Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Keputusan Syakirah


__ADS_3

"Syakirah ikut denganku." Ahmad.


"Tidak! Syakirah ikut aku!" Kiya.


"Aku mau Syakirah ikut aku!"


"Aku itu kakak sepupunya, jadi aku lebih berhak atas Syakirah!"


"Tapi aku mau bicara secara pribadi dengan Syakirah."


"Kau mau bicara apa? Kan kita mau bicara di kontrakkanku!"


"Ini urusan pribadi."


"Sudahlah, kak. Aku akan bersama Ahmad, aku tidak apa-apa kak." Syakirah mencoba melerainya.


"Syakirah!" Kiya tidak terima.


"Kak, biarkan aku menyelesaikan urusanku dengan Ahmad. Kakak jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Syakirah melepas tangan Kiya dan berjalan ke arah Ahmad. Ahmad tersenyum.


"Jangan salah paham. Aku ikut denganmu karena aku tidak mau berdebat denganmu." jelas Syakirah kepada Ahmad. Seketika Ahmad cemberut.


"Syakirah, kakak tidak rela jika kau bersamanya!" ujar Kiya sambil menunjuk Ahmad dengan jari telunjuknya.


"Wahyu." panggil Syakirah kepada Wahyu.


"Iya." Wahyu berjalan menghampiri Kiya dan menarik busana Kiya, seolah-olah dia tahu apa yang diinginkan Syakirah. Kiya yang merasa busananya di tarik pun langsung menggerutu.


"Wahyu, apa yang kau lakukan?!" Kiya.


"Sudah, jangan ganggu Syakirah. Dia berhak menyelesaikan urusannya sendiri. Jangan ikut campur." Wahyu. Kiya terus meronta agar tangan Wahyu lepas dari busananya, tapi tentu saja tidak bisa. Jika dia terus meronta yang ada busananya akan sobek. Akhirnya Kiya mengikuti Wahyu dan membiarkan Syakirah dengan Ahmad.


Setelah memastikan kakaknya sudah ikut dengan Wahyu, Syakitah menoleh ke Ahmad. Begitu pula dengan Ahmad, dia juga menatap Syakirah.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Syakirah to the point.


"Kita duduk dulu." Ahmad berjalan menghampiri kursi taman dan di ikuti oleh Syakirah.


"Kenapa?" Ahmad.


"Kenapa apa?" Syakirah.


"Kenapa tidak bilang kalau kau tidak bahagia?"


"Aku ingin menghargaimu saja." gumam Syakirah.


"Kau boleh menentang, Syakirah. Dari pada seperti ini, lebih baik kau jujur."


Syakirah memalingkan wajahnya, dia sebenarnya enggan untuk bicara kepada Ahmad. Tapi nalurinya selalu saja ingin dia berbicara kepada Ahmad.


"Sebenarnya aku juga ingin kau menjelaskannya, tapi hatiku selalu sakit jika tahu kenyataanya. Lebih baik aku tidak tahu, dari pada aku tahu tapi itu menyakitkan." jawab Syakirah yang tidak melihat Ahmad.


Ahmad memegang dagu Syakirah dan menyuruh Syakirah untuk melihatnya.

__ADS_1


"Jika sedang bicara tatap lawan bicaramu, Syakirah." ujar Ahmad. Syakirah tertegun, lagi-lagi Ahmad mengucapkan kata-kata itu. Syakirah melepaskan tangan Ahmad dari dagunya dan menghadap ke depan.


"Kau bilang aku punya kesempatan kan? Apa kesempatan itu masih berlaku untukku?" tanya Ahmad. Syakirah diam tidak menjawab, dia juga bingung harus menjawab apa.


Kenapa Ahmad tanya itu sih? Aku memang mengatakannya, tapi apa aku sanggup jika harus mulai dari nol? Syakirah, kau bodoh sekali! gerutu Syakirah mengutuki dirinya sendiri.


Syakirah masih bingung menjawab apa, dia juga salah karena sudah mengatakan itu.


"Ahmad, jika kau bisa membuatku percaya kepadamu maka kesempatan itu masih berlaku untukmu." jawab Syakirah.


"Bagaimana aku bisa membuatmu percaya kepadaku jika kau terus menghindari aku?"


Deg.


Kata-kata Ahmad cukup menancap di hatinya. Apa yang dikatakan Ahmad memang sangat benar, Syakirah memang menghindari Ahmad.


"Soal itu nanti aku akan bicarakan kepada kak Kiya" Syakirah.


"Kenapa harus bertanya kepadanya?"


"Aku tidak mau membuat kak Kiya khawatir terus-menerus."


