
"Apa? gadis cupu kamu bilang? kamu menghamili gadis cupu dan malu untuk mengakui benih yang di kandungnya. Terus, apa maksudnya kamu mau menikahi ku? bukankah aku ini juga gadis cupu yang tak selevel dengan mu? dan aku juga anak yatim piatu dan miskin."
Dara tampak kesal dengan Alex. Dara tidak menyangka kalau Tuan Alex yang dia kenal baik, ternyata mempunyai masa lalu yang buruk. Dan menurut Dara, Alex benar-benar kejam pada Kinara dan Alessa.
Alex mengusap air matanya dan menatap Dara lekat.
"Dara, apa kamu tahu, aku benar-benar menyesal dengan semua perbuatan yang sudah pernah aku lakukan pada Kinara. Dan saat aku mengenalmu, aku seperti menemukan sosok Kinara ibunya Alessa lagi dalam kehidupanku."
"Apa? jadi kamu jatuh cinta sama aku, karena kamu melihat aku ini seperti Kinara? Iya? Jadi selama ini, kamu itu nggak tulus cinta sama aku? kamu mencintai aku karena kamu menganggap aku ini Kinara?"
"Dara, bukan begitu Dara. Aku itu tulus cinta sama kamu. Kamu itu Dara bukan Kinara. Kamu itu berbeda dari Kinara. Selama ini, aku nggak pernah punya perasaan apapun pada ibunya Alessa. bahkan sampai detik ini, cuma Dara yang ada di hati Alex. Bukan Kinara atau wanita manapun," ucap Alex mencoba untuk menenangkan kemarahan Dara.
Dara diam dan tampak berfikir.
Sebenarnya, aku marah bukan karena aku cemburu sama Kinara. Tapi aku tidak menyangka saja dengan perbuatan kejamnya Mas Alex pada Kinara di masa lalu.
Dara sejak tadi masih membatin.
Aku tidak tahu, bagaimana jika aku berada di posisi Kinara atau aku berada di posisi Alessa. Pasti hatiku sangat hancur. Menjadi Kinara, wanita yang hamil tanpa seorang suami dan tanpa pertanggungjawaban, dan menjadi Alessa anak yang tak diharapkan dan ditelantarkan oleh ayah kandungnya sendiri di panti asuhan.
Dara mengusap air matanya. Setelah itu dia menatap Alex tajam.
"Mas, aku nggak nyangka kalau ternyata lelaki yang selama ini aku cintai dan aku anggap baik, ternyata adalah Tuan muda yang kejam. Tega banget sih Mas kamu memperlakukan Kinara dan Alessa seperti itu. Jika kamu menyesal karena kematian Kinara, kenapa kamu tidak bawa anak kamu ke rumah kamu."
Alex meraih tangan Dara dan menatapnya lekat.
"Dara, aku cuma ingin menikah dengan wanita yang mau menerima masa lalu aku seburuk apapun itu. Karena setelah aku menikah, aku akan berubah. Setelah aku menikah, aku akan membawa Alessa ke tengah-tengah keluarga Rajasa. Dan sekarang keputusan ada di tangan kamu Dara.Kamu akan melanjutkan hubungan kita, atau kamu akan mundur setelah kamu tahu masa lalu buruk aku."
Dara diam dan tampak berfikir.
Sebenarnya aku tidak suka dengan sikap Mas Alex yang seperti itu. Tapi aku tidak mungkin memutuskan hubungan ini, karena aku sudah tunangan dengan dia. Dan Mas Alex bilang, dia juga sudah menyesal dan ingin membawa Alessa ke rumah setelah dia menikah. Selama ini Mas Alex juga sudah baik dengan aku dan kedua adik aku. Dia sudah banyak berkorban untuk kami. Dia juga sudah menyelamatkan ke dua adik aku dari kebakaran itu..
__ADS_1
Dara menghela nafas dalam.
"Aku nggak akan mundur dan mengakhiri hubungan ini Mas. Karena selama ini aku tulus mencintai kamu. Aku sudah janji akan menerima semua masa lalu kamu. Seburuk apapun itu. Tapi aku mohon Mas, bawa Alessa ke rumah. Kasihan dia Mas kalau dia terus di asingkan di sini"
Dara membuka pintu mobilnya. Dia akan turun dari mobilnya. Namun Alex dengan sigap langsung memegang tangan Dara.
