
Dara menuruni anak tangga dan berjalan ke arah di mana suara teriakan itu terdengar.
"Tadi aku mendengar ada teriakan seorang wanita. Tapi wanita siapa ya itu. Mungkin kah itu Mbak Ratih, Mbak Lestari, atau Mbak Mirna," gumam Dara.
Sejak tadi dia masih bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang tadi berteriak.
Dara menghentikan langkah kakinya saat pandangannya terpaku pada sosok Alex yang tampak sedang berada di dalam sebuah kamar.
"Mumpung Tuan Alex lagi lengah, aku harus kabur dari sini," ucap Dara.
Dengan mengendap-endap, Dara berjalan keluar dari rumah Alex. Di depan rumah Alex, dia melihat Ratih tampak masih menyapu halaman depan rumah Alex.
Dara menghampiri Ratih.
"Mbak Ratih," ucap Dara yang membuat Ratih menoleh ke arahnya.
Ratih menatap Dara tajam. Dia kemudian mendekat ke arah Dara.
"Kamu udah datang dari tadi?" tanya Ratih.
"Iya Mbak."
"Kamu kenapa Dara? kamu kelihatan pucat."
"Aku nggak apa-apa. Aku mau pulang."
"Kok pulang."
"Benar kata Mbak. Kalau kerja di sini itu nggak aman. Harus bisa jaga diri. Soalnya majikannya mata keranjang."
"Maksud kamu?"
"Iya. Tuan Alex itu mata keranjang. Tadi aja aku hampir di perkosa. Untunglah aku bisa kabur dari kamarnya."
Ratih terkejut saat mendengar ucapan Dara.
"Apa! diperkosa? kamu yakin Dara?"
"Iya Mbak. Aku takut. Aku nggak mau kerja di sini lagi."
"Terus cek itu, apa kamu sudah kembalikan?" tanya Ratih
"Udah Mbak tadi," jawab Ratih.
"Pokoknya mulai sekarang aku akan berhenti kerja. Aku mau cari kerjaan lain. Untuk apa kerja gajinya gede kalau punya majikan brengsek dan play boy macam Tuan Alex," ucap Dara. Sepertinya dia sudah bulat dengan keputusannya. Dia ingin berhenti kerja di rumah Alex.
"Terus, kamu mau kerja apa? katanya cuma ini kerjaan kamu satu-satunya Dara."
"Biarin aja. Aku bisa kok jualan keliling gantiin ibu aku."
"Terus sekarang kamu mau pulang?"
"Iya. Tapi Mbak Ratih tenang aja ya. Soal hutang aku ke Mbak, pasti akan aku bayar kok."
Ratih tersenyum.
"Nggak usah difikirin soal itu. Santai aja Dara."
"Aku pergi ya Mbak."
__ADS_1
"Iya. Hati-hati di jalan Dara."
Dara kemudian pergi meninggalkan rumah Alex. Seperti biasa, Dara pergi ke arah jalan raya untuk menunggu ojek. Setelah ojek datang, Dara pun meluncur pulang ke rumahnya.
****
Alex masih mencoba untuk menenangkan ibunya. Alex memeluk erat ibunya dan mencoba meyakinkan ibunya kalau dia adalah anaknya dan dia adalah orang baik.
Ibu Alex histeris saat melihat Doni. Dia menyangka kalau Doni akan menjahatinya.
"Ma, ini Alex Ma. Anak mama. Mama jangan takut ya. Mulai sekarang Alex akan jaga mama dengan baik, Alex akan rawat mama dengan baik," ucap Alex sembari mengusap-usap bahu ibunya.
Bu Vivi melepas pelukannya. Dia kemudian menangkup wajah anaknya.
"Hiks...hiks... mas jangan tinggalkan aku Mas. Aku masih membutuhkanmu..."
Alex bingung juga dengan ibunya. Ibunya masih berfikir kalau Alex itu Pak Rajasa. Dan terkadang dia juga berteriak histeris seperti orang kesetanan.
Alex melepas tangan ibunya dan menggenggamnya erat.
"Ma, Alex tidak akan pernah meninggalkan mama. Alex janji Alex akan temani mama di sini. Tapi sekarang Alex mau pamit dulu. Alex mau ke kantor. Alex mau kerja dulu ya Ma."
Bu Vivi kembali diam. Alex bangkit dari duduknya dan menatap iba ibunya. Bu Vivi saat ini jadi sangat kurus, disekitar wajahnya juga sudah terlihat banyak keriputan. Rambutnya masih acak-acakan. Semalam dia juga sempat histeris dengan mencakar wajahnya sendiri dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Don, ayo kita pergi. Kita tinggalkan mama sendiri di sini. Kalau ada orang baru, mama pasti akan berteriak histeris. Sepertinya dia takut dengan kehadiran orang baru. Dia takut dengan kamu Don," ucap Alex.
