
Alex menatap sekeliling ruang tamu rumah Dara. Rumah Dara yang menurutnya tampak unik karena banyak peninggalan barang-barang antik yang terpajang di ruang tamu.
Mungkin itu adalah koleksi barang-barang antik, dari almarhum ayahnya Dara yang masih setia menghiasi ruang tamu rumah Dara.
Alex juga menatap foto seorang lelaki dan seorang wanita yang terpajang di dinding rumah Dara.
"Apakah itu foto ayah dan ibunya Dara," ucap Alex.
"Rumah Dara, cukup mempunyai nilai seni yang tinggi. Pajangannya juga cukup unik. Mungkinkah Dara suka mengoleksi barang-barang antik. Atau orang tuanya yang suka mengoleksi barang-barang antik itu." Alex masih menatap sekeliling. Menganggumi barang-barang yang terpajang di sekitar ruang tamu rumah Dara.
Beberapa saat kemudian Dara keluar menemui Alex. Masih dengan gaya yang sama. Rambut kepang dua, kaca mata besar, dan rok dan kaos yang melekat di tubuhnya.
Menurut sebagian lelaki mungkin Dara enggak banget untuk diajak jalan, tapi untuk Alex selama ini dia tidak pernah mempermasalahkan gaya penampilan Dara. Selama Dara masih berpakaian sopan, Alex tidak pernah malu untuk jalan dengannya.
"Kamu sudah siap Dara?" tanya Alex.
"Udah Mas," jawab Dara.
"Nah gitu dong."
Alex menatap ke dinding.
"Itu foto ke dua orang tua kamu?" tanya Alex.
"Iya Mas."
"Kamu nggak mau pamitan sama mereka?"
Dara mengernyitkan alisnya.
"Pamitan untuk apa? mereka kan sudah nggak ada."
"Siapa tahu mau pamitan dulu sama dua foto itu. Karena aku mau ngajak kamu pergi malam-malam begini."
Dara ikut menatap foto mendiang orang tuanya dan tersenyum.
"Seandainya mereka masih hidup, mereka pasti akan melarang aku untuk pergi dengan seorang lelaki. Apalagi pergi malam-malam begini. Ayahku, orang yang paling kejam dengan putrinya. Seandainya dia masih hidup, mungkin dia akan melarang aku jalan sama lelaki. Dan bisa saja dia mengurung aku di kamar agar aku tidak ketemu lagi dengan lelaki itu."
"Oh iya! Serem juga ya ayah kamu. Tapi dari tampangnya dia kelihatan kalem."
Alex meraih tangan Dara. Dia kemudian menggandeng Dara keluar dari rumahnya.
"Tunggu Mas, aku mau panggil adik aku dulu, biar mereka kunci rumah dari dalam," ucap Dara.
Alex mengangguk. Sementara Dara masuk kembali ke dalam rumahnya untuk menemui adiknya.
"Ica, Oca, jaga rumah ya. Kakak mau pergi dulu," ucap Dara.
__ADS_1
"Mau pergi ke mana Kak?" tanya Ica.
"Mau pergi sama Tuan Alex," jawab Dara.
"Kakak mau pergi malam-malam begini sama lelaki. Kakak nggak takut di apa-apain sama dia," ucap Oca yang tampak khawatir dengan kakaknya. Karena Oca tidak pernah melihat Dara jalan sama lelaki. Jadi dia merasa sedikit khawatir pada kakaknya.
Dara menghela nafas dalam dan tersenyum pada ke dua adiknya.
"Kakak mau ke rumah sakit, mau menemani ibunya Tuan Alex. Kalian tahu kan, kalau Tuan Alex itu anaknya Pak Rajasa. Tidak mungkin dia macam-macam sama kakak. Kakak bisa jaga diri kok," ucap Dara.
"Ya, hati-hati aja ya Kak," ucap Ica.
"Iya. Kunci semua pintu dan jendela ya."
Setelah berpamitan dengan ke dua adiknya, Dara pun kemudian pergi keluar dari rumahnya. Dia menatap Alex yang saat ini sudah berada di sisi mobilnya menunggu Dara.
Dara mendekat ke arah Alex.
