Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Bertemu lagi


__ADS_3

Saat ini, Alex masih duduk di ruangannya. Tiba-tiba saja, ponsel yang ada di atas meja kerjanya berdering.


Ring ring ring...


Alex segera mengangkat panggilan dari Pak Rajasa.


"Halo Pa."


"Alex, kamu di mana sekarang? kenapa kamu belum datang ke kantor Papa?"


"Aku sudah ada di kantor aku Pa."


"Cepat datang ke sini. Meetingnya sebentar lagi akan dimulai Alex."


"Iya Pa. Aku lagi beresin berkas-berkas aku dulu."


"Cepat ya. Jangan sampai terlambat."


"Iya... iya..."


Setelah bertelponan dengan ayahnya, Alex bangkit berdiri. Dia kemudian memasukkan semua berkas-berkasnya ke dalam tasnya. Setelah itu dia keluar dari ruangannya dengan membawa berkas-berkas itu.


"Wid...! Widia...!" seru Alex.


Beberapa saat kemudian, sekretaris Alex menghampiri Alex.


"Iya Pak Alex. Ada apa Pak?" tanya Widia.


"Saya mau ada meeting di kantor Pak Rajasa."


"Apa saya harus ikut Pak?"


"Tidak perlu. Kamu tidak perlu ikut .Tolong, kamu bereskan saja meja kerja saya. Tadi saya lupa menaruh berkas-berkas saya lagi ke dalam lemari."


"Baik Pak."


"Tolong, kalau ada masalah apa-apa di kantor ini, cepat hubungi saya ya."


Widia mengangguk. "Iya Pak Alex."


Alex kemudian berjalan cepat keluar dari kantor. Setelah itu dia melangkah sampai ke tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir, Alex masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan kantornya.


Seperti ucapan Pak Rajasa semalam, kalau akan ada meeting penting hari ini. Dan Alex tidak lupa akan hal itu.


Setelah sampai di depan kantor Pak Rajasa, Alex turun dari mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam kantor ayahnya.

__ADS_1


Tanpa butuh waktu lama, Alex sudah masuk ke dalam ruang meeting yang sudah dipenuhi orang-orang penting di sana.


Semua orang menatap Alex.


"Maaf, atas keterlambatan saya. Tadi di jalan saya terjebak macet. Jadi saya datang terlambat," ucap Alex.


Alex kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi ruang meeting. Setelah Alex datang, meeting pun di mulai.


Selesai meeting, semua orang pergi keluar dari ruang meeting. Tinggal Alex yang masih berada di ruang meeting. Dia masih malas untuk beranjak pergi meninggalkan ruang meeting.


Beberapa saat kemudian, seorang office boy mendatangi ruang meeting untuk membereskan ruang meeting itu.


"Mas... sini Mas..." Alex melambaikan tangannya pada lelaki muda itu.


"Iya Pak Alex. Ada yang bisa saya bantu?" tanya office boy itu.


"Saya minta kopi ya, seperti biasa."


"Baik Pak Alex."


Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan ruang meeting untuk membuatkan kopi pesanan Alex.


Dara yang masih berada di belakang, dipanggil-panggil oleh Safik.


Dara menoleh ke arah Safik dan mendekatinya.


"Mas Safik. Ada apa?" tanya Dara.


"Ada yang minta dibuatin kopi di ruang meeting. Tolong ya kamu buatin dan antar ke sana. Soalnya saya mau ngerjain yang lain."


"Baik Mas."


Dara kemudian bergegas pergi untuk membuat kopi. Dara menyeduh kopi ke dalam cangkir dan memberikan kopi itu sedikit gula. Setelah selesai mengaduknya, Dara membawa kopi itu ke ruang meeting dengan nampan.


Perlahan-lahan, Dara masuk ke dalam ruang meeting itu sembari membawa secangkir kopi. Dara tidak mau membuat masalah di hari pertamanya kerja.


Dia mendekat ke arah seorang lelaki yang sejak tadi masih menatap berkas-berkasnya. Lelaki itu tampak serius membaca satu persatu kertas yang ada di depannya. Dara sama sekali tidak menyadari kalau lelaki itu adalah Alex.