"Iya Bos. Aku juga sudah mau pulang."
Alex dan Doni kemudian keluar dari kamar Bu Vivi. Tidak lupa Alex mengunci kamar ibunya. Dia tidak mau ibunya kabur dari rumahnya. Alex dan Doni kemudian pergi menuju ke ruang makan.
"Don, kita makan dulu ya," ucap Alex setelah sampai di meja makan.
Doni menatap bosnya lekat. Sebenarnya Alex itu orang yang sangat baik. Namun kearogananya yang membuat dia tampak bengis. Dan sifat tempramennya yang membuat dia ditakuti semua orang.
Andai dia bisa lebih sabar dan bijak seperti ayahnya, pasti dia akan lebih banyak yang mengaguminya.
"Don, kenapa berdiri saja. Ayo duduk!" pinta Alex.
"Iya Pak."
Doni kemudian duduk di dekat Alex.
"Ratih...! Ratih...!"seru Alex memanggil Ratih.
Beberapa saat kemudian, Lestari menghampiri majikannya.
"Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Lestari.
"Mana Ratih?"
"Ratih ada di depan."
"Suruh dia masuk. Aku mau makan."
"Baik Tuan."
Lestari kemudian pergi keluar untuk menemui Ratih.
"Ratih, dipanggil Tuan Alex."
__ADS_1
Ratih yang sedang menyapu menghentikan aktifitasnya. Dia kemudian menatap Lestari.
"Mbak Tari. Ada apa?" tanya Ratih.
"Dipanggil Tuan."
"Untuk apa?"
"Dia mau makan."
"Hah, kenapa nggak Mbak Tari aja sih yang melayani Tuan Alex. Capek aku Mbak. Lagi-lagi, kalau mau makan pasti aku yang dipanggil," gerutu Ratih.
"Ratih. Jangan begitu. Namanya juga orang kerja di rumah orang. Ya mau nggak mau kita harus nurut. Kalau saja Tuan muda mau aku ambilkan piring, sudah aku ambilkan dari tadi. Lagian melayani Tuan makan sudah tugas kamu kan. "
"Ya udah. Ini Mbak yang nyapu halaman," ucap Ratih sembari menyodorkan sapu ke depan Lestari.
Lestari mengambil sapu itu. Setelah itu Ratih pun masuk ke dalam untuk menemui Tuannya.
"Tuan," ucap Ratih.
Alex menatap Ratih tajam.
"Kamu dari mana?"
"Habis nyapu di depan Tuan."
"Ambilkan piring dua untuk kita makan."
"Baik Tuan."
"Sekalian gelasnya juga ya untuk minum."
"Iya Tuan."
Setelah semua hidangan sudah disiapkan di atas meja, piring dan gelas juga sudah siap, Alex kemudian mencedokan nasi ke dalam piringnya. Dia juga mengambil lauk pauk sendiri.
"Don, ayo ambil Don. Nggak usah malu-malu."
Doni mengangguk dan tersenyum.
"Makasih Pak Alex."
Doni dan Alex kemudian makan bersama. Tidak ada satupun yang terucap dan bibir mereka saat ini. Hanya ada dentingan sendok saja yang sejak tadi saling bersahut-sahutan. Alex dan Doni makan dengan sangat hikmat.
Di sela-sela kunyahannya, tiba-tiba saja Alex teringat Dara.
'Duh, gadis cupu itu apa masih di kamar aku ya, atau dia sudah mati bunuh diri.' batin Alex.
"Bos, ada apa? kenapa berhenti makannya?" tanya Doni.
"Kamu tunggu di sini Don. Dan lanjut kan saja makannya. Aku mau ke kamar dulu. Ada yang aku lupakan di kamar."
"Iya bos."
Alex bangkit dari duduknya. Sementara Doni melanjutkan makannya. Alex kemudian pergi untuk ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Alex berjalan cepat menaiki anak tangga untuk menemui Dara. Dia kemudian menuju ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Alex terkejut saat dia tidak melihat Dara ada di dalam kamarnya.
Alex buru-buru berjalan mendekati jendela. Dia menatap ke bawah. Namun tak nampak Dara ada di bawah. Sekarang Alex sudah bisa bernafas dengan lega.
__ADS_1
"Huh, syukurlah kalau gadis itu udah pergi. Aku bisa bernafas lega karena dia tidak jadi bunuh diri."