Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Gara-gara petir


__ADS_3

"Duh, aku harus cari obat sakit perut untuk Oca di mana ya. Aku sudah cari ke warung depan. Tapi udah habis stoknya," ucap Dara.


Dara tampak berfikir. Dia sudah muter-muter ke warung-warung terdekat. Namun setok obat memang lagi habis. Dan warung-warung yang lain juga sudah tutup.


"Apa aku ke apotik aja ya. Kasihan Ica kalau sampai nanti malam, dia sakit perut terus."


Tanpa banyak berfikir, akhirnya Dara memutuskan untuk membeli obat di apotik terdekat yang buka 24 jam.


Setelah membeli obat, Dara berjalan untuk pulang ke rumahnya.


Dara menatap sekeliling. Jalanan malam ini sudah tampak sepi. Dingin di malam ini, juga sudah mulai menusuk-nusuk kulit Dara.


Dara menatap ke depan. Dua orang lelaki tampak sedang memperhatikannya.


'Duh, kenapa mereka ngelihatin aku terus, perasaan aku kok jadi nggak enak gini ya,' batin Dara.


Sesekali Dara memegangi tengkuknya.


Dara terus saja melangkah tanpa mau memperhatikan ke dua lelaki itu. Dara mau pura-pura saja tidak melihat mereka.


Di sisi lain, Alex masih tampak menyetir mobilnya. Di sisinya duduk, seorang wanita cantik tampak masih bergelayut manja di lengan Alex.


"Sayang, aku udah ngantuk banget. Kamu mau kan antar aku pulang?" tanya wanita itu.


"Kita nggak mau mampir ke mana-mana lagi?" tanya Alex.


"Nggak sayang. Kepala aku lagi pusing banget. Lagian udah malam. Pasti Papa aku udah nungguin aku," ucap Desi salah satu wanita yang sedang dekat dengan Alex. Bisa dibilang Desi itu juga teman kencan Alex atau kekasihnya Alex.


"Iya sayang," ucap Alex.


Desi mulai memejamkan matanya. Setelah makan malam tadi bersama Alex matanya sudah mulai mengantuk. Desi akhirnya terlelap juga di dalam mobil Alex.


Alex hanya tersenyum saat melihat gadis cantik itu terlelap.


Di sela-sela menyetir, Alex terkejut saat melihat seorang wanita yang sedang di tarik-tarik oleh dua orang lelaki muda.


"Lepas... lepaskan aku..." Wajah Dara sudah mulai pucat.


"Tolong... tolong...!" seru Dara.


Dari tadi Dara meminta tolong, namun belum ada satu pun mobil yang melewati jalan itu. Jalanan itu memang cukup rawan. Makanya jarang ada mobil yang melewati jalan itu. Karena katanya di jalan itu, banyak begal dan orang-orang jahat yang berkeliaran.


Alex menghentikan laju mobilnya. Dia kemudian turun dari mobilnya dan berjalan mendekati ke dua lelaki itu.


"Heh...! lepaskan wanita itu...!" ucap Alex dengan lantang.


"Siapa kamu? jangan ikut campur urusan kami...!" seru seorang lelaki menatap Alex tajam.


"Lepaskan dia atau kalian hadapi aku...!" ucap Alex menantang ke dua lelaki muda itu.


Dua lelaki muda yang kelihatannya sedang mabuk itu, berjalan mendekati Alex. Mereka tiba-tiba saja menyerang Alex. Namun Alex bisa menghindar dari serangan mereka.

__ADS_1


Alex dan ke dua lelaki itu berantem sengit. Sementara Dara masih berdiri di tengah jalan. Dia tampak sibuk mencari obatnya Ica dan kaca matanya yang terjatuh. Dia sama sekali tidak menyadari keberadaan Alex saat ini.


"Mana kaca mata dan obatnya Ica," ucap Dara.


Jalanan yang gelap, membuat penglihatan Dara kabur. Dia tidak bisa melihat apapun kecuali cahaya lampu yang terpancar dari mobil Alex tadi.


Dara berjongkok dan meraba-raba ke jalanan untuk mencari kaca matanya. Sementara Alex yang sudah berhasil melawan dua preman itu, menghampiri Dara sembari mengambil kaca mata dan plastik obat yang ada di depan mobilnya.


"Ini punya kamu Nona?" tanya Alex.


Dara terkejut saat mendengar suara Alex. Dia tidak berani menoleh ke arah Alex. Dia masih setia berjongkok di tengah jalan.


