
Dara berjalan mendekati Pak Rajasa.
"Pak Rajasa," ucap Dara yang sudah berdiri di belakang Pak Rajasa.
Pak Rajasa menoleh ke belakang. Dia tersenyum saat melihat Dara.
"Dara, kamu ke sini?"
"Alhamdulillah, akhirnya aku ketemu bapak juga."
"Ada apa Dara?"
"Pak Rajasa, aku butuh kerjaan. Apakah masih ada lowongan OB di sini?"
"Kamu bawa lamaran kerja?"
Dara menggeleng.
"Ya udah nggak apa-apa. Lamaran kerja bisa saja menyusul. Ayo, kita masuk ke dalam!" pinta Pak Rajasa.
Dara mengangguk. Dia kemudian mengikuti Pak Rajasa masuk ke dalam kantor Pak Rajasa.
Setelah sampai di depan ruangan Pak Rajasa, Pak Rajasa kemudian masuk ke dalam. Sementara Dara masih berdiri di depan ruangan Pak Rajasa.
"Dara, masuklah!"
"Iya Pak."
Dara kemudian masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa.
"Duduklah Dara."
Dara kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Pak Rajasa.
"Kamu yakin, mau kerja di sini?" tanya Pak Rajasa sembari menatap lekat Dara.
"Iya Pak Rajasa. Saya yakin."
"Ya udah. Kamu besok datang ke sini lagi sekalian bawa surat lamaran kerja kamu. Dan mulai besok, kamu bisa langsung kerja di sini."
Dara tersenyum.
"Benarkah Pak?" tanya Dara dengan mata berbinar-binar.
"Iya Dara."
Pak Rajasa meraih telpon yang ada di atas meja. Setelah itu dia menelpon seseorang.
"Halo Ranti, bisa datang ke ruanganku?"
"Iya Pak."
Beberapa saat kemudian, suara ketukan dari luar ruangan Pak Rajasa terdengar.
"Permisi..."
"Masuk..." seru Pak Rajasa.
Seorang wanita yang berseragam OB kemudian masuk ke dalam ruangan Pak Rajasa. Dia kemudian mendekat ke arah Pak Rajasa.
"Permisi Pak Rajasa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ranti.
Pak Rajasa tersenyum.
"Ini, ada teman baru untuk kamu."
Ranti menatap Dara dan tersenyum.
__ADS_1
"Tolong Ranti, kamu beri tahu dia apa saja kerjaan dia di sini. Dan bawa dia ke belakang. Karena mulai besok, dia akan kerja di sini bersama kamu dan teman-temanmu yang lain. Saya harap, kalian harus bisa kerja sama ya," ucap Pak Rajasa.
Ranti mengangguk. "Baik Pak."
Ranti kemudian menatap Dara.
"Ayo Dara. Kita ke belakang."
Dara mengangguk. Dia kemudian mengikuti Ranti pergi.
*****
Sore ini, Alex sudah berada di dalam kamar ibunya. Sejak tadi dia masih membujuk ibunya agar dia mau makan. Selain sama Alex, Bu Vivi tidak mau sama orang lain. Mungkin dia lebih nyaman bersama Alex dari pada dengan orang lain.
"Ma, makan dulu ya. Alex sengaja pulang cepat, agar bisa nyuapin mama," ucap Alex yang sudah memegang piring yang berisi nasi dan lauk pauk.
"Jujur Alex nggak tega, mama seperti ini terus. Kenapa mama nggak sembuh-sembuh sih Ma. Alex juga tidak tega, mama terkurung di rumah sakit jiwa itu terus. Sudah lima tahun mama di sana. Nyatanya, mama nggak sembuh-sembuh kan."
Alex masih sangat prihatin dengan kondisi ibunya saat ini. Sudah bertahun-tahun dia di dalam rumah sakit jiwa, namun keadaannya sama saja. Tidak ada perubahan.
"Untuk apa Papa bayar rumah sakit jiwa mahal-mahal, kalau ujung-ujungnya mama juga nggak sembuh," ucap Alex.
Bu Vivi menatap Alex.
"Alex..." ucap Bu Vivi.
Alex terkejut saat mendengar Bu Vivi memanggilnya. Padahal sejak dulu, Bu Vivi sama sekali tidak mengenali Alex sebagai anaknya.
"Mama, mama panggil aku? apakah mama sudah ingat, kalau aku Alex anak kandung Mama?"
