Gadis Cupu Milik CEO

Gadis Cupu Milik CEO
Ke rumah sakit


__ADS_3

Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah Alex sampai ke rumah Dara, akhirnya mobil Alex pun berhenti tepat di depan rumah Dara.


Alex dan Dara terkejut saat melihat api yang sudah membesar di rumah itu. Alex dan Dara buru-buru turun dari mobilnya dan melangkah mendekat ke arah kerumunan orang-orang yang ada di depan rumah Dara.


"Kenapa, kenapa rumah aku kebakaran," ucap Dara. Netranya sejak tadi tidak bisa berhenti menatap bangunan rumah itu.


"Dara, kamu sudah datang. Dara, adik kamu ada di dalam," ucap Bu Ratna menuturkan.


"Apa! adik-adik aku ada di dalam Bu? terus bagaimana dengan mereka. Aku harus menyelamatkan mereka. Aku nggak mau mereka kenapa-kenapa," ucap Dara.


Dara akan melangkah masuk ke dalam rumah itu. Namun, Bu Ratna dan tetangga Dara yang lain menghalanginya.


"Dara, jangan masuk. Bahaya Dara," ucap Bu Ratna.


"Tapi Bu, adik aku ada di dalam. Bagaimana kalau mereka tidak bisa diselamatkan, aku nggak punya siapa-siapa lagi kecuali ke dua adik aku. Aku harus selamatkan mereka," ucap Dara menatap Bu Ranta lekat.


"Dara, jangan nekat. Apinya besar banget Dara. Kamu bisa celaka kalau kamu sampai masuk ke dalam," ucap Pak Rusdi tetangga dekat rumah Dara.


"Tapi Pak, bagaimana dengan adik aku. Hiks...hiks..." Dara hanya bisa menangis sesenggukan di depan orang-orang itu.


"Kita harus tunggu mobil pemadam. Tadi bapak sudah melaporkan kejadian ini pada mobil pemadam, biarlah mereka yang turun tangan, kita tidak boleh gegabah," ucap Pak Rusdi lagi.


Dara hanya bisa menangis menyaksikan rumahnya terbakar dan adik-adiknya ada di dalam.


Alex tidak tinggal diam. Dia tidak mungkin tega membiarkan Ica dan Oca terjebak di dalam kebakaran itu. Alex tidak mau membuat Dara sedih karena kehilangan ke dua adiknya.


"Biar aku aja yang akan masuk ke dalam," ucap Alex.


Alex mengambil air dan menyiramkan air itu ke tubuhnya. Setelah itu dia nekat masuk ke dalam rumah itu untuk menyelamatkan ke dua adik Dara.


"Mas Alex, aku ikut." Dara akan menyusul Alex masuk ke dalam. Namun lagi-lagi Bu Ratna menghalanginya.


"Jangan Dara. Ibu bilang, kamu tunggu saja di sini. Biarkan Alex saja yang nolongin adik-adik kamu," ucap Bu Ratna.


"Tapi Bu, Mas Alex dan ke dua adik aku dalam bahaya. Mereka bisa terbakar dan hangus di dalam."


"Lalu kamu bisa apa jika masuk ke dalam Dara. Kamu juga bisa ikut terbakar. Jangan nekat kamu dara. Serahkan saja urusan itu sama Alex."


Beberapa saat kemudian, Alex keluar dengan menggendong tubuh Oca yang sudah tidak berdaya. Alex kemudian meletakkan tubuh Oca di atas tanah.


"Aku harus selamatkan Ica," ucap Alex.


Alex kemudian kembali ke dalam rumah itu untuk menyelamatkan Ica. Beberapa saat kemudian, Alex membawa Ica keluar dari rumah itu.


"Uhuk... uhuk...uhuk...." Alex dan Ica terbatuk-batuk saat keluar dari rumah itu. Sepertinya mereka juga sudah menghirup asap terlalu banyak.


Dara menangis saat melihat kondisi Oca adik bungsunya.


"Oca, bangun Oca. Jangan tinggalkan kakak Oca," ucap Dara sembari menepuk-nepuk pipi Oca.

__ADS_1


Namun Oca sudah tidak sadarkan diri. Sepertinya dia sudah terlalu banyak menghirup asap sehingga dia pingsan dan tidak bisa menyelamatkan diri. Sementara Ica, dia masih bisa bernafas walau wajahnya sudah menghitam karena asap itu.


"Dara, kita harus bawa Oca ke rumah sakit. Dia tidak apa-apa Dara. Dia hanya pingsan saja. Mungkin dia sesak nafas saja karena sudah terlalu lama berada di dalam," ucap Alex.


"Iya Mas."


"Biarkan saja rumah ini, tetangga kamu yang ngurus. Kita harus bawa Oca sekarang juga ke rumah sakit."


"Iya Mas."


Tanpa butuh waktu lama, Alex membopong tubuh Oca. Setelah itu dia pun membawa Oca ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan Ica dan Dara, mereka hanya bisa mengikuti Alex di belakangnya. Dara, Alex dan Ica kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka meluncur pergi untuk membawa Oca ke rumah sakit.


"Mas Alex, cepat sedikit Mas. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Oca. Aku nggak mau kehilangan Oca."


"Iya Dara. Ini juga sudah cepat. Kamu harus sabar ya Dara," ucap Alex di sela-sela menyetirnya.


"Hiks...hiks... Oca... Oca..." Ica menangis saat melihat kondisi kembarannya yang sangat mengkhawatirkan.


