
Malam ini di ruang makan, Pak Rajasa masih duduk bersama istrinya. Sejak tadi Pak Rajasa masih fokus dengan layar hapenya.
"Mas, kamu lagi sibuk apa sih sebenarnya? dari kemarin kamu itu serius banget pelototin tuh hape."
"Aku memang lagi sibuk ngurusin pertunangannya Alex dengan Dara."
Rita terkejut saat mendengar ucapan Pak Rajasa.
"Apa! Alex dan Dara jadi mau seriusan?"
"Iya. Emang kenapa? kamu kok seperti terkejut begitu Rita?"
"Kamu yang udah jodohin mereka ya mas?"
"Bukan aku. Mereka sendiri kok, yang saling suka."
Kenapa ya aku sama sekali nggak suka mendengar kabar ini. Aku merasa nggak rela aja. Gadis cupu itu bisa bersanding dengan Alex di pelaminan.
"Mas, kenapa harus Dara sih yang bertunangan dengan Alex. Dara itu kan nggak pantas banget buat Alex. Dia udah cupu, miskin lagi. Nggak level banget sama keluarga kita. Kamu kenapa nggak carikan Alex wanita yang sederajat aja dengan kita."
"Rita. Jangan merendahkan Dara seperti itu. Alex dan Dara itu sudah saling cinta. Dara itu juga anak dari sahabat saya. Dia gadis yang baik. Saya suka dengan Dara, dan dia gadis pekerja keras. Menurut saya , dia pantas untuk menjadi istrinya Alex. Dan saya nggak pernah memandang kaya atau miskinnya seseorang. Yang penting Dara anak baik, dan Alex cinta sama dia. Karena kebahagiaan Alex yang paling penting untuk aku saat ini Rita," ucap Pak Rajasa panjang lebar.
Setelah menghabiskan makanannya, Pak Rajasa bangkit dari duduknya. Tanpa menghiraukan ucapan istrinya, Pak Rajasa melangkah pergi meninggalkan meja makan. Sementara Rita sejak tadi masih tampak kesal.
"Kenapa sih. Alex harus memilih Dara. Aku benar-benar nggak suka dengan semua ini." Rita membanting sendok dan garpunya. Setelah itu Rita pun ikut pergi meninggalkan meja makan.
****
Dua minggu kemudian.
Sore ini, di rumah Alex sudah tampak ramai. Nanti malam adalah pesta besar pertunangan Alex dan Dara.
Semua orang yang Alex dan Pak Rajasa undang, bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang penting. Seperti rekan-rekan kerja Alex dan Pak Rajasa.
Dara juga mengundang teman-teman sekampusnya dan juga tetangga dekat rumahnya. Seperti Bu Ratna, dan Syafa.
Saat ini, Dara dan Alex sudah berada di tengah-tengah kerumunan para tamu undangannya.
Syafa yang baru datang, langsung menghampiri Dara dan mengajak Dara bersalaman.
"Dara, selamat ya. Aku nggak nyangka banget, aku bisa di undang di acara pertunangannya orang-orang penting seperti calon suami kamu," ucap Syafa.
Dara tersenyum.
"Makasih ya Syaf, sudah mau datang ke pesta pertunangan aku."
"Iya. Aku pasti datang dong."
Di sela-sela Syafa dan Dara ngobrol, Bu Ratna menghampiri Dara.
__ADS_1
"Dara, selamat ya. Akhirnya kamu dan Alex tunangan juga."
"Makasih ya Bu, sudah mau datang ke sini. Dan terima kasih banyak karena ibu sudah banyak membantu keluarga aku selama ini."
"Iya Dara."
"Oh iya Bu. Rumah aku, gimana Bu?"
"Rumah kamu, masih dalam tahap renovasi. Tapi belum jadi seluruhnya Dara."
"Iyalah. Pak Rajasa dan Mas Alex saja masih sibuk dengan kerjaannya."
Dara saat ini masih menjadi perhatian teman-teman Alex, termasuk mantan-mantan Alex. Beberapa mantan Alex memang Alex undang untuk menghadiri acara pertunangannya dengan Dara. Namun mantan-mantan Alex yang baru dia putusin, tidak hadir sama sekali ke pertunangan itu seperti Maria, Sofi dan Desi.
Beberapa orang sudah memberi selamat pada Alex.
"Nggak nyangka ya, seorang Alex Rajasa, lelaki yang dari dulu selalu dikelilingi wanita cantik, bisa memilih wanita yang sangat sederhana seperti gadis itu," ucap Mona salah satu mantan Alex yang sejak tadi masih memperhatikan Dara.
