
"Dia mau bertemu denganku." jawab Asraf dengan tersenyum senang. "Akhirnya aku bisa bertemu dengannya sebelum aku pergi untuk studi." lanjut Asraf lagi.
"Beruntung kau kalau seperti itu. Anggap saja ini hadiah dari Kiya karena sudah mau menemuimu." ujar Hanifa. Asraf hanya menanggapi ucapan Hanifa dengan senyum. Akhirnya mereka berdua melanjutkan pulang mereka lagi.
***
3 hari kemudian...
Seperti apa yang di katakan oleh Kiya 3 hari yang lalu, Kiya datang ke taman XX tapi dia masih belum melihat batang hidung Asraf sama sekali, padahal dia sudah menunggu selama setengah jam.
"Maaf, aku terlambat. Tadi di jalan sedikit macet." ujar seseorang yang tak lain adalah Asraf. Kiya mendongakkan kepalanya dan melihat seseorang yang ada di hadapannya. Kiya melihat dengan datar, sementara orang itu melihat Kiya dengan senyum secerah matahari.
"Ya, kau sangat terlambat sekali!" Kiya menekankan kata-katanya.
"Iya, maaf. Tadi di jalan macet." ujar Asraf. Asraf langsung duduk di sebelah Kiya, Kiya langsung menggeser duduknya agar menjauh dari Asraf.
"Aku minta maaf karena sudah merepotkanmu untuk datang kesini." ujar Asraf. Kiya tidak menjawab, enggan sekali rasanya dia berbicara dengan Asraf.
"Hei Asraf, kau sudah gila apa ya!" terdengar seorang wanita yang berteriak memanggil nama Asraf. Kiya dan Asraf langsung menoleh ke sumber suara, mereka berdua melihat Hanifa yang sedang berjalan tergesa-gesa sambil wajah yang penuh emosi.
"Hei, aku tahu kau panik tapi tidak usah meninggalkanku juga! Kau tahu aku tidak bisa menyetir mobil dan kau malah meninggalkan mobilmu denganku. Kau tahu bagaimana sulitnya aku memakirkan mobilmu tadi!" ujar Hanifa dengan emosi yang menggunung.
"Maaf, aku takut Kiya sudah menungguku lama." ujar Asraf.
"Huh! Terserah kau saja!" ujar Hanifa yang masih emosi. Hanifa beralih melihat Kiya. "Ya sudah kalau begitu aku mau pergi jalan-jalan dulu. Ingat jam keberangkatanmu pukul 12 siang, kau mengerti?" lanjut Hanifa dan Asraf mengangguk mengerti. Hanifa berjalan menjauh dari mereka.
"Kiya, kau sudah membaca suratku kan?" tanya Asraf ragu.
"Ya." jawab Kiya singkat.
"Aku harap kau tidak semakin membenciku." ujar Kiya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah membencimu, aku hanya kecewa saja." ujar Kiya.
Apa bedanya benci dan kecewa? batin Asraf.
"Beda, jika benci aku sudah tidak sudi bertemu lagi denganmu. Tapi jika kecewa, aku masih menghargaimu meskipun hatiku sedang sakit hati." ujar Kiya seolah mengerti dengan isi pikiran Asraf.
Eh? Dia tahu? Bagaimana bisa? Aku kan hanya membatin. batin Asraf tak percaya.
"Bagaimana kau bisa tahu isi pikiranku? Aku kan tidak mengatakannya langsung." ujar Asraf bingung.
"Bagiku itu mudah." jawab Kiya singkat. Asraf hanya diam saja, dia tahu kalau Kiya enggan untuk bicara dengannya.
"Kiya, bisa ikut denganku sebentar." ujar Asraf. Kiya langsung berdiri, Asraf pun juga ikut berdiri. Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan dengan jarak tertentu.
Asraf berhenti di di samping mobilnya, dia membuka pintu tengah mobil. Kiya melihat ada buket bunga, buket berisi uang ratusan ribu, boneka dan masih ada banyak lagi.
"Apa kau mau pergi untuk melamar seseorang?" tanya Kiya. Asraf langsung diam mendengar ucapan Kiya.
"Apa?! Untukku?" tanya Kiya terkejut. Asraf mengangguk.
