
Setelah beberapa hari Oca di rawat di rumah sakit, akhirnya Oca sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.
Saat ini, Ica masih bersama Bu Vivi dan Dara di ruangannya.
"Sebentar lagi, Alex akan datang ke sini jemput kita. Dia lagi pergi sebentar karena ada sedikit urusan di luar," ucap Bu Vivi.
"Yang penting kita beres-beres dulu aja," ucap Dara.
"Iya Kak."
Dara dan Bu Vivi kemudian mengemasi barang-barang Oca dan memasukkan semua barang-barang itu ke dalam tas. Setelah itu mereka menunggu Alex datang.
"Kenapa Alex lama banget ya Dara, " ucap Bu Vivi.
"Nggak tahu Bu. Mas Alex tahu kan , kalau hari ini Oca pulang?" tanya Dara pada Bu Vivi.
"Iya. Ibu udah bilang kok sama Alex. Dan katanya dia mau jemput kita ke sini."
"Tapi kenapa lama sekali ya Bu."
"Dara, coba kamu telpon Alex Dara. Biar dia tidak kelamaan datang ke sininya !" pinta Bu Vivi.
"Iya Bu."
Dara mengambil ponselnya. Setelah itu dia menekan nomer Alex.
"Halo..." suara Alex sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Mas Alex, kamu ada di mana sekarang?"
"Aku masih di jalan sayang. Aku lagi meluncur ke rumah sakit."
"Kok lama banget sih Mas."
"Maaf sayang. Jalanan macet banget. Udah macet, panas banget lagi."
"Terus kapan kamu sampainya Mas? Oca udah pengin pulang nih."
"Sabar dong sayang. Mobil aku aja belum bisa jalan. Aku masih ada di lampu merah."
"Ya udah, cepat ya Mas."
"Iya sayang."
"Oh iya Mas. Kamu udah lihat rumah aku?"
"Udah. Aku udah lihat rumah kamu sama papa kemarin."
"Gimana Mas nasib rumah aku?"
"Semua barang-barangnya sudah hangus terbakar Dara."
"Berarti semua surat-surat berharga juga ikut terbakar dong. Baju-bajunya Ica dan Oca juga pasti ikut terbakar termasuk baju aku."
"Sabar sayang. Aku dan Papa akan cepat menangani semua masalah ini. Kalau soal baju, kalian kan bisa beli yang baru."
__ADS_1
"Tapi, bagaimana dengan surat-surat pentingnya? masa iya aku harus buat lagi."
"Sudahlah sayang, jangan khawatirkan soal rumah kamu. Kamu fokus aja merawat Oca. Masalah rumah kamu, serahkan semuanya sama aku dan papa."
"Iya Mas."
"Ya udah, nih aku mau jalan. Kamu tunggu aja di situ. Sebentar lagi aku nyampe kok "
"Iya Mas. Aku tutup dulu ya telponnya."
"Iya."
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari kantor sampai ke rumah sakit, Alex pun turun dari mobilnya setelah dia memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
Alex buru-buru turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit itu. Alex menuju ke ruangan Oca.
"Kalian sudah mau pulang?" tanya Alex yang sudah melihat Oca duduk di atas kursi roda.
"Iya. Mama sudah selesaikan administrasi rumah sakitnya Alex. Kita tinggal pulang aja," ucap Bu Vivi.
"Ya udah, ayo kita pulang. Tunggu apa lagi," ajak Alex.
Alex, Bu Vivi, Dara dan Oca kemudian berjalan keluar dari rumah sakit. Setelah sampai di depan, Alex pergi untuk mengambil mobilnya yang ada di parkiran.
Beberapa saat kemudian, Alex turun dari mobilnya dan menghampiri Oca. Alex kemudian membantu Oca untuk naik ke atas mobil.
Setelah Oca duduk di belakang, Bu Vivi kemudian mengikuti Oca duduk di belakang. Sementara Alex dan Dara duduk di depan. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Alex pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
Sesampainya di depan rumah, Alex, Dara, dan Bu Vivi turun dari mobil. Mereka kemudian membantu Oca turun dari mobil.
Oca menatap sekeliling rumah Alex.
Wah, inikah rumah Kak Alex? rumahnya besar banget seperti istana. Aku baru pernah melihat rumah sebesar dan semewah ini. Mirip rumah-rumah yang ada di tivi-tivi itu. Beruntung banget Kak Dara kalau sampai dia menikah dengan Kak Alex. Pasti Kak Dara akan menjadi ratu di rumah ini," batin Oca
Beberapa saat kemudian, Ica menuruni anak tangga dan melangkah mendekat ke arah Oca yang saat ini sudah berada di ruang tengah.
