
"Kau benar, sekarang sudah malam. Tidak baik jika aku ada disini. Kalau begitu aku pulang, aku akan menemui mu besok siang. Assalamualaikum." ujar Wahyu akhirnya.
"Waalaikumsalam."
Kiya tidak mengatarkan Wahyu ke depan teras, banyak tetangga sedang di teras rumah mereka. Takut menjadi fitnah, lebih baik Kita tidak mengantar Wahyu. Kiya mendengar suara motor Wahyu, lama-kelamaan suara itu menghilang. Kiya pun kembali ke kamarnya untuk istirahat.
***
Keesokannya pun tiba, Syakirah sedang membersihkan teras rumah dan Aliya sedang menyiapkan sarapan. Inginnya Syakirah yang memasak tapi Aliya memaksa agar dia yang memaksa untuk sarapan. Saat sudah membersihkan teras, Syakirah masuk untuk sarapan.
"Syakirah, nanti aku sepertinya pulang malam." ujar Aliya di sela sarapannya.
"Kenapa?" tanya Syakirah.
"Biasalah."
Syakirah haya bernafas pasrah saja, Aliya pasti akan dinner dengan tunangannya itu. Aliya melihat wajah Syakirah yang cemberut gara-gara perkataannya.
"Kau tidak suka di tinggal ya?" ujar Aliya.
"Bukan begitu, aku hanya takut di tuduh seperti waktu itu jika kau meninggalkan aku sendirian di rumahmu." ujar Syakirah.
Deg.
Aliya seketika langsung teringat dengan kejadian tunangannya menghina, memaki dan menjelek-jelekkan Syakirah karena salah satu perhiasan Aliya tiba-tiba hilang. Aliya tidak berfikir kalau Syakirah lah yang mencurinya, tapi malah tunangannya yang menuduhnya padahal perhiasan itu masih ada di berangkasnya.
"Maaf ya, maafkan tunanganku karena telah menuduhmu waktu itu. Kau tahu sendiri kan sifat tunanganku jadi kau tidak perlu terkejut." ujar Aliya. Sebenarnya Aliya merasa bersalah kepada Syakirah, dan gara-gara kejadian itu juga Syakirah tidak mau menginap lagi di rumahnya ini, padahal Aliya sendirian tinggal disini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku mengerti." ujar Syakirah tersenyum.
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka. Saat sudah selesai sarapan, Syakirah mengantarkan Aliya ke depan, Aliya pun berangkat menaiki motor. Selepas kepergian Aliya, Syakirah masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya.
Saat sudah sampai di kamar, Syakirah melepas pakainnya. Dia mengganti pakaiannya dengan hoodie one size yang hanya sampai di atas lututnya, tak lupa Syakirah juga memakai topi dan juga kacamata hitam, takut ada orang yang mengenalnya. Syakirah menyambar tas ransel mininya dan langsung mengunci kamarnya. Syakirah mengunci rumah Aliya menggunakan kartu akses miliknya, setelah rumah Aliya benar-benar terkunci, Syakirah menaiki motornya dan menuju ke jalan raya.
Dan disinilah Syakirah sekarang, di taman yang sangat ramai penuh lalu lalang orang, ada yang bersama dengan pasangannya, ada yang bersama sahabatnya dan ada juga orang lansia sedang berjalan-jalan dengan pasangannya. Syakirah tersenyum melihat mereka semua, hanya dia seorang yang sendirian. Bahkan anak-anak pun juga memiliki teman, Syakirah merasa sangat rendah di hadapan mereka.
Syakirah mengeluarkan buku gambar serta alat tulis yang dia bawa tadi. Syakirah mulai menggambar seseorang yang sangat dia kenal, yang selalu menyebutnya dengan panggilan "Syaki." Entah kenapa Syakirah menggambar wajah lelaki itu padahal dia juga sangat kecewa padanya dulu. Setelah gambar yang Syakirah buat sudah sempurna, Syakirah menuliskan nama di pojok kanan bawah "Evan." Itulah nama lelaki yang selalu memanggilnya dengan sebutan "Syaki."
