
Seperti amanat dari Alex tadi pagi, salah satu pembantunya harus menyuapi Bu Vivi makan.
Ratih sejak tadi masih memperhatikan Mbak Lestari dan Mbak Mirna. Mereka tampak masih repot dengan pekerjaan mereka.
"Apa aku yang harus menyuapi Nyonya makan. Tapi aku takut... " ucap Ratih.
"Tapi di sini kan aku kerja. Dan aku harus patuh dengan majikan. Aku nggak mau membantah Tuan Alex. Aku harus beri makan Nyonya besar," ucap Ratih.
Ratih berjalan ke dapur untuk mengambil piring. Dia kemudian mengambil nasi dan lauknya. Setelah itu Ratih pergi ke kamar Bu Vivi dengan membawa makanan dan minuman untuk Bu Vivi.
Tok tok tok...
Ratih mengetuk pintu kamar Bu Vivi. Tiba-tiba Ratih teringat kalau kamar Bu Vivi itu di kunci.
"Oh iya. Aku lupa kalau kamarnya di kunci. Tapi di mana ya kuncinya."
Ratih meletakan nampan di atas meja. Setelah itu dia mencari kunci kamar Bu Vivi.
"Ini dia kuncinya," ucap Ratih saat melihat sebuah kunci yang tergeletak di dalam laci lemari.
Ratih mengambil kunci itu dan dia langsung membuka kamar Bu Vivi. Ratih membawa nampan yang berisi makanan dan minuman itu ke dalam kamar Bu Vivi.
"Selamat siang Nyonya," ucap Ratih.
Bu Vivi yang sejak tadi masih menghadap ke jendela kamarnya menoleh ke arah Ratih.
Ratih tersenyum. Dia kemudian berjalan mendekati Bu Vivi. Ratih meletakan nampan di atas nakas. Setelah itu dia mengambil piring untuk menyuapi Bu Vivi.
Prang...
Ratih terkejut saat tiba-tiba saja Bu Vivi memecahkan piring yang ada dalam pegangan Ratih. Bu Vivi menatap tajam ke arah Ratih.
"Pergi...! pergi kamu dari sini...!" Bu Vivi mengusir Ratih dari kamarnya. Sepertinya Bu Vivi sudah mulai histeris lagi saat melihat Ratih.
"Aku bilang pergi...! pergi kamu dari sini...!" Suara Bu Vivi sudah melengking sampai ke luar rumah.
Ratih yang sejak tadi ingin menyuapi Bu Vivi, hanya bengong saat melihat pecahan piring itu sudah berserakan di atas lantai.
"Nyonya, Tuan Alex meminta saya untuk menyuapi Nyonya. Tapi kenapa nyonya pecahkan piringnya."
Ratih terkejut saat tiba-tiba saja Bu Vivi melemparnya dengan bantal.
"Pergi...! pergi kamu dari sini! cepat pergi ..!"
Bu Vivi bangkit dari duduknya. Tiba-tiba saja dia menyerang Ratih.
"Tolong...! tolong...!" ucap Ratih meminta tolong saat bajunya sudah di cekal Bu Vivi.
Ratih ingin kabur dari kamar itu. Namun, cengkeraman tangan Bu Vivi terlalu kuat. Sehingga membuat Ratih kesulitan untuk melepaskan diri.
Suara Ratih sudah terdengar dari luar rumah.
"Itu seperti suara Mbak Ratih. Kenapa dengan Mbak Ratih ya. Kenapa dia meminta tolong," ucap Pak Tino yang samar-samar mendengar Ratih meminta tolong.
Pak Tino yang sejak tadi masih berjaga di depan, berjalan masuk ke dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi di dalam.
"Kamu sudah merebut suamiku... jahat kamu...! kamu wanita jahat...! pergi kamu dari sini... pergi...!"
Bu Vivi sudah hampir mencekik leher Ratih. Dia menganggap kalau Ratih adalah wanita perebut suaminya.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar Bu Vivi terbuka. Pak Tino muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Pak Tino terkejut saat melihat Bu Vivi yang sudah tampak membabi buta menyerang Ratih.
"Mbak Ratih," ucap Pak Tino.
"Tolong Pak Tino. Aku takut...hiks...hiks..." Ratih tak kuasa menahan tangisnya. Saat ini Ratih benar-benar takut dengan serangan majikannya.
Pak Tino tidak tinggal diam. Dia langsung memegangi Bu Vivi.
"Ayo, sekarang kamu pergi dari sini! cepat...!" ucap Pak Tino.
Ratih mengangguk. Dia kemudian pergi dari kamar Bu Vivi. Sementara Pak Tino masih memegangi Bu Vivi.
Pak Tino menatap sekeliling. Dia ingin mencari tali untuk mengikat sementara tangan dan kaki Bu Vivi. Namun tidak ada apa-apa di kamar Bu Vivi.
"Bu Vivi ngamuk. Kalau dibiarkan terus, bisa hancur kamar ini. Aku yang akan disalahin Tuan Alex. Aku harus ikat tangan dan kaki Bu Vivi," ucap Pak Tino.
Pak Tino menatap ke arah pintu. Di depan pintu, sudah tampak tiga pembantu Alex berdiri.
