Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Kampus baru.


__ADS_3

"Kakak, kok kakak nggak pakai baju seragam. Kakak nggak mau kerja ya?" tanya Oca yang melihat penampilan Dara yang tidak biasa.


Biasanya Dara memakai seragam office girlnya. Namun kali ini dia memakai baju biasa. Namun masih tetap tampak rapi.


Dara menatap Oca lekat.


"Hari ini, kakak mau ke kampus. Kakak kerjanya nanti pulang dari kampus," ucap Dara menjelaskan.


Oca terkejut saat mendengar ucapan Dara dan lantas tersenyum.


"Kakak sekarang kuliah?" tanya Oca.


Dara mengangguk dan tersenyum. "Iya. Kakak sekarang kuliah."


"Kok bisa?" Oca masih tidak menyangka dengan ucapan Dara.


"Ya bisalah. Pak Rajasa yang sudah membantu aku. Dia mau membiayai aku kuliah."


"Oh... baik banget ya Om Rajasa itu."


Beberapa saat kemudian, Ica keluar dari kamarnya.


"Ada apa ini?" tanya Ica menatap Oca dan Dara bergantian.


"Ini Kak, Kak Dara katanya mau kuliah. Hebat banget kan?" ucap Oca yang merasa bangga dengan kakaknya. Karena kakaknya bisa kuliah lagi.


Ica ikut tersenyum saat mendengar ucapan Dara.


"Kakak yakin mau kuliah?" ucap Ica menatap Dara lekat.


"Yakin. Dan ini hari pertama kakak kuliah," ucap Dara menjelaskan.


"Ya ampun, seneng banget deh aku dengarnya Kak," Ica ikut bahagia saat mendengar kabar bahagia dari kakaknya.


"Itu artinya, cita-cita kakak untuk kuliah lagi sudah tercapai. Jangan disia-siakan ya kak," ucap Oca.


"Terus Kak Alex sudah tahu soal ini?" tanya Ica.


"Belum. Biarin aja dia. Kakak nggak mau mikirin dia. Kakak cuma mau fokus kuliah. Kapan lagi coba kakak punya kesempatan untuk kuliah."


"Iya Kak. Aku pasti akan dukung Kakak terus," ucap Ica.


Dara melangkah ke dapur. Sebelum ke kampus, dia menyiapkan makanan dulu untuk ke dua adiknya sarapan.


Ica dan Oca cuma bisa mengikuti kakaknya kemana dia pergi.


"Kakak masak apa?" tanya Ica pada Dara.


"Setok makanan di kulkas sudah habis. Cuma tinggal telor aja. Jadi kakak cuma buat telor dadar aja Ca," jawab Dara.


"Jadi hari ini kita cuma makan telor Kak?" ucap Oca.


Dara menatap Oca lekat. "Iya. Nggak apa-apa kan Ca?"


"Iya. Nggak apa-apa kok. Oh iya. Kak Ica, kita tunggu di ruang makan aja yuk!"

__ADS_1


"Ayo!"


Ica dan Oca melangkah untuk ke ruang makan. Mereka duduk di sana untuk menunggu Dara goreng telor.


Beberapa saat kemudian, Dara melangkah sembari membawa telor dadar dan dia letakan di atas meja.


"Hemm... kelihatannya enak." Ica menatap telor dadar yang ada di atas meja.


"Iya. Enak banget kayaknya," ucap Oca menimpali.


"Ya udah, sekarang kita makan." Dara menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan.


Setelah itu mereka pun makan bersama.


Selesai makan, Oca dan Ica pamit untuk pergi sekolah. Setelah Ica dan Oca pergi, Dara kemudian membereskan piring-piring yang ada di atas meja makan dan membawanya ke dapur.


"Udah siang banget. Aku nggak mau sampai telat. Ini hari pertama aku ke kampus," ucap Dara.


Dara kemudian melangkah ke kamarnya untuk mengambil tasnya. Setelah itu dia pergi meninggalkan rumahnya untuk ke kampus.


Sesampainya di depan kampus barunya, Dara kemudian turun dari ojeknya. Dia mengambil uang yang ada di dalam tasnya dan membayar ongkos ojeknya.


"Makasih ya Neng."


"Iya Bang. Sama-sama."


Setelah ojek pergi, Dara pun masuk ke dalam halaman depan kampus.


Dara menghentikan langkahnya dan terdiam saat menatap bangunan besar itu.