Ahmad tidak menjawab dan dia memilih diam.


"Ahmad, ini sudah malam. Aku mau kembali ke kontrakkan." Syakirah.


"Aku akan mengatarkanmu."


"Ini sudah malam, kalau ada apa-apa di jalan bagaimana? Sudah aku antar saja."


Syakirah diam saja saat Ahmad menarik tangannya dan membawanya ke mobil. Akhirnya Syakirah pun pulang di antar oleh Ahmad.


Saat mereka berdua sampai di kontrakkan, mereka sudah di sambut Kiya dan Wahyu dengan wajah tidak bersahabat sama sekali.


Ahmad dan Syakirah keluar dari mobil dan menghampiri Kiya dan Wahyu. Kiya menarik tangan Syakirah agar berada di dekatnya.


"Kau bawa kemana adikku?!" tanya Kiya ketus.


"Tidak ada, aku hanya bicara berdua dengannya di taman." jawab Ahmad.


"Bohong!" Kiya.


"Kak, apa yang di katakan Ahmad memang benar. Aku dan dia hanya bicara di taman, tidak kemana-mana." Syakirah.


"Jangan membela dia!" Kiya.


"Sudah, jangan bertengkar disini. Kita masuk saja." Wahyu.


Akhirnya mereka pun masuk dengan Ahmad. Ya, meskipun kontrakkan mereka tidak terbuka untuk Ahmad.


Ahmad duduk di lantai yang sudah ada karpetnya, begitu pula Syakirah, Kiya dan Wahyu mereka juga sudah duduk.


"Langsung saja ke intinya, tidak perlu basa-basi!" Wahyu.

__ADS_1


"Aku mau memulai hubungan yang baru dengan Syakirah. Aku mau kita berdua memulai dari nol." Ahmad.


"Memangnya kau pikir Syakirah mau?!" ujar Kiya sambil melihat Syakirah. Syakirah hanya memalingkan wajahnya.


"Syakirah, kau tidak akan mau kan?" tanya Kiya ke Syakirah.


"Itu... itu... " ujar Syakirah gagu. Kiya hanya melongo melihat Syakirah. Kiya balik menatap Wahyu.


"Wahyu, kau tidak akan setuju kan?" tanya Kiya ke Wahyu.


"Apapun keputusan yang di ambil Syakirah, aku setuju." jawab Wahyu. Kiya melongo lagi, tidak ada yang memihak ke Kiya sama sekali.


"Huh! Kenapa tidak ada yang memihak kepadaku sih?!" Kiya.


"Sudahlah Kiya, apapun keputusan yang di ambil oleh Syakirah kita setuju saja. Pasti keputusan itu adalah keputusan yang terbaik untuknya." Wahyu.


"Huh! Terserah kalian saja." Kiya.


"Bagaimana Syakirah? Apa kau mau?" Ahmad.


"Aku butuh waktu, biarkan aku memikirkannya." Syakirah.


Ahmad mengangguk. Akhirnya Ahmad pulang karena telah di usir Kiya. Setelah kepergian Ahmad, Kiya mengingat Syakirah.


"Syakirah, pikirkan baik-baik keputusanmu. Ini menyangkut perasaan. Kau tidak mau kan kalau sampai kau sakit hati lagi. Pikirkan baik-baik. Aku pasti akan menyetujui keputusanmu." Kiya.


"Aku akan pikirkan itu nanti, kak." Syakirah.


"Pikirkan baik-baik. Seminggu lagi kita akan pulang, cutimu dan Wahyu sudah habis seminggu ke depan." Kiya.


"Iya, kak." Syakirah.


Akhirnya mereka berdua masuk ke kamar mereka masing-masing dan mulai istirahat untuk besok.


Sementara Ahmad sedang menelpon seseorang di pinggir jalan. Dia baru tahu kalau Hanifa mengikutinya semenjak seminggu ini, tapi untung saja Hanifa tidak mengikutinya saat dia berbicara dengan Syakirah.


"Ada dimana dia?" tanya Ahmad ke seberang sana.


"Dia tinggal di kos'an jalan XX. Dia memilih tinggal disana agar kau tidak mengetahui keberadaannya." jawab di seberang sana.


"Kos nya nomor berapa?


"Nomor XX."


"Baiklah, aku akan menemuinya."


Tut…


sambungan telpon Ahmad terputus.


"Hanifa, maafkan aku. Aku minta maaf karena telah menjadikanmu korban pelarianku. Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Tidak semua ini juga salahku tapi juga salahmu. Jika kau mau menyalahkan aku, aku juga bisa menyalahkanmu. Ini salah kita berdua." gumam Ahmad.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2