Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Tentang Kiya


__ADS_3

"Kalau kau tidak mau ikut lebih baik jangan bertanya, atau kau yang akan aku suruh kesana!" ujar Wahyu penuh emosi. Geram sekali melihat mereka semua. Laki-laki tapi takut, hanya gendernya saja laki-laki tapi sifatnya seperti perempuan, Wahyu mengejek mereka di dalam hatinya.


"Aku hanya bertanya saja. Aku tidak akan pernah sudi untuk menginjakkan kakiku kesana, itu sama saja membuat nyawaku dalam bahaya!" ujar Ryan dengan bergidik ngeri.


"Cih!" Wahyu berdecak kesal.


***


Sesuai perjanjian Wahyu dan Evan, Wahyu sudah sampai di caffe XX dan sedang menunggu Evan. Tak lama Evan pun datang dan langsung memesan makanan.


"Kenapa?" tanya Evan.


"Lo tau dimana Syakirah?" tanya Wahyu.


"Tau." mendengar jawaban dari Evan membuat Wahyu terkejut tapi Wahyu menyembunyikan keterkejutannya.


"Emangnya dimana dia?"


"Rumah Aliya."


Apa! Padahal aku pikir Syakirah tidak akan datang kesana, secara mereka kan jarang bertukar kabar. Harusnya aku mencarinya ke rumah Aliya waktu itu. batin Wahyu merutuki kebodohannya.


Wahyu mengusap wajahnya dengan kasar, Evan yang melihat Wahyu hanya mengangkat bahunya saja.


"Lo mau ngapain ngajak gue ketemuan?" tanya Evan karena Wahyu masih belum menjelaskan tentang kedatangannya.


"Gak jadi." jawab Wahyu singkat. Evan hanya mendengus kesal.

__ADS_1


"Bilang aja kalau lo kangen sama gue? Iya kan? Ngaku aja! Gue udah tau kok." ujar Evan santai.


"Huh! Ck! Gue gak pernah kangen sama lo! Sampai tubuh gue membusuk pun gue gak akan pernah kangen sama lo!" Wahyu berdecak kesal mendengar perkataan Evan.


"Ck! Lo masih sama ya kayak dulu. Cuek bebek."


"Lo butuh bantuan gue apa nggak? Kalau nggak gue mau pulang. Gue capek." ujar Wahyu. Dia tidak pernah betah jika berdua dengan Evan. Kenapa? Karena Evan pasti akan membahas hal pribadi tentang seseorang.


"Tunggu dulu! Gue mau tanya ke lo."


"Apa?"


"Seperti apa Kiya itu?" pertanyaan Evan membuat Wahyu melotot. Kenapa Evan tiba-tiba menanyakan tentang Kiya? Pikir Wahyu. Kan benar, Evan selalu membahas hal pribadi tentang seseorang jika sedang berdua begini dengan Wahyu. Wahyu tidak menjawab, dia lebih memilih diam.


"Kenapa lo diam? Kenapa lo gak jawab pertanyaan gue?" tanya Evan karena Wahyu tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Kenapa lo malah tanya gitu ke gue? Nada bicara lo juga kayak marah gitu." Evan malah heran melihat Wahyu. "Atau jangan-jangan lo suka ya sama si Kiya Kiya itu? Ngaku lo!" Evan mencoba untuk memojokkan Wahyu.


"Gue gak suka sama Kiya." Wahyu berbohong. Tidak mungkin dia blak-blak'an tentang perasaannya kepada Kiya.


"Cih! Pinter banget lo ya nyembunyiin tentang perasaan lo ya!" Evan berdecak kesal. "Udah lo jawab aja pertanyaan gue."


"Kiya itu gadis baik, pendiam, lemah lembut, dan penutup. Dia adalah gadis yang merubah Syakirah. Lo tau sewaktu lo pergi ninggalin Syakirah, Kiya lah yang membujuk Syakirah. Bagi gue dia adalah wanita sempurna, hanya satu kekurangannya, dia terlalu cuek. Jangan di tanya soal kecuekannya, dia lebih cuek dari gue, lebih dingin dari gue. Ada laki-laki yang nyentuh dia dan bukan muhrimnya, siap-siap aja dia akan memberikan tatapan mautnya. Kalau lelaki itu berbuat lebih, dia pasti akan mengeluarkan jurusnya." jelas Wahyu tentang Kiya.


