
Di ruang makan, Rita dan Pak Rajasa masih bersantap bersama. Mereka masih menikmati makanannya. Tak ada kata yang terucap dari bibir mereka saat ini. Hanya suara sendok dan garpu yang sejak tadi masih saling bersahut-sahutan mengiringi makan malam mereka berdua.
"Mas, bagaimana kabar istri kamu?" tanya Rita di sela-sela kunyahannya.
"Vivi?"
Rita mengangguk.
"Iya, Mbak Vivi. Siapa lagi. Emang kamu punya istri lagi selain wanita itu. Mbak Vivi udah sembuh atau masih sama seperti dulu?" tanya Rita.
"Dia udah sembuh," jawab Pak Rajasa.
"Kamu nggak ke rumahnya Alex untuk tengok dia. Katanya dia hilang ingatan ya? benar nggak sih itu Mas?"
"Kata Alex sih ibunya itu hilang ingatan. Tapi pas waktu itu aku ke sana, Vivi kenal kok sama aku dan dia ngusir aku dari rumah Alex."
"Jadi, kabar yang aku dengar salah dong Mas. Katanya istri kamu itu hilang ingatan. Tapi kok, dia bisa kenal sama kamu."
"Kata Alex, ibunya itu memang hilang ingatan. Tapi mungkin ingatan Vivi sekarang sudah kembali lagi seperti dulu."
"Gangguan mentalnya gimana?" tanya Rita lagi.
"Gangguan mentalnya, juga sepertinya sudah pulih. Dia tidak seperti orang depresi atau sakit jiwa. Mungkin memang sekarang Vivi sudah kembali lagi seperti dulu."
"Dulu kamu nggak mau ceraikan Vivi karena dia gila. Sekarang Vivi sudah sembuh, kamu nggak mau talak dia Mas?"
Pak Rajasa terkejut saat mendengar pertanyaan Rita.
"Talak Vivi untuk apa?"
"Iya. Kamu kan udah janji sama aku waktu itu, kalau kamu akan menjadikan aku istri satu-satunya. Aku nggak mau lho Mas, berbagi suami dengan Mbak Vivi. Aku nggak mau, kamu masih berurusan dengan Alex dan ibunya. Karena aku nggak suka Mas kamu masih punya hubungan sama istri dan anak kamu itu."
"Kalau soal itu, aku belum bisa jawab sekarang Rita."
"Kenapa Mas? kamu cinta kan sama aku. Kalau kamu cinta sama aku, tunjukan dong kalau kamu mau ceraikan Vivi dan kamu berikan rumah ini untuk aku. Aku ingin rumah ini, ganti nama jadi milik aku."
Pak Rajasa diam dan mulai berfikir.
Sebenarnya, aku masih sangat mencintai Vivi istriku. Aku menyesal sudah menikahi Rita dan membuat Vivi sampai depresi. Bukannya aku nggak mau ngasih apa-apa sama Rita. Tapi aku berfikir dua kali untuk ngasih sebagian harta aku ke Rita.Sampai saat ini saja Rita belum bisa memberikan aku anak. Apa mungkin, aku akan ngasih Rita harta gono gini. Aku mau ngasih harta gono-gini kalau Rita sudah bisa memberikan aku seorang anak. Aku menikahi wanita yang lebih muda, karena aku mengharapkan seorang anak. Tapi nyatanya Rita tidak bisa memberikan aku keturunan. Jadi untuk apa aku ngasih harta gono-gini ke Rita.
__ADS_1
Pak Rajasa masih diam. Dia masih larut dalam fikirannya sendiri.
"Mas, Mas Rajasa..." ucap Rita.
"Eh, iya Rita."
"Kamu kenapa malah ngelamun. Udah malam Mas, aku ngantuk banget. Aku ke kamar dulu ya," ucap Rita.
Setelah menghabiskan makanannya, Rita pun berlalu pergi meninggalkan ruang makan.
Pak Rajasa hanya bisa menatap kepergian Rita.
"Kenapa sih, Rita beda banget sama Vivi. Dia itu cuma bisa ngandelin pembantu. Habis makan saja, dia tidak mau beresin meja makan sendiri. Kasihan Lastri dan Laila. Waktunya istirahat, mereka masih saja kerja beresin meja makan."