"Kamu mau ke mana?" tanya Alex.
"Aku mau bilang sama Alessa. Dia nggak boleh di sini terus. Dia harus ikut dengan ayahnya ke rumah," ucap Dara.
"Dara, apa kamu sudah gila. Masalah Rita dan Martin saja belum kelar, jangan kamu tambah masalah baru. Alessa itu nggak tahu kalau aku ini ayah kandungnya. Dia bisa syok kalau tiba-tiba saja kamu mengatakan kebenaran itu. Karena Alessa saja tidak kenal dengan kamu. Dia juga tidak akan percaya begitu saja padamu."
Dara kembali menutup pintu mobilnya.
"Dara, tolong jangan gegabah. Ini bukan masalah kecil. Ini menyangkut kehormatan keluargaku. bisa hancur karir aku kalau sampai ada yang tahu dengan rahasia ini."
"Kamu itu memang egois Mas. Apa semua orang kaya itu egois seperti kamu. Harga diri, kehormatan, apa itu yang paling penting di dalam fikiran kamu. Kamu tidak pernah memikirkan perasaan Alessa Mas. Seandainya aku yang ada di posisi Alessa, perasaan aku pasti akan sangat hancur, punya ayah macam kamu."
"Baiklah. Aku nggak akan bilang apa-apa sama dia. Aku juga mau turun. Aku juga ingin kenal dengan calon anak aku."
Alex tersenyum. Sepertinya, kemarahan Dara sudah mulai mereda. Dan Dara Sepertinya juga sangat penasaran dengan Alessa. Alex yakin kalau Dara pasti akan sayang sama Alessa setelah dia menjadi ibu sambung Alessa.
Setelah lama Alex dan Dara berada di dalam mobil, mereka kemudian memutuskan untuk turun dari mobilnya. Dara dan Alex kemudian melangkah sampai ke teras depan panti.
Alessa, anak paling besar dan paling cantik di panti itu, menatap Alex dan Dara. Dia kemudian mendekat ke arah mereka.
"Om Alex," ucap Alessa tersenyum sembari menunjukan gigi putihnya.
Alessa diam. Dia masih mematung di depan Dara dan Alex. Sepertinya Alessa bingung dengan kehadiran Dara. Biasanya setiap Alex ke panti asuhan, Alex selalu sendiri. Namun saat ini Alex mengajak seorang wanita yang saat ini berada d sampingnya.
Alex merentangkan tangannya.
__ADS_1
"Alessa. Kenapa kamu diam aja? Peluk Om dong...!" pinta Alex.
Alessa kemudian mendekat ke arah Alex dan memeluk Alex dengan erat. Setelah itu Alessa melepaskan pelukannya.
"Om Alex, aku kangen banget sama Om. Kenapa Om lama sekali nggak datang ke sini?" tanya Alessa menatap lekat Alex.
"Om lagi sibuk banget akhir-akhir ini sayang. Om jadi nggak bisa datang ke sini."
Dara sejak tadi masih menatap Alessa tanpa berkedip. Dia masih tidak percaya kalau ternyata Alex itu sudah punya anak. Dan Alessa anak Alex itu mirip sekali dengan Alex. Tanpa perlu tes DNA pun semua orang sudah bisa melihat kalau Alessa mirip dengan Alex.
Alessa menatap Dara. Wanita yang saat ini ada di sisi ayahnya.
"Om Alex, dia siapa?" tanya Alessa.
"Oh iya. Om lupa ngenalin kamu sama Tante Dara. Ini Tante Dara, dia calon istri Om."
Alessa mengulurkan tangannya.
"Alessa Tante." Alessa memperkenalkan dirinya pada Dara.
Dara tersenyum dan langsung menyambut uluran tangan Alessa.
"Namaku Dara. Kamu bisa panggil aku Kak Dara. Jangan panggil Tante, aku masih muda dan belum tante-tante, usia kita juga tidak jauh beda Alessa," ucap Dara.
"Berapa usia kakak?" tanya Alessa penasaran.
"Usia kakak masih dua puluh," jawab Dara.
"Oh. Aku masih lima belas Kak."
"Iya. Kita cuma beda lima tahun ya Alessa."
__ADS_1
Alasan tersenyum dan mengangguk.