Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kepulangan Pak Rajasa


__ADS_3

Siang ini, Pak Rajasa sudah sampai di bandara. Setelah turun dari pesawat, dia menatap sekeliling mencari Anton sopirnya.


"Ke mana Anton. Kenapa dia belum datang," ucap Pak Rajasa. "Seharusnya dia kan sudah datang ke sini."


Pak Rajasa kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku kemejanya. Dia kemudian menelpon Anton.


"Halo Anton..."


"Halo Tuan..."


"Kamu kenapa belum ada di bandara? saya sudah sampai nih di bandara."


"Duh Tuan. Maafkan saya Tuan. Saya masih ada di bengkel. Bannya bocor ditengah jalan. Dan sekarang lagi tambal ban."


"Hah, gimana sih kamu. Kenapa bannya bisa bocor."


"Mungkin kena paku waktu di jalan Tuan."


"Makanya hati-hati dan lihat-lihat kalau bawa mobil. Begini kan jadinya. Aku yang susah."


"Maaf Tuan. Kenapa Tuan nggak naik taksi saja."


"Nggak usah kamu ajari Anton. Tanpa kamu ajari aku juga sudah tahu. Kalau nunggu kamu lama, ya aku pasti akan naik taksi. Masalahnya aku mau buru-buru ke rumah sakit. Aku mau lihat keadaan Vivi istriku."


"Oh, Nyonya di rumah sakit?"


"Iya. Dia lagi kritis di sana. Dan aku ingin cepat-cepat ke rumah sakit. Kira-kira lama nggak Anton, tambal bannya?"


"Lama lah Tuan. Kan aku juga baru nyampe di bengkel."


"Mcek. Ya udahlah aku naik taksi saja."


Setelah menelpon Anton, Pak Rajasa kemudian mencari taksi di pinggir jalan raya. Setelah taksi sampai di depannya, Pak Rajasa kemudian masuk ke dalam taksi. Dia meluncur untuk pergi ke rumah sakit tempat di mana Bu Vivi di rawat.


Sesampainya di depan rumah sakit, Pak Rajasa turun dari taksi. Dia kemudian membayar ongkos taksi itu.


Setelah itu Pak Rajasa masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui Alex.


Alex tampak masih duduk bersama Dara di ruang tunggu.


"Dara sama Alex," ucap Pak Rajasa.


Pak Rajasa kemudian melanjutkan menghampiri Alex dan Dara.


"Alex, gimana kondisi mama kamu?" tanya Pak Rajasa yang membuat Dara dan Alex bersamaan menatapnya.


"Pak Rajasa, cepat banget Pak sudah sampai sini," ucap Dara sembari bangkit dari duduknya.


Alex menatap lekat ayahnya yang sejak tadi masih membawa kopernya.


"Kenapa papa ke sini, bawa-bawa koper segala?" tanya Alex.

__ADS_1


"Papa memang dari Bali langsung ke sini Alex."


"Papa nggak pulang dulu ke rumah?"


Pak Rajasa menggeleng. "Papa pengin melihat kondisi mama kamu Alex."


"Lalu kenapa kopernya nggak di tinggal di mobil saja."


"Papa naik taksi tadi ke sini. Karena mobil Papa ada di bengkel. Tadinya Anton yang mau jemput Papa ke bandara. Tapi ternyata bannya bocor di tengah jalan."


"Oh." Alex manggut-manggut mengerti.


*****


Pak Rajasa sudah berada di dalam ruangan Bu Vivi. Bu Vivi yang masih terbaring lemah di rumah sakit dengan berbagai alat medis sudah terpasang di tubuhnya. Mulai dari infus sampai alat pernafasan.


Pak Rajasa sangat iba melihat kondisi istrinya saat ini.


Pak Rajasa meraih tangan Vivi.


"Maafkan aku Vi. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Maafkan aku..."


"Aku nggak tega Vi, melihat kamu seperti ini. Bangunlah Vi. Demi Alex. Jika kamu pergi dari dunia ini, bagaimana hubungan aku dengan Alex. Pasti Alex akan semakin membenciku Vi. Alex itu anak saya satu-satunya. Aku tidak mau dibenci sama anak kandung aku sendiri karena sudah menelantarkan kamu."