Setelah dekat dengan Alex,Tiba-tiba saja Dara kesandung dan kopinya langsung tumpah ke tubuh Alex. Untunglah kopi itu tidak tumpah ke berkas-berkas penting itu.


Alex yang kepanasan lantas berdiri dan menatap bajunya yang basah. Dia mengepalkan tangannya geram dan langsung menggebrak meja yang ada di ruang meeting.


"Kamu bisa kerja nggak sih hah...!' suara Alex sudah menggema di ruang meeting.


Dara hanya bisa menunduk takut.

__ADS_1


"Maaf Pak. Saya tidak sengaja menumpahkan kopi itu. Tadi saya kesandung," ucap Dara.


Alex yang sudah sangat mengenali suara Dara, langsung menatap ke arah gadis itu. Tadi dia ingin marah, karena tubuhnya panas dan bajunya kotor semua. Namun, saat dia mendengar suara manis yang ada di sampingnya, kemarahannya langsung mereda.


Alex bangkit dari duduknya. Setelah itu dia mengangkat dagu Dara.


"Kamu sengaja ya hah menumpahkan kopi itu ke tubuhku?" tanya Alex. Netranya yang jernih sudah menatap wajah Dara lekat.


Dara terkejut saat melihat Alex. Dia tidak menyangka kalau lelaki yang ada di ruang meeting adalah Alex.


"Maafkan aku Mas. Aku nggak sengaja..." ucap Dara dengan tubuh bergetar. Dia takut mendapat kemarahan Alex.


Alex menghela nafas dalam.


"Ke mana aja kamu semalam. Kenapa kamu nggak aktifkan ponsel kamu. Dan sekarang kamu ada di sini tanpa izinku. Apa maksud semua ini Dara?" tanya Alex yang sudah menatap Dara nanar.


Sepertinya Alex marah sama Dara, karena sikap Dara yang kekanakan. Dari kemarin dia tidak mau mendengar penjelasan dari Alex.


Dara menatap baju Alex yang kena tumpahan kopi.


"Mas Alex, baju kamu kotor dan basah. Bagaimana dong Mas?" Dara tampak sangat menghawatirkan kondisi Alex.


"Ini tuh gara-gara kamu Dara. Kamu sudah menumpahkan kopi di baju aku. Untung saja kopi itu tidak tumpah di kertas-kertas ini," gerutu Alex.


"Maafkan aku Mas. Aku nggak sengaja. Tadi aku kesandung." Dara merasa sangat bersalah.


"Mas, kopi itu tadi masih panas. Pasti tadi tubuh kamu panas banget ya. Aku obati ya Mas. Aku nggak tega lihatnya Mas," ucap Dara sembari membuka kancing kemeja Alex yang paling atas. Dia ingin melihat tubuh Alex yang tadi kena air panas.


"Dara, kamu mau ngapain?" tanya Alex yang sudah mulai malu, saat Dara membuka kancing bajunya satu persatu.


Dara menatap Alex lekat.


"Aku mau lihat tubuh kamu Mas. Aku pengin lihat kamu terluka atau tidak karena tadi kena air panas."


"Dara, masa aku mau telanjang di sini sih. Malu Dara."


"Nggak apa-apa Mas. Aku cuma mau lihat tubuh kamu aja Mas. Kenapa harus malu sih Mas. Kamu ini kan laki-laki. Jadi kalau buka baju juga nggak apa-apa. Asal jangan buka celana."


"Dara, bagaimana kalau ada orang yang lihat kita. Mereka akan berfikiran macam-macam. Ini tuh bukan kantor aku Dara, tapi kantor Papa."


"Iya aku tahu."


Apa-apaan sih ini Dara. Kalau aku dekatin dia selalu nolak. Sekarang, dia malah buka-buka kancing baju aku.


Setelah Dara membuka kancing paling akhir dari baju Alex, Alex langsung menyeret Dara keluar dari ruang meeting. Dia kemudian membawa Dara ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2