Evan adalah mantan kekasih Syakirah dulu sewaktu Syakirah duduk di bangku SMA kelas 1. Syakirah sendiri juga tidak menyangka bisa bertemu dengan Evan. Evan adalah lelaki yang bisa mengerti dengan perasaan Syakirah, selain Wahyu. Evan sendiri juga sangat menyanyangi Syakirah, bahkan dulu Syakirah sempat di kenalkan ke keluarga Evan. Tapi tidak berlangsung, hanya satu tahun saja, hubungan mereka berakhir gara-gara kesalahan Evan sendiri. Hanya Wahyu, Aliya dan orang tua Syakirah yang mengetahui hubungan Syakirah dan Evan, selain itu tidak ada.
Syakirah tidak pernah berniat menghakimi Evan tapi dari segi kenyataan memang Evan lah yang bersalah dalam berakhirnya hubungan mereka dulu. Setelah hubungan Syakirah dan Evan berakhir, Evan pindah dari kota ini dan pindah ke kota XX. Terakhir Syakirah mendengar kabar bahwa Evan telah menjadi CEO perusahaan XX, Syakirah pun juga senang mendengar kabar itu. Mungkin umur Evan saat ini adalah 21 tahun karena umur Evan dan umur Syakirah hanya berjarak 3 tahun.
Syakirah tersenyum getir mengulang masa lalunya itu bersama Evan, padahal Evan lah yang bisa membuat Syakirah melupakan Ahmad. Entahlah, mungkin takdir Evan dan Syakirah hanya begitu saja, tidak berlebihan.
Syakirah memasukkan alat-alat gambarnya ke dalam tas ransel mininya tadi, Syakirah pun beranjak dari duduknya karena matahari sudah sangat terik.
"Ini, kak. Maaf, saya tidak sengaja menabrak kakak tadi. Saya tadi melamun, maaf ya." ujar Syakirah sambil menyodorkan barang-barang wanita tersebut.
Saat wanita itu menoleh dan melihat Syakirah, betapa terkejutnya Syakirah saat melihat orang itu.
Apakah dia kak Cherly? Mukanya sangat mirip sekali. Aku tidak mungkin salah orang kan? batin Syakirah.
Kak Cherly, kak Cherly adalah kakak Evan yang ke empat. Evan adalah anak bungsu dari 5 bersaudara.
Sungguh tidak bisa di percaya. Jika kak Cherly ada disini, kemungkinan besar Evan juga ada disini kan? batin Syakirah lagi. Hanya membatin saja, jangan di ungkapkan.
__ADS_1
Syakirah melamun melihat Cherly, Cherly sendiri yang melihat Syakirah juga merasa bingung.
Apa anak ini buta ya? batin Cherly.
Wajar jika Cherly berfikir kalau Syakirah itu buta, karena Syakirah sendiri juga memakai kacamata hitam.
"Maaf, ini barang saya." ujar Cherly, seketika Syakirah langsung sadar dengan dunianya. Syakirah gelagapan.
"Maaf, kak. Saya tidak sengaja menabrak kakak tadi." ujar Syakirah lagi.
"Iya, tidak apa-apa. Ini juga salah saya juga kok, tadi saya juga gak lihat kamu." ujarnya.
"Maaf, saya mau tanya. Kamu buta?" tanyanya akhirnya.
Loh? Kenapa kak Cherly berfikir kalau aku buta? batin Syakirah.
"Eh? Tidak, kak. Saya tidak buta, saya hanya memakai kacamata hitam saja supaya panas matahari tidak terlalu menyengat di mata saya." bohong Syakirah. Tidak mungkin jika dia bicara kalau dia sedang menyembunyikan identitasnya.
"Ooh, saya pikir kamu buta dan tersesat. Maaf ya."
"Iya, kak. Tidak apa-apa."
"Kalau begitu kakak duluan ya."
Syakirah mengangguk, Cherly berjalan menjauh dari Syakirah. Syakirah hanya memandangi kepergian Cherly.
Suara anak perempuan itu seperti tidak asing di telingaku. Apa sebelumnya kita pernah dekat ya? Jika aku pikir-pikir lagi, suara itu seperti suara Syakirah tapi tidak mungkin Syakirah ada disini, secara tempat ini jauh dari rumahnya. batin Cherly mulai curiga dengan Syakirah.
__ADS_1
Wajar Cherly jika Cherly ragu karena wajah Syakirah tidak terlalu jelas, apalagi Syakirah memakai kacamata hitam dan topi. Setahu Cherly, Syakirah tidak terlalu suka dengan barang seperti itu. Hati Cherly berkata kalau itu Syakirah tapi otaknya berkata kalau itu bukan Syakirah. Cherly merasa bingung sendiri melihat wanita yang menabraknya tadi.
Bersambung......