliki niat tersembunyi. Aku yakin dia mempunyai niat untuk datang kesini, dia tidak bersungguh-sungguh untuk menjengukmu!" Ryan.
"Ryan, apa yang kau katakan?" Syakirah.
"Syakirah jangan membela Ahmad, harusnya...... " Wahyu.
"Aku tidak membela siapa-siapa di sini Wahyu! Aku membela Ahmad karena kalian tiba-tiba saja memukul dia. Kalian berempat, sementara ahmad hanya seorang diri." Syakirah.
"Tapi, dia baik-baik saja." Ryan.
"Syakirah jangan di butakan cinta, aku mohon! Tidak masalah kau percaya atau tidak, Tapi jangan membela Ahmad, dia mempunyai cara licik." Wahyu.
Syakirah benar-benar tidak habis pikir dengan temannya. Syakirah memang tidak tahu apa yang Ahmad rencanakan, tapi niat Ahmad untuk menjenguknya itu baik, tapi ahmad malah dapat perlakuan kasar dari teman-temannya. Syakirah sudah menangis sesenggukan. Sementara Kiya menatap kelima orang ini dengan tatapan mematikan.
Gawat Kiya marah, bisa habis aku jika seperti ini. Bagaimana kalau Kiya membawa Syakirah pergi dari sini, yang ada rencana ku akan berantakan. Ini semua salah Wahyu dan ketiga temannya ini. Sial! ujar Ahmad dalam hati.
__ADS_1
Astaga Kiya sudah memperlihatkan tatapan mautnya, bisa mati aku jika seperti ini. ujar Wahyu dalam hati.
"Aaaakkkkhhhh."Pekik Syakirah kesakitan. Syakirah merasakan sakit perut yang luar biasa, dia memegangi perutnya.
"Syakirah apa kau baik-baik saja?" tanya Kiya panik. "Ini semua gara-gara kalian." lanjut Kiya.
"Syakirah, Ayo kita kembali saja!" Kiya.
Kiya pun mendorong kursi roda Syakirah dan membawa Syakirah ke ruang rawatnya. Kiya sudah memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Syakirah. Kiya dan yang lainnya menunggu di luar, karena Dokter tidak mengizinkan mereka masuk.
"Awas saja kalau sampai terjadi apa-apa kepada Syakirah. Kalau sampai terjadi apa-apa, jangan harap kalian bisa bertemu dengan Syakirah lagi!" ancam Kiya kepada mereka. Mereka pun ketakutan. Apalagi ahmad, dia tidak mau kehilangan Syakirah.
Tak lama Dokter keluar dari ruangan Syakirah.
"Bagaimana keadaan Syakirah dokter?" tanya Kiya.
"Dia terlalu banyak pikiran sehingga membuat perutnya sakit kembali. Seharusnya dia tidak boleh banyak pikiran agar lekas sembuh. Saya sudah memberikannya obat tidur, agar dia lebih tenang. Biarkan dia istirahat." ujar Dokter.
"Kalau begitu, terima kasih Dok." Kiya.
"Iya, sama-sama."
Setelah memberitahu keadaan Syakirah, Dokter tadi pamit untuk kembali ke ruangannya. Sementara Kiya sudah mau masuk keruangan Syakirah. Tapi sebelum dia membuka pintu, dia membalikkan tubuhnya. Kiya menatap mereka dengan tatapan tak bersahabat sama sekali.
"Kalian tidak boleh masuk ke dalam!" Kiya.
"Apa! Kenapa kami tidak boleh masuk ke dalam?" Wahyu.
"Hei, ini semua gara-gara kalian. Kalian lah yang membuat Syakirah sakit kembali!" Kiya.
"Hei, itu bukan salah kami. Itu adalah salah ahmad!" Rey.
"Hei, kenapa kau jadi menyalahkan aku?" ahmad.
"Ini memang salahmu, jika kau tidak datang kesini, kita tidak akan bertengkar seperti tadi!" Navile.
"Sudah, jangan bertengkar disini. Lebih baik kalian pulang ke rumah kalian masing-masing sana!" usir Kiya.
"Tapi Kiya...... " Wahyu.
"Sudah aku tidak mau berdebat dengan kalian. Kalian pulang sekarang atau aku akan membawa Syakirah pergi dari sini!" Setelah mengatakan itu, Kiya masuk keruangan Syakirah dan meninggalkan mereka.
"Ck. Ini semua gara-gara dirimu!" Ryan. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, percuma saja mereka ada disini. Kiya bahkan tidak mengizinkan mereka masuk. Sementara Kiya sendiri sedang menangis di didekat Syakirah.
__ADS_1
"Syakirah maafkan aku. Kalau seandainya aku tidak menuruti permintaan mu mungkin kau tidak akan seperti ini." Kiya.
Bersambung......