
Ting.
Suara notifikasi ponsel Alex terdengar. Alex langsung mengambil ponselnya dan membaca chat masuk dari dalam ponselnya.
(Alex, besok Papa akan pulang ke Jakarta. Tolong kasih tahu Papa di mana Mama kamu di rawat)
Alex tidak mau membalas chat dari ayahnya. Dia letakan ponsel itu kembali di sampingnya duduk.
Beberapa saat kemudian, Dara mendekat ke arah Alex. Dia kemudian duduk di sisi Alex.
"Kamu kenapa nggak tidur Mas?" tanya Dara.
"Aku nggak bisa tidur Dara. Tapi aku udah tidur sebentar sama kamu tadi."
"Iya. Aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan Mas. Karena ibu aku juga pernah mengalami kritis seperti mama kamu. Tapi ibu aku nggak sampai koma seperti mama kamu."
Alex meraih tangan Dara.
"Dara, doakan mama aku terus yah, dan temani aku terus untuk melewati ujian ini."
Dara mengangguk.
"Iya Mas. Insya Allah. Aku akan temani kamu terus."
Alex tersenyum.
"Oh iya. Tadi kamu menggigil Dara. Kamu mau minuman hangat ini," ucap Alex sembari mengangkat gelas kopinya.
"Tapi itu kan buat kamu Mas. Dan kamu beli cuma satu kan."
"Nggak apa-apa Dara. Minum aja punya aku. Mumpung masih panas. Minumnya sedikit-sedikit aja nggak apa-apa Dara. Soalnya masih panas."
Dara tampak ragu untuk mengambil gelas kopi yang ada di tangan Alex.
"Kamu tenang saja. Aku belum minum kopi ini kok. Ambil saja. Nanti aku beli lagi," ucap Alex.
Dara kemudian mengambil gelas kopi yang ada di tangan Alex.
"Nggak apa-apa ini kopinya buat aku Mas?" tanya Dara.
"Ya, minum aja."
__ADS_1
Dara kemudian menyeruput kopi hangat itu. Sesekali dia menatap ke arah Alex.
Setelah minum, Dara kemudian meletakkan gelas kopi itu di sampingnya duduk.
"Makasih ya Mas."
Alex mengangguk.
"Dara, papa aku besok mau pulang ke sini."
Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Oh iya. Cepat banget Mas. Belum ada seminggu lho Papa kamu di Bali."
"Papa aku sudah tahu tentang mama. Makanya dia mau datang ke sini untuk lihat kondisi mama"
"Papa kamu, kayaknya sayang banget ya sama mama kamu Mas."
"Dulu, dia memang sayang banget sama mama aku Dara. Tapi sejak dia kenal dengan perempuan yang bernama Rita, Papa jadi berubah."
"Berubah gimana Mas?"
"Papa sekarang memang banyak berubah. Papa itu lebih menurut dengan Rita. Apa pun yang Rita katakan, pasti dia akan percaya. Padahal Rita itu nggak pernah tulus mencintai Papa aku. Dia menikahi Papa aku karena harta Dara."
"Iya. Apalagi sekarang, Rita itu sudah menjadi istri sahnya Papa. Dia jadi sok banget Dara. Dia sok berkuasa di rumah Papa. Makanya, aku memilih untuk membeli rumah sendiri dari pada aku harus tinggal seatap dengan perempuan ular itu," jelas Alex.
"Oh, tadinya Mas Alex itu tinggal serumah dengan perempuan itu dan Pak Rajasa?"
"Iya. Tapi semenjak Papa membawa mama aku ke rumah sakit jiwa, aku sudah tidak respek lagi sama papa. Aku keluar dari rumah Papa dan mencari rumah baru. Dan aku juga mendirikan perusahaan sendiri Dara. Dan alhamdulillah, hasilnya seperti sekarang.
"Perusahaan aku maju, dan aku bisa membayar tiga pembantu dan seorang satpam. Dan aku juga bisa membayar semua gaji karyawan-karyawan kantor aku."
Dara tersenyum. Di balik sikapnya yang mesum, kurang ajar sama perempuan, dan play boy, tapi ternyata Alex mempunyai sisi yang baik.
