
Alex memasukkan Dara ke ruangannya. Dara terkejut saat Alex mengunci pintu ruangannya.
"Mas Alex, kenapa dikunci. Kamu mau macam-macam ya sama aku?" tanya Dara menatap Alex tajam.
"Dara, siapa yang mau macam-macam sama kamu. Kamu kali yang mau macam-macam sama aku. Buktinya, kamu buka-buka baju aku segala. Kalau kamu pengin kita bersenang-senang, kita bersenang-senang di sini saja sayang. Jangan di ruang meeting," ucap Alex sembari membuka kemejanya.
Dara menatap Alex tajam. Alex yang saat ini, sudah bertelanjang dada setelah dia melepas kemejanya. Semua itu membuat Dara takut dan salah tingkah.
"Gila kamu Mas. Aku buka baju kamu, karena aku mau lihat tubuh kamu. Kamu terluka apa nggak setelah ketumpahan kopi panas tadi," ucap Dara dengan nada tinggi.
"Sudahlah sayang, jangan munafik. Sebenarnya kamu itu senang kan melihat tubuhku yang sangat perfect ini. Kamu sebenarnya pengin peluk aku kan."
Dalam hati Alex bahagia karena sudah bisa membuat Dara kesal. Dia memang sengaja ngerjain Dara. Karena dia masih kesal dengan masalah kemarin.
Alex semakin mendekatkan dirinya ke arah Dara. Membuat Dara ketakutan.
"Mas Alex, hentikan! Jangan mendekat. Kalau tidak..."
Dara menatap sekeliling. Dia tampak bingung karena di sekelilingnya tidak ada apapun yang bisa dia jadikan senjata.
"Apa yang kamu cari Dara? kamu mau cari obat?" tanya Alex.
Dara menatap Alex bingung.
"Tunggu aku ambilkan."
Alex mengambil kotak obat yang ada di laci meja kerjanya. Dia kemudian memberikan kotak obat itu pada Dara.
"Kamu tahu, kenapa pintu aku kunci? karena aku nggak mau ada orang yang lihat kita sedang berduaan seperti ini. Karena mereka pasti akan salah paham dengan kita. Apalagi jika mereka melihat aku telanjang seperti ini."
Dara diam. Dia lantas mengambil kotak obat yang di pegang Alex. Dara kemudian menatap bagian tubuh yang ketumpahan kopi panas tadi.
"Mas, kamu nggak merasa panas atau sakit Mas? bekasnya sampai merah-merah gini Mas," ucap Dara sembari memang dada Alex.
"Nggak apa-apa. Nggak usah khawatirkan aku. Sebentar juga pasti sembuh kok."
"Ya udah. Kita duduk di sana." Dara menunjuk sofa yang ada di ruang kerja Alex.
Setelah itu Dara mengajak Alex duduk di sofa itu. Mereka kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Setelah itu Dara mengobati luka Alex dengan telaten.
"Maafin aku ya Mas. Aku nggak sengaja numpahin kopi panas itu ke tubuh kamu."
"Untung orang itu aku sayang. Bagaimana kalau orang lain. Papa aku atau mungkin klien dan rekan bisnis Papa."
__ADS_1
"Iya. Aku janji, aku nggak akan berbuat ceroboh lagi."
"Kenapa kamu sih yang ngantar kopi? kemana Mas mas tadi?"
"Mas Safik maksud kamu?"
"Iya."
"Dia nyuruh aku yang buat kopi. Katanya dia mau ngerjain tugas lain."
Alex menatap jari manis Dara. Doa terkejut saat melihat Dara tidak lagi memakai cincin darinya.
"Sayang, mana cincin kamu?"
Dara menghentikan aktifitasnya. Dia cemberut saat diingatkan lagi dengan cincin dan kejadian kemarin.
"Cincinnya, udah aku buang," ucap Dara.
"Apa! dibuang? kenapa kamu buang cincin itu Dara, kamu tahu kalau itu cincin mahal. Apa kamu tahu berapa harga cincin itu?"
Dara hanya menggeleng dengan santainya.
"Sayang, cincin itu kalau di jual bisa untuk beli rumah dan mobil untuk kamu. Karena harganya cincin berlian itu 1 milyar?