"Terus? Kenapa lo bilang dia akan mengeluarkan jurusnya? Emangnya dia bisa bela diri?" tanya Evan sambil memakan steak dagingnya.


"Dia bisa bela diri. Dia bisa karate dan pencak silat. Dia lumayan juga, hampir sama seperti Syakirah. Hanya saja dia selalu gak mau kalau di ikutkan lomba." jelas Wahyu lagi.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Evan heran.


"Karena pasti dia akan bertarung dengan laki-laki dan dia gak mau kalau dia ada kontak fisik dengan laki-laki. Gue sahabatnya sendiri aja cuma berani narik kain bajunya, itupun juga ujungnya aja. Cuma narik ujung kain bajunya aja, itu terkadang dia udah memberikan tatapan mautnya." Wahyu menceritakan tentang sosok kepribadian Kiya yang asli kepada Evan. Entah kenapa Wahyu bersemangat sekali jika menceritakan tentang Kiya.


"Terus apa aja yang lo tau tentang dia? Kata anak buah gue kalau Kiya itu tameng Syakirah, apa benar?"


"Itu benar. Selama ini Kiya lah yang melindungi Syakirah. Kiya selalu melakukan segala cara agar Syakirah bisa melupakan masa lalunya yang kelam, entah itu tentang dirimu atau tentang Ahmad. Bagi Kiya kalian adalah lelaki brengsek yang bisanya menghancurkan hati perempuan. Ahmad yang teman pesantreannya saja tidak terlalu di anggap oleh Kiya, apalagi dirimu."


"Sehebat apa dia? Sampai bisa melindungi Syakirah?" Evan meremehkan Kiya. Dia masih belum tahu kepribadian Kiya yang asli.


"Syakirah berubah jadi lemah lembut juga gara-gara lo, Van! Kalau seandainya lo gak merubah dia dulu, Kiya gak akan pernah jadi tameng Kiya. Lo kenapa sih gak ngerti-ngerti?! Gue udah jelasin panjang lebar dan lo masih tanya aja?! Dimana kecerdasan lo yang dulu? Udah ilang?" Wahyu menggerutu gara-gara Evan tidak paham-paham dengan penjelasannya.


"Gue gak pernah ketemu dia, jadi wajar kalau gue gak paham tentang dia!" Evan juga menggerutu karena Wahyu membawa kecerdasannya. Kecerdasan Evan masih tetap stabil. "Saat gue ketemu dia nanti, gue akan tantang dia. Kalau dia nolak artinya dia lemah! Dan kemungkinan besar dia akan nolak itu artinya dia lemah." Evan menghina Kiya lagi. Wahyu berdecak kesal mendengar ucapan Evan.


"Dia nolak lo gara-gara lo bukan muhrimnya, Van!" Wahyu mulai tersulut emosi.


"Cuma gara-gara bukan muhrim aja sampai segitunya! Cih!"


"Wajar, Van! Dia itu anak pesantren! Lo gak pernah lihat anak pesantren makanya lo gak pernah tahu! Gak! Ralat! Lo gak pernah ngerasain jadi anak pesantren jadi lo gak ngerti rasanya! Saat lo ketemu dia nanti, pasti lo tau gimana kepribadiannya."


"Gue pasti akan percaya kalau gue langsung lihat dia!" ujar Evan.


Evan suka sekali menghina orang jika dia masih belum melihat orang itu, padahal beberapa kali Roy sudah menjelaskannya kepada Evan. Percuma juga kalau Evan tidak akan melihatnya langsung, Evan tidak akan pernah percaya.


"Jika aku melihatnya langsung maka aku akan percaya tapi jika tidak, belum tentu aku percaya. Aku butuh bukti, bukan hanya kepastian dan omongan belaka saja. Aku lebih memilih bukti di bandingkan dengan kepastian. Karena bukti lebih kuat di bandingkan dengan kepastian."


Itu adalah kata-kata yang sering Evan ucapkan kepada seluruh orang-orang terdekatnya, baik itu teman, anggota keluarga atau rekan bisnisnya. Evan adalah pewaris tunggal perusahaan papanya jadi dia harus bersikap professional agar dia tidak kecolongan suatu saat nanti.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2