
Sekretarisnya Evan memang tahu tentang Syakirah sampai hal yang terkecilnya, dia juga tahu soal sepupu perempuan Syakirah yang ada di pesantren itu. Tapi sekretaris ini tidak memberitahu tentang hal ini kepada Evan, karena Evan tidak terlalu tertarik jika tentang saudara Syakirah. Yang dia pikirkan hanyalah orang tua Syakirah, adik Syakirah, Syakirah, Syakirah dan Syakirah, yang dia pikirkan hanya itu saja. Oleh sebab itu sekretarisnya tidak pernah memberitahu Evan tentang sepupu Syakirah. Sekretaris juga selalu menyelidiki semua orang yang dekat dengan Evan, tapi itu dulu sekarang sudah tidak, karena Evan melarangnya. Jika tidak di suruh maka dia juga tidak akan bertindak juga, karena itu juga bisa membuat kemarahan Evan datang. Kecuali jika situasi sedang genting, Evan tidak menyuruh pun dia akan tetap melakukannya.
"Apa anda mencintainya, tuan muda?" tanya sekretarisnya Evan.
Evan diam sejenak untuk memikirkan pertanyaan sekretarisnya itu.
"Gue juga gak tau, tapi kalau gue deket sama dia, jantung gue selalu berdetak kencang banget, rasanya kayak mau meledak gitu." jawab Evan sambil memegang jantung hatinya.
"Sepertinya anda sedang jatuh cinta, tuan muda." ujar sekretarisnya.
"Nggak!" Evan langsung menolak ucapan sekretarisnya. "Gue pikir gue gak jatuh cinta sama dia." lanjut Evan lagi.
"Jika anda tidak jatuh cinta dengannya, lalu kenapa anda mengajaknya dinner tuan?" tanya sekretaris Evan kebingungan.
"Gue juga gak tau." jawab Evan acuh.
Sekretarisnya menghela nafas, lelah melihat tuan mudanya yang serba santai ini. Berkas penting saja tidak di baca dan di anggap sepele.
Bagaimana bisa aku terjebak dalam tuan muda ini? Harusnya waktu itu aku bersama dengan tuan pertama atau kedua saja, bukan seperti ini. batinnya merutuki takdirnya ini.
Rencana gue gak ada yang boleh tau seorang pun, karena ini rencana rahasia. batin Ahmad.
Sepertinya Evan memang mempunyai rencana sesuatu, tapi tidak tahu rencana apa itu.
***
Hari sudah beranjak malam, Syakirah sudah ada di rumahnya dan baru saja selesai mandi. Syakirah sedang melihat pesan yang baru saja masuk di hpnya itu. Terlihat nama Ahmad yang tiba-tiba mengirimkannya pesan.
"Syakirah, ayo jalan-jalan." pesan dari Ahmad.
"Kemana?" pesan dari Syakirah.
"Kemana saja, asal jalan-jalan denganmu." balasan dari Ahmad.
__ADS_1
"Kalau kau tidak memberitahu tempat jalan-jalannya, lebih baik tidak usah!"
"Bagaimana dengan pasar malam? Aku juga ada titipan dari kak Rani untuk membeli pisang coklat WM."
"Boleh."
"Aku jemput ya?"
"Tidak usah, kita bawa motor sendiri-sendiri saja."
"Sesekali tidak apa-apa. Aku akan menjemputmu, sekitar 10 menit aku akan sampai."
"Hei Ahmad!"
"Jangan bercanda!"
"Aku bisa bawa motor sendiri!"
"Hei Ahmad!"
Sekitar 10 menit, akhirnya Ahmad sampai di rumah Syakirah dengan motor ninjanya itu. Dia memang sengaja membawa motor ninjanya saat menjemput Syakirah, itu karena ada maksud lain. Terlihat Syakirah sedang menunggunya dengan tatapan datarnya.
"Kan aku sudah bilang kalau tidak usah menjemputku dan bawa motor sendiri-sendiri saja! Kenapa kau keras kepala sekali?!" ujar Syakirah emosi.
"Hehe. Tidak apa-apa. Supaya bensinmu tidak habis." jawab Ahmad sambil nyengir.
Syakirah hanya mendengus kesal, dia lalu naik ke motor Ahmad. Sudah 5 menit berlalu, tapi Ahmad tidak menjalankan motornya juga dan membuat Syakirah emosi.