"Kenapa kamu sampai sekarang masih lajang? apa kamu nggak ingin hidup berumah tangga seperti orang yang lain?" tanya Dara tiba-tiba.
"Aku ingin menikah satu kali saja seumur hidupku Dara. Dan aku nggak mau sampai salah memilih wanita. Aku ingin mempunyai istri yang cinta sama aku dengan tulus Dara. Tidak memandang tampang dan harta aku."
Dara manggut-manggut mendengar ucapan Alex.
"Aku itu sebenarnya trauma dengan yang namanya cinta Dara. Karena dulu, aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita, aku beberapa tahun menjalin hubungan sama dia. Tapi wanita itu mencampakkan aku begitu saja. Dia menikah dengan lelaki lain tanpa sepengetahuan aku."
__ADS_1
Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.
"Oh, jadi Mas Alex ini pernah punya masa lalu yang pahit ya?"
"Yah, begitulah Dara."
"Beruntung Mas Alex itu sebenernya."
"Beruntung gimana?" tanya Alex menatap Dara lekat.
"Mas Alex masih punya dua orang tua yang masih hidup. Mas Alex punya harta, punya jabatan tinggi, dan Mas Alex dari kecil sudah di besarkan dari keluarga kaya raya. Dan Mas Alex tidak pernah merasakan hidup susah. Sementara aku, dari kecil belum pernah merasakan bahagia."
Dara menundukan kepalanya. Tiba-tiba setetes air mata Dara menetes dari pelupuk matanya.
Sepertinya Dara sangat sedih saat mengingat ke dua orang tuanya dan menangisi kehidupannya yang miskin.
"Dara, kenapa kamu bilang seperti itu. Belum tentu orang kaya raya itu hidupnya bahagia Dara. Justru orang kaya itu, banyak sekali cobaannya. Miskin dan kaya menurut aku sama aja Dara. Itu adalah ujian Tuhan untuk kita. Ada yang di uji dengan kekayaan, ada yang di uji dengan kemiskinan. Kita hanya bisa bersabar untuk melewati semua ujian hidup kita Dara."
Dara melepaskan kaca matanya dan mengusap air matanya. Alex yang merasa iba dengan Dara, segera mengeluarkan sapu tangannya dari dalam sakunya. Dia kemudian menyodorkan sapu tangan itu ke arah Dara.
"Pakailah sapu tangan aku. Kamu nggak boleh nangis. Kamu itu perempuan yang kuat, pekerja keras dan pemberani. Nggak pantas seorang Dara nangis seperti ini," ucap Alex.
Dara hanya diam. Dia sama sekali tidak melirik sedikit pun sapu tangan yang ada di dekatnya. Dia masih sibuk dengan tangisannya.
Alex meraih wajah Dara, dan menghadapkan wajah cantik itu ke hadapannya.
"Aku bilang jangan nangis. Kenapa kamu nangis sih?" ucap Alex.
Dia kemudian mengusap air mata Dara dengan sapu tangannya. Setelah itu dia menenggelamkan kepala Dara di dada bidangnya.
"Sudahlah, ada aku sekarang Dara. Kamu nggak usah khawatirkan tentang kehidupan kamu. Karena mulai sekarang kita adalah teman. Dan aku janji, aku akan selalu menemani kamu," ucap Alex sembari mengusap-usap kepala Dara.
Entah kenapa, Dara merasa nyaman saat berada di pelukan Alex seperti saat ini. Mendadak hatinya mulai tenang saat Alex mendekapnya.
Dara memejamkan matanya dan mulai tidur di pelukan Alex.
'Dara sudah mulai jinak sekarang, tapi aku janji Dara. Aku nggak akan macam-macam sama kamu lagi. Karena aku sayang sama kamu. Aku nggak mau merusak masa depan kamu Dara.'
Alex mengecup puncak kepala Dara.
'Semakin hari, kenapa aku merasa sayang sama gadis ini. Padahal gadis ini bukan tipe ku. Dia gadis cupu yang awalnya hanya seorang pembantu yang mencuci dan menggosok baju-baju ku di rumah. Dan iseng aku ingin mengambil kesuciannya. Untunglah hal itu tidak jadi aku lakukan,"
__ADS_1
"