
"Lalu apa? Beri aku satu alasan yang tepat dan kuat agar aku bisa menghargai keputusanmu itu." ujar Evan. Kiya langsung diam tidak berani menjawab, Kiya punya alasan sendiri kenapa dia menolak Evan. Dan alasan ini harus dia bicarakan dengan Syakirah dan juga kak Rahman, karena alasan Kiya tidak main-main.
"Aku... aku... tidak bisa memberikan alasan itu denganmu. Ini cukup privasi, aku tidak mau memberitahu siapapun." ujar Kiya.
"Kiki... "
"Aku mohon jangan paksa aku. Semuanya butuh proses, tidak bisa langsung tanya jawab." potong Kiya. Evan diam, sepertinya Kiya memang tidak bisa di paksa, pikir Evan.
"Kita dinner saja dulu." ujar Evan.
Akhirnya mereka pun melanjutkan dinner mereka, mereka berdua bercerita satu sama lain seperti sudah sangat dekat, terkadang juga bercanda. Mereka menceritakan tentang sekolah dan pekerjaaan mereka berdua saat ini. Di tempat lain 5 orang ini hanya memperhatikan mereka berdua dari tadi, tanpa melakukan apa-apa
"Apa Evan beneran suka sama Kiya? Kok gue agak ragu ya? Gue pikir dia punya maksud lain." ujar Thomas tiba-tiba.
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu?" tanya Syakirah tak suka.
"Gak ada maksud apa-apa sih, cuma aneh aja gitu. Evan kan awalnya gak suka sama Kiya, tapi tiba-tiba saja jadi suka, kan aneh gitu. Apalagi cinta kan butuh waktu. Bener gak sih, Roy?" ujar Thomas.
"Gue sih ngiranya jugs gitu, tapi gue juga gak tau pasti kan." ujar Roy.
"Itu gak mungkin, gue yakin Evan emang suka sama kak Kiya." ujar Syakirah.
"Rah, Lo tau pasti gimana sifat Evan. Dia susah banget buat berpaling hati, dan ini dia ketemu Kiya langsung suka. Aneh tau gak!" ujar Roy.
Iya sih, awalnya gue juga rada aneh gitu. Evan juga bukan tipikal lelaki yang mudah berpaling hati juga. Tapi apa mungkin dia punya niatan tersembunyi. Dia udah ngeluarin uang sebanyak ini buat kak Kiya, gak mungkin kalau dia punya maksud lain. batin Syakirah sedih.
Tidak ada yang tahu Evan punya niat tersembunyi atau tidak saat dekat dengan Kiya. Semuanya juga merasa aneh dan juga heran, pasti mereka akan berfikir kalau Evan punya niat tersembunyi di balik dia mendekati Kiya.
"Udahlah, gak usah ngomong yang aneh-aneh. Kalau suatu saat Evan emang ada niat tersembunyi, ya udah tinggal jauhin Kiya dari Evan aja, gampang kan? Apalagi Kiya juga punya sifat kayak gitu juga. Jadi mungkin akan lebih mudah, Kiya juga selalu bersikap bodoh amat kok." ujar Clara. Mereka semua mengangguk mendengar ucapan Clara.
__ADS_1
Clara mengamati kegiatan Evan dan Kiya dengan sangat tajam.
Gue tau Evan punya niat tersembunyi di balik ini semuanya. Syakirah gak boleh tau, atau akan membuat dia jadi over protective kepada Kiya. Gue akan cari tau sendiri tentang hal ini. batin Clara.
***
Akhirnya mereka semua pulang dengan Kiya di antar oleh Evan, sementara Syakirah pulang dengan Aliya naik taksi, Thomas, Roy dan Clara ikut mobil Roy. Saat ada di dalam mobil, Kiya diam saja, canggung. Tidak ada topik pembicaraan yang di bicarakan, jadi mereka berdua sama-sama diam. Padahal mereka berdua tadi bercerita sambil bercanda, tapi sekarang sudah canggung kembali.
"Kiki." akhirnya Evan yang memangil Kiya sendiri.
"Apa?" tanya Kiya.
