Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Aku masih suci


__ADS_3

Setelah pemakaman selesai, Alex pun berlalu pergi meninggalkan makam. Alex berjalan sampai ke mobilnya yang terparkir di tepian jalan.


Alex kemudian masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan makam.


Untuk saat ini Dara sedang berduka karena ibunya meninggal. Dan Alex masih bisa memakluminya. Karena Alex tidak mungkin mencari keributan di saat ada orang yang sedang berduka.


"Dara, kita pulang yuk!" ajak Ratih. Sejak tadi Ratih masih menemani Dara di pemakaman Bu Dian.


Dara menatap Ratih dan mengangguk. Setelah itu dia menatap ke dua adiknya.


"Ica, Oca, kita pulang yuk," ajak Dara pada ke dua adiknya.


"Iya Kak Dara," ucap Ica dan Oca bersamaan.


Dara, Ica, Oca dan Ratih akhirnya memutuskan untuk pulang setelah lama mereka berada di makam. Mereka kemudian berjalan pergi meninggalkan makam.


Jarak makam dan rumah Dara memang cukup jauh. Namun Dara, Ratih, dan ke dua adik Dara hanya berjalan kaki, mengikuti orang-orang yang tadi memakamkan ibu Dara.


****


Setelah dari pemakaman, Alex kemudian kembali ke kantor. Dia menghentikan laju mobilnya setelah sampai di tempat parkiran kantor. Alex turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor.


Alex masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas. Dia kemudian keluar dari lift dan berjalan untuk ke ruangannya.


Alex masuk ke dalam ruangannya yang letaknya berada di lantai paling atas kantornya. Alex kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.


Tok tok tok ..


Baru saja Alex duduk, suara ketukan pintu sudah terdengar dari depan ruangan Alex.


"Masuk..!" ucap Alex.


Beberapa saat kemudian, Widia sekretaris Alex muncul dari balik pintu.


"Selamat siang Pak Alex," ucap Widia memberi salam..


"Ada apa Wid?" tanya Alex.


"Pak Alex, bapak ditunggu Pak Rajasa di ruangannya," jawab Widia.


"Iya. Nanti saya ke sana."

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi Pak."


Widia kemudian pergi meninggalkan ruangan Alex.


"Mau ngapain sih Papa. Nggak tahu aku lagi capek apa," ucap Alex.


Alex yang dipanggil ayahnya tidak langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia memilih santai dan dia malah bermain game yang ada di ponselnya.


Beberapa saat kemudian, Pak Rajasa masuk ke dalam ruangan Alex. Pak Rajasa hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah anaknya yang menurutnya masih seperti anak kecil. Membuat habis kesabaran Pak Rajasa.


"Alex," ucap Pak Rajasa penuh emosi.


Alex menatap ayahnya lekat. Seperti biasa, dia sangat santai menanggapi kemarahan ayahnya.


"Ada apa Pa?" tanya Alex dengan tatapan tidak bersahabat.


Sejak Pak Rajasa menikahi wanita yang bernama Rita, hubungan Pak Rajasa dengan Alex tidak seperti dulu. Mereka sekarang seperti musuh bebuyutan.


Apalagi Alex, dia sangat dendam kepada ayahnya karena Pak Rajasa yang sudah membuang ibu Alex ke dalam rumah sakit jiwa. Dan semua itu bermula saat Pak Rajasa mengenal wanita yang bernama Rita. Yang sekarang sudah menjadi ibu tiri Alex.


"Kamu dari mana aja jam segini baru datang?" tanya Pak Rajasa menatap Alex dengan tatapan nanar.


"Maaf Pa, aku nggak bisa ikut meeting. Karena aku lagi ada urusan tadi."


"Kamu ini kebiasaan banget sih Alex. Kalau ada meeting penting, pasti kamu sepelekan. Bagaimana tadi, kalau nggak ada Papa. Pasti klien kita akan kecewa dan mereka tidak akan mau menjalin kerjasama dengan perusahaan kita lagi."


"Kamu itu sudah dewasa. Gimana sih, cara berfikir kamu itu Alex. Kamu masih sama saja seperti anak kecil."


Alex yang sejak tadi dimarahi ayahnya hanya diam.


"Pa sudahlah, lagian meeting juga udah selesai kan?"