"Apa! satu milyar?"
Dara bengong sejenak saat mengingat kejadian tadi pagi-pagi sekali. Sewaktu Dara akan pergi ke warung, Dara mencoba untuk melepaskan cincinnya. Namun cincin itu malah terpelenting jatuh ke bawah entah kemana. Dan sampai sekarang, Dara belum menemukannya.
Ya ampun, aku nggak nyangka kalau harga cincin yang kemarin aku pakai bisa semahal itu. Duh, kenapa bodoh banget sih aku. Kenapa harus aku lepas cincin itu. Kenapa nggak aku lepas di toko perhiasan aja tuh cincin, lalu aku jadiin duit. Biar aku jadi kaya raya dan aku bisa membayar hutang aku ke Mbak Ratih. Bodohnya kamu Dara...
Dara menatap tajam ke arah Alex. Dia pura-pura tidak perduli dengan cincin pemberian Alex itu. Padahal sebenarnya Dara menyesali kenapa dia harus melepas cincin itu sampai cincin itu hilang.
"Habisnya aku kesal sama Mas Alex. Katanya Mas Alex mau putusin pacar-pacar Mas Alex. Tapi kenapa kemarin Mas Alex masih mesra-mesraan sama yang namanya Desi."
Alex bingung mau menjelaskan apa sama Dara. Sebenarnya, Alex belum memutuskan Desi dan wanita-wanita yang lain. Alex masih bingung bagaimana untuk memulainya.
"Sayang, kamu cemburu ya?"
Dara menggeleng.
"Apa! aku cemburu? aku aja bukan siapa-siapa kamu. Untuk apa cemburu."
Alex tersenyum.
__ADS_1
"Kamu yakin? nggak cemburu. Kenapa kamu buang rantang kamu di depan ruangan aku."
"Aku kesal sama Mas Alex. Aku nggak suka kalau Mas Alex itu dekat-dekat sama cewek."
"Itu namanya cemburu sayang..." ucap Alex sembari menarik hidung Dara yang mancung.
"Auh... sakit tahu..." ucap Dara sembari mengusap-usap hidungnya.
"Tapi aku seneng kalau kamu cemburu sama aku. Cemburu itu tanda cinta sayang. Nggak usah nunggu jawaban dari kamu, aku juga udah tahu kalau kamu cinta kan sama aku."
Wajah Dara tiba-tiba saja memerah saat disinggung soal cinta. Entahlah, kenapa sekarang Dara tidak suka saat melihat Alex dekat dengan wanita lain..
Mungkinkah aku cemburu. Mungkinkah aku sudah jatuh cinta beneran sama Mas Alex. Nggak, itu nggak mungkin.
Dara bangkit dari duduknya.
"Kamu mau ke mana Dara?"
"Mau buka pintu. Takut nanti papa kamu masuk ke sini."
"Ya udah."
Dara melangkah mendekat ke arah pintu. Setelah itu dia membuka pintu ruangan Alex.
"Mas, nggak usah dikunci ya. Kita tutup aja seperti ini."
"Iya. Nggak apa-apa. Terserah kamu saja sayang."
Dara mendekat ke arah Alex. Setelah itu dia duduk kembali di sisi Alex. Dara menatap luka ditubuh Alex.
"Mas, lukanya sudah aku obati. Terus, sekarang aku boleh keluarkan? aku nggak mau ganggu kamu kerja Mas."
"Jangan, kamu jangan pergi. Karena tugas kamu belum selesai."
"Tugas apa lagi?"
"Baju aku sekarang kotor karena kamu. Kamu harus cuci dan Carikan aku baju ganti dong. Masa mau sampai sore aku telanjang begini. Ini itu kantor Dara. Banyak karyawan papa juga di sini. Nanti kalau ada yang masuk ke sini gimana?"
Beberapa saat kemudian, Alex melihat ibu tirinya masuk ke dalam ruangannya.
Dengan sigap Alex langsung memeluk Dara dengan erat. Saking eratnya pelukan itu, Dara sampai sesak nafas. Dara sejak tadi mencoba melepas pelukannya.
"Dara, diam Dara. Ada Rita... kita harus pura-pura pelukan."
__ADS_1