
Saat Ahmad pulang kerja, dia sedang berdebat dengan kakaknya.
"Bagaimana bisa kakak melakukan hal ini? Kakak pikir aku mau berkencan apa dengan Syakirah!" ujar Ahmad emosi.
"Ahmad, kakak melakukan ini juga demi dirimu! Jika sampai kau menyakiti Syakirah lagi, kau yang akan kehilangan. Anggap saja ini kencan terakhirmu dengan Syakirah!" ujar kak Rani tak kalah emosi.
"Tapi kakak keterlaluan!"
"Ini semata-mata demi kebaikanmu juga."
Ahmad meninggalkan kakaknya yang mengoceh kemana-mana. Persetan dengan kakaknya tidak akan ada untungnya buat dia. Ahmad membaringkan tubuhnya di ranjang dengan tangan kanan yang berada di kepalanya.
Bagaimana bisa Syakirah menyetujuinya? Secara dia tidak mau bertemu denganku pastinya. Jangankan bertemu berbicara langsung padaku saja, dia tidak sudi. Syakirah aku tahu, aku salah. Oleh sebab itu, aku mau memperbaikinya. Kau boleh marah padaku besok, kau juga boleh menyakitiku. Asalkan kau jangan tinggalkan aku, itu sudah cukup bagiku. gumam Ahmad.
Ahmad mengeluarkan ponselnya dan berniat untuk menelpon Syakirah, tapi dia urungkan. Ahmad lebih mengirimkan pesan kepada Syakirah.
"Syakirah, kenapa kau menyetujui ajakan kak Rani ke wisata XX?" pesan terkirim.
"Aku tidak tahu. Aku hanya menuruti permintaan kak Rani saja. Bisa saja ini adalah hari terakhir ku berhubungan dengan keluargamu. Aku tidak mau merasa bersalah karena telah menjauhi keluargamu tanpa sebab." jawab Syakirah.
"Kau bisa menolaknya, tidak akan ada yang menentang penolakanmu."
"Tidak apa-apa."
"Baiklah, jika mau mu seperti itu. Aku akan menjeputmu besok."
"Jangan menjemputku. Aku tidak mau jadi gosipan tetangga, apalagi kalau sampai bunda siti tahu. Aku bisa saja di olok-olok olehnya dan aku sangat benci itu!"
"Lalu, kau maunya bagaimana?"
"Kita mengendarai kendaraan kita masing-masing saja."
Ahmad langsung duduk setelah membaca pesan dari Syakirah. Ahmad benar-benar terkejut.
"Syakirah, kau pikir wisata XX itu tidak jauh. Aku tidak mau jika kita beda kendaraan. Kita janjian di tempat XX saja."
"Asalkan kau mau kendaraanmu terkena tubuhku itu tidak masalah. Aku akan menunggu mu disana."
Apa-apan kata-katanya ini? Dia sama seperti Kiya. Tapi lebih kejam Syakirah dari pada Kiya. Kiya bisa mengendalikan emosinya, sementara Syakirah tidak. Aku sangat pusing sekali melihat kedua saudara ini. Aku tahu mereka itu saudara, satu gender dan satu darah. Tapi, apakah tidak ada yang biasa saja apa? Kak Rahman juga begitu kejam jika menyangkut adik-adiknya, karena dia yang tertua dari saudara-saudaranya. Prioritasnya adalah melindungi adik-adiknya. Jika, aku dulu tidak di bela kak Rani mungkin aku sudah ada di rumah sakit waktu itu. gerutu Ahmad dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah, kita ketemu sekitar jam tujuh pagi saja. Perjalanan kesana butuh waktu dua jam." Ahmad membalas pesan dari Syakirah.
"Ya."
Setelah itu dia tidak membalas pesan Syakirah. Dia menganga tak percaya dengan pesan Syakirah. Syakirah hanya menjawab "Ya." saja. Ahmad paling benci jika ada orang yang membalas pesannya seperti itu.
"Syakirah, bagaimana besok aku bertemu denganmu? Sekarang saja aku sudah gugup sekali." ujar Ahmad.
Setelah itu dia tidur dan menuju ke alam mimpinya.
***
Keesokan harinya, Ahmad sudah bersiap-siap untuk kencan dengan Syakirah. Anggap saja kencan karena kak Rani yang menyuruhnya. Ahmad memakai kemeja berwarna hitam serta celana yang senada dengan kemejanya. Dia juga memakai sepatu.
Apakah penampilan ku ini sudah sempurna? Aku gugup sekali. ujarnya dalam hati gugup.