"Alex.." ucapan itu kembali terdengar.
Alex meletakan piringnya di atas nakas. Setelah itu dia meraih tangan Ibunya dan menggenggamnya erat.
"Mama, ini Alex Ma. Anak mama. Alex ingin Mama kembali seperti dulu."
"Hiks...hiks...hiks...wanita itu... aku benci wanita itu..."
"Iya Ma. Aku tahu. Dan aku janji sama mama. Aku akan membalas dia Ma. Dia wanita yang sudah membuat mama seperti ini. Dia wanita yang sudah merebut papa dari kita. Dan aku sangat membencinya."
Ring ring ring...
Suara ponsel Alex berdering. Seseorang menelponnya.
"Mama tunggu sebentar."
Alex kemudian keluar untuk mengangkat telpon.
"Halo sayang...kamu lagi ngapain? "
"Eh, Desi. Ada apa sayang?"
"Kamu ada acara nggak nanti malam?"
"Emang kenapa?"
"Aku pengin ngajak kamu dinner."
"Dinner lagi. Kan kita udah dinner kemarin. Masak dinner lagi."
"Aku bete banget di rumah Mas. Aku pengin nanti malam kita dinner. Kamu besok sabtu juga libur kan?"
"Iya. Tapi maaf. Aku nggak bisa sayang."
"Kenapa?"
"Aku sudah ada janji sama teman."
__ADS_1
"Yah. Gimana sih. Kapan Mas, kamu punya waktu untuk aku. Setiap hari yang aku lihatin kamu itu sibuk terus."
"Maaf ya sayang. Aku nggak bisa kalau nanti malam. Kapan-kapan aja ya sayang."
"Ya udah deh. Terserah kamu."
"Jangan ngambek dong sayang."
"Iya. Aku nggak apa-apa kok."
Tut Tut Tut...
Desi memutuskan saluran telponnya dengan sepihak.
"Lho, kok malah di matiin."
Setelah bertelponan dengan Desi, Alex kembali ke kamar ibunya. Dia kemudian menyuapi ibunya makan setelah ibunya meminta makan.
"Makan yang banyak ya Ma, agar mama cepat sehat. Mama nggak boleh mikirin apa-apa lagi sekarang. Mama nggak usah khawatir selama masih ada Alex di sini."
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu dari luar rumah Alex terdengar. Ratih yang masih berada di dapur segera berjalan untuk membuka pintu depan rumahnya.
Ratih terkejut saat melihat seorang lelaki tampan sudah berdiri di depan rumah Alex.
Dia tersenyum pada Ratih.
"Permisi, Alexnya ada?"
"Oh, ada Tuan. Tunggu sebentar. Saya panggil dulu."
Ratih kemudian pergi ke kamar Bu Vivi untuk memanggil majikannya.
"Tuan Alex. Ada tamu untuk Tuan," ucap Ratih.
"Siapa?" tanya Alex.
"Saya nggak tahu Tuan."
"Kamu gimana sih. Kamu nggak tanya namanya?"
"Maaf tuan. Saya lupa menanyakan namanya."
"Ya udah. Ini, temani mama aku. Dan lanjut suapin dia."
Ratih membelalakkan matanya. Ratih takut kejadian yang waktu itu akan terjadi lagi.
"Ta-tapi..."
"Ratih, jangan membantah. Mama aku udah baik kok."
"Ya udah deh."
Alex bangkit berdiri. Dia kemudian menyerahkan piring ke Ratih. Setelah itu Alex pergi untuk menemui tamunya.
Alex terkejut saat melihat Viko. Viko adalah sahabatnya waktu SMA. Sekarang Viko sudah menjadi dokter spesialis jiwa . Dan dia juga sudah bekerja di sebuah rumah sakit jiwa menjadi seorang dokter khusus jiwa.
"Alex, saya sudah mendengar semua cerita tentang mama kamu. Saya sekarang ingin melihat mama kamu."
"Iya Vik. Aku ingin Mama cepat-cepat sembuh dari sakitnya. Aku akan lakukan apapun untuk kesembuhan mama."
Viko manggut-manggut.
"Iya. Aku tahu itu. Kamu tenang saja. Saya akan membantu kesembuhan mama kamu."
Alex tersenyum. Setelah itu dia menyuruh Viko masuk ke dalam rumahnya untuk melihat mamanya.
__ADS_1