"Kenapa kalian malah nonton! cepat bantu aku!" pinta Pak Tino pada Ratih, Lestari dan Mbak Mirna.
"Bantu apa Pak Tino?" tanya Mbak Mirna.
"Cari tali. Aku akan ikat tangan Bu Vivi. Kalau nggak, bisa hancur barang-barang yang ada di kamar ini. Bisa dimarahin Tuan Alex kalau semua barang-barangnya hancur."
"Sana Tari. Ambil tali. Biar aku yang bantu Pak Tino memegangi Nyonya besar,"pinta Mbak Mirna pada Lestari
"Iya Mbak."
Lestari kemudian pergi untuk mencari tali. Beberapa saat kemudian, Lestari masuk ke dalam kamar Bu Vivi dengan membawa tali.
Pak Tino dan Mbak Mirna kemudian mengikat tangan dan kaki Bu Vivi agar dia mau diam dan tidak menghancurkan barang-barang yang ada di kamar itu.
"Hiks...hiks...hiks.... lepaskan aku. Aku tidak gila...! aku tidak gila...!" ucap Bu Vivi dengan tangan dan kaki yang sudah terikat kuat
Ratih akan menelpon Alex untuk melaporkan kejadian tadi.
Sesampai di belakang, Ratih mengambil ponselnya. Dia kemudian menekan nomer Alex.
"Halo..." suara Alex sudah terdengar dari balik telpon.
"Halo Tuan Alex. Ibu anda mengamuk. Dia histeris lagi."
"Apa! mama histeris lagi?"
"Iya Tuan. Dia tidak mau makan. Malah tadi dia memecahkan piring sampai semua makanannya tumpah."
"Terus sekarang, bagaimana kondisi mama?"
"Sekarang dia sudah diamankan oleh Pak Tino."
"Oh...ya sudahlah. Aku belum bisa pulang Ratih. Pekerjaan aku masih banyak. Tolong, jagain mama aku dulu."
"Iya. Saya cuma mau melaporkan saja Tuan. Karena kata Tuan, kalau ada apa-apa sama Nyonya, harus dilaporkan."
"Iya. Kamu awasi terus mama. Nanti aku usahakan pulang cepat untuk hari ini ya."
"Iya Tuan."
Alex kemudian memutuskan saluran telponnya.
****
__ADS_1
Malam ini Dara masih tampak berfikir.
"Besok aku nyoba deh ke kantornya Pak Rajasa. Aku ingin menanyakan tentang pekerjaan di sana," ucap Dara.
"Aduh...kakak... aduh..." Suara Oca sudah terdengar dari dalam kamarnya.
"Seperti suara Oca," ucap Dara.
Dara berjalan ke luar dari kamarnya untuk melihat adik kembarnya yang ada di kamar sebelah.
Ica tampak sudah terlelap. Namun tidak dengan Oca. Dia belum tidur dan sejak tadi dia masih memegangi perutnya.
"Oca. Kamu kenapa?" tanya Dara sembari mendekati Oca.
"Kakak, perut aku sakit banget," ucap Oca sembari memegangi perutnya.
"Kamu sakit kenapa?" tanya Dara.
"Nggak tahu Kak. Perut aku tiba-tiba saja sakit"
"Mungkin kamu mau datang bulan kali," ucap Dara.
Oca menggeleng.
"Masa datang bulan lagi Kak. Kan kemarin aku udah datang bulan."
"Terus, kamu sakit kenapa?"
"Mungkin aku jajan sembarangan kali ya Kak di sekolah. Makanya perut aku sakit."
Dara menghela nafas dalam.
"Makanya kamu itu jangan jajan sembarangan. Kayak gini kan jadinya. Perut kamu sakit. Gimana kalau kamu diare. Pasti kamu nanti nggak akan masuk sekolah. dan meminta kakak untuk mengantar kamu ke dokter. Kakak kan repot. Besok Kakak juga ingin ke kantornya Pak Rajasa."
"Mau ngapain ke sana?" tanya Oca.
"Kakak mau nyari kerjaan. Kemarin kan Pak Rajasa bilang, dia bisa saja mempekerjakan kakak di kantornya menjadi office girl."
"Apa itu office girl?" tanya Oca.
"Itu, tukang beres-beres di kantor. Dan tukang buatkan minuman untuk staf kantor."
"Oh, Kayak OB gitu ya Kak."
"Iya. Memang OB."
Ica yang sudah terlelap merasa terganggu dengan obrolan kakaknya dan Oca. Ica kemudian mengerjapkan matanya dan menatap ke arah Dara dan Oca.
"Kak Dara lagi ngapain di sini?" tanya Ica sembari beringsut duduk.
Ica mengusap matanya yang tampak masih mengantuk.
"Ini, Oca perutnya lagi sakit. Makanya kakak ke sini."
Ica menatap Oca."Kalau sakit minum obat dong."
"Emang ada obat?" tanya Oca.
"Ya belilah di warung. Baru jam berapa sih ini. Masih jam delapan. Masih sore."
"Ya udah. Biar Kakak aja yang pergi ke warung. Kalian di sini saja ya," ucap Dara.
__ADS_1
"Iya Kak."
Dara kemudian keluar dari kamar Ica. Dia akan pergi ke warung untuk membelikan adiknya obat sakit perut.