Setetes air mata Pak Rajasa mengalir dari pelupuk matanya. Pak Rajasa melepaskan kaca matanya dan mengusap air matanya. Lelaki tua itu, begitu sangat rapuh saat melihat istrinya. Entah kenapa ada rasa penyesalan dari lubuk hati Pak Rajasa yang paling dalam.


Pak Rajasa mencium punggung tangan istrinya. Berharap kalau Vivi akan bangun dari komanya.


Setelah beberapa lama Pak Rajasa ada di ruangan Bu Vivi, dia kemudian keluar untuk menemui Alex.


Pak Rajasa mengangguk.


"Sebenarnya Mama kamu kenapa Alex? kenapa dia bisa ada sama kamu? apakah kamu yang sudah membawa mama kamu pergi dari rumah sakit jiwa?"


"Aku nggak pernah membawa mama pergi dari RSJ Pa. Mama yang kabur dari sana. Aku mencari mama dan menemukan dia. Dan aku bawa mama ke rumah aku."


"Terus kenapa mama kamu bisa koma Alex?"


"Itu karena dia terjatuh dari tangga. Dia mengalami pendarahan yang cukup hebat. Dan sekarang dia koma. Dan entah kenapa mama akan bangun Pa."


"Pak Rajasa. Sepertinya anda masih lelah karena perjalanan jauh. Pak Rajasa duduk dulu Pak," ucap Dara.


Pak Rajasa mengangguk. Dia kemudian duduk di sisi Dara.


"Bagaimana kabar adik-adik kamu Dara?" tanya Pak Rajasa menatap Dara lekat.


Dara tersenyum. "Ica dan Oca, baik-baik aja kok Pak."


"Kamu sudah lama menemani Alex di sini?"


"Iya Pak. Sudah dari kemarin aku menemani Pak Alex di sini."

__ADS_1


"Makasih ya Dara. Kamu sudah mau ikut menjaga istriku di rumah sakit."


"Iya Pak."


Alex menatap tajam ke arah Pak Rajasa dan Dara.


'Dara sama Papa, kenapa akrab banget begitu ya. Dari mana mereka saling kenal. Tapi baguslah, kalau mereka sudah akrab.'


"Pa, lebih baik Papa pulang aja deh. Papa pasti capek kan. Biar aku dan Dara yang tungguin mama di sini," ucap Alex.


Pak Rajasa menatap Alex.


"Papa lagi nungguin Anton Alex. Papa sudah bilang sama dia. Kalau sekarang Papa ada di sini. Tapi kenapa lama sekali tambal bannya."


Alex mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Dia kemudian menelpon Anton.


"Halo..."


"Anton. Kamu ada di mana sekarang?"


"Tuan muda, aku lagi di bengkel sekarang. Ada apa Tuan?"


"Kamu masih lama di sana?"


"Iya Tuan."


"Ya udahlah. Tunggu saja mobil Papa sampai jadi. Biar aku yang antar Papa pulang."


Alex kemudian mematikan saluran ponselnya. Dia kemudian menatap Pak Rajasa.


"Pa, biar aku yang antar Papa pulang. Biar Dara yang di sini nungguin Mama."


Alex menatap Dara.


"Kamu nggak apa-apa kan Dara kalau aku tinggal sebentar?"


Dara tersenyum.


"Iya. Nggak apa-apa. Kamu antar Papa kamu saja dulu."


"Ayo Pa."


Alex sudah membawa koper Pak Rajasa dan siap mengantarkan ayahnya pulang ke rumah.


Pak Rajasa bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap Dara.


"Dara, kamu nggak apa-apa, kami tinggal dulu?" tanya Pak Rajasa.


"Nggak apa-apa Pak Rajasa. Aku udah biasa kok sendirian di rumah sakit nungguin orang sakit. Lagian ini kan siang. Banyak orang berlalu lalang di sekitar rumah sakit ini. Jadi untuk apa aku takut."


"Saya dan Alex pergi dulu ya Dara."

__ADS_1


"Iya."


Alex dan Pak Rajasa kemudian pergi meninggalkan Dara sendiri di rumah sakit.


__ADS_2