"Kenapa kau tidak menjalankan motormu?! Apa bensinmu habis?!" sindir Syakirah.
"Maaf ya, Syakirah. Meskipun aku tidak punya uang, tapi bensinku selalu full." jawab Ahmad.
"Lalu kenapa kau tidak menjalankan motornya?!" tanya Syakirah lagi dengan emosi.
__ADS_1
"Kau tidak mau pegangan?" tanya Ahmad balik.
"Tidak." jawabannya Syakirah ketus.
Ahmad tidak menjawab, dia lalu menyalakan mesin motornya itu. Syakirah baru saja mau berpegangan di bahu Ahmad, tapi tiba-tiba dia merosot ke tempat duduk Ahmad karena Ahmad tiba-tiba menancapkan gasnya dan mengeremnya. Ahmad menoleh ke belakang, begitu juga dengan Syakirah, mereka berdua saling tatap. Syakirah gelagapan dan langsung membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa kau tiba-tiba menancapkan gasnya begitu saja?! Kau sengaja?!" tanya Syakirah kesal sambil memukul bahu Ahmad.
"Bukan salahku, tapi salahmu. Kau sendiri yang tidak mau berpegangan, jadi itu murni salahmu." sarkas Ahmad.
"Kau hanya alasan saja!"
Ahmad menunggu Syakirah, Syakirah ragu-ragu untuk memeluk Ahmad, apalagi kalau Syakirah tidak memeluk Ahmad bisa-bisa Ahmas terus menjahilinya. Akhirnya Syakirah mau tidak mau, dia tetap memeluk Ahmad dari belakang, Ahmad tersenyum senang sekali.
"Sudah kan? Kenapa tidak jalan?" tanya Syakirah bingung.
Tak lama Ahmad pun menjalankan motornya itu. Syakirah menopang dagunya di bahu Ahmad, seperti sepasang kekasih ya. Ahmad tambah senang lagi saat Syakirah menopang dagunya dengan bahunya. Ahmad memegang tangan Syakirah menggunakan tangan kirinya.
"Seperti orang pacaran ya?" ujar Ahmad.
Syakirah melirik Ahmad, jika di lihat-lihat memang iya. Tapi sebenarnya ini juga menguntungkan untuk Syakirah, karena Syakirah sendiri juga mengantuk dan ingin menutup matanya.
"Iya." jawab Syakirah.
"Nanti di pasar malam mau beli apa?" tanya Ahmad.
"Tidak tahu. Aku ingin mencari makanan yang pedas-pedas." jawab Syakirah.
"Kenapa kau suka sekali makanan pedas sih? Bahkan jika ada levelnya, kau selalu memilih level yang tidak ada." Ahmad mulai menggerutu karena Syakirah sangat suka sekali makanan pedas.
"Rasanya enak." jawab Syakirah sambil tersenyum.
"Hah? Enak? Enak dari mananya? Kau makan makanan pedas yang kau beli itu rasanya tidak seperti makanan yang ada di menunya, tapi rasa cabai saja. Lalu enak dari mananya?" tanya Ahmad kebingungan. "Aku juga suka makanan pedas, tapi tidak gila sepertimu. Pantas saja kau sering sekali di rawat di rumah sakit, ternyata kau sendiri juga tidak menjaga pola makanmu. Berhentilah untuk memakan makanan yang pedas demi kesehatanmu. Makan pedas boleh, tapi juga ada batasannya juga." lanjut Ahmad menuruti Syakirah.
__ADS_1
Syakirah tersenyum dengan penuturan Ahmad baru saja. Syakirah memang suka sekali makanan pedas, bahkan di luar kata normal Misalnya saja level tertingginya adalah 15, pasti dia akan minta ke penjual untuk level 20 atau 25. Bukankah itu sudah gila? Tentu saja sangat gila, tapi tidak dengan Syakirah. Syakirah menyukai makanan pedas karena makanan pedas bisa menghilangkan beban pikirannya sejenak dan akan fokus ke makanannya saja. Terkadang makanan pedas juga bisa membuatnya bahagia jika makan bersama-sama, karena pasti mereka akan ingusan saat memakan makanan pedas itu dan itu selalu di jadikan bahan lelucon dengan temannya itu. Tapi Syakirah tidak pernah ingusan meskipun sepedas apa makanan yang dia makan, yang ada dia hanya mengeluarkan air mata saja.
Bersambung......