"Selamat datang di rumah baru adikku..." ucap Ica sembari melebarkan senyumnya.
Oca tersenyum dan menatap Dara yang ada dibelakangnya.
"Kak Dara, sekarang kita mau tinggal di sini?" tanya Oca.
Dara hanya mengangguk.
"Iya. Untuk sementara kalian tinggal di sini. Rumah kalian, biar Alex nanti yang akan benerin," ucap Bu Vivi.
"Iya. Rumah Kak Alex besar kan. Kalian pasti betah tinggal di sini," ucap Alex.
"Betah banget dong pastinya. Siapa yang nggak akan betah tinggal di rumah yang kamarnya aja udah kayak hotel bintang lima. Tivi ada, AC ada, kamar mandi ada di dalam, pokoknya the best banget kamarnya," ucap Ica.
"Kamu tidurnya sama Ica ya, di kamar tamu," ucap Dara.
Oca mengangguk.
"Ica, bawa adik kamu ke kamar," pinta Dara.
__ADS_1
"Siap Kak."
Ica kemudian mendorong kursi roda Oca sampai ke kamar.
"Wah, Kak Ica. Bagus banget kamarnya ya Kak. Besar kamar di rumah Kak Alex itu, dua kali lipat dari besar rumah kita," ucap Oca setelah sampai di kamarnya.
"Iya Ca. Dan kasurnya juga empuk banget. Ada AC nya juga," ucap Ica menimpali.
"Ternyata Kak Alex itu kaya raya banget ya. Aku nggak nyangka lho, kalau rumah Kak Alex bisa sebesar ini. Seperti rumah yang ada di tivi-tivi itu," Oca masih tampak mengagumi rumah Alex.
"Iya."
Beberapa saat kemudian, Dara masuk ke dalam kamar Ica dan Oca.
"Oca, kamu istirahat aja dulu. Kata dokter kamu harus banyak istirahat. Nggak boleh banyak fikiran dan nggak boleh kecapean. Dan luka bakar yang ada di bahu kamu, juga harus dirawat dengan baik. Biar cepat sembuh," ucap Dara.
Oca mengangguk. "Iya Kak."
Dara membantu Oca berdiri. Setelah itu Oca naik ke atas tempat tidur yang ada di kamar itu. Oca kemudian berbaring di atas kasur empuk itu.
"Kak Dara, makasih banyak ya, karena Kaka udah menemani aku terus selama aku di rumah sakit."
Dara mengangguk." Iya. Kakak keluar dulu ya."
"Iya Kak."
Dara menatap ke arah Ica. " Ica, temani Oca dulu ya. Kakak mau keluar dulu."
"Iya."
Dara kemudian melangkah keluar dari kamar Ica dan Oca. Dia kemudian ke ruang tengah dan duduk berbaur bersama Alex dan Bu Vivi.
"Mas Alex mau ke kantor lagi?" tanya Dara.
"Nggak Dara. Aku mau bicara serius sama kamu dan mama," jawab Alex.
"Bicara apa Alex?" tanya Bu Vivi.
"Ini soal pertunangan aku dengan Dara. Papa sudah menetapkan tanggal pertunangan aku dengan Dara Ma," ucap Alex.
"Oh ya? terus rencananya kalian kapan mau tunangannya?" tanya Bu Vivi.
"Dua minggu lagi Ma," jawab Alex.
"Terus tempatnya di mana? mau sewa gedung?" tanya Bu Vivi lagi.
"Nggak Ma. Dara kan nggak mau pesta yang mewah-mewah. Menurut Alex cukup di rumah ini aja. Tapi Alex tetap akan mengundang orang banyak. Biar mereka menyaksikan pertunangan Alex dengan Dara. Agar semua orang tahu, kalau Dara adalah calon istri Alex," ucap Alex menjelaskan.
"Ya udah, kalau masalah itu, Mama serahkan sama kamu dan papa kamu."
"Iya Ma. Makasih ya Ma, karena mama sudah mau akur sama papa."
Bu Vivi diam. Sebenarnya dia masih muak dengan Pak Rajasa dan Bu Vivi ingin bercerai darinya. Tapi Bu Vivi tidak mau egois. Untuk saat ini, dia lebih mementingkan kebahagiaan Alex, dan memikirkan pertunangan Alex dan Dara dulu dari pada memikirkan perceraiannya dengan Pak Rajasa.
"Mama sih, yang penting kebahagiaan kamu dan Dara dulu Alex. Mama ingin melihat kamu menikah. Karena mama ingin cepat-cepat gendong cucu."
__ADS_1