
Siang ini Dara masih berada di kantin kampusnya. Sejak tadi pagi, Dara belum sarapan dan siang ini, dia merasa sangat lapar. Sehingga dia memilih untuk memesan makanan dan minuman di kantin kampusnya.
Sejak tadi, Dara masih duduk di kursi yang ada di kantin menunggu pesanannya datang. Beberapa saat kemudian, pesanan Dara pun datang.
"Ini Neng, pesanannya," ucap ibu kantin sembari meletakan makanan dan minuman pesanan Dara di atas meja.
Dara tersenyum.
"Makasih ya Bu," ucap Dara.
"Iya Neng. Sama-sama."
Ibu kantin kemudian pergi meninggalkan Dara. Beberapa saat kemudian, seorang perempuan menghampiri Dara.
"Hai... boleh nggak aku duduk di sini?" tanya perempuan itu.
Dara membenarkan letak kaca matanya dan menatap perempuan itu lekat.
"Eh, Syafa. Kamu mau makan juga ? ayo duduk!" Dara mempersilahkan Syafa duduk.
"Makasih," ucap Syafa sembari menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Dara.
Syafa adalah teman sekelas Dara. Dan sekarang mereka berteman. Syafa juga sama seperti Dara. Dia tidak punya teman di kampus itu. Karena Syafa bukan anak orang kaya.
Syafa bisa kuliah di kampus itu karena beasiswa dan Omnya kebetulan juga bekerja di kampus itu menjadi tukang kebun.
"Kamu mau pesan makanan juga?" tanya Dara pada Syafa.
"Nggak. Aku bawa bekal dari rumah kok. Aku cuma pengin makan sama kamu aja," ucap Syafa sembari mengambil kotak makan yang ada di dalam tasnya.
Syafa bahagia karena dia bisa kenal sama Dara. Sejak Dara kuliah di kampusnya, Syafa jadi punya teman.
"Dara, kamu mau?" tanya Syafa menawarkan makanannya pada Dara.
Dara menggeleng.
"Nggak usah. Makasih. Aku udah ada kok."
"Oh. ya udah. Aku makan ya."
"Iya. Silahkan."
__ADS_1
Syafa dan Dara kemudian makan bersama di kantin.
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan menumpahkan minumannya di baju Dara. Membuat baju Dara basah dan kotor.
Dara bangkit dari duduknya dan menatap nanar wanita itu. "Kamu...!"
Dara mengusap-usap bajunya yang kotor karena tumpahan jus itu.
"Ups, sorry. Gue nggak sengaja," ucap Gisela.
Syafa menatap tajam ke arah Gisela.
"Gisel, apa yang kamu lakukan sama Dara. Kamu sengaja ya, numpahin minuman kamu di baju Dara," ucap Syafa yang juga tampak marah melihat keusilan Gisela.
Syafa tahu, kalau Gisela memang sengaja menumpahkan minuman itu di baju Dara. Syafa tahu, siapa Gisela. Gisela adalah anak tercantik , terkaya, dan paling populer di kampus. Namun dia suka usil dengan anak-anak cupu dan miskin seperti Dara.
"Gue nggak sengaja kok. Lagian kenapa juga dia duduk di sini, ini kan tempat gue," ucap Gisela.
"Apa! tempat kamu? eh Gisel. Ini kan kantin dan ini tempat umum. Jadi terserah kita dong, mau duduk di mana aja. Usil banget sih kamu jadi orang," ucap Syafa.
Semua anak memang takut dengan Gisel, karena dia sangat berkuasa di kampus. Namun tidak dengan Syafa. Syafa sudah sering sekali dijahilin Gisel. Namun dia tidak pernah takut dengan Gisel. Bagi Syafa, selama dia tidak salah, untuk apa dia takut.
"Heh. Lu berani ya sama gue...!" ucap Gisel.
"Lu kok, jadi nyolot gitu sih!" bentak Gisel.
Dara bingung saat Gisel dan Syafa adu mulut. Dara tidak akan membiarkan Syafa berantem dengan Gisel karena Dara tidak mau membuat keributan di hari-hari pertamanya kuliah.
