Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kabar buruk


__ADS_3

Dara langsung menggeleng.


"Nggak. Aku nggak mau. Aku mau pulang sendiri aja Tuan."


"Dara ayolah. Aku antar kamu pulang. Aku khawatir sama kamu kalau kamu pulang sendiri. Kamu masih ingat kan kejadian malam itu? bagaimana kalau ada laki-laki yang mau macam-macam lagi sama kamu lagi."


"Ini kan masih sore Tuan. Masih banyak kendaraan yang lewat. Jadi untuk apa aku takut. Aku yakin kok, kalau sebentar lagi ada taksi atau ojek yang lewat," ucap Dara.


"Dara, jangan membantah. Kamu harus pulang bareng aku. Aku akan antar kamu sampai rumah."


Alex sudah meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat. Namun Dara langsung menghempaskan tangan Alex begitu saja.


"Lepasin...! bisa nggak sih Tuan Alex nggak usah maksa. Kalau aku nggak mau ya, Tuan Alex jangan maksa dong."


"Maaf Dara, aku bukannya mau maksa kamu. Tapi aku kasihan sama kamu kalau kamu harus pulang sendiri. Aku khawatir sama kamu Dara. Aku takut, kamu kenapa-kenapa," ucap Alex dengan tulus.


Dara menatap Alex. Dia masih ragu dengan Alex. Dia takut kalau Alex tidak akan mengantarnya pulang tapi malah membawanya ke tempat lain. Karena tadi pagi saja Alex sudah mencuri kesempatan dalam kesempitan dengan dia memeluk Dara.


"Tapi Tuan nggak mau macam-macam sama aku kan?" tanya Dara menatap Alex penuh selidik.


"Nggak Dara. Aku janji aku nggak akan macam-macam sama kamu. Lupakan saja soal malam itu dan tadi pagi. Maaf aku khilaf karena aku sudah memeluk kamu."


Dara diam.


Dara menatap ke atas langit. Hari juga sudah mulai gelap. Awan di atas langit juga sudah mulai menggumpal menjadi mendung yang menghitam.


Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Dara juga menatap sekeliling. Tampaknya kendaraan yang lewat juga sudah mulai sedikit. Baterai handphon Dara juga sudah habis. Jika Dara kemalaman di jalan, dia juga bingung bagaimana caranya untuk menghubungi seseorang. Akhirnya dengan terpaksa Dara menerima tawaran dari Alex.


"Baiklah. Aku mau pulang bareng anda Tuan. Tapi aku mau langsung di antar ke rumah," ucap Dara.


Alex tersenyum.


"Ya udah, ayo..." Alex kemudian merangkul bahu Dara. Membuat Dara tampak risih.


"Maaf Tuan, jangan seperti ini. Nggak enak, kalau dilihatin orang," ucap Dara sembari melepaskan tangan Alex.


"Oh, maaf Dara."


Alex dan Dara kemudian berjalan ke arah parkiran mobil untuk mengambil mobil Alex yang terparkir di sana.


Sesampainya di tempat parkir, Alex langsung membukakan pintu mobil untuk Dara.


"Kamu bisa duduk di depan Dara," ucap Alex.


"Aku duduk di depan?"


"Iya. Ayo ...!"

__ADS_1


"Tapi, nggak ada yang cemburu nanti Tuan?"


"Nggak ada. Kamu tenang saja. Masalah Desi tadi pagi, sudah aku selesaikan. Kamu nggak usah mengkhawatirkan soal wanita yang sedang dekat dengan aku."


"Baiklah. Aku mau duduk di depan "


Dara kemudian masuk ke dalam mobil Alex. Setelah Dara masuk, Alex pun ikut masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu mereka meluncur pergi meninggalkan kantor.


Alex sejak tadi masih menatap Dara yang sejak tadi masih diam.


"Kamu kenapa diam aja Dara? ada yang lagi kamu fikirkan?" tanya Alex di sela-sela menyetirnya.


Dara menatap Alex sejenak sebelum dia kembali menatap ke depan.


"Aku nggak apa-apa Tuan Alex," ucap Dara.


"Kenapa kamu diam aja?"


"Terus, aku harus bicara apa?"


Alex hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat Dara. Dara memang berbeda dari para wanita yang pernah Alex dekati.


Dara itu masih sangat muda. Namun fikirannya sangat dewasa. Dia juga wanita yang pekerja keras. Berbeda dari wanita-wanita yang selama ini dekat dengan Alex. Mereka itu hanya wanita-wanita yang sudah berusia dewasa namun pemikiran masih seperti anak kecil dan manja.