"Lastri...! Lastri...!" seru Pak Rajasa memanggil Lastri pembantunya.
Beberapa saat kemudian, Bik Lastri mendekat ke arah Pak Rajasa.
"Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bik Lastri.
"Lastri. Tolong beresin meja makan ya. Saya mau ke kamar dulu."
Pak Rajasa bangkit berdiri. Setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan meja makan, untuk menyusul Rita ke kamarnya.
Pak Rajasa masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sudah berbaring di atas tempat tidur.
Ring ring ring...
Suara deringan ponsel Rita mengejutkan Rita dan Pak Rajasa.
"Rita, ponsel kamu bunyi tuh," ucap Pak Rajasa sembari mendekat ke arah ranjang.
Pak Rajasa kemudian menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang dan menatap ponsel Rita.
Rita beringsut duduk dan buru-buru mengambil ponselnya.
Hah, Martin. Mau ngapain dia malam-malam gini nelpon. Apa dia tidak tahu, kalau suami aku lagi ada di dekat aku. batin Rita.
Rita bingung untuk mengangkat panggilan dari Martin. Karena saat ini, Pak Rajasa ada di dekatnya. Rita akhirnya mematikan panggilan dari Martin.
__ADS_1
"Kok dimatiin? kenapa di matiin Rita? kenapa nggak di angkat?" tanya Pak Rajasa.
"Nggak penting Mas."
"Telpon dari siapa sih?" Pak Rajasa tampak penasaran.
"Nggak tahu. Orang nyasar kali."
Rita kemudian menyimpan ponselnya di atas bantalnya.
"Kenapa di taruh di situ?"
"Biarin. Aku ngantuk banget Mas. Lagian sudah aku non aktifkan kok hapenya. Biar kita bisa tidur nyenyak."
"Ya udah. Aku juga udah ngantuk Rita."
Hoaammm...
Pak Rajasa kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi istrinya.
Rita menghadapkan tubuhnya ke arah Pak Rajasa. Membuat mereka saling berhadapan.
"Mas Rajasa, dulu katanya kamu mau pindah nama rumah ini jadi rumah aku. Mana janji kamu dulu Mas?" tanya Rita pada Pak Rajasa.
"Rita, aku cuma akan memberikan semua harta warisanku pada darah daging aku. Dari kemarin, kamu geger pindah nama terus sih. Kamu aja nggak mau ngasih aku anak."
"Apa aku harus punya anak dulu Mas, agar kamu mau ngasih rumah ini sama aku."
"Ya iya dong. Makanya kamu nggak usah minum pil itu lagi."
"Tapi aku belum siap Mas punya anak. Kalau kita punya anak, apa kamu nggak malu sama orang-orang. Anak kamu itu udah sebesar Alex, masa Alex mau punya adik lagi."
"Lah emang kenapa? kan kamu yang hamil. Bukan Vivi. Lagian, untuk apa dengerin kata orang. Kalau kamu hamil dan bisa memberikan aku seorang anak, kan rumah ini jadi rame Rita. Nggak sepi seperti ini.
"Kamu juga kan sudah sepantaran Alex. Apa kamu nggak ingin punya anak. Biasanya wanita sepantaran kamu, anaknya itu udah menginjak remaja. Lah, kamu malah belum siap terus. Gimana sih."
Rita diam. Sebenarnya dia malas jika Pak Rajasa harus membahas soal anak. Rita sama sekali tidak mau punya anak dari lelaki yang sama sekali tidak dia cintai.
Ya, Rita sama sekali tidak punya rasa cinta pada Pak Rajasa. Awal Rita menikah dengan Pak Rajasa memang dia ingin menguasai hartanya.
__ADS_1
Tapi usaha Rita selama lima tahun untuk menguasai harta Pak Rajasa belum memberikan hasil. Semuanya sia-sia. Karena orang-orang yang dihadapi Rita itu bukan orang sembarangan. Mereka orang-orang yang cerdik. Tidak mudah untuk dibodohi. Memang Pak Rajasa dan Alex sama-sama orang cerdik yang susah untuk dikalahkan.