"Syafa, Syafa, sudah. Kita nggak usah ladenin dia. Kita pergi aja dari sini," ucap Dara.
"Nggak Dara. Dia itu sudah numpahin jusnya di baju kamu. Dia harusnya ganti rugi dong. Dia harus ganti baju kamu," Syafa masih tampak emosi.
"Syafa sudahlah, apa untungnya kita berantem di sini. Kita pergi saja dari sini. Ayo...!" Dara merangkul bahu Syafa dan membawa Syafa pergi dari kantin.
Dara memang sengaja membawa Syafa pergi, agar Syafa tidak berantem dengan Gisel di kantin. Sebenarnya Dara tidak pernah takut dengan Gisel atau siapapun. Namun Dara tidak mau membuat keributan karena dia masih baru berada di kampus itu.
"Dara, baju kamu kotor dan basah. Bagaimana ini Dara?" Syafa menatap lekat ke arah baju Dara.
Dara tersenyum.
"Nggak apa-apa. Aku bawa baju ganti kok, lagian aku juga udah mau pulang," ucap Dara.
__ADS_1
"Benar kamu nggak apa-apa?" tanya Syafa.
"Iya. Nggak apa-apa. Oh iya Syaf. Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Aku mau ganti baju dulu," ucap Dara.
"Tapi nanti kamu sendirian gimana? aku takut Gisel akan ngerjain kamu lagi."
"Sudahlah, jangan khawatirkan aku. Aku nggak apa-apa kok pulang sendiri. Aku udah biasa kemana-mana sendiri. Soal Gisel, biarin aja lah. Kalau dia udah capek, nanti dia juga berhenti sendiri gangguin aku."
"Ya udah deh kalau gitu. Aku pulang dulu ya."
Dara mengangguk.
Setelah Syafa berpamitan pada Dara, dia pun pergi meninggalkan Dara. Sementara Dara pergi ke toilet untuk ganti baju.
Selesai ganti baju, Dara terkejut saat pintu toilet tidak bisa dibuka.
"Lho, kok pintunya nggak bisa di buka, gimana ini," ucap Dara sembari mencoba membuka pintu itu.
Ceklek ceklek ceklek...
Beberapa kali Dara mencoba untuk membuka pintu itu, tapi tampaknya pintu itu terkunci dari luar.
"Duh, siapa sih yang ngunci pintu ini," geram Dara.
Dara menggedor pintu itu. Berharap ada orang yang mau datang menolongnya dan membukakan pintu untuknya.
"Tolong...! tolong...! tolong...! aku terkunci di dalam. Tolong..." seru Dara.
Beberapa kali Dara berteriak meminta pertolongan. Namun percuma, karena teriakan Dara tidak bisa terdengar dari luar. Karena di toilet saat ini juga sudah sepi tidak ada orang.
Dara tampak panik saat dia terkunci di dalam toilet. Dia takut, kalau dia akan terkunci sampai besok di toilet.
"Duh, gimana nih. Nggak ada yang dengar lagi. Kenapa aku harus terkunci sih. Aku kan harus ke kantor Pak Rajasa. Siapa sih, sebenarnya orang yang udah ngunciin aku di sini,"
Dara tiba-tiba saja teringat dengan ponselnya. Dia kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya dan dia mencoba untuk menelpon Alex.
"Duh, kok nggak nyambung ya. Kenapa sih di sini sinyalnya susah banget begini," gerutu Dara.
Sejak tadi Dara masih mencoba untuk menelpon Alex. Namun nampaknya tidak ada sinyal di dalam toilet itu. Sehingga Dara sangat susah untuk menghubungi Alex.
"Mas Alex, tolong aku. Aku takut. Aku nggak mau terkurung di sini sendiri. Hiks...hiks...hiks..."
__ADS_1
Dara sudah tidak bisa menahan tangisnya. Dia kemudian menangis sesenggukan di dalam toilet tanpa ada orang yang tahu, kalau Data terkunci di sana.