'Itu, seperti suara Tuan Alex. Benarkah yang tadi menolongku itu tuan Alex.' batin Dara.


Alex bingung dengan wanita yang sudah ditolongnya. Dia sama sekali tidak mau menatapnya.


Alex memegang lengan wanita itu.


"Nona, anda kenapa? apa anda terluka ?" tanya Alex yang tampak khawatir.


Dara mencoba bangkit untuk berdiri. Dengan jantung berdebar, dia menghadapkan dirinya ke arah Alex.


"Mana kaca mata aku. Aku nggak bisa lihat apapun. Gelap sekali jalanan ini," ucap Dara.


Alex terkejut saat melihat Dara. Namun bukan saatnya dia marah ke Dara. Karena dia juga sudah lelah dan ingin buru-buru pulang.


"Dara..."


Alex kemudian mengembalikan kaca mata Dara dan plastik obat milik Dara.


Dara memakai kaca matanya kembali.


"Terima kasih," ucap Dara singkat.


Dara kemudian berjalan pergi meninggalkan Alex.


"Apa? terimakasih doang? benar-benar gadis tidak tahu diri," gerutu Alex.


Alex kemudian mengejar Dara dan mencekal tangannya.


"Tunggu..." ucap Alex.


Dara menoleh ke arah Alex.


"Ada apa? aku mau pulang, udah malam," ucap Dara.


"Kamu nggak boleh pergi begitu saja Dara."


"Emang kenapa? kamu udah nggak bisa melarang aku lagi. Kamu udah nggak bisa menyuruh-nyuruh aku lagi. Karena sekarang aku bukan pembantu kamu lagi."


"Dara, nomer kamu nggak pernah aktif. Kenapa? dan kata Ratih, kamu sudah nggak mau kerja di rumah aku lagi kenapa?"

__ADS_1


'Hah, kenapa dia harus tanyakan itu. Apa dia nggak merasa bersalah, udah mau memperkosaku kemarin. Bukannya minta maaf, tapi dia sama sekali nggak ada rasa penyesalan sedikit pun.'


"Dara, aku masih butuh kamu. Aku mau kamu kerja lagi di rumah aku."


"Maaf Tuan Alex. Aku nggak bisa. Aku udah memutuskan untuk tidak kerja jadi tukang cuci gosok lagi. Karena aku sudah punya kerjaan baru."


"Kerjaan baru? kerjaan apa?" tanya Alex penasaran.


"Kerja di kantor."


Alex membelalakkan matanya. Dia merasa heran pada Dara. Karena baru kemarin Dara mengundurkan diri, sekarang Dara sudah kerja di kantor. Secepat itukah Dara mendapatkan pekerjaan lagi.


"Kerja di kantor? sebagai apa?" tanya Alex.


Dara tampak berfikir.


'Aku bohongin aja Tuan Alex. Biar dia lebih mau menghargai aku.'


"Sebagai..."


"Sebagai apa?"


"Ya staf kantor lah. Yang pasti, gajinya lebih tinggi dari pada kerja di rumah kamu Tuan."


"Oh ya? hebat banget kamu. Kantor mana?"


Dara sudah mulai kesal dengan Alex yang semakin kepo.


"Untuk apa kamu banyak tanya. Lagian itu juga bukan urusan kamu kan," ucap Dara kesal.


Alex menghela nafas dalam.


"Aku mau pulang. Jangan halangi aku," ucap Dara yang sudah tidak mau berlama-lama lagi dengan Alex.


Dara kembali melangkah pergi.


"Kamu nggak takut jalan sendirian? nggak baik lho, malam-malam wanita jalan sendirian," seru Alex yang membuat Dara menghentikan langkahnya.


Alex mendekat ke arah Dara.


"Bagaimana kalau dua lelaki itu kembali dan memperkosa mu. Jalanan di daerah sini sangat rawan lho. Rawan begal, rawan preman. Apakah kamu mau menjadi santapan lelaki hidung belang?"


Dara memutar tubuhnya dan kembali menatap Alex.


"Lihatlah, sebentar lagi turun hujan. Apa kamu nggak takut?"


Dara menatap ke atas langit. memang benar kalau di atas sana awan sudah menghitam . Mendung sudah mulai berkumpul di atas sana.


Jedeeeeer...


"Aaagghhhh..." Dara menjerit dan reflek langsung memeluk Alex saat dia mendengar suara petir yang begitu sangat kencang.

__ADS_1


Alex hanya tersenyum saat melihat Dara yang reflek memeluknya.


'Ternyata gadis ini takut dengan petir,'


__ADS_2