"Alex. Kamu itu sudah papa jadikan CEO di perusahaan ini. Seharusnya kamu itu punya tanggung jawab di sini. Kamu itu seharusnya mendahulukan kepentingan kantor dari pada kepentingan di luar kantor...! kantor itu punya aturan Alex, kalau kamu maunya seenaknya begini, kapan kamu bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses?" ucap Pak Rajasa panjang lebar.


"Pa, aku itu tidak butuh ceramah diri Papa. Aku sudah tahu Pa tugas dan tanggung jawab aku di sini. Aku bukan anak TK yang masih harus di atur ini itu, mendingan Papa keluar dari ruangan aku dari pada ceramah di sini, yang membuat aku muak!"


"Kamu berani ngusir Papa?"


"Pa, aku lagi malas berdebat dengan Papa. Papa pergi, atau aku yang akan pergi...!"


Pak Rajasa tidak mau memperpanjang masalahnya dengan Alex. Akhirnya dia mengalah dan memutuskan untuk pergi dari ruangan Alex.

__ADS_1


****


Sore ini, Ratih masih berada di rumah Dara.


"Mbak Ratih, Mbak nggak mau pulang ke rumah Tuan Alex?" tanya Dara.


"Iya. Ini aku juga udah mau pulang kok. Tapi, kamu udah nggak apa-apa kan?" Ratih tampak tidak tega pada Dara.


"Aku nggak apa-apa kok Mbak. Aku udah merasa lebih tenang sekarang."


"Besok kamu mau kerja lagi kan di rumah Tuan Alex?" tanya Ratih


Dara diam. Dara sudah kabur dari Alex semalam. Mungkinkah Alex akan memaafkannya. Karena yang Dara tahu, Alex itu lelaki yang kejam.


"Sepertinya nggak deh Mbak," jawab Dara.


Dara memang takut, untuk menemui Alex. Dara tidak bisa membayangkan bagaimana kemurkaan Alex semalam.


"Kenapa? sebenarnya, kamu lagi punya masalah apa sih sama Tuan Alex? kamu belum cerita lho ke aku." Ratih menatap Dara lekat.


"Mbak masih ingat kan, cerita aku waktu itu. Tuan Alex sudah memberikan cek dua puluh juta Mbak untuk aku. Dan seperti kesepakatan kita, aku harus tidur dengannya satu malam. Dan hampir aja aku melakukan hal bodoh itu."


"Apa!"


"Iya Mbak. Aku kabur dari hotel saat mendengar kabar dari rumah sakit kalau ibu meninggal. Dan aku nggak jadi melakukan apapun di malam itu. Justru aku malah terjebak di penjara karena bertemu para wanita malam itu."


"Jadi, kamu dandan secantik itu, karena kamu mau bermalam di hotel bersama Tuan Alex?"


"Iya."


"Berani banget ya kamu? hanya karena uang dua puluh juta kamu nekat mau melakukan hal terlarang itu. Dosa lho Dara. Dan kamu bisa menyesal seumur hidup kalau kamu sampai melakukan itu. Karena jika kamu sampai hamil, Tuan Alex tidak akan mungkin mau bertanggung jawab Dara."


"Iya aku tahu itu Mbak. Tapi Aku nggak ada pilihan lain Mbak selain menerima tawaran Tuan Alex. Aku tidak mau kehilangan ibu aku."


"Dan kenyataannya sekarang, ibu kamu sudah meninggal kan?"


"Tapi aku kan belum pernah melakukan hal itu Mbak. Aku masih suci."


"Terus, cek itu bagaimana? apakah kamu mau kembalikan ke Tuan Alex?"


"Aku belum punya nyali untuk menemui Tuan Alex."

__ADS_1


Ratih hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak menyangka seorang Dara bisa bertindak sebodoh itu dan seberani itu.


"Aku nggak tahu wanita siapa yang dibawa Tuan Alex semalam. Dia sangat cantik, tubuhnya ramping dan seksi. Gaunnya juga bagus banget. Dan aku benar-benar pangling Dara sama kamu semalam. Kamu berbeda banget dengan penampilan kamu semalam. Ternyata kamu itu memang cantik. Pantas aja, Tuan Alex suka sama kamu. Ternyata dia sudah bisa melihat kecantikan wajah kamu," ucap Ratih.


__ADS_2