Dara mencubit tangannya sendiri.


"Auh... iya benar. Kalau aku nggak sedang mimpi."


Dara kemudian melangkah masuk ke dalam kampus itu.


Tatapan semua orang yang ada di kampus itu, terfokus pada Dara, gadis yang penampilannya sangat norak, menurut mereka.


Padahal, Dara sekarang lebih senang membiarkan rambutnya terurai dari pada di kepang dua. Karena Alex menyuruhnya untuk sedikit demi sedikit bisa merubah penampilannya.


Namun kaca mata besar dan baju yang Dara pakai, hanya baju sederhana yang dia punya. Sementara, baju yang pernah Alex belikan sama sekali tidak mau Dara pakai karena terlalu terbuka.


Dara saat ini, hanya mengenakan setelan kaos putih yang dipadukan dengan rok hitam panjang. Dia juga memakai sepatu dan tas selempang yang biasa dia pakai untuk ke tempat kerja.


Semua orang hanya bisa berbisik-bisik saat melihat Dara. Mereka tampak asing saat melihat gadis cupu datang ke sekolah mereka.


"Eh, itu siapa sih? mahasiswi baru ya?" ucap seorang cewek pada temannya yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.


"Iya kali. Tapi kok, penampilannya norak gitu ya," ucap temannya menimpali


"Iya. Kok bisa ya, dia kuliah di sini. Padahal kuliah di sini itu kan hanya untuk orang-orang berduit saja seperti kita."


"Mungkin dia orang kaya."


"Kata siapa. Aku tadi lihat dia di depan naik ojek kok. Atau dia cuma orang nyasar aja."

__ADS_1


"Nggak tahulah. Jangan urusin dia. Ayo kita ke kelas."


"Iya."


Dara hanya bisa menatap sekeliling. Dara harus siap, menghadapi sikap teman-temannya dan cibiran dari mereka. Karena Dara tidak selevel dengan mereka.


Pak Rajasa memang sengaja memasukkan Dara ke sekolah favorit tempat dulu Alex kuliah. Dan kampus itu, memang kampus elit yang kebanyakan cuma anak orang kaya raya saja yang kuliah di sana.


****


Siang ini, mobil Alex sudah berada di parkiran kantor Pak Rajasa. Alex sengaja ke kantor Pak Rajasa untuk bertemu dengan Dara.


Alex turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam kantor. Alex akan mencari Dara di belakang, tempat di mana biasa Dara berkumpul dengan rekan-rekan kerjanya.


"Selamat siang Pak Alex," ucap Ranti.


"Siang. Mana Dara, kok dari tadi dia nggak kelihatan?" tanya Alex pada Ranti.


"Dara hari ini nggak masuk Pak Alex," jawab Ranti.


"Nggak masuk? kenapa?"


"Saya juga kurang tahu. Ada apa ya Pak?"


"Nggak ada apa-apa. Cuma mau ngajak dia makan siang aja."


"Oh. Kenapa nggak di telpon aja Pak Alex?"


"Telponnya nggak aktif."


"Oh."


"Ya udah. Saya ke ruangan saya dulu ya."


"Iya Pak Alex."


Alex kemudian pergi meninggalkan Ranti. Setelah Alex pergi, Silvi menghampiri Ranti.


"Mbak Ranti, ada apa? tadi Pak Alex bicara apa?" tanya Silvi.


"Dia nyari Dara."


"Untuk apa dia nyari Dara?"


"Katanya sih, mau ngajak Dara makan siang."


Silvi terkejut saat mendengar ucapan Ranti.


"Masa sih Mbak. Kok anaknya si bos, mau ngajakin Dara makan siang. Emang mereka punya hubungan apa?" tanya Silvi yang sudah mulai kepo.


Ranti hanya mengedikan bahunya.


"Mana aku tahu, kenapa nggak kamu tanya langsung sama mereka."


"Aneh banget tahu Mbak si Dara itu. Kok bisa ya, gadis yang berpenampilan norak gitu dekat sama Pak Alex dan Pak Rajasa, apa spesialnya gadis itu untuk Pak Alex dan Pak Rajasa coba, sampai-sampai mereka sayang banget sama Dara,ucap Silvi.

__ADS_1


Tampaknya Silvi semakin iri saja sama Dara. Saat Dara, menjadi pusat perhatian Pak Rajasa dan Alex.


__ADS_2