"Ini hadiah dariku untukmu. Sebulan yang lalu kau ulang tahun kan? Seperti biasa kau tidak pernah merayakannya dan hanya mengadakan makan bersama saja. Mungkin ini sudah telat tapi aku harap kau mau menerimanya." ujar Asraf.
Satu bulan yang lalu Kiya berulang tahun, dia mengadakan makan-makan bersama teman dan keluarganya. Di hari ulang tahunnya Kiya tidak meminta apa-apa, dia hanya minta doa agar dia sehat selalu dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Tapi tetap saja ada yang memberikan hadiah untuknya, tak terkecuali Abel. Abel mengirimkan paket ke rumah Kiya karena Abel tidak bisa datang. Kiya bahkan masih belum membuka semua hadiahnya, bahkan dari orang tuanya pun belum dia buka.
"Aku tidak butuh hadiah sebanyak ini." ujar Kiya menolak.
"Aku mohon, terima hadiah dariku. Ini adalah hadiah untuk perpisahan denganmu, anggap saja begitu." ujar Asraf.
"Tapi... "
"Aku mohon, Kiya. Sekali ini saja, terima hadiah dariku." Asraf memotong omongan Kiya, dia memohoh agar Kiya mau menerimanya. "Aku sudah susah payah untuk menyiapkan hadiah ini untukmu. Jadi aku mohon kau mau menerimanya." lanjut Asraf lagi.
__ADS_1
Siapa suruh kau membuat hadiah sebanyak itu? Tidak ada yang menyuruhmu, kau sendiri yang melakukannya. Hadiah dari Asraf terlalu banyak, jika satu mungkin aku mau menerimanya, tapi ini satu mobil tengah penuh. batin Kiya.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan menerimanya." akhirnya menerima hadiah dari Asraf dengan hati yang sangat berat. Asraf tersenyum senang.
"Nanti Hanifa yang akan mengatarkan ini ke rumahmu. Kau nanti pulang bareng dia saja." Ujar Asraf.
"Hanifa kan tidak bisa menyetir." ujar Kiya bingung karena Hanifa bilang kalau dia tidak bisa menyetir mobil.
"Dia bisa saat sedang ada di jalan tapi tidak bisa jika memarkirkan mobil. Kau bisa menyetir mobilku kalau kau mau dan kalau kau takut jika Hanifa yang menyetir." ujar Asraf. Kiya hanya mengangguk saja.
"Ya sudah, kalau begitu ayo jalan-jalan denganku." ajak Asraf bersemangat. Kiya mengikuti Asraf dari belakang, mereka beri seperti sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan jarak sekarang ini.
Hanifa melihat mereka dari kejauhan sambil melongo dan kebingungan.
"Apa dia sedang PDKT dengan kak Kiya?" tanya seorang wanita tiba-tiba di belakang Hanifa.
"Astagfiruallah, Innalillahi Wainna'ilaihi rojiun, ampuni hamba ya Allah." ujar Hanifa terkejut, dia bahkan sampai melompat tadi saking terkejutnya.
"Hei Syakirah, jangan mengagetkanku seperti itu! Aku sampai takut tahu! Kau tidak bisa bicara dengan normal apa?!" ujar Hanifa yang sudah berkacak pinggang di hadapan Syakirah. Syakirah hanya melongo saat melihat Hanifa terkejut, Syakirah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Hanifa.
Ya, wanita yang bilang PDKT tadi adalah Syakirah. Syakirah sedang berjalan-jalan di taman tapi dia tidak sengaja melihat Kiya dengan Asraf, apalagi saat mengikuti mereka berdua Syakirah juga melihat Hanifa dari kejauhan.
"Maaf, aku tidak sengaja. Aku pikir kau tahu, karena suara sepatuku terdengar cukup keras." ujar Syakirah.
"Aku tidak dengar karena aku sedang fokus melihat mereka berdua." tunjuk Hanifa ke arah Kiya dan Asraf yang sedang berjalan-jalan.
"Apa Asraf sedang PDKT dengan kak Kiya?" tanya Syakirah lagi karena Hanifa tidak menjawab ucapannya tadi.
"Anggap saja begitu, aku juga kurang paham soal itu. Mereka berkencan atau tidak, aku tidak tahu." ujar Hanifa yang juga kebingungan melihat mereka berdua. Mereka seperti kencan tapi juga tidak bisa di sebut dengan kencan.
Bersambung......
__ADS_1