"Yah, mungkin gadis itu yang menjadi jodohnya Alex," ucap Anggita teman Mona.
"Gadis itu masih muda banget ya kelihatannya," ucap Anggita lagi.
"Katanya sih dia itu masih kuliah semester pertama," jelas Mona.
"Ternyata tipe Alex itu anak-anak ABG seperti itu ya," Rima salah satu teman Alex yang lain menyahut.
Di sisi lain, Alex masih tampak berbincang-bincang dengan tamu-tamunya. Di sisinya berdiri, ada dokter Viko yang masih setia menemani Alex menemui tamu-tamunya.
"Makasih Pak Bowo, sudah berkenan hadir di pesta pertunangan saya."
"Oh ya. Mana gadis pilihan Pak Alex? dia pasti cantik?" tanya Pak Bowo menatap sekeliling.
Alex menunjuk ke arah gadis yang mengenakan gaun putih.
"Itu calon istri saya Pak."
Pak Bowo menatap ke arah Dara.
"Cantik. Pak Alex ini emang nggak pernah salah memiliki wanita. Wanita yang dekat dengan Pak Alex juga cantik-cantik. Dan sekarang Pak Alex memilih wanita yang paling cantik, dari wanita-wanita itu," ucap Pak Bowo.
"Ah, Pak Bowo bisa saja. Kalau bagi saya, cantik itu relatif Pak. Yang penting cantik hatinya," ucap Alex.
Alex dan Viko hanya tertawa renyah saat bercakap-cakap dengan Pak Bowo.
Pak Bowo menatap sekeliling.
"Mana Pak Rajasa ayah kamu? dia belum kelihatan?" tanya Pak Bowo.
"Mungkin papa masih ada di jalan."
__ADS_1
"Oh...iya."
****
Pak Rajasa dan Rita turun dari mobilnya setelah mereka sampai di depan rumah Alex. Seperti biasa Anton membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.
"Silahkan Tuan, Nyonya Rita...!" ucap Anton.
"Makasih ya Ton," ucap pak Rajasa.
Pak Rajasa dan Rita kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Alex.
Bu Vivi yang sedang menemui para tamu, terkejut saat melihat kehadiran Pak Rajasa dengan Rita.
"Tunggu di sini ya Bu, saya mau ke belakang dulu," ucap Bu Vivi pada tamunya.
"Iya Bu Vivi."
Bu Vivi kemudian melangkah ke belakang rumahnya.
Kenapa hati aku masih sakit saja saat melihat Mas Rajasa dengan Rita. Kenapa aku nggak bisa bersikap biasa saja di depan mereka. Apakah ini tanda kalau aku masih mencintai Mas Rajasa, batin Bu Vivi.
Setetes air mata Bu Vivi terjatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Bu Vivi segera mengusap air mata itu dengan kasar.
"Nggak. Aku nggak boleh nangis. Aku harus kuat menghadapi Rita dan Mas Rajasa," ucap Bu Vivi.
Bu Vivi terkejut saat tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk bahunya.
"Nyonya, kenapa nyonya ada di sini?" tanya Ratih pada majikannya
"Iya Nya, kenapa Nyonya malah di sini. Kenapa Nyonya nggak menemui tamu-tamu di depan?" tanya Lestari.
"Aku haus. Lagi pengin minum," jawab Bu Vivi.
"Kan di depan ada minuman Nya. Kenapa nggak ambil di depan saja," ucap Ratih.
"Tapi di depan nggak ada air putih. Saya pengin minum air putih."
Bu Vivi kemudian melangkah ke arah kulkas dan membuka kulkas itu. Dia kemudian mengambil botol dan melangkah kembali ke arah Ratih dan Lestari.
"Gerah banget ya Ratih, Tari. Saya mau ke kamar dulu. Kalau Alex tanya, bilang saya ada di kamar ya."
"Iya Nya," ucap Lestari.
Bu Vivi kemudian melangkah untuk ke kamarnya. Lestari dan Ratih saling menatap.
"Kenapa Nyonya Vivi? anaknya mau tunangan kok, jadi dia yang sedih. Harusnya kan dia bahagia," ucap Lestari.
"Nggak tahu tuh, kenapa dengan Nyonya Vivi," ucap Ratih.
__ADS_1
"Kalian nggak tahu, kalau Nyonya Vivi berubah itu saat dia melihat Tuan besar sama Nyonya Rita datang. Sepertinya dia cemburu saat melihat suami dan madunya itu," ucap Mbak Mirna.
"Oh..." Rita dan Lestari hanya bisa ber'oh ria.