"Kalau seandainya lo udah nikah, lo mau punya anak berapa?" tanya Evan tiba-tiba.
Apa? Kenapa? Kenapa membicarakan soal anak? Apa motifnya kali ini? batin Kiya.
"Apa? 2? Yakin? Bukannya bagi orang pesantren kayak lo itu seharusnya punya anak banyak ya?" tanya Evan heran.
"Iya memang benar. Di pesantrenku semua ustad dan ustadzah memiliki anak yang lebih dari 5 yang di usianya masih lumayan muda." jawab Kiya.
"Terus, kenapa lo malah pengen punya anak 2? Bukannya bagi kalian itu kb dilarang ya?" tanya Evan lagi.
"Memang benar kb itu dilarang dan haram di dalam agama kita, karena menunda rejeki dari Allah. Tapi aku memilih untuk kb saja, karena jika aku punya banyak anak dan tidak bisa menjadi ibu yang baik maka aku sendiri yang akan dosa." jelas Kiya.
"Jadi lo bakal kb gitu?"
"Iya. Lagi pula ibuku juga masih minum pil kontrasepsi di usianya yang sudah 40 tahun ini, tapi dia tetap minum pil kontrasepsi." jelas Kiya lagi.
"Kenapa? Bukannya kalau sudah tua tidak akan bisa hamil lagi?" tanya Evan heran.
__ADS_1
"Kata siapa? Ustadzahku sudah berumur 41 tahun tapi dia tetap bisa hamil dan melahirkan, normal lagi, anaknya juga sudah sepuluh."
"Apa?! 10?! Kagak salah dengar gue?!" tanya Evan terkejut.
"Tidak, memang itu kenyataannya kok. Meskipun umur perempuan sudah tua tapi jika tetap mestruasi, itu artinya dia masih bisa hamil meskipun kemungkinannya kecil dan tidak sebesar waktu muda." jelas Kiya lagi. "Kenapa kau bertanya soal anak dan kehamilan? Apa topik pembicaraanmu tidak ada yang lain selain itu?" lanjut Kiya dengan pertanyaan.
"Bukan gitu, heran aja gitu. Karena setahu gue orang pesantren itu gak ada yang kb, dan kalau udah nikah harus siap kalau punya anak banyak kan. Ya gue tanya aja sama lo, barang kali lo kayak gitu juga." jawab Evan.
"Tidak. Aku akan tetap kb meskipun dilarang oleh agama dan haram hukumnya, tapi itu lebih baik dari pada punya banyak anak yang tidak terurus yang akan menimbulkan dosa besar." jelas Kiya.
"Jadi lo pengen punya 2 anak?" tanya Evan memastikan.
"Iya, 2 anak aja." jawab Kiya malu-malu.
Evan berhenti di sebuah jembatan, Kiya yang memintanya untuk berhenti disini karena tidak enak jika di lihat oleh tetangga. Akhirnya pun Evan memberhentikannya disini.
"Lo yakin mau turun disini? Apa ini masih jauh dari rumah lo? Gue bisa antar lo sampek rumah kok. Ini juga udah malam, hampir jam 10 malahan." ujar Evan khawatir.
"Tidak, aku turun disini saja. Terima kasih karena sudah mengantarkan aku sampai rumah. Jembatan ini sudah dekat dengan rumahku, tinggal beberapa langkah kaki saja nanti sudah sampai di rumahku." ujar Kiya.
"Ya sudah, kalau begitu pulanglah." Kiya mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Evan.
"Harusnya aku yang bicara begitu, kau tidak pulang?" tanya Kiya heran.
"Pulang aja dulu, nanti kalau udah lama dikit gue juga akan pulang kok." Kiya menganguk lalu dia berlalu pergi dari mobil Evan.
Evan terus mengemati Kiya dari mobilnya, sampai Kiya menghilang di persimpangan jalan. Evan sudah menyalakan mesin mobilnya dan berniat untuk pulang, tapi baru saja ada sebuah motor ninja yang lewat yang menarik perhatian Evan. Evan tersenyum licik, lalu dia mengejar motor ninja itu.
Bersambung......
__ADS_1