"Ahmad, kau sudah selesai bersiap-siap?" tanya kak Rani yang sudah membuka pintu kamar Ahmad.
"Wah… kau sangat flawless sekali. Ahmad, jangan mengecewakan kakak ya! Kakak sudah berusaha untuk membujuk Syakirah, jadi kau harus membalasnya." ujar kak Rani.
"Huh! terserah kakak saja." jawab Ahmad frustasi.
"Kau sudah selesai kan? Jika sudah lebih baik kau jemput Syakirah sekarang. Syakirah sudah menunggumu."
"Iya, tadi kakak mengirimkannya pesan dan dia juga sudah ada di tempat XX menunggumu untuk menjemputnya."
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat sekarang ya, kak."
Ahmad pergi keluar kamarnya, tapi saat ada di ambang pintu dia berbalik dan menuju ke lemari pakaiannya. Ahmad mengambil sesuatu di dalam kotak kecil yang ada di dalam lemarinya.
"Kau masih menyimpannya?" tanya kak Rani saat melihat kalung itu. Ahmad mengangguk.
"Bagiku ini adalah harta terbesar yang aku miliki. Tidak peduli apa itu barangnya. Syakirah memberikan aku ini. Lagi pula, aku juga ingin Syakirah melihatku menggunakan kalung ini."
Ahmad memakai kalung yang diberikan Syakirah dulu sebelum hubungan mereka berakhir. Bukan kalung, lebih tepatnya liontin. Setelah itu, dia pergi untuk menjemput dan berkencan dengan Syakirah.
"Ahmad, kakak akan membantumu. Tidak peduli jika ada banyak orang yang mencaci maki kakak nanti, yang hanya kakak inginkan adalah kebahagianmu, itu saja." ujar kak Rani yang melihat kepergian Ahmad dengan mobilnya.
***
__ADS_1
Saat Ahmad sampai di tempat XX, dia melihat Syakirah. Jantungnya berdetak sangat kencang, mungkin jika tempat ini sepi seperti hutan bisa saja detak jantungnya terdengar.
Syakirah memakai pakaian yang begitu sangat elegan. Pakaiannya sederhana tapi nampak mewah. Banyak sekali lelaki yang berjalan melihat ke arah Syakirah. Apalagi Syakirah juga memiliki bibir yang sangat merah, seperti cerry. Dia tidak pernah memakai lipstik sama sekali, hanya lip balm agar bibirnya tidak kering.
Tapi, mungkin penampilan Syakirah agak berbeda kali ini. Syakirah sedikit merias wajahnya tapi tidak terlalu mencolok. Dia juga memakai lensa mata berwarna hijau. Make up yang natural, di tambah dengan kulit putih Syakirah yang begitu bersih, membuat Syakirah seperti bidadari.
Ahmad turun dari mobilnya, tidak baik memandangi Syakirah begitu lama karena itu bisa saja membuat Ahmad pingsan. Ahmad menghampiri Syakirah.
"Syakirah." ujar Ahmad memanggil Syakirah. Syakirah menoleh dan tersenyum ke arah Ahmad. Ahmad bisa melihat lesung yang ada di kedua pipi Syakirah saat Syakirah tersenyum.
Syakirah kau membuat ku Diabetes nanti. Pulang kencan aku akan memeriksakan gula darahku, bisa saja aku terkena diabetes karena melihat Syakirah. ujar Ahmad dalam hati.
"Maaf jika kau menunggu lama."
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu, ayo kita berangkat."
Ahmad menuntun Syakirah ke dalam mobilnya. Mereka masuk masing-masing. Dan, mereka memulai perjalanan mereka.
***
Saat sampai di kota XX tempat wisata XX, Ahmad mengajak Syakirah bicara karena dari tadi mereka berdua hanya diam saja tanpa ada yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.
"Syakirah, apa kau sudah sarapan?" tanya Ahmad.
"Belum." jawabnya.
"Kau mau sarapan?"
"Sepertinya tidak, tapi jika kau mau sarapan dulu itu tidak masalah."
"Aku memang belum sarapan. Aku berhenti dulu untuk sarapan ya."
"Iya. Kau mau sarapan apa? Ini masih jam setengah sembilan pagi, sudah ada banyak restoran yang buka di jam segini."
"Hmm... aku ingin makan di restoran XX saja. Kau tidak keberatan kan?"
"Tidak."
__ADS_1
"Kalau begitu kita kesana saja."
Bersambung......