
"Ica, bilang sama kakak. Kamu dapat cincin ini dari mana?" tanya Dara
"Aku nemu di depan rumah Kak," jawab Ica.
"Kamu nggak tahu ya kalau itu cincin kakak? kenapa kamu nggak kembalikan ke kakak Ica."
"Kakak kan nggak nyari cincin ini. Aku fikir, kakak udah nggak membutuhkan lagi cincin ini."
"Ya ampun Ica. Sudah sejak kemarin kakak nyariin cincin itu. Sampai kepala kakak sakit."
"Mana aku tahu Kak, kalau kakak lagi nyari cincin ini. Kemarin aku lihat kakak buang cincin ini. Aku fikir, cincin ini udah nggak kakak butuhkan."
Dara menatap tajam ke arah adiknya.
"Apa kamu tahu, cincin ini dari mana?" tanya Dara.
"Aku tahu. Cincin itu dari Kak Alex kan."
"Iya. Dan apa kamu tahu berapa harga cincin ini?"
Ica menggeleng. "Nggak tahu Kak. Emang berapa harganya."
"Cincin ini sangat mahal harganya Ica. Jika kita jual cincin ini, bisa untuk membeli rumah bagus dan mobil mewah."
Ica terkejut saat mendengar ucapan Dara.
"Emang berapa Kak harga cincin itu?" tanya Ica penasaran.
"Satu milyar Ica."
Ica melongo saat Dara menyebutkan harga cincin itu.
"Apa! satu Milyar? mahal banget Kak harganya. Emang ada ya cincin semahal itu."
"Ada. Dan ini buktinya."
"Terus, kakak mau jual cincin itu?"
"Ya nggaklah.Kakak nggak mungkin jual cincin itu, sebelum kakak mendapatkan persetujuan dari Kak Alex."
"Ya udah, kalau kakak masih butuh cincin itu. Simpan aja, dan nggak usah pakai acara di buang segala."
"Iya."
Dara menatap Oca yang sudah terlelap di atas tempat tidurnya.
"Oca nyenyak banget tidurnya. Dia tidur dari tadi?" tanya Dara.
"Iya Kak."
"Ya udah. Kamu juga tidur dong Ca. Biar besok bangunnya nggak kesiangan."
"Iya."
"Kakak ke kamar dulu ya."
"Iya Kak."
Dara kemudian melangkah pergi meninggalkan Ica untuk ke kamarnya.
****
Di ruang makan, Alex masih menatap Bu Vivi. Alex masih ingat dengan kata-kata Ratih waktu itu. Ratih curiga kalau Bu Vivi sudah ingat dengan masa lalunya. Tapi Alex belum berani bertanya pada ibunya.
__ADS_1
Di sela-sela kunyahannya, Bu Vivi menatap Alex.
"Alex," ucap Bu Vivi.
"Iya Ma."
"Alex, carikan mama pengacara," ucap Bu Vivi.
"Pengacara untuk apa Ma?" tanya Alex yang masih tidak mengerti dengan ucapan ibunya.
"Alex, mama pengin mengurus cerai. Mama pengin cerai dari ayah kamu," ucap Bu Vivi tiba-tiba.
Alex yang sedang minum terbatuk-batuk saat mendengar ucapan Bu Vivi.
"Apa!" Alex membulatkan matanya dan menatap ibunya tajam.
"Mama sudah ingat semuanya?" tanya Alex.
"Kemarin-kemarin, Rajasa ayah kamu, pernah datang ke sini. Namun mama usir dia Alex. Karena mama belum bisa memaafkan dia."
"Ma, sejak kapan mama ingat soal Papa?" tanya Alex yang masih bingung dengan Bu Vivi.
"Ingatan mama memang sudah lama kembali Alex."
"Kenapa Mama nggak bilang sama Alex kalau Mama sudah kembali mengingat masa lalu Mama."
"Alex, mama pengin cerai dari papa kamu."
"Nggak Ma. Alex nggak ngizinin Mama untuk cerai dari Papa."
"Tapi kenapa Alex. Apa kamu senang melihat mama seperti ini. Hati mama itu sudah hancur Alex oleh ayah kamu. Dan mama tidak sanggup melihat wajah ayah kamu. Mama ingin cerai Alex."
"Iya Ma. Tapi kita harus sabar Ma. Kita nggak boleh gegabah seperti ini. Dan mama juga baru sembuh dari sakit Mama."
"Tapi mama ingin cepat-cepat mengurus surat-surat perceraian mama dengan Papa kamu."
"Iya. Tapi tolong Alex bantu mama agar mama bisa bercerai dengan papa kamu."