Beberapa saat kemudian, mobil Alex sudah sampai di depan rumah sakit. Alex turun dari mobilnya dan menggotong tubuh Oca masuk ke dalam rumah sakit. Sementara Dara dan Ica hanya bisa mengikuti Alex dibelakangnya.


"Suster...! Dokter...! tolong adik saya..." seru Alex.


Dua orang suster menghampiri Alex dengan membawa ranjang dorong.


"Kenapa dengan dia?" tanya salah satu Suster itu.


"Dia baru saja terjebak dari kebakaran," jawab Alex.


Alex kemudian meletakkan tubuh Oca ke atas ranjang dorong itu. Setelah itu Dua orang suster mendorong Oca sampai masuk ke dalam ruang UGD.


"Kalian tunggu saja di sini. Biar kami para medis yang akan menangani pasien ini," ucap salah satu dari suster itu.


"Iya Sus," ucap Alex.


Ke dua suster itu kemudian menutup ruang UGD untuk memberikan pertolongan pertama pada Oca. Sementara Ica, Dara dan Alex menunggu di luar ruangan itu.


Dara dan Ica menangis saat melihat kondisi adik mereka yang sangat mengenaskan.


"Kenapa rumah kita bisa kebakaran Ica? kenapa?" tanya Dara menatap Ica lekat dengan berderaian air mata.


"Aku juga nggak tahu Kak Dara kenapa rumah kita bisa terbakar."


"Bagaimana sebenarnya kejadiannya Ica? tidak mungkin kan tiba-tiba saja rumah kamu kebakaran tanpa ada penyebabnya," ucap Alex.


"Mungkin ada korsleting listrik Kak di rumah kita. Kebakaran itu, terjadi waktu kita masih terlelap di atas tempat tidur. Waktu aku terbangun, sudah ada asap di depan kamar aku Kak. Dan ternyata api sudah membesar di ruang tengah. Dan api itu berasal dari dapur."


"Apa kamu menyalakan lilin atau kompor waktu itu?" tanya Dara.


"Nggak Kak. Kejadian itu terjadi secara tiba-tiba. Dan waktu kejadian itu kami masih tidur di kamar. Dan kami tidak bisa keluar dari rumah. Karena Kaka tahu kan kalau jendela kamar aku itu tinggi. Tidak bisa untuk kabur," jelas Ica.

__ADS_1


"Iya. Untunglah tadi Bu Ratna nelpon kakak tepat waktu. Jadi Kak Alex bisa dengan segera menyelamatkan kalian. Bagaimana tadi kalau Kak Alex datang terlambat dan tidak bisa menyelamatkan kalian. Bagaimana kalau Kak Alex tadi tidak bisa membawa kalian keluar. Pasti kalian berdua sudah hangus di dalam rumah itu. Kaka nggak bisa membayangkan bagaimana kalau ke dua adik kakak itu gosong bersama rumah itu. Hiks...hiks..." ucap Dara panjang lebar di sela-sela tangisannya.


Untuk saat ini, Dara, Alex dan Ica hanya bisa bersabar menunggu kabar terbaru dari kondisi Oca yang masih ada di dalam ruang UGD. Saat ini Oca masih berada dalam penanganan dokter.


"Sayang, sabar ya. Kamu harus sabar. Ini semua ujian untuk kita semua. Kamu banyak-banyak saja berdoa. Agar Oca bisa diselamatkan," ucap Alex sembari mengusap-usap bahu Dara.


Dara mengangguk. "Iya Mas."


Ring ring ring...


Alex terkejut saat tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Alex mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya. Setelah itu dia langsung mengangkat panggilan dari ibunya


"Halo Ma..."


"Halo Alex. Kamu dan Dara pergi ke mana. Kenapa barang-barang kalian masih ada di rumah. Tas Dara, buku-buku Dara dan tas kamu, kenapa masih ada di rumah?"


"Aku dan Dara, sekarang ada di rumah sakit Ma."


"Di rumah sakit? siapa yang sakit Alex?"


"Oca yang sakit Ma."


"Emang kenapa dengan Oca?"


"Tadi rumah Dara kebakaran Ma. Ica dan Oca terjebak di dalam kebakaran itu. Makanya aku dan Dara buru-buru ke rumah Ica dan Oca untuk menyelamatkan mereka."


"Ya ampun, kebakaran? Kok bisa ada kebakaran di rumah Dara sih. Terus, bagaimana kondisi Ica dan Oca?"


"Kalau Ica dia nggak apa-apa Ma. Tapi kalau Oca, sekarang dia ada di ruang UGD. Dia masih dalam penanganan dokter."


"Oh. Ya udah kalau begitu. Nanti mama ke sana ya."


"Jangan Ma."


"Kenapa? mama juga khawatir dengan kondisi Oca Alex. Kenapa mama nggak boleh ke sana."


"Mama boleh ke sini. Tapi kalau mama mau ke sini, jangan ke sini sendiri, bahaya Ma. Mama harus minta antar Doni. Doni semalam pulang ke rumahnya dan belum datang lagi ke rumah kita Ma. Jadi mama harus tunggu Doni datang."


"Oh. Jadi Doni semalam pulang."


"Iya Ma. Pokoknya mama nggak boleh datang ke sini sendiri. Mama nggak boleh pergi sendiri. Mama harus ada yang jagain."


"Baiklah Alex. Mama akan telpon Doni ya "


"Iya."


"Ya udah, mama tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam."


__ADS_2