Ring ring ring...


"Tuan, ponsel kamu bunyi," ucap Dara.


Alex mengambil ponsel yang ada di sampingnya duduk. Dia kemudian mengangkat panggilan dari rumah.


"Halo Tuan Alex,"


"Halo Ratih. Ada apa?"


"Tuan Alex, Nyonya Tuan. Nyonya Vivi terjatuh dari tangga."


"Apa! Mama terjatuh dari tangga. Kok bisa Ratih?"


"Tuan, saya nggak bisa cerita Tuan. Tuan pokoknya harus pulang sekarang."


"Iya Ratih. Iya. Aku pulang sekarang."


Alex memutuskan saluran telponnya. Dia kemudian mempercepat laju mobilnya. Alex ngebut di sepanjang jalan. Dia tidak lagi memikirkan yang namanya lampu merah.


"Tuan, hati-hati Tuan. Jangan ngebut-ngebut. Aku takut Tuan."


"Pakai sabuk pengaman mu Dara. Aku mau menambah kecepatan ku. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah karena mama aku jatuh dari tangga. Aku harus bawa mama ke rumah sakit ."

__ADS_1


Dara terkejut saat mendengar ucapan Alex.


"Apa! jadi ibu anda jatuh dari tangga?"


"Iya Dara."


Beberapa saat kemudian, Alex sudah sampai di depan rumahnya. Dia kemudian buru-buru turun dari mobilnya. Dia berjalan dan masuk ke dalam rumah. Sementara Dara masih berada di dalam mobil.


"Mamanya Tuan Alex jatuh dari tangga. Kok bisa."


Dara yang penasaran, kemudian ikut turun dari mobil. Dia kemudian berjalan masuk mengikuti Alex.


Alex sudah berada di bawah tangga sembari memangku kepala ibunya. Sementara Dara masih menatap dari kejauhan. Dia merasa iba pada kondisi Bu Vivi saat ini.


"Mama, bangun Ma. Apa yang terjadi sama mama," ucap Alex sembari menepuk-nepuk pipi Bu Vivi.


Alex terkejut saat melihat darah di tangannya. Kepala Bu Vivi ternyata banyak mengeluarkan darah.


Alex menatap satu persatu pembantunya yang sejak tadi masih mengelilinginya.


"Kalian, kenapa diam saja! ayo cepat bantu aku bawa mama aku ke mobil!" pinta Alex.


Pak Tino mendekat ke arah Bu Vivi. Setelah itu dia membantu Alex mengangkat tubuh Bu Vivi.


Alex dan Pak Tino kemudian membawa tubuh Bu Vivi sampai ke dalam mobil. Setelah itu, Alex masuk ke dalam mobil. Dara tidak tinggal diam. Dia berlari ke arah mobil Alex.


"Tuan, aku ikut!"


"Masuk!"


Dara mengangguk. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam mobil Alex. Setelah Dara masuk ke dalam mobil, Alex kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya untuk menuju ke rumah sakit.


Alex sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Sementara Dara masih diam sembari sesekali melihat ke belakang tempat di mana Bu Vivi tergeletak.


"Tuan, kepala mama kamu sepertinya mengeluarkan banyak darah. Kita harus cepat sampai ke rumah sakit Tuan. Aku takut mama kamu kenapa-kenapa."


Alex yang sejak tadi masih fokus menyetir, hanya mengangguk.


Beberapa saat setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Alex dan Dara sampai juga di depan rumah sakit. Alex kemudian turun dan membawa tubuh mamanya masuk ke dalam rumah sakit. Begitu juga dengan Dara yang masih mengikuti ke mana Alex melangkah.


"Dokter...! suster...! tolong mama saya...!" seru Alex yang sudah berada di depan rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, dua orang perawat laki-laki menghampiri Alex dengan membawa ranjang dorong rumah sakit. Alex segera meletakkan tubuh ibunya di atas ranjang itu. Setelah itu, ke dua perawat laki-laki itu membawa Bu Vivi masuk ke dalam ruangan UGD untuk menanganinya.


"Anda tidak boleh masuk Pak, serahkan ibu anda ke kami para medis. Kami akan berusaha menanganinya dengan maksimal," ucap seorang dokter pada Alex.


"Iya Dokter. Lakukan apa saja demi kesembuhan mama aku," ucap Alex.

__ADS_1


Dokter kemudian menutup ruang UGD untuk memberikan Bu Vivi penanganan intensif.


__ADS_2