"Kamu sudah bukain pintu untuk aku?" tanya Dara.
Alex hanya mengangguk.
Dara kemudian masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Alex yang ikut masuk ke dalam mobil itu. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan rumah Dara.
****
"Duh, kenapa Mas Rajasa dari kemarin nggak bisa dihubungi sih. Kemana aja dia. Nggak tahu uang aku sudah menipis apa," gerutu Rita.
Rita sejak tadi masih mondar-mandir di kamarnya. Mungkin dia tidak tahu kalau suaminya lagi sakit di luar kota.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Rita sedikit mengejutkan Rita. Rita menatap ponselnya yang dia letakan di atas tempat tidurnya.
Rita tersenyum saat melihat nama Pak Rajasa di dalam telpon.
"Panjang umur tuh, lelaki tua. Baru saja aku memikirkan dia, udah nelpon dia," ucap Rita.
Rita kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas tempat tidurnya dan mengangkat panggilan dari Pak Rajasa.
"Halo Mas..."
"Halo Rita. Maaf ya, mas baru menghubungi kamu."
"Iya. Kenapa baru menghubungi aku Mas? dan dari kemarin juga susah banget untuk dihubungi."
"Maaf Rita. Aku baru pulang dari rumah sakit. Kemarin dua hari aku di rawat di rumah sakit."
__ADS_1
"Apa! kamu sakit Mas?"
"Iya. Jantung aku kambuh lagi Rita."
"Ah, kamu ini. Kenapa malah sakit . Bukannya transfer uang untuk aku, malah sakit."
"Maaf Rita. Aku sampai lupa memberikan kamu uang bulanan."
"Aku mau tambahan lagi Mas. Kebutuhan aku sekarang lagi banyak banget soalnya."
"Iya iya. Nanti aku transfer ya."
"Jangan lama-lama ya."
"Iya Rita. Kamu nggak usah khawatirkan soal uang . Karena besok, aku juga udah mau pulang."
"Apa! pulang. Cepat amat Mas. Belum juga ada seminggu."
"Aku lagi mengkhawatirkan kondisi mamanya Alex."
"Mbak Vivi. Kamu udah menemukan Mbak Vivi Mas?"
"Iya. Ternyata Vivi itu lagi ada sama Alex. Dan sekarang dia lagi koma di rumah sakit."
"Koma? emang dia kenapa?"
"Entahlah Rita. Aku juga penasaran dengan hal itu. Karena Alex tidak pernah mau menceritakan apa pun padaku."
"Mas, kalau soal itu, mending Mas serahin aja sama aku. Biar aku yang jengukin Mbak Vivi. Mas nggak usah pulang. Di sana aja."
"Kenapa begitu Rita?"
"Aku cuma prihatin aja melihat kondisi kamu Mas. Apalagi kamu kan habis sakit."
"Tapi aku tetap mau pulang Rita. Aku ingin melihat kondisi Vivi."
"Sebegitu cintanya kamu sama Mbak Vivi Mas. Sampai-sampai kamu masih mau mempertahankan dia dan tidak mau menceraikan dia."
"Rita. Aku belum bisa menceraikan Vivi. Karena kamu tahu kan, kondisi kejiwaannya sekarang lagi terganggu."
"Hah, terserah kamu lah Mas. Kamu itu memang lelaki yang keras kepala. Sama saja kayak si Alex anak kamu itu. Yang penting kamu jangan pernah telat ngasih uang bulanan untuk aku."
"Iya sayang. Udah dulu ya. Aku cuma mau ngasih tahu itu aja kok. Besok aku mau terbang ke Jakarta. Kamu pasti kangen kan sama aku."
"Iya. Aku kangen. Ya udah ya Mas ya. Aku mau tidur nih. Udah ngantuk. Selamat malam Mas."
"Selamat malam Rita."
__ADS_1
Rita kemudian menutup saluran telponnya tanpa memperdulikan lagi suaminya. Rita sama sekali tidak merasa iba pada Pak Rajasa karena dia sakit. Justru Rita tidak pernah perduli dengan kondisi suaminya saat ini. Dia hanya mementingkan uang suaminya saja, tanpa perduli bagaimana kondisi suaminya saat ini.