"Iya Ma, iya. Mama itu baru sembuh, mendingan mama jangan memikirkan hal ini dulu Ma. Nanti kalau mama banyak fikiran, mama bisa sakit lagi."
"Alex mama sudah sembuh Alex. Tolong Alex bantu mama."
"Iya Ma. Iya. Tapi jangan sekarang ya. Ngurus perceraian itu lumayan lama Ma. Dan Alex nggak ada waktu untuk itu karena kerjaan Alex di kantor itu sangat banyak."
"Ya terserah kamu saja lah Alex. Kapan kamu ada waktu senggang?
"Aku juga nggak tahu Ma, kapan aku punya waktu senggang."
Bu Vivi diam. Dia menghentikan makannya.
"Ma, kenapa lagi Ma? Alex kan sudah bilang, jangan fikirin macam-macam. Nanti mama bisa sakit lagi. Ayo Ma, lanjutin lagi makannya."
Bu Vivi mengangguk Setelah itu dia melanjutkan makannya.
Selesai makan, Alex menatap Bu Vivi.
"Ma, Alex pergi kerja dulu ya," ucap Alex sembari bangkit dari duduknya.
Alex kemudian mendekat ke arah ibunya dan mencium tangan ibunya.
"Hati-hati di jalan ya Alex."
"Iya Ma."
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan Bu Vivi, Alex pun kemudian keluar dari rumahnya.
Dia melangkah ke garasi, untuk mengambil mobil. Setelah itu Alex pun masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi meninggalkan rumah.
"Kalau Mama dan Papa cerai, keenakan si Rita. Dia bisa menguasai semua harta Papa. Bisa-bisa, semua harta papa jatuh ke tangan Rita dan mama nggak akan dapat apa-apa. Aku memang benci sama papa. Tapi aku nggak mau, melihat perceraian di Antara mereka," ucap Alex di sela-sela menyetirnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Alex sudah sampai di depan rumah Dara. Alex menatap rumah kecil itu dan tersenyum.
"Dara, dia pasti masih ada di dalam," ucap Alex.
Alex kemudian turun dari mobilnya dan melangkah ke teras rumah Dara. Alex kemudian mengetuk pintu rumah Dara.
Beberapa saat kemudian, Dara membuka pintu dan terkejut saat melihat Alex.
"Hai sayang," ucap Alex tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Mas Alex. Kenapa ke sini?" tanya Dara.
"Kenapa? aku kan mau jemput kamu. Kamu mau ke kampus kan?"
"Iya. Tapi aku bisa kali Mas, ke kampus sendiri."
"Mulai sekarang, aku yang akan antar kamu ke kampus. Ayo kita berangkat sayang...!" Alex sudah meraih tangan Dara.
"Tunggu Mas. Aku belum siap-siap. Aku aja baru mandi. Aku mau ambil tas aku dulu dong."
"Oke. Aku tunggu di sini ya."
Dara kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil barang-barang yang akan dibawanya.
Setelah itu, Dara pun kembali dengan membawa tas dan buku-bukunya.
"Kok bukunya nggak di masukin tas?" tanya Alex.
"Em, di tas aku, ada seragam office girl aku Mas. Karena setelah pulang kampus, aku mau langsung ke kantor ayah kamu. Karena sekarang aku kan kerja paruh waktu."
Alex manggut-manggut tampak mengerti.
"Oh gitu."
"Ya udah. Ayo, sekarang kita berangkat."
Dara tersenyum.
"Iya Mas."
Alex meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat. Alex merasakan ada sesuatu yang berbeda di tangan Dara.
"Tunggu," ucap Alex menghentikan langkahnya.
"Ada apa Mas?" tanya Dara.
Alex menatap cincin yang ada di tangan Dara.
"Kamu pakai cincin aku lagi? kata kamu, cincin itu sudah kamu buang."
Dara menyeringai.
"Ternyata cincin ini nggak hilang Mas. Ica yang sudah menemukan cincin ini," ucap Dara sembari memutar-mutar cincinnya.
"Lain kali, kamu jangan buang cincin itu ya. Dan jangan ngambek-ngambek lagi."
"Iya Mas. Aku janji aku nggak akan buang cincin ini lagi. Aku sekarang tahu harga cincin ini. Kalau aku marah sama kamu, paling aku buang ke toko perhiasan dan aku tukar uang aja. Biar untuk beli rumah dan mobil."
__ADS_1
"Oh, gitu? hehe..." Alex terkekeh sembari mengacak-acak rambut Dara.
"Ih... Mas Alex, nyebelin banget sih," ucap Dara sembari merapikan rambutnya kembali.